Hiza Maladewa, seorang mahasiswa semester terakhir yang harus menikahi seorang perempuan berhijab yang telah di lecehkan nya.
Di dalam rumah tangga nya, dia berperan sangat manis terhadap istrinya, padahal, dia tidak memiliki setitik pun rasa pada istrinya. Dia hanya menghormati dan menganggap istrinya sebagai calon ibu dari anak anak nya, serta memanfaatkan tubuh nya.
Hingga suatu hari, sang istri yang sudah tumbuh benih benih cinta di hatinya untuk sang suami mengetahui, mengetahui bahwa, cinta suami nya telah habis pada masa lalunya.
Dan pada saat itu juga wanita di masa lalu sang suami telah kembali.
Hiza menghadapi dua pilihan, cintanya atau istrinya.
*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerin., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9- My bad husband.
“Begitu saja Kyi?” tanya Hiza ketika selesai melihat melihat praktek nikah yang di praktekan oleh para santri dari kayu Hasan.
Hiza melihat mulai dari awal akad hingga sah nya sebuah pernikahan.
kyai Hasan mengangguk.
“Iya, jadi kapan mau nikahnya?”
“Sebentar” ujar Hiza memberikan isyarat kepada kyai Hasan dengan tangannya agar menuggu membuat para santri sangat terkejut akan hal itu dan menatap Hiza dengan horor.
Hiza yang di tatap hanya mengedikkan bahunya acuh dan tangannya tetap mengotak atik Handphone yang di pegangnya.
“Halo dad” ucap Hiza ketika sudah panggilan telepon nya telah menyambung.
“Ada apa?” tanya Fareed di sebrang sana.
“Mommy mana?”
“Ini, Halo ada apa nak?” tanya lintang yang menyahuti ucapan Hiza. Sepertinya mereka berdua tengah bersantai.
“Bersiaplah, aku tunggu setengah jam”
“Mau kemana?”
“Aku akan menikahi Erlita, tolong ke alamat yang akan aku kirimkan, Erlita biar aku yang urus.”
Tut....
Panggilan telepon Hiza matikan sepihak, lalu dirinya kembali menelepon bawahan yang di beri oleh Fareed untuk membantu semua keperluan nya. Bisa di bilang pengawal pribadi yang selalu mengikuti kemanapun dirinya pergi. Namun untuk seminggu terakhir Hiza meminta pada pengawal nya itu agar tidak mengganggu nya satu Minggu penuh. Dan pada akhirnya pengawal itu hanya mengawasi nya dari kejauhan.
“Ada yang bisa saya bantu tuan muda?” tanya seorang pria yang berusia kepala tiga dengan nama Joseph.
“Tolong pergi ke toko Rose, toko bunga di pinggir jalan menuju pesantren Al amin, dan bawa pemilik toko serta anaknya bernama Erlita, jika tidak mau, culik saja, aku tunggu setengah jam dari sekarang!.”
“Baik tuan”
Tut ..
Hiza memasukkan handphone nya ke saku. “Sudah kyai, tunggu sebentar ya” ucap Hiza.
•••`
“Bund, ini pesanan siapa?” tanya Erlita mengangkat satu buket bunga mawar besar yang berisi seratus tangkai mawar merah.
“Itu kasih saja ke Amelia, dia yang tau akan di kirim kemana”
Erlita mengangguk, lalu mengantarkan ke bagian kasir untuk mengetahui dimana alamat pemesan.
“Mbak, ini buket mawar dengan seratus tangkai nya sudah selesai” ucapnya, meletakkan buket itu di atas meja kasir.
“Baik, nanti biar Jono yang akan mengantarkan nya”
Erlita lagi lagi mengangguk.
“Permisi, apakah anda bernama Erlita?” tanya seorang pria berbadan tegap dengan jas mahal yang membalut tubuh besarnya.
“Iya, dengan saya sendiri, ada perlu apa mencari keberadaan saya tuan?” tanya nya, menunduk, Erlita hanya melihat sekilas wajah pria yang mencarinya itu.
“Mana ibu Anda?”
“Mau apa mencari ibu saya?” Erlita berjalan kebelakang dan meninggalkan pria tadi untuk memberi tahu bunda nya.
Pria tadi mengerutkan keningnya, dan memandang Erlita dengan aneh. Dia bertanya namun pergi begitu saja.
Pria itu mengikuti Erlita, tapi satu tangannya mengode kedua temannya agar ikut masuk kedalam.
“Bunda ada yang nyariin Bunda” ujar Erlita memberi tau.
“Siapa?” tanya Bunda Rosa.
“Tidak tah—”
“Saya Joseph, saya di utus oleh tuan muda untuk menjemput kalian berdua” potong Joseph.
Erlita berbalik badan, dia kembali terkejut, perasaan tadi dirinya hanya melihat pria yang bernama Joseph, tapi sekarang kenapa bertambah dua orang lagi di belakangnya?.
“Tuan muda? siapa tuan muda anda?” tanya Rosa heran serta penasaran.
“Tuan muda Hiza Maladewa anak dari tuan Fareed Peterson”
“Tidak, kami sudah tidak memiliki urusan lagi dengan tuan muda anda” ucap Rosa menarik tangan Erlita agar perpindahan ke belakang tubuhnya perasaannya sudah tak karuan.
“Mohon ikut saya ibu, waktu yang tuan berikan tinggal lima belas menit” ujar Joseph mendekat ke arah ibu dan anak itu.
“Tidak ma—”
Busstt..
Sebuah cairan berbau yang membuat seseorang yang menghirup pingsan, di semprot kan oleh Joseph.
“Tangkap wanita itu!” seru Joseph ketika melihat tubuh Erlita akan terjatuh dan tidak ada yang menangkap nya.
Anak buah Joseph dengan sigap mengangkat tubuh Erlita, sementara Joseph sendiri mengangkat tubuh Rosa dan membawanya ke dalam mobil.
“Urus orang orang yang melihat”
•
•
•
Kini, Erlita, Rosa, Fareed, Lintang, Lavender, Hiza, Kyai Hasan, serta istrinya tengah duduk di ruang tamu milik Kyai Hasan.
Erlita dan Rosa sudah bangun karena bius itu hanya berlangsung selama sepuluh menit.
Sementara Fareed serta keluarga nya datang lima menit setelah Erlita dan Rosa datang di bopong oleh pengawal nya.
“Sebaiknya nak Hiza dan Erlita bicara terlebih dahulu, karena pernikahan ini mereka yang menjalani” ucap Kyai Hasan menengahi suasana yang begitu canggung.
Mereka semua nya telah di kenalkan oleh Hiza kepada kyai Hasan ketika Erlita dan Rosa belum terbangun dari pingsan nya.
“Ya, itu lebih baik, kalian berbicaralah terlebih dahulu” ucap Fareed menambahi.
Hiza mengangguk, kemudian berdiri dan menarik tangan Erlita yang langsung di tarik oleh Erlita. Sehingga tarikan paksa yang di lakukan oleh Hiza terlepas.
“Maaf, mari” ucap Erlita menunduk.
“Saya permisi kyai” Hiza berjalan keluar di ikuti oleh Erlita yang juga berpamitan dengan bahasa isyarat. Anggukan.
Hiza memimpin jalan mereka, sementara Erlita berjalan menunduk di belakangnya.
Hiza berjalan ke arah samping masjid yang sepi orang, duduk dan melihat Erlita yang masih berdiri menunduk. Perempuan itu tengah memakai gamis berwarna putih di padukan dengan kerudung coklat muda, eh.. bukan, coklat matang, em.. seperti nya bukan. Di mata nya itu berwarna coklat tidak muda dan tidak matang. Entahlah, Hiza hanya tau nama nama warna yang inti saja.
“Sampai kapan mau berdiri terus?” tanya Hiza karena dia sudah duduk dari tiga menit yang lalu.
“Mm.. iy- iya..” Erlita takut, dengan badan sedikit bergetar ia duduk agak jauh dari Hiza.
Hiza menghela nafas nya. Prinsip menikah sekali seumur hidup akan tetap ia laksanakan meskipun ia harus menikah dengan wanita di depannya ini.
Hiza lihat dari gerak gerik Erlita, Erlita bukanlah orang pembangkang, Erlita adalah wanita penurut, jadi it's okey lah, dia tak masalah.
“Mau jadi istri ku tidak?” tanya Hiza tampa berbasa-basi.
Erlita terkejut, dirinya tak menyangka jika Hiza akan langsung mengatakan apa yang dia ingin sampaikan. Biasanya orang orang akan berbasa-basi terlebih dahulu seperti menanyakan nama atau sebagai nya, namun Hiza sangat lah berbeda.
Erlita yang juga menganut sistem menikah sekali seumur hidup akan menyakinkan dirinya akan mencoba menerima Hiza apapun kondisi nya.
“Kamu mau tidak, malah ngelamun” ujar Hiza melihat Erlita melamun dengan semua pikirannya.
“Saya menganut sistem menikah sekali seumur hidup, jika anda akan memadu saya atau akan menceraikan saya, lebih baik saya mundur dari sekarang.” balasnya dengan kepala yang selalu menunduk.
“Aku juga, dan aku harap kau bisa nerima semua masa laluku yang sangat buruk”
“Tidak masalah, semua orang, mempunyai masa lalu entah itu buruk ataupun baik, saya tidak akan memandang masa lalu, biar masa depan yang saya pandang, saya pun juga mempunyai nya, jadi saya tidak masalah dengan masa lalu anda”
Hiza menaikkan sebelah alisnya, mulut wanita di depannya ini sangatlah manis.
“Mulut mu sangat manis” ucap Hiza membuat Erlita melebarkan matanya.
Kata lain dari 'mulut lo sangat manis' itu berarti dia pembual.
Erlita menggelengkan kepalanya.
“Aku dulu bejad banget”
“Tidak masalah, itu hanya masa lalu”
“Aku peminum”
“Tidak masalah”
“Aku tukang judi”
“Gapapa, itu masa lalu”
“Aku pernah tawuran”
“Masa lalu tidak perlu di ungkit”
“Aku setiap hari selalu nge s ex bahkan setiap malam”