Time travel ke tubuh gadis yang bunuh diri, membuat Elliana kembali mendapatkan penampilannya yang dulu. Dia ingin mengubah takdir bagi Sabrina, pemilik tubuh yang tertekan dengan semua bullyan teman-temannya di kampus.
Elliana juga mencairkan tabungannya untuk membantu Sabrina dalam perubahan yang akan dilakukannya.
Apakah Elliana akan berhasil dan kuat dengan tubuh baru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tong Setan
Hari ini Riyan meminta supaya Tia mengajak Sabrina ke Arema tong setan yang sudah dia tentukan, karena dia ingin secepatnya menaklukkan sedih tersebut.
"Lo dapat undangan dari Riyan."
Elliana menoleh ke arah kanan dan kiri, merasa jika Tia sedang tidak bicara dengannya.
"Woiii, Gue bicara sama Lo bego!"
Dengan wajah malas Elliana menunjuk dirinya sendiri, karena memang tidak ada orang lain di sekitarnya kecuali mereka berdua.
"Ya-iyalah, masa gue bicara sama angin!" ketus Tia dengan sinis.
"Oh, apa?"
Elliana pura-pura tidak mendengar perkataan Tia yang tadi, sebab dia memang sudah malas dengan keberadaan Tia yang sepertinya selalu mengekor Riyan selama ini.
"Ikut Gue!"
Tanpa menunggu jawaban, Tia langsung menarik tangan Sabrina supaya ikut bersama dengannya. Dia tidak sabar ingin melihat keadaan Sabrina yang kalah dan menjadi bola mainan gengnya nanti.
"Hehhh..."
Tia terus menarik tangan Sabrina, tanpa peduli dengan keadaan dan protes dari pemiliki tangan.
Akhirnya Elliana menghempaskan tangan Tia dengan mudah, untuk melepaskan cekalan pada tangannya.
"Aku bilang lepas! Aku bisa jalan sendiri karena gak buta. Atau Kamu yang butuh guide?" ejek Elliana, membuat Tia mengeram kesal. Tapi terpaksa diam dan hanya bisa mengepalkan tangannya saja.
"Iya Aku ikut, tapi Aku bisa jalan sendiri."
Elliana berusaha untuk tenang, mengikuti ke mana Tia mengajaknya. Sepertinya dia sudah mulai tahu dan penasaran, permainan seperti apa yang sudah direncanakan oleh Riyan dan gengnya untuk menjebaknya.
Ternyata mobil yang membawa Elliana menuju ke sebuah lapangan, yang saat ini ada kegiatan pasar malam. Tapi karena hari masih siang, jadi tidak ada pengunjung yang datang sehingga terlihat sepi.
Namun ternyata di bagian arena tong setan sudah ramai, sebab Riyan dan beberapa temannya sudah standby di sana.
"Ck, cuma ini." Eliiana berdecak, meremehkan permainan tong setan.
"Cih! Lo gak mungkin bisa!" ejek Tia.
"Siapa takut," sahut Elliana enteng.
Hal ini membuat Tia semakin geram dan gregetan, karena sekarang ini dia tidak bisa dengan mudah menindas Sabrina.
"Hai, sini!"
Riyan memanggil Sabrina untuk datang mendekat ke tempatnya berdiri. Di tengah-tengah arena tong setan, ada dua motor triel yang siap untuk mereka berdua gunakan, sebagai alat permainan yang akan segera mereka lakukan.
"Lo berani? Jika tidak tidak usah terima tantangan Gue. Tapi dengan saru syarat, yaitu Lo harus tunduk pada semua perintah Gue."
"Jika Kamu yang kalah?" tanya Elliana tidak merasa gentar sedikitpun.
"Gue akan menuruti semua keinginan Lo."
"Ok deal!"
Jawaban Sabrina yang begitu mudahnya menerima tantangan ini, membuat Riyan menatapnya tidak percaya.
"Kenapa? Kamu takut?" Eliiana mencoba menyudutkan Riyan.
"Cih! Gue gak takut!"
Kemudian Riyan kembali menatap wajah Sabrina dengan tatapan tajam. Memberi tekanan mental kepada gadis tersebut. Dia yakin, orang yang tidak mampu menguasai arena tong setan ini pasti akan merasa gelisah ketika disudutkan seperti ini.
Tapi ternyata itu tidak berlaku untuk Elliana. Dia benar-benar tidak ada rasa takut sama sekali, padahal tidak semua orang bisa melakukan permainan tong setan tanpa latihan yang rutin.
“Benar Kamu gak mau mundur dan menyerah kalah?" tanya Riyan sekali lagi.
Elliana menganggukkan kepalanya pasti, menerima tantangan Riyan di tong setan kali ini.
Riyan bertepuk tangan sebanyak 2 kali, kemudian pintu arena di tutup setelah Tia dan yang lainnya keluar. Mereka akan menonton dari atas, sama seperti permainan tong setan pada umumnya.
Breummm... breummm...
Elliana mencoba menghidupkan mesin motor dan memeriksa tekanan gasnya, sama seperti yang dilakukan oleh Riyan.
Melihat bagaimana Sabrina yang bisa dengan tenang dan melakukan semua prosedur tong setan, Riyan kembali dibuat bingung dengan gadis yang sangat dia benci ini.
'Dia tahu, gak salah?'
'Ini benar-benar di luar dugaanku!' Riyan membatin dengan semua yang dia perhatikan.
Breummm... breummm
Genggg... genggg...
Semua penonton tegang mendengar deru suara mesin motor yang ada di bawah sana. Mereka semua menantikan atraksi Sabrina dan Riyan, yang sedang beradu keahlian di arena tong setan ini. Sampai akhirnya 5 menit kemudian Riyan memulainya terlebih dahulu baru disusul sabrina.
'Gak nyangka permainan masa kecilku ini Aku lakukan lagi sekarang.' batin Elliana dengan wajah datar.
Di arena tong setan ini, Riyan kembalii dibuat tidak percaya. Sebab pada kenyataannya Sabrina bisa mengendalikan motor triel dengan baik, sama seperti para pemain profesional pada umumnya.
Bahkan dia sendiri mampir kehilangan keseimbangan, kemudian Elliana memberikan kesempatan padanya untuk turun dan mengatur nafasnya lagi.
"Bagaimana, mau lanjut?" tanya Elliana, yang terdengar seperti sebuah tantangan di telinganya Riyan.
Tidak terpikirkan oleh Riyan, jika dia akan berada di posisi seperti ini. Apalagi sampai menyatakan kalah dengan Sabrina, meskipun awalnya dia sangat yakin akan menang.
"Tidak. Ayo lagi!"
Elliana hanya mengendikkan bahunya, kemudian menyusul Riyan yang sudah terlebih dahulu menjalankan motornya.
Tapi pada akhirnya Riyan menyerah kalah. Dia sudah tidak kuat menahan keseimbangan tubuh dan motornya, dengan posisi seperti di arena tong setan yang memang tidak sama seperti jalur balap biasanya.
Breummm...
Brukkk
Riyan mematikan mesin motor dan menendangnya, sehingga motor yang tidak bersalah tersebut jatuh.
Elliana baru saja turun dan mematikan mesin motornya. "Bagaimana?" tanya Elliana datar.
Dia tidak menampilkan wajah seperti orang yang menang, atau merendahkan lawan. Elliana sudah terbiasa menang di kehidupannya yang dulu, sehingga bisa lebih menguasai perasaan agar menyinggung orang yang kalah.
"Iya Gue kalah."
Lolos juga pernyataan kalah dari mulutnya Riyan, yang membuat teman-temannya saling pandang dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan ketua gengnya itu.
Sekarang Riyan harus menerima konsekuensi dari kekalahan yang dialaminya, yaitu menuruti semua permintaan Sabrina.
"Lo mau minta apa?"
"Emhhh... gak sekarang deh. Besok-besok saja Aku minta. Aku mau pergi dulu," sahut Sabrina datar, kemudian meninggalkan arena tong setan dengan langkah ringan.
Riyan mengepalkan tangannya, dengan rahangnya yang terlihat mengeras. Dia tahu ke mana Sabrina mau pergi, sebab dia mendengarkan perkataan Sabrina tadi pagi yang berencana untuk pergi bersama dengan Johan.
Ternyata kedekatan Sabrina dengan Johan membuat Riyan tidak suka. Sebab itulah dia mencari cara, supaya bisa membuat keduanya menjauh.
Dia ingin dekat dengan Sabrina, meskipun dengan cara membullynya.
Perubahan sikap dan semua tindak tanduk serta kemenangan Sabrina sekarang ini, membuatnya semakin penasaran dengan sosok gadis yang dulunya cupu dan direndahkan bersama dengan temannya yang lain.
Riyan menginginkan suasana yang dulu, disaat dengan mudahnya dia menekan mental Sabrina, sehingga gadis tersebut tidak akan pernah berani melihatnya, apalagi dengan tatapan mata yang tajam.
'Gue pastikan jika Lo akan takluk di bawah gue suatu hari nanti.'
Begitulah kira-kira tekad Riyan, yang ingin menindas Sabrina. Dia ingin menggunakan kekuasaannya di kampus.
Berhasil gak ya Riyan?
dan skrng Lolli memng pntas klo sampai kehilangn rasa percya diri krn putus kakinya akibt kecelakaan yg dibuat sndri...