NovelToon NovelToon
Doctor Dom

Doctor Dom

Status: tamat
Genre:Dokter Ajaib / Identitas Tersembunyi / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:75.2k
Nilai: 5
Nama Author: dee Irma

Kecelakaan membuat nyawanya masuk dalam tubuh seorang anak SMA yang menjadi korban saat menolong seorang gadis saat terjebak tawuran siswa.
Mengetahui dirinya telah meninggal, Dom tidak bisa menerima hal itu. Terutama saat dia mulai sering bermimpi buruk yang membuatnya tidak nyaman.
Dom yang seorang dokter bedah ternama, sekaligus dokter peneliti obat obatan, yang memiliki laboratorium, serta pewaris tunggal dinasti dari keluarga yang bergerak di bidang farmasi, harus bisa menerima kenyataan bahwa raganya telah tiada.
Dom menjalani kehidupan sebagai anak SMA, sambil menyelidiki kematiannya sendiri.
Dalam perjalanannya menyelidiki, banyak hal yang tak terduga dialaminya.
Penghianatan, rahasia keluarga, dan teman membuat hidup Dom yang sebagai Arthur semakin berwarna.

Ikuti terus kisahnya hanya di sini.
Jangan lupa like dan komentarnya, baca secara urut juga ya.

Terima kasih 😘💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Buruk

"Halo, Dom!"

Dom menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

"Stella?"

Stella tersenyum lebar, lalu mengacungkan senjata api tepat di depan Dom, lalu dalam hitungan detik, Stella menarik pelatuk benda berbahaya itu, tepat mengenai dahi Dom.

Tanpa sempat bertanya alasan, Dom merasakan ada yang mengalir dan berbau amis bercampur aroma bakaran.

Dom memeriksa dengan tangannya, lalu memyadari itu darah segar. Dom menatap Stella dengan penuh tanya. Kini, senyum lebar Stella berubah menjadi seringai yang mengerikan.

"Stella, mengapa?"

Bukan jawaban yang keluar dari mulut Stella namun seringai tawa yang menakutkan, membuat Dom merasa gentar menatap wajah wanita yang menjadi kekasihnya itu.

Dom seolah melihat Stella berubah menjadi monster yang mengerikan.

Stella mengarahkan senjata apinya pada tubuh Dom, dan menarik pelatuk kembali tepat pada bagian vital tubuh Dom berkali kali.

"Tidaaakkkk.....!"

Dom terbangun, keringat dengan butiran besar bercucuran membasahi wajahnya.

Dom terengah-engah, berusaha menata napasnya.

"Apa yang aku pikirkan? Mengapa mimpi itu lagi?"

Dom mengusap wajahnya dengan tangan, lalu meraih jam weker di meja dekat tempat tidurnya.

Waktu menunjukkan pukul enam pagi, waktu yang sama untuk bangun pagi saat masih benar benar menjadi Dom.

Dom merapikan tempat tidur Arthur, lalu membuka pintu kamar menuju kamar mandi.

Dom, bersiap hendak lari pagi, seperti kebiasaannya dulu.

"Arthur, kamu sudah bangun?" Seorang wanita yang lain menegurnya dari dapur.

Dom menoleh dan hanya diam, lalu tersenyum.

"Apakah ini ibunya Arthur? Mengapa aku tidak tahu dia kembali?" Batin Dom.

"Aku mau lari pagi." Ucap Dom.

Wanita itu mengangguk sambil tersenyum.

Kepalanya mengenakan penutup kepala, dan kulitnya terlihat keriput, serta tubuh yang kurus.

"Ibu akan membuatkan makanan untukmu. Pergilah! "

Dom mengangguk, lalu bergegas keluar dari rumah. Dom berlari kecil sebagai pemanasan. Perlahan namun pasti, Dom berlari menyusuri trotoar berkeliling di area tempat tinggal keluarga Arthur. Satu blok, dua bkok, hingga tiga, empat, lima blok, Dom masih terus mengingat mimpi buruknya tentang Stella.

Dom terus berlari berkeliling sekali lagi, mencoba melupakan dan membuang jauh pikiran buruk tentang Stella.

"Aaarrrrgghhh.....!" Dom akhirnya berteriak kesal. Sambil terengah-engah dia duduk di sebuah bangku di taman bermain dekat tempat tinggalnya.

Tiba-tiba dia teringat akan ibunya Arthur, wanita yang baru dilihatnya tadi.

Tatapannya yang lembut, penuh perhatian, sayang. Dom merindukan ibunya. Ibunya sangat suka anak anak, hingga memiliki rumah sakit khusus untuk penyakit yang aneh dan langka merawat anak anak.

Dom tak pernah melihat ibunya menangis, bahkan saat ada pasien yang meninggal sekali pun, ibunya hanya melihatkan raut sedih saja. Tapi, saat upacara kematiannya yang lalu, ibunya menangis tersedu di dekat peti di mana tubuhnya terbaring.

Dom merasa, ibu pasti sangat sedih. Dom, dapat merasakannya.

Dom melirik jam tangannya, sudah satu jam lebih dia melakukan akrivitas pagi ini, Dom memutuskan untuk kembali ke rumah Arthur.

"Bibi, apa yang kamu lakukan?" Tanya Dom yang melihat Rea keluar dari mobilnya, saat tiba di kawasan tempat tinggal.

"Hai, aku baru pulang. Oya, ibumu sudah pulang, maaf semalam tidak membangunkan dirimu. Kamu terlihat lelah. Hai, kamu berlari?" Rea memberondong dengan pertanyaan.

"Ya. Apakah ada yang salah?"

"Tidak. Aku senang, ayo masuk!" Rea menarik lengan Dom menuju ke unit tempat tinggal mereka di apartement itu.

"Bibi Rea, bantu aku, jika ada hal yang aku lupakan saat bersama ibu." Dom menatap Rea ketika di depan pintu unit.

Rea mengangguk.

"Wow aromanya sangat lezat!" Sorak Rea dengan wajah berbinar mendekati Lea kakaknya.

Dom hanya bisa tersenyum, lalu bergegas meneguk segelas air mineral untuk menyegarkan tubuhnya kembali.

"Aku merindukan kalian dan rumah ini. Aku sudah muak tinggal di sana."

Ucap Lea sambil menoleh ke arah Rea dan Dom.

"Sudah sejauh apa perawatan Ibu di sana?" Tanya Dom.

"Aku harus melakukan kemo, perawatan, uji lab. Kerjaanku hanya makan, tidur, duduk duduk saja. Aku memang sakit, tapi aku masih bisa beraktivitas. Makanya, aku meminta satu hari lebih cepat untuk pulang sebelum hasil testku keluar." Ibu Arthur mengoceh panjang lebar dengan kesal.

"Oh, pantas saja, Dokter itu membekali dengan banya obat dan pesan untukmu semalam." Rea terkikik geli.

"Ya. Aku bosan Re. Apa lagi aku merindukan Arthur. Oya, sebentar."

Lea bergegas masuk ke kamarnya, lalu kembali lagi dengan membawa sebuah syal berwarna biru.

"Ini aku buatkan untukmu, Arthur. Selama di rumah sakit, aku mengisi waktu dengan membuat syal ini."

Lea memberikan pada Dom.

"Terima kasih, Ibu."

Dom memeluk Lea, seolah itu mamanya. Sungguh dia pun sangat merindukan mamanya saat ini.

Dom berusaha keras untuk tidak menangis di depan ibu dan bibi nya Arthur.

Lea membalas pelukan Dom, dan mengusap lembut punggung tubuh putranya itu.

Dom mengurai pelukannya, lalu tersenyum.

"Aku akan membersihkan diri dan bersiap untuk sekolah." Dom berpamitan, dan bergegas menuju kamar mandi.

Dia meluapkan tangisnya di sana. Dom menatap tubuh Arthur melalui cermin.

Dia ingin merubah sedikit gaya rambut bocah ini supaya terlihat lebih keren. Dom, memang memikirkan penampilan, di sela kesibukannya.

Tiba-tiba dia teringat akan proyek sebuah serum yang sedang diteliti olehnya. Sebuah serum anti virus untuk wabah flu yang sempat terjadi.

Flu yang dapat menghilangkan nyawa manusia dengan cepat, tanpa terdeteksi itu buatan. Senjata pemusnah biologis.

Dom menghela napas dalam dalam. Berpikir keras bagaimana dia dapat masuk ke area lab tanpa dicurigai orang.

Usai membersihkan tubuh, Dom mengenakan pakaian seragam Arthur. Melihat kembali dirinya melalui cermin, lalu tersenyum sendiri.

"Penampilanmu kali ini pasti terlihat keren." Puji Dom pada dirinya sendiri. Dom meraih kacamata Arthur dan mengenakannya.

"Lucy pintar juga memilih frame untukku. Tidak terlihat culun saat dikenakan. Anak itu boleh juga."

Tiba-tiba Dom terkejut sendiri saat mengingat sosok Lucy.

Yah, gadis muda itu, mungkin yang dapat membantunya untuk masuk dan keluar dengan selamat ke dalam area lab miliknya di rumah sakit.

Dom akan membujuk Lucy menemaninya masuk ke dalam Lab, untuk membantu mengamankan serum yang belum jadi itu, dan mengamankannya. Dom khawatir, serum yang belum sempurna itu akan di salahgunakan oleh pihak lain untuk mengeruk keuntungan.

Dom berencana akan meletakkan penelitiannya ke lab ibunya, di rumah sakit khusus milik ibunya demi keamanan serum itu.

Sekarang, Dom telah berada di meja makan, menikmati omelete buatan ibu Arthur.

Ana juga sudah berada di kursi makan, menikmati sereal dan susunya. Rea membantu menyiapkan sarapan untuk putrinya.

Rea dan Lea menoleh ke arah Dom, yang sedang lahap menikmati makanannya dengan tatapan aneh.

Dom merasa tak nyaman, saat dua wanita bersaudara itu menatapnya dengan tatapan seperti itu.

"Archie apakah kamu sedang jatuh cinta?" Tebak Lea sambil duduk mendekati Dom.

"Kamu terlihat sangat tampan, keponakanku!" Rea menjawil lengan Dom.

Dom baru sadar, dia merapikan rambut Arthur, menata ulang penampilannya. Beruntung Arthur tak menggunakan kawat gigi. Dom merasa susunan gigi Arthur seperti miliknya, rapi, jadi tak perlu kawat gigi untuk merapikannya.

"Dan wangi." Rea mengendusi tubuh Dom.

"Bibi, tolong jangan seperti ini. Aku tak nyaman!" Elak Dom berpura pura marah.

Rea dan Lea terkekeh melihat reaksi Dom.

"Tidak apa apa. Kami senang melihat penampilanmu! Kamu terlihat sangat tampan, putraku." Lea mengusap pipi Dom dengan lembut.

"Bahkan, Nona Lucy pun pasti akan terpana melihatmu!" Sambung Rea sambil mengacungkan jempolnya.

Dom tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

1
MyFamily
mungkinkah Dom anak adopsi
wayang
terimakasih 😊😊😊 telah menghibur 😊😊😊🙏🙏🙏 walaupun diluar ekspektasi endingnya 😂😂😂 🙏🙏🙏 AQ pikir cerita berhubungan dengan doc. dom
wonder mom
tersisa 1 g y? modelan Domi a.k.a Arthur. meski sdh beralih body dan genre pun kesetiaannya tak tergoyahkan. 11 tahun. di dunia nyata, 1 bulan jg udh cari yg baru
wonder mom
jodoh tu g kemana. meski harus pake alur balik bin jungkir dlu. y ttp ketmu
Putri Ayu pertiwi
jurus paling ampuh nyosor bibir ya dom
wonder mom
menarik
Firdaus Tjahyono
lanjut Thor minim 1 hari satu bab /Facepalm/
Firdaus Tjahyono
menarik sekali alur ceritanya
¢ᖱ'D⃤𝐀⃝🥀 iman A.♉ ⏤͟͟͞R
jalan cerita yg menarik smoga sampe end ya thor
Ayu Octaviany
next Thor...
ari sachio
tegang bet akuhhhh kek lg nontong film horor 🤭
Nurul Hikmah
ujian
Nurul Hikmah
ngeces lg
Nurul Hikmah
yaa tdk terus terang.. kurang seru
Nurul Hikmah
lanjutkan thor 😂
Nurul Hikmah
bibi datang
Nurul Hikmah
saling berhubungan saudara
Nurul Hikmah
alasan
Nurul Hikmah
keras kepala
Nurul Hikmah
hahaha 🤣... terus terang saja... bahwa pindah raga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!