SEQUEL : MY HOT GIGOLO
Harta yang berlimpah ruah membuat apapun yang diinginkannya selalu terwujud. Hanya saja ada satu hal yang tidak bisa ia tukar dengan harta yaitu perasaan seorang pemuda yang disukainya.
Ini adalah kisah seorang gadis bernama Graciella Isee Brown atau lebih akrab dipanggil Grace.
Akankah dia mendapatkan cintanya? Atau justru berpindah haluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Meskipun gayanya dingin tapi dari ucapannya terdapat sebuah perhatian. Grace memeluk sebatang coklat pemberiannya, setidaknya pria itu sudah menjaganya selama dia tidak sadarkan diri.
Lagi-lagi Grace merasakan hal yang sama saat pertama kali bertemu Jean dulu. Apakah akan terjadi kesalah pahaman perasaan yang selanjutnya?
"Gavi Williams." Grace menggumamkan namanya.
Grace meraba bibirnya, bibir yang menurutnya sudah tidak suci lagi, membayangkannya saja membuat pipi putih itu terlihat memerah karena malu.
...---...
Entah apa yang ada di pikiran Grace saat itu karena malam ini dia datang lagi ke Buck Bar. Dia tidak masuk melainkan hanya duduk di dalam mobil memperhatikan setiap orang yang datang, sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
"Apa dia tidak datang hari ini?" kesal Grace, sudah hampir satu jam dia menunggu.
Saat Grace hampir menyerah tiba-tiba datang sebuah mobil bertype McLaren 720s berhenti tepat di samping mobilnya. Grace terlihat memantau karena penasaran dan tampaklah sesosok orang yang sudah dia tunggu sedari tadi. Orang itu berdiri di samping mobilnya dan terlihat mengotak-ngatik ponsel.
Grace tersenyum senang, sebelum turun Grace mengecek tatanan rambutnya lebih dulu setelah dirasa rapi Grace membuka pintu mobil dan menurunkan kaki mulusnya yang terbalut sepatu high heels setinggi tujuh centimeter. Dengan kepercayaan dirinya Grace berjalan santai tepat di depannya.
Aroma vanilla Grace yang begitu memabukan mampu membuat fokus orang itu teralihkan, mata tajamnya menatap sesosok gadis yang pernah ia temui sebelumnya.
Dalam satu tarikan cepat tubuh Grace berputar dan jatuh tepat di dalam pelukannya, "Arrgghh." pekik Grace pura-pura kaget.
"Tuan Gavi? Aku kira siapa."
"Apalagi yang kau lakukan disini? Kau tidak mendengarkan ucapanku?" dari raut wajahnya pria itu terlihat tidak senang.
"Ucapan yang mana, Tuan?"
Gavi berdecih saat melihat gaun malam yang dipakai oleh Grace malam ini, terlihat begitu ketat dan mencetak jelas tubuh rampingnya yang berisi di beberapa bagian. Apalagi panjang dressnya hanya sebatas paha.
"Kemana celana jeans dan kaos kebesaranmu itu?"
"Tentu saja aku menyimpannya, outfit itu tidak cocok di tempat ini."
"Em Tuan, bisakah kau lepaskan aku dulu? Rasanya pegal."
Gavi mulai tersadar jika posisi mereka sangat tidak nyaman dilihat, apalagi mereka ada di tempat umum.
"Ikut aku!" Gavi menarik tangan Grace dan memaksa gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
"Apa yang Tuan lakukan?" protes Grace.
"Aku akan mengantarmu pulang. Sudah kubilang kan tempat ini tidak pantas untuk anak kecil sepertimu!"
"Kenapa Tuan selalu memanggilku anak kecil?" Grace bersidekap dada yang mana membuat kedua buah da*danya terjepit disana.
Gavi menelan ludahnya, sebenarnya apa yang dilakukan gadis itu? Tidak sadarkah dia di depannya ada seorang pria normal? Gavi akui jika body Grace ini tidak terlihat seperti anak remaja pada umumnya.
Gavi berdehem beberapa kali untuk menormalkan sesuatu di bawah sana , "Dimana rumahmu?"
"Tidak akan ku beritahu."
"Hei, aku akan mengantarmu pulang."
"Aku tidak mau pulang!" tolak Grace merajuk.
Tidak ingin ambil pusing, Gavi mengemudikan mobilnya menuju ke salah satu coffe shop yang buka selama dua puluh empat jam. Setelah drama pembujukan akhirnya Grace bersedia turun bersamanya.
Gavi memesan minuman dan cemilan yang sekiranya disukai oleh Grace karena gadis itu tak kunjung menjawab saat ditanya.
"Tidak baik anak kecil keluyuran malam-malam, besok kau harus sekolah."
"Apa masalahmu? Itu urusanku!"
Gavi menggelengkan kepalanya, "Dasar anak muda jaman sekarang!"
Grace menatap Gavi dengan tatapan mengintimidasi, "Memangnya berapa usiamu?"
"Usiaku?"
Grace mengangguk.
"Dua puluh sembilan tahun."
"Hah?" pekik Grace tak percaya.
"Kau tidak percaya? Ingin ku tunjukan kartu identitasku?"
"Tidak perlu. Kalau begitu bagaimana kalau aku memanggilmu, Uncle?"
"What?"
"Aku kan masih kecil, usiaku baru saja tujuh belas tahun, terpaut cukup jauh kan? Lebih sopan jika aku memanggil Uncle."
"Memangnya wajahku terlihat tua?" protes Gavi.
"Ya tidak juga sih."
"Tidak, aku tidak mau dipanggil Uncle."
"Lalu apa?"
"Terserah, asal jangan itu."
Grace tersenyum lebar, rasanya begitu lucu mengerjai pria ini, "Baiklah. Bagaimana kalau Sayang saja?"
Jlebb.
lope u Thor