Warning!! Novel ini tidak ada pengajaran apapun, hanya murni pemikiran author. Yang nggak suka boleh skip!!
*****
Karena kecerobohanya, Luna kehilangan keperawanan di tangan bos nya sendiri yang bernama Gamma Emiliano Johnson.
Pria mapan yang digandrungi banyak kaum hawa itu mencoba bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Luna, tapi wanita itu justru menolak mentah-mentah karena Gamma sudah memiliki istri.
"Kau tidak perlu tanggung jawab, itu hanya bagian tubuh yang tidak penting bagiku." ~ Aluna Olivia.
"Kalau begitu, kita lanjutkan saja apa yang sudah terjadi." ~ Gamma Emiliano.
Bukannya menghentikan kesalahan, mereka justru meneruskan hubungan terlarang itu. Dan dari situlah Skandal Cinta mereka dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Egois Gamma.
Luna mencoba untuk melawan Gamma agar tidak lagi menyentuhnya. Tapi kekuatannya kalah kuat dengan Gamma yang sedang dikuasai emosi itu. Pria itu dengan kasar merobek bajunya lalu menyentuhnya kembali dengan brutal.
"Tuan, aku mohon hentikan ini ..." Luna menangis seraya mendorong da da Gamma agar melepaskannya, miliknya sangat nyeri sekali karena Gamma melakukan penyatuan tanpa pemanasan sama sekali.
"Kau harus menurut padaku, jika kau mencoba ingin berpaling dariku, kau harus ingat ini, Luna." Gamma masih dikuasai emosi malah sengaja menyentuh Luna dengan kasar, ia juga mengigit bagian tubuh Luna yang terjamah bibirnya.
"Tuan ... sakit ..." Luna semakin mengencangkan tangisnya, ia menyesal karena telah menantang pria ini. Sekarang ia harus menahan segala apa yang dilakukan Gamma meski itu sangat menyakitkan.
*****
Luna kembali ke meja kerjanya setelah ia membersihkan dirinya. Matanya masih sembab karena sejak tadi menangis, Gamma memperlakukannya dengan sangat kasar hingga Luna merasakan sakit diseluruh tubuhnya.
"Luna," terdengar panggilan dari Gamma membuat Luna langsung menoleh, tapi ia kembali menunduk untuk melihat berkas didepannya.
"Luna aku-"
"Saya mau izin pulang Tuan." Luna langsung menyela sebelum Gamma sempat mengatakan apapun. Ia juga tidak sudi menatap pria itu sama sekali.
"Aku akan mengantarmu," ucap Gamma mengangguk seraya menghela nafas panjang, ia menyesal setelah melakukan hal kasar pada Luna.
"Tidak usah, aku ingin sendiri," kata Luna menggeleng dengan tegas.
"Luna-"
"Kali ini aku mohon, biarkan aku bebas. Aku sudah berjanji tidak akan berpaling darimu 'kan?" Ujar Luna menangis lirih, tatapan matanya tampak sayu dan penuh permohonan.
Gamma mengigit bibirnya, hatinya ingin menolak tapi ia tidak bisa. Ia tidak sanggup melihat mata sayu Luna yang terlihat sangat tertekan itu. Sepertinya ia memang sangat keterlaluan, tidak seharusnya dia seperti ini pada Luna. Bagaimana pun dia masih terikat dengan Clarissa, istrinya.
Luna segera mengemasi barangnya, ia bangkit dan berjalan sangat pelan. Perut dan bagian intinya masih benar-benar sakit sekali hingga membuat matanya berkaca-kaca.
"Kau sakit, biarkan aku mengantarmu," ucap Gamma benar-benar tidak tega melihat Luna.
"Tuan, aku mohon kali ini saja," pinta Luna memandang Gamma sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Gamma hanya bisa diam mematung melihat Luna pergi dengan tertatih-tatih. Baru kali ini selama hidupnya ia menyesal yang sangat dalam.
*****
Gamma pulang kerumah dengan wajahnya yang murung, ia bekerja seperti tidak fokus karena memikirkan Luna. Tadi ia sempat mengirimkan pesan tapi wanita itu sama sekali tidak membalasnya membuat Gamma semakin khawatir. Ingin datang ke ruko pun tidak bisa karena ia takut malah akan membuat wanita itu tidak nyaman.
"Sayang, tumben banget pulang sore. Aku pikir bakalan lembur." Clarissa yang melihat kedatangan Gamma langsung menyambut suaminya itu, ia memberikan pelukan hangat dan ciuman mesra dibibir Gamma membuat pria itu tersentak.
"Apa yang kau lakukan?" Bentak Gamma kaget karena tingkah Clarissa itu.
"Ciuman selamat datang, capek banget ya hari ini?" Clarissa menanggapinya dengan sangat ceria, ia juga mengelus dada suaminya dengan lembut.
"Sudah tahu aku lelah, jangan menggangguku!" Ketus Gamma menjauhkan dirinya dari Clarissa.
Clarissa berdecak kesal, ia mengikuti Gamma yang masuk kedalam kamarnya terlebih dulu. Dilihatnya pria itu sedang melepas jasnya beserta kemeja. Clarissa langsung mendekat lalu memeluk pria itu dari belakang.
"Risa!" Bentak Gamma.
"Aku merindukanmu Sayang, apa kau tidak merindukanku?" Ucap Clarissa membelai dada bidang suaminya dengan gerakan lembut.
"Apa kau tuli? Aku bilang aku lelah, cepat lepaskan tanganmu," sergah Gamma kesal.
"Kau ini kenapa sih? Ingat ya Gamma, Mamamu sekarang berada di pihakku dan kalau kau macam-macam aku bisa saja mengadukan kelakuanmu ini padanya. Jika sampai Mamamu tahu, kau pasti akan tahu akibatnya," kata Clarissa tidak bisa menahan kekesalannya, ia bosan setiap ia menyentuhnya Gamma selalu menolak, padahal pria itu tidak pernah begini sebelumnya.
"Lakukanlah sesukamu, kau juga harus ingat kalau aku juga sedang memegang kartumu. Jika Mama tahu apa yang kau lakukan dengan manager mu, kau justru yang akan diusir dari rumah ini," ucap Gamma balik mengancam, ia sudah punya bukti rekaman CCTV club waktu itu, dan ia tinggal menyerahkan pada Mamanya.
"Cih, kau juga berselingkuh tapi kau bertingkah menjadi manusia paling suci disini. Bukankah kita sudah sama-sama impas? Aku dan Bastian, kau dan Luna," ucap Clarissa menarik sudut bibirnya.
"Aku tidak punya hubungan apapun dengan Luna, camkan itu baik-baik!" Bentak Gamma sungguh tidak mau jika Clarissa membawa Luna kedalam masalah mereka.
"Kalau memang tidak punya hubungan, ayo kita lakukan hal yang seperti biasa. Aku tahu kau pasti juga menginginkannya," ucap Clarissa tiba-tiba mendorong Gamma sampai pria itu jatuh ke ranjang, dengan cepat ia langsung duduk diatas perut pria itu lalu mencium bibirnya dengan panas.
Gamma mencoba bangkit tapi Clarissa jelas tahu apa yang bisa membuat Gamma luluh lantak. Wanita itu kini sudah memegang tongkat ajaib milik Gamma dan membelai dengan lembut. Ia juga menciumi telinga pria itu karena ia tahu jika Gamma sangat sensitif dengan telinganya.
Beberapa saat saja, Clarissa sudah berhasil melepaskan kain yang melekat dalam diri Gamma. Ia langsung turun untuk memuja bagian tubuh suaminya yang mulai menegang itu.
"Risa ... Oh shitttt!" Gamma tidak bisa menahan dirinya saat Clarissa menggodanya.
Clarissa menyudahi aktifitasnya, ia lalu bangkit dan membuka bajunya sendiri hingga menunjukkan da danya yang menantang.
"Pegang, aku yakin kau semakin menyukainya," bisik Clarissa mengambil tangan Gamma untuk menyentuhnya.
Gamma menipiskan bibirnya, milik Risa memang terlihat lebih besar dari sebelumnya. Gamma menduga wanita itu pasti baru saja menyuntiknya lagi. Tidak seperti milik Luna yang alami.
Saat Gamma malah asyik melamun, ternyata Clarissa sudah memposisikan dirinya dan melakukan penyatuan membuat Gamma terkejut.
"Sayang ... a h ..." Clarissa menggerakkan tubuhnya menggoda Gamma agar pria itu ikut terpancing.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian Gamma sudah membalikkan tubuh Clarissa lalu memulai percintaan yang sangat panas.
******
Setelah seharian beristirahat, Luna cukup membaik. Malam harinya ia memutuskan untuk keluar ruko mencari makan. Tadi sahabatnya Vinda sudah menghubunginya dan mengajaknya keluar. Luna menyetujui karena ia juga sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya itu.
"Kamu jemput di ruko aja ya Vin, aku males order grab," ucap Luna menghubungi sahabatnya itu.
Vinda menyetujui untuk menjemput Luna, setelah itu mereka berdua pergi ke salah satu restoran yang belakangan ini sangat viral di media sosial.
"Luna, Luna, naik berapa kali sih sampek jalan lu kayak kepiting gitu." Vinda tiba-tiba menyeletuk saat melihat cara jalan Luna yang cukup aneh itu.
"Apaan sih, aku lagi bisulan, makannya kayak gini," sergah Luna membantah ucapan sahabatnya itu.
"Udah deh, aku udah hafal banget kamu Lun, lagian stempelnya aja masih kelihatan gitu. Gimana? Udah lepas keperawanan?" Seloroh Vinda melirik leher Luna yang masih meninggalkan bercak merah keunguan itu.
"Ck, jangan bikin mood aku buruk Vin. Buruan pesen makanan, aku lapar," ucap Luna mendengus kesal, ia sedang tidak ingin membahas Gamma atau apapun yang berhubungan dengan pria itu.
"Oke, oke, tadi Ayah kamu hubungin aku," kata Vinda memanggil waiters untuk memesan makanan.
"Ngapain dia hubungin kamu? Blokir aja kalau merasa terganggu," ucap Luna mengerutkan dahinya.
"Dia nggak ganggu aku Lun, dia cuma pengen kamu pulang," ucap Vinda menatap sahabatnya.
Happy Reading.
TBC.
eh awal bab so 🔥🔥🔥