Dipertemukan secara tidak sengaja dengan mantan suaminya yang dulu pernah disia-siakan lewat anaknya yang ditolong karena masuk got.
Lalu apa yang akan terjadi setelah tragedi masuk got itu? Akankah ada cinta di hati kedua mantan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Tidak Terhindarkan
Marisa perlahan menoleh ke arah orang yang menyapanya, dan menghentikan sejenak makannya yang lahap tadi. Sontak Marisa terkejut dengan orang yang dilihatnya. Dia tidak menduga bahwa orang yang menyapanya itu adalah Raka yang sejak tadi ingin dia hindari. Tapi kenapa kini dia berada di sini di dekatnya lalu meminta ijin satu meja dengannya? Bukankah kemarin sikapnya sangat judes dan kasar saat Marisa bertemu Raka di kamar mandi, dan Raka memintanya menjauhi Cila?
"Satu meja?" Marisa tersadar dari terkejutnya lalu bertanya dengan nada kikuk, dia sangat malu dan tidak menduga bahwa kini dia sedang berdekatan dengan laki-laki yang dulu pernah menjadi suaminya selama satu tahun tanpa dicintainya. Tapi kini ketika harus melihat dia lagi, tiba-tiba dalam hatinya ada desiran aneh yang membayangkan seandainya dulu dia bisa mencintai lelaki di hadapannya, mungkin kini dia masih menjalin hubungan rumah tangga dengannya. Marisa langsung menepis rasa itu, sebab itu sudah berlalu, tidak mungkin laki-laki yang semakin terlihat tampan itu mencintainya kembali setelah luka yang sempat dia torehkan di masa lalu?
"Iya, satu meja dengan kamu," yakinnya mengangguk sembari duduk di kursi yang bersebrangan dengan Marisa tanpa menunggu dipersilahkan. Marisa masih terkesima dan belum sadar sepenuhnya pada kewarasannya. Dia masih tidak percaya, bukankah lelaki di hadapannya ini ikut naik banana boat bersama Cila ke pantai di ujung selatan itu?
"Jangan percaya diri dulu, aku terpaksa meminta satu meja denganmu karena di resto ini tidak ada orang, maksudku sepi orang," alasannya melanjutkan omongannya. Marisa benar-benar kikuk dan merasa sangat tidak nyaman saat dirinya ditatap Raka.
"Silahkan, Mas, duduk saja," ujarnya dengan terpaksa, padahal dia sudah ingin berjingkat pergi dari meja itu saking kikuk dan seakan sempit ruang gerak. Marisa tidak melanjutkan sarapannya yang tadi lahap karena lapar, mendadak rasa kenyang itu muncul dan tidak berselera lagi.
Raka menyeruput kopinya, sesekali diselingi isapan rokok yang asapnya ditiup-tiupkan menjauh ke udara, sehingga di atas meja itu penuh dengan asap rokok. Marisa melihatnya sungguh miris, pagi-pagi begini Raka minum kopi dicampur merokok, apakah tidak akan beradu zat nikotin yang dikandung rokok dengan kafein yang masuk melalui tubuhnya akan menjadi racun? Marisa secara ilmiah atau ilmu kedokteran memang tidak tahu pasti apa yang diakibatkan jika kafein bertemu dengan nikotin dalam tubuh manusia? Namun, melihat Raka barusan minum kopi diiringi mengisap rokok, Marisa merasa ngeri dan menyayangkan akan kesehatan Raka yang bisa saja sewaktu-waktu sakit.
"Kenapa bengong saja, bukankah dari tadi kamu sedang makan dengan lahap?" tanyanya dengan tatapan menusuk. Marisa menunduk dengan wajah yang terasa panas, pasti kini wajahnya sudah memerah karena ditatap tajam oleh Raka.
"Aku sudah kenyang," jawab Marisa seraya meneguk air teh hangat tawar yang dipesannya tadi.
"Tidak baik makan disisa-sisa begitu, nanti makanan yang kamu sisakan marah, dan makanan yang telah masuk ke dalam tubuh kamu tadi tidak menjadi berkah. Apakah kamu mau seperti itu?" ucap Raka menasehati seolah-olah berperan sebagai seorang suami yang sedang mengingatkan istrinya, itu perasaan Marisa. Marisa tidak berani menatap mata Raka yang lurus menatap padanya, dia seakan digurui oleh Raka yang notebene bukan siapa-siapa.
"Memangnya dia siapa, kemarin sangat judes dan kasar, lalu kini sok menasehati seolah-olah seorang suami yang sedang menasehati istrinya yang bandel. Huhhh menyebalkan." Marisa merutuk di dalam hatinya.
Marisa mendongak mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk, lalu sekilas menatap Raka lalu dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Habiskan sarapan kamu," titahnya membuat Marisa kesal, dia tidak suka diperintah orang yang tidak tahu diri seperti Raka saat ini, seenaknya dia memberi perintah, sementara dia seenaknya merokok di depannya dengan tidak tahu diri.
"Maaf aku sudah kenyang, Mas. Apalagi tadi sudah kena asap rokok Mas Raka yang mengenai piring aku. Aku tidak mau makananku tercemar asap rokok dan menjadi penyakit bagi tubuh aku. Walaupun aku tidak merokok, akibat asap rokok yang ditimbulkan Mas Raka barusan, maka otomatis aku menjadi perokok pasif yang dampaknya sama seperti perokok aktif," tandas Marisa mengena ke dalam hati Raka. Raka menganggap Marisa sedang menyindirnya karena tadi merokok di hadapannya.
"Kamu menyindir aku, ya?" tudingnya.
"Menyindir apa?" Marisa tidak paham.
"Ucapan kamu tadi yang menyinggung tentang perokok pasif dan perokok aktif," singgungnya.
"Aku bukan menyindir, tapi fakta. Bukankah Mas Raka yang tadi merokok di depan aku dengan meniup-niupkan asapnya ke atas langit-langit, sedangkan aku tidak merokok tapi kena asapnya, otomatis aku adalah perokok pasif karena secara tidak sengaja asapnya aku hisap," jelas Marisa penuh keberanian. Raka mesem, sepertinya dia menyadari kesalahannya.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Tiba-tiba Raka terbatuk di hadapan Marisa dengan menutup mulutnya. Marisa terkejut, karena dengan tiba-tiba Raka batuk. Marisa merasa prihatin, bisa saja batuknya Raka akibat dari merokok yang dilakukannya selama ini, sehingga mengganggu kesehatan Raka.
"Mas Raka ...."
"Risa ...."
Marisa dan Raka menyebut nama lawan bicaranya masing-masing secara bersamaan. Lalu mereka berhenti bersamaan karena menyadari mereka seolah-olah ingin menyampaikan sesuatu secara bersamaan.
"Kamu dulu, ladies first," usul Raka sembari mengulurkan tangannya mempersilahkan Marisa duluan berkata. Marisa ragu, tiba-tiba tenggorokannya seolah tercekat.
"Ka~kamu dulu Mas," ujarnya gugup mempersilahkan Raka. Raka menggeleng.
"Kamu dulu, aku ingin sekali-kali mendengar pendapatmu, bukankah tadi kamu berani mengeluarkan pendapat masalah rokok dengan lancar?" todongnya lebih lekat menatap Marisa sehingga Marisa tidak sanggup menatap Raka lagi.
Marisa mendongak tanpa menatap. "Ka~kamu, tidak ikut Cila naik banana boat?" tanya Marisa ragu. Sekilas Raka menyunggingkan senyum, entah apa yang dipikirkannya.
"Kamu menduga, aku ikut naik banana boat bersama Cila, ke pantai ujung selatan itu, kan? Sehingga kamu tanpa ragu datang ke resto hotel ini, karena kamu pikir kamu tidak akan bertemu aku. Bukankah demikian?" tuding Raka tepat sasaran mengenai ulu hati Marisa. Marisa sejenak mati kutu, tidak bisa bicara untuk menyela atau membantah Raka, lidahnya seakan kelu.
Sementara Raka terus menyunggingkan senyum kemenangan, seolah merasa bangga karena telah menebak dengan benar dugaannya. Marisa semakin tidak bisa berkutik saat Raka mempertanyakan sesuatu yang tadi ingin dia tanyakan saat mereka bersamaan ingin berkata.
"Marisa, bolehkah aku melanjutkan pertanyaanku tadi yang sempat tertunda?" jedanya.
"Apakah kamu sudah menikah lagi, mengingat selama ini pergaulan kamu dengan teman-teman ngumpul kamu, tentunya kamu banyak bergaul dan kenal dengan teman laki-laki, bukan? Bukankah itu memudahkan kamu mendapatkan pasangan kembali?" Pertanyaan Raka yang datar dan perlahan barusan seakan merobek pertahanan rasa sabar Marisa, Marisa merasa tersayat juga tersinggung hatinya dengan pertanyaan Raka yang lebih dekat maknanya ke arah menuding dirinya bergaul dengan sembarangan lelaki selama ini.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Lagi suara batuk itu diperdengarkan kembali dari mulut Raka. Marisa berdiri lalu menatap sejenak ke arah Raka kecewa, tanpa pamit Marisa bergegas menjauhi meja yang ditempati Raka, Marisa menuju resto hotel dia terlihat memesan sesuatu. Kemudian dengan segera dia kembali ke meja yang ditempati Raka.
"Silahkan minum ini Mas," sodornya membuat Raka heran. "Minuman ini sari lemon dicampur madu, semoga dengan ini batuk atau sakit tenggorokan yang diderita Mas Raka segera sembuh. Kurangi juga rokoknya, Mas. Supaya Mas Raka sehat dan tidak menularkan racun ke orang lain yang bukan perokok aktif," jelasnya tegas seraya berlalu dengan cepat dari hadapan Raka. Raka melongo menatap kepergian Marisa yang dilanda kecewa.
tak gibengae