NovelToon NovelToon
Cinta Sang Penguasa Hidden

Cinta Sang Penguasa Hidden

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Deddy kris

​Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
​Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
​Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
​Begitu batasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Balasan dari Balik Layar

Genggaman tangan Alya pada ponselnya terlepas perlahan. Nada ketus dan ancaman Randy Surya masih terngiang jelas di telinganya, meninggalkan hawa dingin yang merayapi tengkuk. Namun, di balik rasa tertekan yang mengimpit dadanya, pandangan mata Alya justru memancarkan keteguhan yang tak mudah digoyahkan.

Ia memandangi cetak biru proyek kawasan pesisir di atas mejanya. Mengalah pada kesombongan Randy berarti menyerahkan kehormatannya kembali untuk diinjak-injak.

"Tidak," bisik Alya tegas pada dirinya sendiri. "Aku tidak akan menyerah."

Alya kembali menarik kursi kerjanya, membuka laptop, dan mulai memetakan jalur logistik secara mendalam. Ia tidak lagi mencari pemasok besar yang berada di bawah pengaruh Keluarga Surya, melainkan melacak jaringan distributor skala menengah hingga penyedia bahan baku independen di luar provinsi. Meski biaya pengiriman akan membengkak, Alya menyusun strategi efisiensi anggaran di sektor lain demi menutup selisih biaya tersebut. Jarinya menari cepat di atas papan ketik, menyusun proposal negosiasi baru tanpa berniat sedikit pun mengetuk pintu kantor Reno untuk meminta pertolongan.

Sementara itu, di lantai tertinggi gedung utama Grup Naga Hitam, suasana terasa jauh berbeda. Ruang kerja presiden direktur yang sangat luas itu dipenuhi aroma kayu cendana yang tenang. Dinding kaca raksasa menampilkan pemandangan seluruh sudut kota yang terhampar megah di bawah pendar sinar matahari siang.

Reno berdiri membelakangi ruangan, kedua tangannya terbenam santai di saku celana bahan mewahnya. Di belakangnya, Bagas berdiri dengan tegap, menyimak laporan taktis dari iPad di tangannya.

"Tuan Muda," suara Bagas memecah keheningan dengan nada penuh penghormatan. "Randy Surya baru saja menghubungi Nona Alya secara pribadi. Ia mengancam akan memboikot total seluruh pasokan material dan memaksa Nona Alya menyerahkan hak kelola proyek pesisir kepada Grup Surya sebelum matahari terbenam."

Reno tidak langsung merespons. Ia meminum kopi hitamnya perlahan, membiarkan keheningan menggantung sejenak di udara. "Bagaimana respons Alya?"

Bagas mengulas senyum tipis yang sarat akan kekaguman. "Nona Alya menolak mentah-mentah tuntutan tersebut, Tuan Muda. Saat ini beliau sedang berusaha merancang ulang rantai pasokan secara mandiri dengan menghubungi distributor luar daerah. Beliau sama sekali tidak berniat mengadu atau meminta bantuan Anda."

Pandangan mata Reno menajam, diikuti ukiran senyum tipis di sudut bibirnya. Alya benar-benar telah berubah. Kepribadiannya yang dulu ragu-ragu dan mudah tertindas kini telah ditempa menjadi sosok wanita yang mandiri dan memiliki harga diri tinggi.

Namun, senyuman hangat di wajah Reno seketika memudar, berganti menjadi aura dingin yang begitu menusuk.

"Alya memang berjuang dengan caranya sendiri," ujar Reno dengan suara rendah yang amat dalam, menggetarkan atmosfer ruangan. "Tapi bukan berarti seekor tikus seperti Randy Surya boleh dengan bebas mengusik milikku."

Bagas langsung menegakkan tubuhnya, mengetahui bahwa saatnya sang Penguasa Naga Hitam mengeksekusi tindakan. "Perintah Anda, Tuan Muda?"

Reno memutar tubuhnya perlahan, menatap Bagas dengan pandangan tajam yang tak terbantahkan. "Randy Surya merasa bisa mengendalikan rantai pasokan material di kota ini karena klan keluarganya menguasai jalur logistik lokal, bukan?"

"Benar, Tuan Muda. Keluarga Surya menguasai delapan puluh persen hak kelola pelabuhan domestik dan armada pengangkut regional," terang Bagas tegap.

"Kalau begitu, hancurkan fondasi mereka," perintah Reno dingin dan lugas. "Aktifkan Komando Logistik Maritim Naga Hitam. Blokir seluruh akses kapal kargo internasional yang membawa bahan baku, suku cadang mesin, dan barang impor milik bisnis utama Keluarga Surya. Bekukan semua izin bongkar muat kapal-kapal mereka di seluruh pelabuhan utama mulai detik ini."

Reno melanjutkan dengan nada yang penuh penekanan tanpa emosi berlebih. "Selain itu, instruksikan seluruh anak perusahaan Naga Hitam di sektor keuangan untuk menarik investasi dan menghentikan tenggat kredit terhadap Grup Surya secara bersamaan."

Bagas tersenyum penuh arti. Ini bukan sekadar perlawanan balik biasa; ini adalah hukuman mati secara ekonomi. "Petunjuk dipahami, Tuan Muda. Eksekusi dijalankan dalam kurun waktu lima menit."

Satu jam kemudian, di kantor pusat Grup Surya yang megah.

Randy Surya sedang menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, menyesap cerutu mahal dengan senyum puas yang menghiasi wajahnya. Di pikirannya, Alya saat ini pasti sedang menangis histeris, terdesak oleh tenggat waktu, dan siap berlutut memohon ampun padanya.

*Klek!*

Pintu ruang kerja Randy didobrak secara kasar dari luar. Asisten pribadinya menerobos masuk dengan wajah pucat pasi, peluh dingin membasahi seluruh keningnya.

"Tuan Muda! Bencana! Bencana besar!" teriak asisten itu dengan suara gemetar hebat.

Randy mengerutkan dahi, melempar cerutunya ke dalam asbak dengan gusar. "Sialan! Tidak punya tata krama sekali kamu! Ada apa?!"

"Kapal-kapal kargo utama kita, Tuan!" pungkasan asisten itu memburu, menyerahkan tablet digital dengan grafik merah meluncur drastis. "Tujuh kapal kontainer milik Grup Surya yang membawa bahan baku manufaktur bernilai triliunan rupiah mendadak ditahan secara paksa di pelabuhan utama! Otoritas Maritim Internasional membekukan seluruh izin lintas kapal kita!"

Randy tersentak kaget, berdiri mendadak dari kursinya hingga kursi mewah itu terdorong ke belakang. "Apa-apaan ini?! Siapa yang berani menahan kapal Keluarga Surya?! Telepon Kepala Otoritas Pelabuhan sekarang juga!"

"Sudah, Tuan Muda! Tapi... tapi Kepala Pelabuhan sendiri yang membatalkan kontrak kita!" jerit asisten itu kian panik. "Bukan hanya itu! Lima bank swasta nasional baru saja mengirimkan surat pemberitahuan pembekuan rekening operasional Grup Surya! Mereka menagih seluruh utang jangka pendek kita yang bernilai ratusan miliar untuk dilunasi sebelum sore ini!"

*DEG!*

Wajah Randy mendadak kehilangan warna. Darahnya seolah berhenti mengalir. Bagaimanakah mungkin klan sekuat Keluarga Surya yang menguasai perekonomian kota bisa dihantam badai kehancuran secara serentak hanya dalam kurun waktu satu jam?!

Sebelum Randy sempat mencerna kepanikan yang menghantamnya, ponsel pribadinya berdering nyaring. Layar ponsel menampilkan nama sang ayah—Kepala Klan Keluarga Surya.

Dengan tangan gemetar, Randy mengangkat telepon itu. "A—Ayah...?"

"ANAK TIDAK TAHU DIRI!" suara raungan amarah yang memecah gendang telinga membahana dari seberang saluran. Ayah Randy berteriak histeris hingga suaranya serak. "APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN, RANDY?! SIAPA YANG SUDAH KAMU USIK?!"

"Ayah... ada apa sebenarnya?" cicit Randy, ketakutan setengah mati belum pernah mendengar ayahnya semarah ini.

"Saham Grup Surya anjlok empat puluh persen dalam waktu lima puluh menit!" raung ayahnya dari balik telepon dengan napas terengah-engah. "Seluruh mitra internasional memutus hubungan bisnis dengan kita secara sepihak! Otoritas Pusat secara pribadi membekukan lini logistik kita! Bisnis keluarga kita yang kita bangun puluhan tahun terancam bangkrut total sebelum malam tiba!"

Tubuh Randy gemetar hebat, persendian lututnya terasa lemas bagaikan tak bertulang. "Ba—bangkrut...? Ayah, tidak mungkin! Siapa yang memiliki kekuatan seseram ini?!"

"Aku tidak tahu!" jerit ayahnya penuh keputusasaan. "Tapi pihak Otoritas Pelabuhan sempat meninggalkan satu pesan singkat sebelum memutus saluran komunikasi kita!"

Randy menelan ludahnya secara kasar, tenggorokannya terasa sangat kering. "Pesan... pesan apa, Ayah?"

Suara ayah Randy mendadak berubah merendah, penuh ketakutan yang mendalam: *"Mereka bilang... ini adalah konsekuensi karena kamu mencoba menyentuh kawasan yang dilindungi oleh Penguasa Naga Hitam!"*

Ponsel di genggaman Randy terlepas dan jatuh menghantam lantai hingga layarnya retak seribu.

Randy terduduk lemas di atas lantai dingin, matanya terbelalak menatap ruang hampa. Benaknya berputar hebat, teringat pada sosok Alya, Perusahaan Zena, dan kekuasaan tak bertepi di balik Konsorsium Naga Hitam. Pria yang ia anggap hanya benteng pelindung Alya ternyata adalah raksasa mengerikan yang sanggup meremukkan seluruh hidupnya tanpa perlu menampakkan diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!