"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."
"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."
Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.
"Bismillah, semoga aku bisa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh Hati
Sudah dari semalam, Akbar menyelesaikan tugas dari kampusnya. Beres-bajupun sudah selesai. Ia hanya membawa beberapa helai kemeja dan kaos untuk ganti di rumah. Celana jeans yang sudah disetrika digantungkan rapi di belakang pintu. Besok ketika mengajar, ia hanya akan memberikan tugas dan motivasi pada mahasiswanya.
Diambil lagi gawai bergambar apel tergigit. Dibuka lagi, galeri foto. Ditarik dengan pelan pada layar, dan terhenti pada gambar perempuan berjilbab biru. Perempuan itu, sedang senyum sampai dimple kanan kirinya sampai terlihat.
Jantung Akbar bergetar. 'Tanda apa ini, ya Allah'. Apakah aku sedang jatuh cinta atau hanya sekedar kagum saja dengan Sekar?
Ya, Akbar sudah mengetahui tentang Sekar. Tentang orang tua, agama, teman, kuliahnya dan sudah punya kekasih belum. Tentu saja, dia mencari tahu dari teman Sekar yang kebetulan kerja di tempat Bapak Suryo.
Ditambah informasi yang diberikan oleh Ibunya. Akbar masih memandang foto yang dikirimkan oleh sang Ibu. Entah darimana foto itu didapatkan.
.
.
Di rumah, Bu Suryo sedang sibuk memasak. Mempersiapkan makanan favorit anak pertamanya, Akbar Zafran Sanjaya.
"Bu, Mas Akbar jadi pulang hari ini?" Tanya Fatih. "Iya, mas mu bilang begitu, semalem." Jawab Bu Suryo sambil mengaduk santan opor. "Nanti juga dikabarin Mas Akbar kalau udah sampai Palembang, Mas." Sambung Bu Suryo. " Iya, Bu. Mas ke kebun dulu ya, nemenin Pakde."
.
.
'Alhamdulilah sampai di kota kelahiran.' Aku cari mobil dulu saja, baru shalat Duha.
Akbar sampai Palembang sudah siang, sekitar pukul 10.30. Berangkat dari Bandara Supadio, pagi sekali. Transit di Jakarta, lalu dilanjutkan penerbangan menuju Sultan Mahmud Badarudin II.
Sahurnya diperjalanan, karena ini sudah puasa hari terakhir, jadi tidak boleh kelewat, walaupun dalam perjalanan, menurut Akbar.
Setelah memberikan kabar bahwa dirinya sudah sampai Palembang kepada Fatih, Akbar langsung menuju masjid.
.
.
Rumah Akbar dan Sekar tidaklah jauh, 10 menit waktu yang ditempuh dalam perjalanan menuju rumah Akbar dari rumah Sekar. Kedua orang tuanya sudah lama berteman. Niatnya mau menjodohkan Sekar dan Akbar, tetapi Akbar sudah punya calon. Makanya Bu Kusuma mengundurkan niatnya, setelah mendengar kabar berita Akbar sudah bertunangan. Tetapi belum mengetahui juga bahwa Akbar sudah jomblo lagi.
Lima jam waktu yang ditempuh untuk sampai di rumah Pak Suryo. Fatih menjemput Mas Akbar di pangkalan speed boat, lewat darat jalan sedang diperbaiki, lewat air saja. Begitu Fatih memberi kabar.
.
Di rumah Sekar.
"Sekar, antar ini ke tempat Bu Suryo." Suruh Ibu. Ibu memberikan rantang yang berisi opor ayam (yang aku buat pastinya) dan beberapa buah ketupat.
"Sama siapa, Bu?" Tanya Sekar sambil menerima rantang dari Ibunya.
" Sendiri saja. Sudah kuliah kok, nggak berani. Jangan malu-malu gitu sama calon mertua." Kata Ibu sambil tertawa. 'Walaupun pelan, aku masih bisa mendengarnya, Bu.'
"Iya, Kanjeng Ratu, titah dilaksanakan." Kataku sambil ke kamar, berganti pakaian. Kujatuhkan pilihanku pada gamis biru dengan aksen bunga melati kecil di bagian bawah.
"Assalamualaikum." Kok sepi sekali ya, benar kan ini rumahya Bu Suryo.
Tidak lama terdengar suara laki-laki menjawab salam.
"Walaikumsalam,"
Deg. Jantungku berdegung kencang. Cantik sekali. Astagfirullah. Sadar Mas, baru ketemu kok langsung kaya gini.
Karena lama, Bu Suryo akhirnya menyusul Akbar ke luar. Wah, pucuk dicinta ulampun tiba ini.
"Eh, ada Mba Sekar, ayo masuk. Kenalin, ini anak Ibu, Akbar Zafran Sanjaya. Mas, ini Sekar." Kata Ibu sambil mengedipkan mata.
Aku tersenyum dan menganggukan kepala. "Bu, diutus Ibu mengantarkan ini."
"Terima kasih, Nak. Ayo buka disini saja, bareng-bareng." Sambil menerima rantang dari Sekar.
"Makasih Bu. Sekar langsung pamit pulang saja. Mari Bu, Mas Akbar, Assalamualaikum."
"Gimana pilihan Ibu, Mas?"
"Cantik dan soleha, Bu." Jawabku tanpa sadar tersenyum.