NovelToon NovelToon
TIRAKAT 4

TIRAKAT 4

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.

Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.

Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?

Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!

Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 PINGSAN

Setelah semua pemandangan yang amat mengharukan itu...

Akhirnya Salsa melepas pelukan Gendis...

"Gendis, jangan nangis ya... Aku gak mau kalo kamu jadi cengeng gini. Jelek tau! Hahahaha..." ucap Salsa sambil bercanda meledek Gendis.

"Hiks hiks... Aaah... Kamuuu... Hik hiks..." respon Gendis, sambil mengusap air matanya sendiri.

"Hehehe... Oh iya, udah sore, aku mau pulang dulu ya Gendis."

"Hiks hiks... I-iyaaa..." jawab Gendis sambil mengangguk pelan.

"Udaaah iiihhh, jangan nangiiis..."

"Hiks hiks... Iyaaa... Hiks..."

Mas Anto secara spontan dengan cepat mengusap air matanya, supaya tidak terlihat oleh Salsa.

"Om, aku mau pulang dulu ya. Udah sore..." ucap Salsa, sambil menoleh ke Mas Anto.

"Iya Dek Salsa..." respon Mas Anto, masih dengan menahan suaranya yang amat terharu.

Salsa pun turun dari kasur Gendis...

"Ya udah, aku pulang ya Gendis. Kamu harus cepet sehat."

"Iya Salsa... Makasih yaaa..." jawab Gendis.

"Iyaaa..."

Mas Anto bersama Gendis, akhirnya menemani Salsa turun ke bawah, dan menuju ke pintu depan...

Cahaya matahari sore yang semakin orange...

Ditemani semilir angin yang lembut...

Sebagai penanda perpisahan antara Gendis dan Salsa sore ini...

"Salsa, hati-hati di jalan ya..." ucap Gendis.

"Hehehe... Kan rumahku deket..." jawab Salsa.

"Iyaaa... Harus tetap hati-hati, nanti kalo kesandung kamu bisa jatoh loh..."

"Iiihhh... Bisa aja kamu! Hahahaha..."

Beberapa saat, Salsa tampak memandang dalam-dalam wajah Gendis...

Dan Mas Anto hanya berdiri di depan pintu melihat mereka, tanpa suara...

Dan...

Salsa melangkah, lalu...

Memeluk Gendis dengan hangat...

Dan Gendis memeluk balik Salsa...

"Gendiiis... Jangan sampe hilang ya bandonya..." ucap Salsa sambil memeluk temannya itu.

"Iya Salsaaa..."

"Bando nya jadi tanda pertemanan kita selamanya yaaa..." tambah Salsa.

"Iya Salsaaa..." respon Gendis.

Pelukan mereka terlepas, dan Salsa kembali pamitan...

"Aku pulang dulu ya Gendis, aku pulang ya Ooom..." ucap Salsa sambil mencium tangan kanan Mas Anto.

"Iya, terima kasih ya Dek Salsa..." ucap Mas Anto, sambil merangkul Gendis di pinggangnya.

"Iya Om... Dadaaah Gendiiis... Dadah Ooom... Assalamu'alaikum..."

"Dadaaah..." jawab Gendis.

"Iya... Wa'alaikumsalam..." jawab Mas Anto juga.

Terlihat Gendis menatap lurus, mengikuti suara langkah kaki temannya itu yang semakin menjauh menuju gerbang pagar rumahnya...

Dan Mas Anto pun melihat langkah Salsa yang membentuk bayangan karena sinar matahari sore itu...

.....

.....

🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕

🌳🌳🌳🏠🌳🌳🌳

Malam hari pun datang di rumah Gendis...

Jam dinding menunjukkan pukul hampir 22.30 malam...

Mas Anto yang sedari tadi menunggu Pak Diki dan Bu Fitri pulang, terlihat mulai gelisah, karena mereka berdua tak kunjung pulang. Bahkan ke dua HP milik mereka pun tak bisa dihubungi oleh Mas Anto.

"Tuuut... Tuuut... Tuuut... Maaf, nomor yang Anda tuju, sedang berada di luar jangkauan."

Sedari tadi hanya itulah nada dering tunggu yang terdengar di HP Mas Anto.

"Astaghfirulloooh... Kemana sih mereka berdua?" gumam Mas Anto dengan sedikit kesal.

Mas Anto sampai beberapa bolak-balik di ruang tamu, lalu memeriksa Gendis yang sudah terlelap tidur di kamarnya.

Sampai Mas Anto akhirnya membuka aplikasi Al-Quran digital di HP miliknya. Sambil duduk di sofa ruang tamu, ia mulai membaca ayat demi ayat, supaya hati dan pikirannya menjadi tenang.

Sampai-sampai tak terasa, jam dinding kini sudah menunjukkan pukul 23.45, lima belas menit lagi tepat tengah malam.

Kembali Mas Anto mencoba menelepon kedua orang tua keponakannya itu...

Tapi, lagi dan lagi...

"Tuuut... Tuuut... Tuuut... Maaf, nomor yang Anda tuju, sedang berada di luar jangkauan."

Hanya itu yang terdengar di HP Mas Anto...

Akhirnya, dengan terpaksa, Mas Anto sampai mengunci sendiri slot gerbang depan rumah Gendis, dan juga mengunci slot saja pintu depan rumah.

"Dari pada aku capek nunggu... Aku tidur aja deh..." gumam Mas Anto.

Ketika ia hendak menuju ke kamar di lantai bawah, yang sudah disiapkan oleh Bu Fitri untuk Mas Anto tidur, kembali ia putuskan untuk memeriksa sekali lagi Gendis di kamarnya.

Dengan perlahan, ia buka lagi pintu kamar keponakannya itu. Dan terlihat semakin lelap Gendis tertidur. Sampai selimutnya sedikit terbuka.

Mas Anto mendekat, dan kembali merapikan selimut Gendis agar menutupi tubuhnya dengan hangat. Dan tak lupa, Mas Anto pun kembali menyentuh dahi Gendis.

"Alhamdulillah... Udah turun demamnya..." gumam Mas Anto dalam hati saat merasakan panas di dahi keponakannya itu sudah jauh mereda.

Dan akhirnya, Mas Anto pun keluar kamar Gendis, menutup pintunya dengan pelan-pelan.

Mas Anto pun sedikit menguap sambil menuruni tangga, dan ia langsung menuju salah satu kamar di lantai bawah itu untuk segera beristirahat.

.....

.....

.....

.....

.....

"Eeemmmhhh..."

Gendis sedikit menggeliat di atas kasur...

Dan ia mulai terbangun dari tidurnya...

Terasa haus tenggorokannya itu...

Gendis berusaha memanggil Pakde nya itu dari dalam kamar...

"Pakdeee... Pakdeee... Aku hauuus..." ucapnya.

Namun sudah bisa dipastikan, Pakde nya itu tak akan bisa mendengar suara Gendis di dalam kamarnya, di lantai 2.

Gendis pun pada akhirnya, dengan masih merasakan kantuk, harus turun dari kasurnya dan berusaha menuju ke pintu kamar. Ia berniat untuk mengambil sendiri air minum di dapur, di lantai bawah.

"Kriiieeettt..."

Pintu kamar Gendis terbuka olehnya. Dan dengan sambil memegang tongkat, ia berjalan perlahan-lahan mendekat ke tangga...

Tangan kiri sambil memegang tongkat, dan tangan kanannya sambil meraba-raba...

Dan saat sudah terasa di tangan kanan Gendis pagar tangga itu...

Ia pun mulai melangkahkan kaki kanannya...

Akan tetapi...

Tiba-tiba...

SREEETTT!!!

.....

.....

"AAAAAAAAAAA!!!" teriak Gendis!

.....

.....

GUBRAK!!! GUBRAK!!! GUBRAK!!! GUBRAK!!!

.....

.....

Gendis terpeleset...

Terbanting-banting tubuhnya...

Membentur tiap anak tangga dan pagar tangga itu dengan sangat keras...

Dan...

Terlihat sedikit keluar darah dari kepala Gendis, mengalir ke wajahnya...

Gendis, pingsan seketika di depan tangga lantai bawah...

1
🔵🌹Widian,🧕🧕🌹
ini 2 anak yang berbeda kah ?
Deni Komarullah: Tokoh Gendisnya sama Kak... Korbannya yang berbeda...
total 1 replies
SecretS
Merinding juga, kepala sampai hancur. Lanjut kak, memang sampai berapa tumbal? Kalau dihitung pasti lebih dari 5 sebab bertahun tahun loh sebelum ketemu nisa?
Deni Komarullah: Iya Kak...
total 1 replies
SecretS
😰😰menegangkan kak pas gendis mojokin sinta 😆😆, lanjut kak gimana cerita nya gendis kok bisa di pondok dan ketemu nisa 😃
SecretS
Ini kisah pesugihan ya
😆😆 lanjut kak👍👍👍
Yeni Yeni: lanjut dah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!