NovelToon NovelToon
Godaan Istri Sah

Godaan Istri Sah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Romansa Fantasi
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Langit Biru

Wasiat perjodohan membuat dua insan di persatuan dalam sebuah ikatan , meski tidak ada cinta antara kedua nya , karena pria itu sudah memiliki kekasih yang cantik

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Langit Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 sidang perceraian

Waktu terasa berlalu begitu cepat. Sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui celah-celah tirai, menghangatkan udara pagi yang masih lengang.

Candra terbangun perlahan, matanya menyapu setiap sudut ruangan yang dipenuhi pakaian berserakan di lantai—jejak dari malam yang penuh gairah. Di sampingnya, Ira masih tertidur pulas, napasnya tenang, sesekali menggerakkan tubuhnya seperti sedang bermimpi. Candra hanya diam memandangnya, seperti berusaha mengerti apa yang baru saja mereka lewati bersama.

Candra bergegas menuju kamar mandi, membiarkan air hangat mengalir membasahi tubuhnya, seolah ingin membersihkan sisa - sisa tadi malam dan juga pikirannya yang kalut.

Hari ini adalah hari yang penting. Hari di mana semuanya akan benar-benar berakhir. Sidang perceraian dengan Bela.

Sementara itu, Ira perlahan terbangun. Tangan kirinya meraba sisi ranjang yang kini kosong. “Mas Candra…” gumamnya pelan, lalu mendengar suara air mengalir dari arah kamar mandi. Ia bangkit dan mengambil ponselnya. Jemarinya lincah memesan pakaian baru untuk mereka berdua melalui aplikasi Gojek.

“Hari ini, aku akan temani Mas Candra ke persidangan,” ucapnya lirih pada diri sendiri, seolah meyakinkan bahwa kehadirannya hari ini memang punya makna. Bukan sekadar menemani, tapi menjadi bagian dari babak baru dalam hidup Candra.

Candra keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya, rambutnya masih basah, tetesan air menuruni leher dan dada bidangnya. Ia terlihat melamun, pandangannya kosong seperti tengah dihantui pikiran yang berat.

Ira yang duduk di tepi ranjang memperhatikannya dalam diam. Hatinya berdesir melihat sosok laki-laki itu lelah, rapuh, tapi tetap tampak kuat.

Candra mendekat, menundukkan wajahnya sedikit.

“Ira… maaf, tentang tadi malam… Mas sudah”

“Stttt…”

Sebuah sentuhan lembut menghentikannya. Telunjuk Ira menempel di bibir Candra, menenangkan dengan kelembutan yang tak bisa dilawan.

“Mas nggak perlu minta maaf,”

bisiknya pelan tapi tegas.

Aku senang, aku sudah lama mencintaimu. Sejak kamu menjadi suami Kak Dila, aku selalu tahu, kamu laki-laki baik, Setia. Tapi Kak Dila tak pernah benar-benar menghargai. Dia melihatmu, tapi tidak pernah benar-benar melihat hatimu. Aku harap… setelah perceraian ini selesai, kamu bisa membuka hati untukku.

Mata Candra membulat, terharu.Ini pertama kalinya seseorang mengatakan padanya bahwa ia berarti. Bahwa kesetiaannya, cintanya, tidak sia-sia.

Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya diam menatap Ira, seolah tengah menyusun ulang seluruh kehidupannya dalam detik yang sunyi itu.

Mobil melaju perlahan di antara hiruk-pikuk kota yang mulai sibuk. Di dalamnya, suasana begitu hening. Hanya suara lembut radio yang mengalunkan lagu lawas mengisi ruang, tapi tak ada yang benar-benar mendengarkan.

Candra duduk di kursi kemudi, sesekali menggenggam erat setir, lalu melepaskannya lagi. Napasnya panjang, seolah berusaha menenangkan badai di dalam dadanya. Di sebelahnya, Ira duduk diam, memandang keluar jendela, membiarkan angin pagi menyentuh pipinya.

Mereka tak banyak bicara, namun kehadiran Ira terasa menenangkan. Ia sesekali melirik Candra, lalu menyentuh tangannya dengan lembut di atas persneling.

“Aku di sini, Mas…” ucapnya pelan.

Candra menoleh sesaat, lalu mengangguk.

“Terima kasih, Ra. Kamu nggak harus ikut sebenarnya.”

“Aku ingin ikut. Aku mau ada di samping kamu, di saat yang paling sulit sekalipun.”

Mobil memasuki kawasan pengadilan. Jantung Candra berdegup kencang. Gedung itu berdiri megah di depannya, bukan sebagai lambang keadilan, melainkan sebagai pintu akhir dari sebuah ikatan yang telah lama retak.

Mereka turun dari mobil. Candra menarik napas panjang. Ira menyelipkan tangannya ke lengan Candra, menggenggam erat.

“Apa pun yang terjadi hari ini, aku percaya... kamu pantas bahagia.”

Candra memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali dengan keyakinan baru. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian.

Begitu Candra dan Ira turun dari mobil, langkah mereka langsung terhenti. Dari kejauhan, sosok Dila sudah berdiri tegak. Tatapan matanya tajam, penuh amarah dan ketidakpercayaan. Gaun formal yang ia kenakan tampak rapi, tapi ekspresi wajahnya seperti badai yang tak bisa ia sembunyikan.

Tanpa ragu, Dila melangkah cepat menghampiri mereka.

"Ira. Kamu ini apa-apaan."

Suara Dila meninggi. Beberapa orang di sekitar mulai menoleh.

Ira berusaha menegakkan tubuhnya, tapi sebelum sempat membuka suara, Dila sudah melanjutkan.

"Kenapa kamu sama dia. Laki-laki nggak berguna kayak gini malah kamu gandeng. Apa kamu serius. Ini gila."

Nada suaranya meledak. Matanya berkilat, seolah campuran antara marah dan terluka.

Candra hanya berdiri diam, menahan diri agar tidak terpancing emosi. Tapi Ira melangkah maju, setengah langkah mendekat. Ia menatap kakaknya tanpa gentar.

"Yang gila itu kamu, Kak," ucap Ira dengan nada tenang tapi tajam.

"Kamu yang punya suami baik tapi nggak pernah tahu caranya menghargai. Kamu yang pergi sama laki-laki lain. Terus sekarang malah marah cuma karena aku berdiri di samping dia."

Suara Ira terdengar mantap. Setiap katanya seperti anak panah yang meluncur lurus ke arah dada Dila.

Dila terdiam sejenak. Matanya membelalak, seolah tak percaya Ira berani berkata seperti itu. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan luapan emosi yang hampir meledak.

Dila terdiam. Wajahnya memerah, entah karena marah atau karena malu hatinya tersingkap.

"Cukup, Ra." Candra akhirnya bersuara. Suaranya berat namun tegas.

"Ini tempat umum. Kita di sini untuk mengakhiri, bukan mempermalukan."

Dila mendengus, lalu menatap Candra dengan penuh benci.

"Kamu senang, ya? Sekarang giliran kamu yang rebut adikku dari aku?"

Candra memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas panjang, menenangkan gejolak di dadanya. Dengan nada datar namun penuh ketegasan, ia berkata, "Aku nggak merebut siapa-siapa. Kamu yang pergi lebih dulu."

Ucapannya membuat Dila membeku di tempat. Tatapan matanya menyiratkan luka yang dalam. Sorot marahnya perlahan berubah menjadi getir. Tanpa berkata apa-apa lagi, Dila berbalik. Langkahnya cepat dan berat, seperti ingin segera pergi dari tempat itu sebelum air matanya jatuh di depan semua orang.

Dentuman emosinya seakan masih menggantung di udara.

Ira yang sejak tadi berdiri di sisi Candra, tanpa sadar menggenggam tangan pria itu erat. Telapak tangannya dingin, tapi genggamannya penuh keberanian.

"Maaf, Mas... Aku nggak tahan lihat dia bicara begitu," bisiknya dengan suara lirih.

Candra menoleh ke arah Ira. Ia mengangguk pelan, lalu mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut.

"Aku tahu... Tapi mulai hari ini, aku mau hadapi semuanya dengan kepala tegak."

Mereka berdua pun berdiri berdampingan. Di antara kerumunan yang perlahan bubar, hanya ada dua hati yang sama-sama terluka... tapi memilih untuk tetap bertahan.

 

1
falea sezi
tinggal aja suami mu lo dia berniat selingkuh
falea sezi
males bgt punya suami patriarki gini
falea sezi
cih pasangan menjijikkan
falea sezi
bkin cerai lah males bgt dpet suami bekas jalang Thor ksian mala lahh bkin dia tau suaminya abis tidur ma jalang karena kebodohan dia
falea sezi
hrusnya lu rekam jalang Kasih tau ke istri nya biar Cerai karena lu sama reno cocok sama sama sampahhhhh/Puke/
falea sezi
please deh Thor secara reno uda tukang selingkuh.. selingkuh g ada obat Thor haduhh mending bkin cerai para pembaca gemes jd males like tau
falea sezi
g jijik ta mala qm aduh bego
falea sezi
harusnya lu tau suami lu ama jalang uda prnah tidur bareng emank g jijik apa bekas dilla menjijikan najis
falea sezi
klo g di bkin cerai sumpah q Kasih rating buruk
falea sezi
males dpet suamibekas jalang
falea sezi
g rela q klo mereka g cerai sumpah malah berhak bahagia
falea sezi
bkin crrai aja lah
falea sezi
yg lu tidurin mala sebut dilla jalang laki goblokkkk
Langit_biru12
iya dari platform nya yg suruh ganti judul
Aksoro Soro
di ganti judulnya
sjulerjn29
berkeliling kesana kemari nemu juga cerita yang menarik 🤭
semangat thor.. mampir juga dong ke ceritaku..
Aksoro Soro
kapan update lagi author
Aksoro Soro
lagi dong author updatenya kirain kelanjutan kisah Reno dan Mala apakah Reno berhasil membawa Mala pulang
Aksoro Soro
Author visualnya dong ya ya di tunggu kelanjutan ceritanya Mala dan reno
Aksoro Soro
bingung mau komen apa terserah author ajja yang penting Mala dan Reno happy ending ya author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!