➦➣ISTRI RASA DEPKOLEKTOR 2↻
☔︎︎_FAV, LIKE, COMMENT_☔︎︎
🧨NO BOOM LIKE!🗡
Mencintaimu adalah kebahagiaan sederhana, tetapi memilikimu tuk jadi duniaku. ~Reyhan Aditya.
Rasa ini seperti baru bagiku, rindu yang membelenggu tak tau tuk siapa. Dia atau seseorang yang tak mampu ku ingat. ~ Asma.
Kamu hanya milikku, tataplah disisiku hingga akhir napasku. ~ Kendrick Al Zafran.
Antara rindu dan belenggu dalam cinta semu, kisah lalu merajut asa dalam penantian—perjuangan sang suami menyadarkan rembulan malamnya.
Bak kupu-kupu tak menemukan jalan pulang, langkahnya tertatih mengharapkan dekapan hangat sang kekasih halal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IDR 9#Shine is Asma
Kepergian Al membuat Rey termenung. Pria itu tidak habis pikir dengan attitude seorang pebisnis yang suka datang tak diundang dan pulang tak diantar. Lah jadi jaelangkung donk. Pemikiran absurd yang seketika menghadirkan suara kekehan pelan. Tidah habis pikir saja dengan tindakan seorang tuan muda dari keluarga terhormat.
Sementara itu Al berlari menyusuri lorong lalu bergegas mencari lift. Pria itu masih mendengarkan laporan dari anak buahnya tanpa mematikan panggilan. Ia tak ingin melakukan apapun atau memberikan perintah apapun selama masih berada di perusahaan yang kini menjadi tempatnya berdiri.
Beruntung tak ada orang lain begitu masuk ke dalam lift, "Cepat cari Istriku ke seluruh tempat area cafe. Dimana pun Shine berada kalian harus menemukannya! Aku tidak peduli kalian akan melakukan apa tapi aku ingin istriku kembali lagi."
Pencarian itu membuat para bodyguard harus berbagi tugas berkeliling menyusuri setiap jalanan dan beberapa bangunan yang memang berada di sekitar mereka. Dari satu toko ke toko lain bahkan selalu memeriksa toilet wanita. Nyatanya mereka tak menemukan gadis yang kini menjadi kehidupan sang Tuan Muda.
Tentu saja mereka terkejut ketika mengetahui istri dari Tuan Muda tiba-tiba menghilang entah ke mana. Pelayan saja mengatakan tidak melihat siapapun yang keluar dari ruangan perpustakaan tapi ketika memeriksa ruangan beberapa kali. Tetap saja tidak menemukan siapapun di dalam sana.
Hal itu membuat para bodyguard langsung melaporkan keadaan yang telah terjadi. Bukannya mereka tidak bisa bekerja tetapi mereka harus memberitahu terlebih dahulu agar tidak membuat tuan muda mereka semakin murka. Satu hal pasti mengenai seorang Kendrick Al Zafran yaitu tidak akan mengampuni siapapun yang mengusik kehidupannya.
Tak peduli apakah itu orang berkuasa atau hanya sekedar orang biasa. Tuan muda memang memiliki ciri khas. Dimana pria itu memiliki hati yang baik meski terkadang terlalu keras kepala dan juga ambisius. Apalagi saat ini yang bersangkutan adalah wanita terpilih yang digadang sebagai permaisuri hati.
Tuan muda sengaja memberikan keamanan yang ketat dengan maksud baik. Mereka ditugaskan untuk menjaga Nona muda sebagai gantinya mereka akan mendapatkan gaji yang berlipat. Hanya saja harus memastikan bahwa sang istri dari Tuan Muda aman dalam pengawasan.
Kesibukan para bodyguard mencari Asma dengan perasaan was-was nan menegangkan, sedangkan di sisi lain. Gadis yang mereka cari justru tengah asik duduk di atas sebuah pohon mendengarkan musik tanpa ada gangguan. Ia merasa bebas menikmati dunianya sendiri.
Siapa sangka, ketika melihat ke sekeliling lapangan justru tatapan matanya terpatri pada sebuah pohon mangga yang tengah berbuah lebat. Tentu saja itu membangkitkan adrenalin untuk segera memetik buah agar bisa dinikmati. Apalagi makan buah dari pohonnya secara langsung pasti sangat menyegarkan.
Warna kuning kemerahan yang tampak menggoda semakin membuat jiwa meronta. Itulah kenapa ia nekad nekat keluar dari jendela ruang perpustakaan. Tindakannya pasti tidak akan ada yang menyangka. Sehingga tetap dilakukan tanpa memikirkan hasil orang lain lagi.
Begitu berhasil melarikan diri. Gadis itu tak menunda waktu tapi karena pohon yang terlalu besar ia harus memanjat dengan kaki telanjang. Kini yang tersisa hanya ada ketenangan serta kenyamanan menikmati musik seraya dengan mata terpejam. Semilir embusan angin menyentuh kulit menghantarkan kedamaian.
Rasanya benar-benar bebas, tak ada lagi yang bisa melarangnya untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Ia tak mengatakan suaminya selalu memaksakan untuk tetap berada di rumah atau melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
Namun kebebasan itu berasal dari kebahagiaan sederhana seperti saat ini dengan apa yang ia lakukan. Tidak ada salahnya untuk terlepas dari pengawasan lalu memanfaatkan waktu luang sekedar untuk menyadarkan diri sendiri ia masih bisa bernafas. Sekali saja menikmati alam tanpa sentuhan penjagaan.
Irama lagu yang terdengar begitu merdu menjadi teman. Untung saja ia memakai earphone bluetooth untuk mendengarkan musik agar tidak mengganggu orang lain. Apalagi pohon yang dinaiki berada ditepi lapangan, meski begitu daunnya yang lebat sehingga tubuh tertutupi ketika naik lebih tinggi dan mendapatkan tempat terbagus untuk menyadarkan punggung.
"Sumpah tak ada lagi. Kesempatanku untuk bisa bersamamu. Kini ku tau bagaimana cara ku untuk dapat trus denganmu.
"Bawalah pergi cintaku. Ajak kemana pun kau mau
Jadikan temanmu. Temanmu paling kau cinta. Disini ku pun begitu. Trus cintaimu dihidupku.
"Didalam hatiku. Sampai waktu yang pertemukan
kita nanti ...," suaranya terdengar lirih menjiwai rasa yang entah kemana.
Hati merasa dunianya tak seindah kenyataan. Pikiran menegaskan Ia dalam dilema tak berujung. Kehilangan ingatan semakin mempertebal dinding keraguan akan kebenaran kehidupannya. Meski tak memungkiri orang-orang di sekitar menyayangi tanpa pamrih.
Lagu yang masih dinyanyikan terdengar indah tanpa sadar menarik perhatian seorang anak yang tak sengaja lewat lapangan. Anak itu mencari sumber suara tetapi kesulitan menemukan sang penyanyi sehingga mengakali dengan bola yang dibawanya. Kaki tanpa kesabaran menendang bolanya hingga menimbulkan kebisingan.
Awalnya merasa biasa membiarkan suara tendangan yang terdengar dilapangan tetapi lama-lama semakin cepat sesekali mengenai pohon tempatnya berteduh. Ketika ketenangan tak lagi ada, bagaimana melanjutkan meditasinya? Mau, tak mau turun tetapi berhenti di cabang pohon terbawah.
Terlihat seorang anak dengan wajah manis sibuk bermain bola sendirian menendang, lalu berlari tanpa arah. Kenapa hanya sendiri? Dimana teman sepermainan yang seharusnya memainkan permainan bola secara team. Wajah sendu anak itu membuat hati tak tega.
Tanpa berpikir lama, dipetiknya beberapa buah mangga ranum yang sengaja dilemparkan ke kolam air mancur tak jauh dari pohon tempatnya berada. Kemudian turun dengan begitu mudahnya seakan terbiasa. Asma mendarat dengan baik tanpa kesulitan, lalu melambaikan tangan ke arah anak yang menatapnya tertegun dengan mulut menganga.
Langkah kaki sedang berlari menghampirinya meninggalkan bola di tengah lapangan. Anak itu tampak manis dengan mata besar berbulu lentik, wajah campuran garis keturunan tetapi tubuh terlihat tak terawat. Mungkin saja anak dari salah satu warga perumahan. Yah bisa jadi, itulah yang ada dibenak Asma.
"Kakak siapa? Rey baru lihat kakak disini." Tatapan mata meneduhkan mengalihkan perhatiannya. Hati menikmati pancaran kasih sayang dari wanita yang kini berdiri di depannya.
Pertanyaan sang anak membuat Asma tersenyum, lalu menggandeng tangan anak itu agar ikut bersamanya. Keduanya mencari tempat duduk untuk berteduh. Apalagi buah mangga yang sengaja dilemparkan ke kolam dengan mudah diambil karena kolam itu terlalu dangkal.
"Siapa namamu tadi?" tanya Asma memberikan satu buah mangga yang sudah di lap menggunakan ujung gaunnya. Ia tak peduli berapa harga gaun karena sama saja terbuat dari serat untuk menjadi pakaian utuh. "Kenalkan, Shine."
Uluran tangan disambut dengan senang hati, "Reynaldi Antoni. Terima kasih buahnya, Ka Shine."
Nama yang indah tetapi sayang hanya nama samaran. Semua itu karena Al memberikan identitas baru di kehidupan baru tanpa ingatan lama. Kehidupan memang penuh misteri dan tak seorangpun bisa menghakimi.
Obrolan kedua insan itu tampak seru ditemani canda tawa tanpa memperhatikan sekitarnya. Kebersamaan yang menjadi kehangatan dan kebahagiaan di hati Reynaldi berbanding terbalik dengan tatapan mata nyalang dengan tangan mengepal dari seseorang. Ia tak suka melihat semua itu.
"REY, PULANG!" teriaknya tanpa perasaan mengalihkan perhatian Asma dengan sentuhan yang menyentak kesadaran ketika merasakan tangan memeluknya dengan erat ketakutan.