Juliana, si perfeksionis, sinis, ketus dan menjunjung tinggi nilai kehormatan seorang wanita, sementara Harsa adalah bentuk nyata dari kerusakan moral manusia yang ada diseluruh dunia, yeah, setidaknya dimata Juliana.
Mereka adalah musuh bebuyutan sejak jaman primitif hingga takdir membawa dua orang itu bekerja dalam satu divisi dan satu ruangan yang sama. Saling membalas umpatan, makian, dan pertengkaran hingga perdebatan sudah bukan lagi hal baru. Tapi siapa yang menyangka, rupanya kebencian mereka malah membawa mereka berdua terbangun suatu pagi di atas ranjang yang sama!
"Kau pasti menjebakku, kan? Kau sengaja mau mencoreng reputasiku sebagai wanita terhormat!" Tuding Juliana.
"Hei, aku mungkin bejat dimatamu, meski begitu aku mempunyai syarat dan ketentuan berlaku untuk wanita yang bermain denganku, dan kau tidak memenuhi semua persyaratan dan ketentuan yang ada." Harsa menyeringai.
Lalu, bagaimana bisa semua itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Plot Selanjutnya.
Novi bilang adegan keserempet tempo hari itu adalah adegan awal yang sangat penting demi kelancaran skenario dan drama mereka. Adegan itu memang sengaja dibuat agak dramatis dan sedikit diberi bumbu bahaya untuk menarik perhatian banyak orang diwaktu yang sangat pas. Dan itu akan menjadi titik balik – yang ceritanya – menjadi moment dimana Juliana dan Harsa mulai… you know… ‘nyetrum’ secara emosional. Apa lagi adegan natural yang benar-benar terjadi saat Harsa menatap Juliana saat wanita itu masih berada di atas tubuhnya ketika terjatuh, dan saat Harsa menatap tajam Juliana ketika ia harus menarik tangan Juliana kedua kalinya. Bagi Rina si sutradara adegan, tatapan mata Harsa akan menjadi nilai tambah dalam keseluruhan plot.
Sejak kejadian kemarin, semua mata mulai tertuju pada Juliana, meski sebelumnya memang Juliana juga selalu menjadi bahan gibahan masyarakat di dalam gedung kantor itu, namun kini tatapan mata mereka menjadi tatapan yang penuh dengan pertanyaan dan tudingan.
Juliana dapat merasakan tatapan iri, tatapan tidak suka, tatapan mencemooh dan meremehkan itu semakin menghujaninya. Semua ini gara-gara dirinya sendiri. Ia menyesali emosinya yang selalu tidak bisa terkontrol setiap kali Harsa menggodanya, dan pria itu selalu saja berhasil memprovokasinya.
Kalau saja saat itu Juliana lebih kalem dan tidak peduli tentang komentar Harsa mengenali tempat makan malam tim, mungkin poto tidur laknat dirinya dan Harsa tidak akan menghantuinya.
Juliana merapatkan telinga, ia tetap mengangkat dagunya saat menunggu pintu lift terbuka bersama dengan orang-orang yang juga menunggu lift yang sama.
Abaikan… abaikan omongan mereka, Juliana! Titah otak Juliana pada hati dan raganya.
Ting!
Semua orang langsung menerobos masuk, seolah telah sepakat agar Juliana tidak diberikan kesempatan untuk melangkah dan masuk ke dalam lift itu bersama mereka. Dan yah, mereka sukses. Sebenarnya bukan karena mereka berhasil membuat Juliana tidak dapat masuk ke dalam lift karena mereka bergerak dengan sangat bar-bar, hanya saja, Juliana memang memilih untuk diam tidak bergerak. Dia memilih untuk menunggu kembali lift, atau kalau perlu dia akan olahraga pagi menggunakan tangga.
Juliana mengela napas lega begitu ia sudah berdiri sendirian di depan pintu lift yang sudah tertutup. Ia menundukkan kepala, memejamkan matanya sebentar, mengingatkan dirinya kenapa dia bisa sampai bertahan bekerja di sebuah kantor yang 90 persen penghuni gedung itu membencinya, mencelanya dan meremehkannya, semua itu demi Dimas. Demi kebutuhan dan keperluan hidup dirinya dan adik tersayangnya.
Juliana mengangkak wajahnya kembali begitu mendengar suara-suara langkah kaki. Lift pintu lift akan selalu menjadi spot paling laris saat jam pagi seperti ini, kemudian pada saat jam istirahat dan jam pulang kantor.
Aroma mint segar menyapa indra penciuman Juliana begitu seseorang bertubuh tinggi berdiri tepat di sebelahnya dengan jarak dua jengkal di antara mereka.
“Berhasil menyeberang jalan tanpa insiden, Jul?”
Juliana seketika mengangkat wajahnya pada si pemilik suara berat yang baru saja terang-terangan memanggilnya dengan panggilan menjengkelkan. Tapi si pemilik suara berat yang juga memiliki sepasang mata yang tajam itu segera memberikan kode padanya bahwa mereka tidak sendirian, itu artinya… action!
“Aku akan sangat menghargai kebaikan hatimu jika kau tidak menyingkat namaku.” Ujar Juliana dengan kekesalan yang ditahannya.
“Oh, sorry, kupikir aksi penyelamatanku yang tulus padamu telah membuang kebencianmu padaku dan membuat kita… you know bisa lebih akrab, maybe?”
Juliana tersenyum sinis pada wajahnya, ia melihat wajah Harsa yang menatapnya dengan kilatan jahil pada sepasang mata tajam itu.
“Well, terima kasih untuk pertolonganmu, Tuan Penyelamat, tapi bukan berarti kau bisa menyingkat namaku.”
“Oke, sorry.” Harsa tidak benar-benar meminta maaf.
“Ini.” Tiba-tiba Juliana menyodorkan Harsa sebuah salep yang masih baru.
“Apa ini?” tanya Harsa mengerutkan kening.
Bukan hanya Harsa yang mengerutkan kening, tapi beberapa orang pun ikut mengerutkan kening penasaran dengan apa yang diberikan Juliana.
“Salep untuk lukamu, oleskan itu supaya cepat kering.” Kata Juliana tanpa melihat Harsa.
Harsa menerimanya dengan senyuman takjub. Ia kemdian membungkukkan tubuhnya sampai mulutnya tepat berada di depan kuping Juliana. “Thanks.” Ucapnya meninggalkan sentuhan napasnya yang menyentuh kulit tengkuk Juliana dan – entah kenapa – membuat Juliana sedikit merasakan merinding. Dan syok pada beberapa wanita yang ikut menunggu lift bersama mereka.
Pintu lift terbuka, Harsa masuk lebih dulu ia menahan tombol pintu terbuka untuk menwarkan Juliana. Sementara orang-orang yang lainnya memasang tampang sudah-tinggalkan-saja-perawan-tua-itu pada Juliana.
“Apa kau akan menunggu lift berikutnya lagi, Nona Salep?”
“Eh, apa? Nona apa kau bilang?!” Juliana melotot, ia melangkah masuk ke dalam lift, tak peduli dengan tatapan orang yang jengkel.
Pintu lift mulai bergerak tertutup sebelum suara wanita meminta agar seseorang menahan pintu lift untuk tetap terbuka. Refleks Harsa menahan kembali tombol pintu terbuka.
Seorang wanita berambut panjang dengan warna kecokelatan yang indah, rambut itu bergelombang pada bagian bawahnya, dibiarkannya tergerai begitu saja. Kemeja yang dikenakannya cukup ketat hingga membuat lekukan di balik bahan katun itu terlihat sempurna. Ditambah dengan rok span di atas lutut dengan belahan pada bagian belakang membuat lekukan pada pinggang dan bagian belakang tubuh wanita itu membuat iri wanita-wanita bertubuh standar.
“Hai Harsa.” Sapa Delia genit pada Harsa.
“Oh, hai, Delia.”
Pintu lift bergerak tertutup.
“Ku dengar kau kemarin terluka.” kata Delia dengan bahasa tubuh yang super genit, dan Harsa sama sekali tidak terlihat menolak dengan gerakan-gerakan tangan Delia yang tak penting.
“Yeah, sedikit.” Harsa menunjukkan sikunya yang terdapat luka. Sementara tangan satunya masih membawa jaket kulitnya. “Tapi, aku menerima salep yang katanya dapat membuat luka lebih cepat kering.”
Delia merampas salep kecil itu dari tangan Harsa dengan gerakan anggun yang menyebalkan dimata Juliana. Kemudian Delia melihat Juliana seraya mengangkat salep itu, “Kau yang memberikan salep murah ini pada Harsa?”
“Ya.” Jawab Juliana singkat.
Delia mendengkus.
“Seharusnya kau berikan Harsa salep yang ampuh padahal sudah ditolong olehnya.” Cibir Delia.
Juliana hanya diam saja. Ia terlalu malas merespon wanita yang… ah sudahlah, lebih baik dia diam saja. Terserah Harsa mau memakai salepnya atau tidak, yang penting dia sudah menunjukkan sikap baiknya sebagai manusia.
“Pakai ini saja, Sa.” Delia mengeluarkan salep yang lain dari dalam tas kecilnya. “Ini lebih mahal yang pastinya lebih ampuh mengeringkan luka dan sekaligus menghilangkan bekas lukanya.”
Harsa tersenyum penuh terima kasih pada Delia. Ia menerima salep mahal itu dari jari tangan Delia yang mempunyai kuku-kuku dengan nail art yang manis. Ia membaca komposisi yang ada pada salep itu, kemudian mengerutkan keningnya meski tidak menghilangkan senyumannya.
“Aku sangat berterima kasih untuk perhatianmu, Del, tapi sayangnya, aku alergi dengan aloe vera.” Harsa menunjukan salah satu kandungan yang terdapat pada salep mahal pemberian wanita cantik dan seksi di depannya.
“Apa?” Delia tak percaya.
“Sorry.” Harsa mengembalikan salep itu ke tangan Delia dan mengambil kembali salep pemberian Juliana dari tangan Delia yang lainnya. “Kali ini aku akan memakai salep murah pemberian Juliana dulu. Jika tidak kunjung kering aku akan meminta Juliana untuk mebelikanku salep yang lainnya, kau tidak keberatan, kan, Juliana?”
“Hem.”
“Tapi bagaimana jika salep murah itu malah membuatmu mempunyai alergi lain atau malah membuat lukamu jadi infeksi?” Delia menatap sinis Juliana.
“Aku hanya tinggal menuntut Juliana saja. Tapi jika aku alergi karena salep pemberianmu, akan sulit bagiku menuntut wanita cantik dan seksi sepertimu.”
Delia tersenyum tersipu.
Hoeeekkkk! Juliana ingin sekali muntah, tolong!
***
Bersikap seolah masih saling membenci dalam beberapa hari, namun mulai menunjukkan perhatian-perhatian kecil yang akan dilakukan di depan umum. Begitu lah baris yang tertulis untuk plot selanjutnya. Rina cukup salut saat tahu Juliana memberikan salep untuk luka Harsa tepat di depan banyak orang, dan Harsa yang tetap memilih salep pemberikan Juliana si musuh dari pada salep pemberian Delia dengan alasan konyol.
“Memang sejak kapan kau alergi aloe vera?” tanya Haru pada Harsa yang sedang mengoleskan salep pada luka di sikunya.
“Sejak tadi di dalam lift tadi.” Jawab Harsa cuek. “Hei, Jul, tapi aku bersungguh saat aku bilang akan menuntutmu jika terjadi sesuatu pada lukamu gara-gara salep ini.”
“Kalau kau memang ragu, tak perlu kau pakai salepku itu!” Balas Juliana ketus.
“Ah, kau memang tidak ikhlas memberikan salep ini, kan? Atau jangan-jangan ini sudah expired ya?”
Haru langsung merampas salep itu dan mencari tanggal kadarluasanya. “Masih aman, kok, Sa.”
“Oh, baguslah, semoga lukaku ini tidak melepuh.” Kata Harsa sambil meniup-niup lukanya.
Juliana berdiri dengan beberapa map di tangannya, dia menyampirkan tas pada bahunya, dagunya terangkat.
“Kau tahu, aku malah berharap lidahmu yang melepuh.” Ujar Juliana sinis dan dingin.
Novi mengetukkan buku jarinya ke kepala dan ke meja, untuk menepis sumpahan dari bibir Juliana. Tapi Harsa malah terkekeh tak peduli.
“Lidahku hanya melepuh jika kita berciuman, Jul.” Seringai jahil menghiasi wajah maskulinnya. Kekehan dan tawa lolos dari bibir Haru dan Pandu. “Selama itu tak terjadi, maka lidahku aman.” Harsa meledek kemudian dengan menjilat bibirnya sendiri, membuat Pandu dan Haru semakin tergelak. Sementara Rina melemparkan spidol ke arah tiga pria itu, Novi dan Mona hanya bisa menggelengkan kepala.
Juliana mengatupkan rahangnya kuat, ia mencengkram tangannya pada map yang dipegangnya, kemudian ia memilih untuk beranjak dari mejanya.
“Mau kemana, Juliana?” tanya Rina.
“Aku akan ke notaris untuk menyerahkan dokumen, setelah itu aku akan ke apotek untuk mencari cairan yang dapat melepuhkan lidahnya itu.”
Rina menatap galak tiga pria yang kini tengah tergelak sampai saling memukul ringan.
“Aku sumpahin kalian benar-benar berjodoh.” Desis Rina, setelah Juliana meninggalkan ruangan.
“Siapa? Kami?” Haru menunjuk dirinya, Harsa dan Pandu.
“Bukan kau, dasar! Tapi Harsa dan Juliana!”
Harsa mengusap wajahnya ketika tawanya mereda. “Kalau begitu kau harus menanti air laut berubah menjadi air tawar dulu. Karena itu tidak akan mungkin, Ibu sutradara.”
“Hei, jangan sesumbar, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Sa.” Novi mengingatkan.
“Bagaimana jika ternyata kau yang malah jatuh cinta pada Juliana?” Mona menambahkan.
“Apa? Aku jatuh cinta sama si dada rata itu?” Harsa memutar bola matanya. “Begini saja, jika aku sampai jatuh cinta pada Juliana, aku akan membabat habis jenggot dan bewokku yang maskulin ini.”
“DEAL!” Pandu menggebrak meja pelan. Kemudian tos dengan Haru.
.
.
.
TBC~
btw jangan lupa mampir di karya gw yg berjudul Ayunda, gadis pelunas hutang 😘
Akhirnya Every Moment Of You sudah tamat. Terima kasih yang sudah sabar menunggu setiap bab nya update, karena jujur, kisah kali ini cukup menguras energi saya, banyak hal yang saya pertimbangkan untuk saya tulis atau tidak. Misalnya seperti apakah saya perlu menuliskan adegan yang bikin kipas-kipas? Sementara tujuan saya menulis kisah kali ini adalah mengutamakan cerita cinta yang manis di kantor, pertemanan, dan menyampaikan pesan pada pembaca bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh menilai seseorang hanya dari melihatnya saja tanpa benar-benar mengenalnya.
Tapi, mungkin ada pembaca yang kecewa karena tidak ada adegan yang bikin degdegserr...maaf yaa🙏🏻
Saya akan membuat kisah yang degdegserr pada kisah lainnya... ditunggu yaa 😊✌🏻