“Aku mencintai Kak Zaky.” Ucap Naya pada sosok laki-laki yang berstatus sebagai kakaknya.
Air mata Naya tidak bisa ditahan lagi dan keluar begitu saja saat mengetahui kenyataan bahwa hari ini adalah hari pertunangan Zaky, yang tak lain adalah kakaknya. Atau lebih tepatnya kakak angkat.
“Kamu ini sedang mengigau ya, Nay? Kakak baru saja bertunangan. Lagipula kita ini bersaudara.” Ucap Zaky sambil meperlihatkan jari manisnya yang sudah tersemat cincin pertunangan.
“Aku berkata jujur, Kak. Dan tidak sedang mengigau. Apakah salah kalau aku mencintai Kak Zaky? Kita bahkan tidak ada ikatan darah sama sekali.” Tekan Naya sambil mengusap air matanya, lalu pergi meninggalkan Zaky yang masih diam membisu.
Yuk simak awal mula dan kelanjutan kisah cinta mereka🤗🤗
Happy Reading!😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dee_K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 9 ~ Memberi Nasehat
Naya baru saja tiba di restaurant dimana Pak Nevan mengajaknya makan siang sekaligus bimbingan skripsi. Naya melihat notif pesan dari dosennya kalau akan datang sedikit terlambat dan meminta Naya agar memesan makan siangnya dulu. Namun Naya tidak melakukan perintah dosennya. Rasanya tidak sopan jika ia makan siang terlebih dulu sebelu pak Nevan datang.
Naya tiba-tiba teringat dengan ucapan Milka beberapa saat yang lalu. Lebih tepatnya membahas masalah kakaknya.
Naya yang sudah terbiasa menceritakan semuanya pada sahabatnya itu, ia juga menceritakan tentang perasaannya yang sangat aneh terhadap kakaknya sendiri. Dan Milka juga tahu kalau antara dirinya dan Zaky adalah kakak beradik yang tidak ada ikatan darah sama sekali.
Milka membenarkan pemikirannya sendiri setelah mendengar curhatan Naya. Dia mengatakan kalau memang Naya sedang jatuh cinta pada kakaknya. Tapi Naya tetap menyangkalnya.
“Tidak mungkin aku jatuh cinta pada Kak Zaky.” gumam Naya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Maaf, Naya membuat kamu menunggu lama.” Seru seseorang yang baru saja datang dan langsung duduk di hadapan Naya. Siapa lagi kalau bukan Pak Nevan.
Pria itu terlihat sangat tampan dengan kemeja warna navy yang dilipat sebatas siku. Lalu tas ransel yang ia sampirkan di lengan kanannya ia letakkan di kursi kosong sampingnya.
“Kenapa belum pesan makanan?” tanya Pak Nevan karena melihat di atas meja hanya ada segelas lemon tea.
“Ehm, belum Pak.” jawab Naya bingung.
“Ya sudah kalau kamu memang sengaja menunggu saya, kita pesan dulu makanannya sebelum melakukan bimbingan.” Ujar Pak Nevan santai.
Naya hanya tersenyum dan mengangguk samar. Dia juga bingung dengan sikap dosennya yang sangat berbeda dibandingkan dengan mahasiswa lainnya. Mungkin jika ada yang tahu kalau saat ini Naya sedang makan siang berdua dengan Pak Nevan, Naya akan menjadi bulan-bulanan mahasiswa yang menjadi fans fanatiknya Pak Nevan. Karena memang di kampus banyak sekali mahasiswi yang mengikrarkan diri mereka sebagai fans fanatic dosen muda itu. walau Pak Nevan sendiri terkenal killer.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Naya dan pak Nevan bisa menikmati makan siangnya. Sesekali pria itu bertanya sesuatu tentang Naya.
Usai makan siang, Naya kemudian memberikan lembaran hasil tugasnya. Kali ini ia memberikan banyak lembaran, karena Naya beberapa kali mangkir.
Tampak Pak Nevan sangat fokus meneliti hasil penelitian Naya. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Tidak banyak coretan seperti yang dilakukan Pak Nevan sebelumnya. Dan itu membuat Naya bisa bernafas lega.
“Penelitian ini penelitian yang sangat bagus dan baru saya temui selama saya menjadi dosen pembimbing skripsi, Nay.” Ucap Pak Nevan sambil mengembalikan lembaran kertas Naya.
Naya terharu mendengar pujian dari dosennya itu. bahkan Pak Nevan mengucapkannya sambil tersenyum ke arahnya.
“Kamu hanya perlu menambhakan beberapa teori ahli untuk mendukung analisis yang sedang kamu lakukan. Santai saja tidak perlu terburu-buru, Nay. Nanti jika kamu sudah selesai dan siap mempresentasikannya, kamu bisa menghubungi saya. karena menurut saya ini adalah langkah terakhir. Jadi, untuk melakukan bimbingan selanjutnya harus benar-benar di waktu luang saya. apa keberatan, Nay?”
“Tidak, Pak. terima kasih banyak atas bimbingannya. Setelah ini saya akan langsung mengerjakannya agar lebih cepat selesai skripsi saya.” jawab Naya penuh semangat.
“Kenapa buru-buru gitu sih, Nay? Santai saja? saya yakin kamu lulus ujiannya.” Ucap Pak Nevan dengan senyuman tipis di wajah tampannya.
“Ehm, saya tidak suka menunda-nunda pekerjaan, Pak. lebih cepat selesai, lebih baik.”
“Memangnya kamu buru-buru kemana kalau sudah selesai? apa buru-buru menikah?” tanya Nevan bercanda.
“Eh.. bukan seperti itu, Pak.” Naya jaadi salah tingkah sendiri mendapat pertanyaan seperti itu dari dosennya.
Mereka berdua terlihat semakin akrab. Meskipun topik bahasan tidak jauh dari urusan kampus. Naya juga baru kali ini merasa dekat dengan lawan jenis, walau dengan dosennya sendiri.
“Nevan, Naya?” seru seseorang yang tiba-tiba sudah berada di dekat meja Naya.
“Papa!”
“Tuan Xavier!”
Ucap Naya dan Pak Nevan bersamaan setelah melihat Xavier menghamiprinya. Naya tampak bingung kenapa Papanya bisa mengenal Pak Nevan. Begitu juga Pak Nevan. Bahkan Papanya memanggil Nevan hanya nama saja.
Sedangkan seseorang yang berdiri di belakang Xavier menatap tajam perempuan yang sedang duduk berhadapan dengan Pak Nevan. Siapa lagi kalau bukan Zaky.
“Kalian berdua kok bisa berada di sini?” tanya Xavier pensaran.
“Oh, Pak Nevan adalah dosen pembimbing skripsi Naya, Pa. Apa Papa mengenal Pak Nevan?” jawab Naya.
“Ya jelas kenal. Papanya Nevan rekan bisnis Papa. Wah bisa ya kalian berdua bertemu dalam kondisi seperti ini.” ucap Xavier ambigu.
Naya dan pak Nevan hanya mengangguk samar tanpa ingin tahu apa maksud dari ucapan Xavier. namun berbeda dengan Zaky yang sangat paham apa maksud ucapan Papanya. Zaky juga tidak tahu menahu tentang rekan bisnis Papanya yang tak lain adalah Papa dari dosen pembimbing skripsi Naya.
Xavier segera pamit undur diri karena dia juga masih ada pekerjaan penting. Tadi ia baru saja selesai meeting dengan kliennya dan ditemani langsung oleh Zaky. dan setelah meeting selesai, Xavier tidak sengaja bertemu anak gadisnya bersama seseorang yang sangat dia kenal.
“Om pergi dulu, Nevan! Kapan-kapan berkunjunglah ke rumah Om. Om rasa tidak ada salahnya menjalin silaturhami dnegan bai kantar keluarga kita.” Pungkas Xavier sebelum meninggalkan meja Naya dan Pak Nevan.
**
Kini Zaky sedang duduk di belakang kemudi dan di sampingnya ada Papanya. Sejak tadi Zaky tidak banyak bicara. Terlebih setelah melihat adiknya sedang berduaan dengan dosennya.
“Apa Papa akan menjodohkan Naya dengan dosennya itu?” tanya Zaky dengan tatapan fokus ke jalan.
“Ya, tidak ada salahnya juga. Nevan juga pria baik. Selama ini juga Papa tidak pernah melihat adik kamu dengan laki-laki lain. Tidak ada salahnya mendekatkan mereka berdua.” Jawab Xavier dengan santai.
“Papa tidak bisa melakukan itu. belum tentu Naya mau. Dan belum tentu pria itu baik untuk Naya.” Protes Zaky seolah tidak setuju dengan ide Papanya.
“Kamu jangan terlalu protektif pada adik kamu, Zak! Naya sudah dewasa, jangan diperlakukan seperti anak kecil lagi.” tutur Xavier memberi nasehat.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️