NovelToon NovelToon
Transmigrasi Figuran

Transmigrasi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Ana

Lia, seorang pembaca setia novel populer berjudul Cinta dan Bayang Kekuasaan, tiba-tiba terbangun dan mendapati dirinya telah bertransmigrasi masuk ke dalam tubuh seorang tokoh figuran yang nyaris tidak disebutkan namanya dalam cerita aslinya. Tokoh ini adalah putri satu-satunya dari keluarga Adhitama—kelompok mafia sekaligus konglomerat terkaya nomor dua di dunia.

Dalam alur cerita asli, tokoh ini hanya berfungsi sebagai alat pengikat alur semata. Ia dijodohkan dengan Arjuna Dirgantara, pewaris keluarga Dirgantara, kekuasaan nomor satu di dunia yang juga dikenal sebagai sang antagonis utama yang dingin, kejam, dan dijuluki “Malaikat Maut” di dunia bawah tanah. Takdir tokoh ini sangat tragis: ia akan dibunuh secara diam-diam tak lama setelah pertunangan, menjadi korban pertikaian antar keluarga dan rencana licik tokoh-tokoh utama.

Sekarang dengan ingatan sebagai pembaca novel, Lia menyadari bahaya besar yang mengancam nyawanya. Tujuannya hanya satu: membatalkan pertunangan ini sece

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9 figuran tunangan antagonis

Sore di kota sudah berubah jadi ungu kemerahan saat mobil keluarga Vareza berbelok masuk gerbang rumah Aditya. Lampu‑lampu taman mulai menyala satu per satu, menerangi jalan setapak yang diapit tanaman hias rapi. Udara terasa sejuk, berbau rumput baru dipangkas dan bunga melati yang tumbuh di dekat teras utama.

Elena turun mengenakan gaun selutut warna krem lembut, rambutnya diikat longgar sebatas bahu—sederhana, rapi, tidak berlebihan. Di sampingnya, Ayah dan Ibu Vareza berjalan tenang, wajah lebih santai dibandingkan saat pertemuan resmi dulu.

Damian sudah menunggu di teras depan. Bukan dengan setelan jas kaku seperti acara bisnis, tapi kemeja lengan panjang warna biru gelap yang digulung sebatas siku dan celana bahan hitam. Tampak lebih muda, lebih dekat, dan… lebih santai.

“Selamat datang,” sapanya tenang, pandangan langsung tertuju ke Elena sebentar sebelum beralih ke orang tuanya. “Ayah dan Ibu sudah menunggu di ruang tengah.”

Saat berjalan masuk, Damian memperlambat langkah agar sejajar dengan Elena. “Terima kasih sudah datang. Aku sempat khawatir kamu akan sibuk urusan sekolah.”

“Bisa diatur kok,” jawab Elena sambil tersenyum tipis. “Lagipula aku juga penasaran bagaimana suasana rumahmu yang sebenarnya. Bukan versi acara resmi yang penuh aturan ketat.”

Damian tertawa kecil. “Tenang saja. Malam ini cuma makan biasa, tidak ada pidato panjang.”

Di ruang tengah yang luas, Ayah dan Ibu Aditya sudah duduk bersama Bibi Laras yang baru kembali dari hutan kemarin sore. Suasana terasa hangat—bukan tegang seperti pertemuan makan malam penentuan dulu.

“Senang akhirnya bisa berkumpul tanpa rasa cemas,” ucap Ibu Aditya sambil menyambut Ibu Vareza dengan pelukan ringan. “Terima kasih sudah menerima undangan kami.”

“Kami juga lega banyak hal sudah terang,” jawab Ayah Vareza sambil menoleh ke arah Laras. “Terutama soal masa lalu yang sempat tertutup rapat.”

Laras tersenyum tenang, matanya beralih ke Elena dan Damian yang berdiri agak di belakang. “Kadang hal yang paling dekat justru paling lama tidak kita kenali. Seperti dua anak yang dulu sering berebut permen jeruk.”

Elena dan Damian saling pandang sejenak, lalu sama‑sama menahan senyum.

 

Di Meja Makan: Obrolan Santai & Potongan Kenangan

Meja makan panjang terisi hidangan sederhana namun lengkap: sup krim, ikan panggang, tumis sayur, dan kue buah di ujung meja. Suasana berjalan santai, jauh dari kesan kaku.

“Jadi, Damian,” buka Ayah Aditya sambil menyuap perlahan. “Kamu benar‑benar tidak ingat sama sekali soal permainan di dekat Air Mancur Tua sampai kemarin?”

“Bukan tidak ingat sama sekali, tapi rasanya seperti melihat lewat kabut,” jawab Damian sambil melirik Elena. “Setelah bertemu Elena di sana, kepingan demi kepingan mulai nyata. Ternyata teman yang aku cari selama ini tidak hilang ke mana‑mana.”

Ibu Aditya menatap mereka bergantian dengan pandangan lembut. “Dulu aku sering bilang ke Ayahmu, ikatan masa kecil sulit putus meski waktu berjalan lama. Tapi aku tidak menyangka kalian akan bertemu lagi dengan cara seperti ini—sebagai tunangan yang mau putus.”

Semua di meja tertawa kecil. Elena sedikit tersipu, menunduk memotong kue buah di piringnya.

“Elena,” tanya Bibi Laras tiba‑tiba, “bagaimana rasanya kembali ke tempat yang sempat tidak kamu ingat sama sekali? Apakah ada perasaan aneh?”

“Awalnya memang aneh,” jawab Elena jujur. “Rasanya seperti masuk ke mimpi orang lain. Tapi lama‑kelamaan, ada rasa akrab yang tumbuh. Seperti… pulang ke tempat yang seharusnya.”

Damian di sebelahnya mengangguk pelan, seolah menyetujui kalimat itu dalam hati.

Obrolan berlanjut ke hal‑hal ringan—sekolah, hobi, rencana liburan keluarga. Tidak ada pembicaraan soal klan, musuh, atau ancaman. Untuk sesaat, mereka hanyalah dua keluarga yang makan malam bersama.

 

Di Teras Belakang: Angin Malam & Hal yang Belum Terucap

Setelah makan selesai, orang tua masih duduk di ruang tengah berbincang hal bisnis damai. Damian mengajak Elena ke teras belakang yang menghadap taman kecil dan kolam ikan. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga dari kebun samping.

“Di sini biasanya tempatku duduk kalau ingin tenang,” ucap Damian sambil bersandar di pagar kayu rendah. “Dulu sering aku dan Bibi Laras duduk di sini membicarakan hal‑hal yang tidak berani aku tanya ke orang lain.”

Elena berdiri di dekatnya, memandangi cahaya lampu taman yang memantul di permukaan air kolam. “Bibi Laras orang yang hebat ya. Bisa menyimpan rahasia besar sendirian selama sepuluh tahun.”

“Dia bukan cuma hebat menyimpan rahasia,” jawab Damian pelan. “Dia juga orang yang paling tahu cara menyatukan kembali apa yang sempat terpisah.”

Ada jeda hening sebentar, hanya suara air mancur kecil di tengah kolam yang terdengar berirama. Damian menoleh perlahan, menatap Elena yang masih memandang ke arah taman.

“Elena,” panggilnya lembut.

“Iya?” Elena berbalik menghadapnya.

“Dulu saat kamu bilang mau membatalkan pertunangan, aku sempat berpikir: gadis ini berani sekali melawan arus. Tapi aku belum mengerti kenapa.” Damian tersenyum tipis. “Sekarang aku tahu. Kamu bukan sekadar ingin bebas. Kamu ingin hidup yang benar‑benar milikmu.”

Elena mengangguk perlahan. “Aku takut terjebak cerita yang bukan tulisanku. Dan… aku takut salah menilai orang juga. Termasuk kamu.”

“Dan sekarang?” tanya Damian, nadanya berubah sedikit lebih lembut.

“Sekarang aku tahu,” jawab Elena berani menatap balik, “bahwa Malaikat Maut itu sebenarnya orang yang peduli dengan caranya sendiri. Agak kaku, kadang terlambat mengerti, tapi tulus.”

Damian tertawa rendah, matanya berbinar di bawah cahaya lampu teras. “Terima kasih atas penilaiannya. Aku anggap itu pujian yang tinggi.”

Langkah kaki terdengar mendekat. Bukan orang lain—Bibi Laras berdiri di ambang pintu kaca, senyumnya tenang namun matanya menyiratkan pesan yang lebih dalam.

“Maaf mengganggu,” ucapnya pelan. “Ada kabar baru dari tim pengawas jalan raya kota. Kelompok Rendra sudah mulai bergerak kembali masuk wilayah kota, tapi bukan untuk berperang. Mereka membawa surat resmi permintaan pertemuan terbuka.”

Damian mengerutkan dahi sedikit. “Terbuka? Di depan semua kepala klan?”

“Betul,” jawab Laras. “Mereka ingin mengakhiri kesalahpahaman sepuluh tahun lalu sekali dan untuk selamanya. Tapi ada syarat khusus: Elena dan kamu juga harus hadir sebagai saksi.”

Elena merasa sedikit terkejut. “Kenapa kami?”

“Karena kalian yang menemukan jejak kebenaran di hutan,” jelas Laras. “Bagi mereka, kalian bukti bahwa masa lalu bisa menjadi jembatan, bukan tembok.”

 

Kabar Tak Terduga: Clarissa & Surat Tertinggal

Saat mereka kembali ke ruang tengah, Ayah Vareza baru saja menerima telepon singkat. Wajahnya terlihat serius, tapi tidak marah.

“Ada kabar dari rumah keluarga Clarissa,” buka Ayah Vareza setelah menutup telepon. “Tadi sore Clarissa sudah kembali ke rumahnya diantar pengawal Laras. Dia tidak dihukum berat, tapi orang tuanya melarangnya keluar kota selama tiga bulan dan harus mengikuti bimbingan psikolog serta tanggung jawab sosial.”

“Bagaimana responnya?” tanya Arga yang baru saja tiba di ruang tengah—dia datang belakangan setelah urusan sekolah selesai.

“Dia diam saja, tidak membantah,” jawab Ayah Vareza. “Tapi sebelum masuk rumah, dia menyelipkan surat kecil untukmu, Arga.”

Arga menerima amplop sederhana yang disodorkan pengawal. Ia membukanya perlahan, membaca isinya dalam diam. Wajahnya berubah dari tegang menjadi lebih tenang, meski masih ada sedikit kesedihan.

“Apa isinya?” tanya Ibu Aditya lembut.

“Dia mengakui semua kesalahannya,” jawab Arga pelan. “Dia bilang… dia tidak berharap dimaafkan sepenuhnya, tapi berjanji tidak akan mengganggu Luna atau Elena lagi. Dan dia minta maaf sudah menggunakan perasaanku sebagai alat ambisi.”

Damian mengangguk pelan. “Setidaknya dia sadar sebelum terlambat lebih jauh. Itu langkah awal yang baik.”

Elena melirik Arga. “Kamu baik‑baik saja kan, Arga?”

Arga mengangkat wajah, tersenyum meski tipis. “Sedikit berat, tapi lega juga. Rasanya seperti meletakkan beban yang sudah lama aku bawa tanpa sadar. Sekarang aku bisa melihat segalanya lebih jernih.”

Di sudut ruangan, ponsel Elena bergetar pelan. Pesan dari Luna: “Semoga malammu menyenangkan ya, Elena. Di sekolah besok ada rapat persiapan acara olahraga, kita duduk bareng ya.”

Elena membalas singkat: “Siap. Sampai jumpa besok.”

 

Akhir Malam: Janji di Bawah Langit Terang

Saat waktu pulang tiba, langit sudah penuh bintang. Damian mengantar Elena sampai ke samping mobil Vareza. Orang tua mereka sudah masuk lebih dulu untuk memberi waktu bicara sebentar.

“Besok rapat di sekolah?” tanya Damian.

“Iya, persiapan acara olahraga,” jawab Elena sambil memegang tali tasnya. “Biasanya ramai dan agak berisik.”

Damian mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya—sebuah gantungan kecil berbentuk bulan sabit, sama motifnya dengan liontin di leher Elena.

“Untuk kamu,” katanya sambil menyodorkan. “Kalau nanti ada hal yang mengganjal atau kamu merasa tidak aman di sekolah, kirim pesan atau cari aku. Aku akan datang.”

Elena menerimanya, gantungan itu terasa halus dan hangat. “Terima kasih. Ini jadi koleksi kenangan baru ya.”

“Bukan cuma kenangan,” jawab Damian lembut, pandangannya tulus. “Ini tanda: cerita kita tidak berakhir di pembatalan pertunangan. Cerita baru saja dimulai.”

Elena mengangguk, hatinya penuh perasaan hangat yang sederhana namun nyata. “Aku juga merasa begitu. Dulu aku cuma ingin selamat. Sekarang… aku ingin tahu apa lagi yang bisa kita buat bersama.”

Damian tersenyum—senyum yang terbuka, tanpa benteng. “Kalau begitu, sampai jumpa besok di sekolah, Elena. Hati‑hati di jalan.”

“Kamu juga, Damian.”

Mobil Vareza melaju meninggalkan halaman rumah Aditya. Elena menoleh ke belakang melalui kaca jendela; Damian masih berdiri di teras sampai mobil berbelok hilang dari pandangan.

Di dalam tasnya, buku catatan Bibi Laras masih tersimpan rapi. Elena teringat baris terakhir yang belum sempat dibaca penuh di hutan: “Matahari dan bulan tidak boleh bersinar sendiri—mereka butuh keseimbangan agar tidak terbakar.”

Malam ini terasa damai, tapi Elena tahu—pertemuan terbuka dengan kelompok Rendra masih menanti, dan di balik kedamaian ini mungkin masih ada bayangan yang belum sepenuhnya pergi.

Namun satu hal yang berbeda dari dulu: sekarang dia tidak lagi berjalan sendirian.

 

(Bersambung )

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!