Alana seorang gadis cantik penderita Tryphanophobia atau takut akan jarum suntik.
Menikah dikarenakan perjodohan
Dengan dokter muda yang bernama Dava Agatha mahesa
Dava tidak mungkin menolak keinginan ibu tersayang nya sehingga dia menerima perjodohan ini
Dia si gadis polos pecinta coklat dan warna pink.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Senin, 05:40
Tok-tok!!
Alana masih terlelap dalam mimpi indahnya, tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamarnya sangat keras.
"Woy bangun! Kebo banget sih lu," Malvin terus mengetuk pintu kamar Alana.
Sedangkan didalam kamar Alana menutup telinganya dengan bantal.
"Kalau gak bangun gua bagiin coklat lu ke anak SD lagi!" Teriak Malvin.
Alana langsung bangun dari tempat tidurnya, dan berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Kalo Abang bacot, Aku doain Abang jomblo seumur hidup!" Ucap Alana sebal.
"Parah bener lu, tidak senonoh ini namanya. Mentang-mentang mau nikah doain orang seenaknya."
"Mandi sana lu, badan bau karet kebakar juga,"
"Berisik!" Ucap Alana.
Alana menutup pintunya kencang, sedangkan Malvin yang hendak berbicara pun tidak jadi, karena bibir mulusnya mencium pintu kamar Alana.
"Dasar ADDHUR!"ucap Malvin. "Adik Durhaka!" Lanjutnya dan langsung meninggalkan kamar Alana.
30 menit Alana bersiap-siap, ia sudah memakai seragam sekolahnya.
Saat ini Alana sedang menyisir rambut panjangnya.
"Semalem Kan Alana tidur dimobil kak Dava, kok pas bangun udah di kasur?" Tanya Alana kepada dirinya sendiri dicermin.
"Apa Alana di gendong nyamuk sampe kamar?"
"Ah tapi kalo nyamuk yang gendong Alana berat, gak akan kuat, biar aku saja,"
"Ih kok Alana jadi ikut-ikutan di film yang Alana tonton bareng Rika, yang judulnya Dill... Dill... Ah Alana lupa,"
"ALANA TURUN SARAPAN!" Seseorang meneriaki dari lantai bawah, itu adalah Sari bundanya,
"IYA BUN ALANA TURUN," teriak Alana membalas ucapan Sari.
Alana turun dengan membawa tas sekolahnya. Berjalan ke arah meja makan.
Dari arah tangga muncul lah Malvin dengan menggunakan masker wajah.
"Jadi abang mau ngikutin suami-suami aku? pake masker? Kan abang gada fans?" tanya Alana heran.
Alana lanngsung mendekati Malvin dengan tatapan Devil nya, dan langsung membuka masker yang di pakai Abangnya.
Semuanya terkejut dengan Malvin dan bibir jontornya.
"Hahahaha," Alana tertawa kencang.
Zahran hanya diam menahan tawanya.
"Diam!" bentak Malvin, membuat hening.
"Ini semua salah Alana! Aku belum selesai ngomong udah nutup pintu aja, bibir seksi aku kan jadi korban kejahatan Alana, bun." Malvin merengek manja oada Sari membuat Alana geli.
Bisa kalian bayangkan Malvin dengan mulut jontornya.
"Udah-udah, kalian mending cepat sarapan," titah Sari.
Akhirnya mereka memutuskan untuk sarapan.
"Alhamdulillah, kenyang. Bunda bekel Alana mana? Tanya Alana kepada Sari.
Rani datang dengan membawa totebag yang berisi makanan dab tak lupa dengan COKLAT.
"Kok banyak banget sih bun?" tanya Alana heran karena porsi makanan kali ini cukup banyak.
"Itu buat kamu, Rika, dan Nadia,"
Alana mengangguk-ngangguk saja.
"Alana kalo lama Abang tinggal!" ucap Malvin di halaman depan.
"Iya sebentar," Balas Alana meneriaki Malvin.
"Yaudah bun, Alana berangkat. Assalamuallaikum,"
Alana berpamitan dan mencium punggung tangan Sari.
"Waalaikusalam,"
Sedari tadi Alana tak henti\-hentinya tertawa melihat abangnya yang monyong. Inilah kebahagian Alana, melihat abangnya tersiksa.
"Dasar gatau diri, Abis bikin kesalahan bukannya minta maaf malah ngetawain," ucap Malvin sebal.
"Hahaha, yaudah Alana minta maaf ya Abang jelek," ucap Alana berusaha menghentikan tawanya.
"ngatain lagi!" Sinis Malvin.
"Bodo Amat! Yang penting Alana udah minta maaf," ucap Alana santai.
"Ck, dasar nenek gayung," gerutu Malvin pelan, namun Alana mendengarnya dengan jelas.
"Plaakk!,"
Alana memukul bibir Malvin kencang, membuat Malvin meringis.
"Asyu!" Umpat Malvin.
"Kasar!" Ucap Alana.
Mobil Malvin terparkir didepan gerbang sekolah Garuda.
"Belajar yang bener, 3 minggu lagi lu kawin," ucap Malvin sebelum Alana turun.
"Yain, yaudah Alana turun. Bye,"
Alana turun dari Mobil Malvin dan berjalan memasuki sekolah.
"Pagi mang Budi," sapa Alana kepada satpam sekolahnya.
"Pagi neng, udah makan coklat belum pagi ini?" Tanya Mang Budi.
"Belum hehe, yaudah mang aku ke kelas dulu ya,"
Alana berjalan menuju kelas, sedikit lagi Alana akan sampai ke kelasnya. Tiba-tiba ada yang menarik tangannya.
Siapa lagi Kalau bukan Raka.
"Pagi Alana," sapa Raka kepada Alana dengan senyuman mautnya. Namun tak berefek apapun pada Alana.
"Hmm, pagi."
Raka menyodorkan sebuah coklat batang kesukaan Alana.
"Duh jadi enak," balas Alana langsung mengambil coklat dari tangan Raka.
Raka tersenyum penuh arti.
"Aku duluan ya,"
"iya, semangat belajarnya ya Al,"
Alana mengangguk saja, dan melanjutkan perjalanan ke arah kelasnya.
"Pagi Rika, Nad.. Lho Nadia kamu apain Rik? Kok nangis gitu?"
"Apaan si *****, gua gak ngapa-ngapain dia sumoah," Rika membentuk tangan huruf V.
"Nadia lagi galau, pacarnya kecelakaan dan katanya koma," jelas Rika.
"Apa! Kok bisa?"
"Ya bisa lah Al, namanya musibah gak ada yang tau"
Alana langsung memeluk Nadia.
"Nadia sabar yah, mau jenguk Nando?" Tanya Alana " jangan nangis ya, Alana jadi ikut sedih," lanjutnya.
"Kalian emang sahabat terbaik gue," Nadia memeluk Alana dan Rika.
Kringggg!
Jam pelajaran pertama pun dimulai.
®®®®
"Haduh akhirnya pelajaran pak bambang selesai juga,"
Rika mengeluh, Pasalnya pada saat pelajaran Fisika tadi pak Bambang selalu meminta Rika menjelaskan.
"Padahal aku pengen ada di posisi kamu Rik,"
Ucapan Alana yang sukses membuat kedua temannya menoleh.
"Lu suka sama pak Bambang ya? Ngaku lu! Gak nyangka gue," Nadia bertanya tanpa jeda.
"Ih aku suka pelajaran nya, bukan orangnya,"
Rika dan Nadia tertawa.
"Gue mau nanya ni gaes, bentar lagi kita lulu. Kalian mau kulian di mana?" Tanya Nadia.
"Kalo gue sih mau kuliah di Amerika," ucap Rika membuat Alana shock.
"Hah? Berarti Rika pisah sama kita dong?"
"Hmm ya gitu lah,"
"Ini kemauan lu apa ortu lu?"Nadia menyelidiki.
"Ortu gue,"
"Kalo lu Al, lulus nanti rencana kuliah dimana?" Tanya Rika sambil meminum jusnya.
"Alana gak kuliah,"
"Lah terus?" Timpal Nadia.
"Lulus sekolah Alana menikah,"
Uhuk-uhuk!
Rika tersedak minumnya setelah mendengar ucapan Alana.
"Lawak lu bujang,"
"Ngibul kali lu, bisa bercanda juga," Nadia tertawa.
"Alana ngga bercanda, apalagi bohong,"
"Tapi jalan lu masih panjang, lu masih muda. Masih bisa menikmati masa muda lu."
Nadia mengangguk mengiyakan perkataan Rika.
"Ini mungkin jalan hidup Alana, bukannya Alana pasrah atau apa sama takdir. Tapi menurut Alana menikah bukan hal yang buruk, Alana mau belajar jadi dewasa, Alana gak mau bergantung sama Bunda, Ayah dan Abang,"
Mulut Nadia menganga mendengar perkataan Alana, Rika bertepuk tangan atas ucapan Alana.
"Sumpah lu bijak banget Al!"
"Oh iya Alana hari ini bawa bekel banyak, buat Rika dan Nadia,"
"Dari tadi kek gue kan laper,"
Alana mengambil bekelnya dan membukanya di atas meja.
"Enak nih kayaknya," Rika langsung mengambil nuget.
Tiba-tiba tangannya di pukul oleh Alana.
"Cuci tangan dulu baru makan," peringat Alana.
"Iya mak iya,"