Ayu Lestari, gadis cantik yang ditinggal menikah oleh kekasihnya saat ini sadar kenapa pacaran dilarang, dan ia menyadari jika memang pacaran hanya membuang waktu dan tidak bermanfaat sama sekali, bahkan membuat pikirannya kacau.
Perlahan Ayu mulai memperbaiki diri. Hijrah menuju hal yang lebih baik, belajar tentang bagaimana cara menyalurkan fitrahnya sesuai dengan syari'at. Apakah Ayu akan menemukan pasangan yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipertemukan Kembali
(Visual Mas Bhumi)
"Mbak..."
Spontan Ayu langsung menengok ke arah lelaki itu, ya karena memang tidak ada orang lain selain dirinya yang sedang berpapasan. Benar adanya, lelaki itu berdiri sekitar satu meter dari Ayu, tersenyum manis lalu menghampiri Ayu.
"Ya Allah nggak nyangka yah bisa ketemu lagi di sini," ucap lelaki itu. Ayu mengerutkan dahinya, ia terus mengingat siapa sih lelaki yang ada di depannya ini, sepertinya tidak asing.
"Bingung? belum tua sudah pikun," ucap lelaki itu lagi sambil terkekeh. Ayu semakin penasaran, lelaki di depannya ini kece badai, memakai baju batik rapi, dan celana hitam, jam tangan hitam, kulitnya sawo matang, bersih, mengenakan kacamata bening juga.
Lelaki itu lalu melepaskan kacamatanya, "Kalau seperti ini ingat tidak?"
Ayu menepuk dahinya, "Ya Allah, mas-mas yang ada di pohon asem itu?" Akhirnya Ayu ingat juga saat lelaki itu melepas kacamatanya. Penampilannya terlihat berbeda dari waktu itu, kacamata ternyata sangat berpengaruh pada penampilan seseorang. Kemarin terlihat tengil, saat ini justru terlihat smart.
"Bhumi, panggil saja Bhumi," ucap Bhumi memperkenalkan diri.
"Ah iya mas Bhumi, salam kenal juga, saya Ayu, nggak nyangka yah bisa ketemu lagi," ucap Ayu. Bhumi mengangguk sambil melihat sosok Ayu yang terlihat berbeda.
"Sudah nggak nangis lagi kan?" ledek Bhumi yang langsung membuat Ayu mesem manis malu. Ayu jadi mengingat kembali akan kebodohannya menangis di depan orang lain sambil terus berceloteh.
"Nggak lah, banyak tugas Mas, jadi lupa deh," jawab Ayu jujur. Semenjak tidak memiliki kekasih, tugas kuliah semakin menjadi-jadi, ia syukuri, mungkin itu cara Allah mengalihkan sakit hatinya.
"Alhamdulillah, saya percaya kamu wanita hebat, buktinya sekarang juga sudah merubah penampilan, cara meluapkan patah hatinya benar-benar menakjubkan," puji Bhumi. Ia jujur dengan ucapannya, karena berbeda sekali saat melihat Ayu di pohon asem dengan Ayu yang sekarang ini, hijab yang menutupi kepala perempuan yang ada di depannya semakin membuat Ayu terlihat dewasa dan elegan tentunya.
"Alhamdulillah, benar kata Mas, lupakan pahitnya, ambil pelajarannya."
Bhumi terkekeh, "Masih ingat rupanya, sama orangnya malah lupa."
"Pakai kacamata, jadi kelihatan beda," ucap Ayu.
"Beda bagaimana?"
"Waktu di bawah pohon asem kelihatan tengil, dekil, sekarang kelihatan keren banget, tampang smart gitu, Mas."
Bhumi tergelak, menurutnya Ayu jujur sekali menilainya, sebagai dosen ia biasa disegani mahasiswanya, sekarang justru diejek. Eh tapi kan Ayu bukan bagian dari siswanya.
"Ya itu karena panas, debu jalanan juga," ucap Bhumi berkilah.
"Kalau di sini ganteng begini karena banyak mahasiswi cantik ya, Mas?" ledek Ayu.
"Ya harus itu, siapa tahu ada yang terjaring menjadi kandidat calon ibu dari anak-anak saya nanti."
"Oh ternyata lagi cari jodoh toh."
"Ya sambil ikhtiar," ucap Bhumi sambil memakai kacamatanya kembali. Di jodoh-jodohkan oleh saudara bahkan orangtua, tapi selama ini belum ada yang mampu menggetarkan hati Bhumi, membuatnya tenang saat memandang.
Ayu mengangguk-angguk, "Eh, Mas, kok ada di sini? mahasiswa atau apa, atau lagi jemput saudara?"
"Saya memang orang sini, asli Bandung. Nggak jemput siapa-siapa Yu, lagi main aja," jawab Bhumi. Rasanya jumawa jika mengatakan dirinya akan menjadi pembicara di seminar umum kampus ini.
"Nggak nyangka ya Mas, bisa kebetulan ketemu di sini. Mas maaf ya sebelumnya, saya mau ke kantin dulu, ada teman menunggu dari tadi di sana, sudah pesan kopi juga," ucap Ayu. Bhumi mengangguk, Ayu memberi salam dan bergegas menuju kantin.
Bhumi memperhatikan Ayu hingga gadis itu tak nampak lagi dari pandangannya, menurutnya tidak ada yang kebetulan di dunia ini, dirinya di pertemukan dengan gadis itu selalu tanpa sengaja. Entahlah, rasanya juga seperti sudah berkawan lama, bisa ngobrol sepanjang itu. Biasanya Bhumi termasuk orang yang irit bicara jika bukan hal yang penting.
☘️☘️☘️
Dari kejauhan Ayu melihat Ajeng tengah menyesap kopi, tangan yang satunya sibuk memainkan ponsel. Pasti sahabatnya itu akan sedikit merajuk karena menunggunya lama.
Ayu berlari kecil agar cepat sampai di hadapan sahabatnya itu. Setelah sampai, ia langsung duduk di sebelah Ajeng lalu meminta maaf padanya karena menunggunya lama.
Ajeng melirik Ayu, "Mules-mules ya, Yu."
Ayu menggeleng, ia menyesap kopinya yang hampir dingin. Padahal sengaja memesan kopi panas agar menyegarkan di badan.
"Tadi tuh ngobrol sebentar sama orang," ucap Ayu. Ia lalu bercerita jika tidak sengaja bertemu dengan Bhumi. Seseorang yang pernah melihat ia menangis tragis sambil mengoceh.
Ayu terus bercerita pada Ajeng perihal kejadian waktu dirinya melihat mas Harsa menikah, entahlah pokoknya tiba-tiba malah bertemu dengan sosok Bhumi di bawah pohon asem.
Mendengar cerita Ayu, Ajeng justru tergelak, karena hal ini bukan lagi sebuah kebetulan tapi seperti takdir.
"Jangan-jangan kalian jodoh," ledek Ajeng. Ayu menghela nafasnya. Baginya tidak mungkin laki-laki sekeren mas Bhumi menyukai gadis desa sepertinya.
"Nggak lah, mojang Bandung geulis-geulis euy," ceplos Ayu.
"Tadi ketemu nggak canggung, Yu?"
Ayu menggeleng, ia baru menyadari pertemuan tadi sama seperti pertemuan awal dengan Bhumi, tak ada rasa canggung apalagi malu. Tadi mengobrol biasa dan natural sekali.
"Ajaib, eh kok dia ada di sini? apa jangan-jangan mahasiswa sini lagi."
"Bukan, katanya lagi main aja di sini, cari jodoh," celetuk Ayu. Ya sesuai dengan perkataan mas Bhumi tadi, siapa tahu dapet jodoh.
Ajeng tergelak, "Nah itu, kan tadi kalian dipertemukan kembali tuh, siapa tahu jodoh."
Ayu memukul lengan Ajeng, "Kuliah yang bener, nanti jodoh menyusul." Ayu kembali menyesap kopinya, ah rasanya jadi salah tingkah. Andai saja Ajeng melihat penampilan mas Bhumi yang keren, rasanya tidak tepat jika disandingkan dengan gadis sederhana seperti dirinya.
Ajeng terkekeh, "Cepat habiskan kopinya, sebentar lagi mulai seminarnya." Ayu langsung menyesap habis kopinya, lumayan rasa kantuknya berkurang sedikit. Hanya sedikit, gampanglah nanti kalau mengantuk, ada bahu Ajeng sebagai sandaran. Untuk saat ini bahu Ajeng dulu, nanti kalau sudah bertemu jodoh, baru pakai bahu Ayang. Ayang suami maksudnya.
Setelah berusaha terus memperbaiki diri, Ayu memutuskan untuk tidak akan pacaran lagi, ia ingin langsung menikah saja, cukup perjalanan cintanya kemarin sebagai pelajaran jika pacaran hanya membuang waktu saja, termasuk mengalihkan fokus belajarnya. Untuk saat ini masalah ayang-ayangan, dicoret dulu dari list, yang ingin Ayu capai adalah tahun depan target lulus.
Ayu dan Ajeng bergegas menuju tempat seminar. Sesampainya di sana, ternyata banyak juga yang menghadiri, tema seminar kali ini memang penting untuk menambah semangat mahasiswa dalam menjalani perkuliahan yang penuh dengan banyak tugas.
Pembawa acara masih membacakan susunan acara, namun mata Ayu sudah ngantuk, rasanya berat sekali untuk membuka mata. Benar saja ia bersandar di bahu Ajeng. Sahabatnya itu hanya geleng kepala melihat tingkah dirinya, acara belum mulai sudah ngantuk.
Walaupun ngantuk, tapi telinga Ayu masih mendengar sayup-sayup suara yang ada di sekitarnya. Sesekali ia berusaha membuka matanya, namun tetap kembali terpejam, ah menyiksa sekali.
Terdengar suara tepuk tangan begitu riuh. Ajeng menggoyangkan badan Ayu perlahan.
"Ih Yu, yang ngisi tema ternyata masih muda, mana ganteng lagi, coba deh lihat dulu, siapa tahu kantuknya hilang."
Karena Ajeng terus saja menggoyangkan kepalanya, Ayu mulai mengerjapkan matanya sedikit demi sedikit melihat ke arah panggung, apa yang dikatakan Ajeng memang benar, bapak pengisi temanya ganteng.
Namun Ayu seketika langsung terkejut, bangun dari senderan, hingga Ajeng juga ikut terkejut melihat tingkah Ayu yang tiba-tiba terbangun begitu.
Ayu menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, rasanya malu sekali, laki-laki yang ia katai dekil dan tengil itu ternyata ada di panggung sana.
❤️ Bersambung....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ciat ciat, yang manis manis sudah muncul ke permukaan. Emak sengaja kasih visual lelakinya saja, visual perempuannya yaitu kalian sendiri. Bayangkan masuk dalam cerita ini dan bertemu dengan mas Bhum🤭🤭
Daun yg berguguran saja atas takdir Allah. Apalagi pertemuan antara kamu dan aku🤭🤭 Osolele
ehh jd halu 🤭