NovelToon NovelToon
MISTERI HUTAN RARANGAN

MISTERI HUTAN RARANGAN

Status: tamat
Genre:Manusia Serigala / Cinta Terlarang / Mata-mata/Agen / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Horor / Tamat
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lalu LHS

Akhir-akhir ini suasana perkampungan yang terletak di tengah-tengah hutan lindung selalu mencekam. Telah terjadi penculikan seorang gadis dan pembunuhan terhadap beberapa orang yang tinggal di kawasan hutan itu. Pihak kepolisian pun masih belum bisa mengungkap kasus itu. Ada beberapa orang yang sempat dicurigai sebagai pelaku dalam kasus tersebut dan masih dalam penyelidikan.
Seorang pemuda anak penduduk di kawasan hutan tersebut berhasil menemukan tanda-tanda yang mengarah kepada pelaku pembunuhan. Tapi anehnya beberapa orang malah memasukkannya ke dalam daftar pencarian orang. Berbagai intimidasi membuatnya harus bersembunyi untuk menghindari kejaran pihak kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalu LHS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#09

Suasana kembali lengang setelah acara zikir malam ketiga kematian bu Sarmi usai. Sampah-sampah plastik dan daun pisang sisa tempat ala kadar untuk jamaah zikir, berserakan di jalan terhempas angin. Suasana yang tadinya hidup dengan berbagai topik pembicaraan, kembali mati. Sunyi dan mencekam.

Seperti biasa, malam berhembus dingin. Suara kesiar angin di dedaunan pohon pinus terdengar bertabrakan satu sama lain. Menciptakan suara khas bagi penghuni malam. Suara burung hantu terdengar menggema,seperti memantul di batang-batang pohon di kedalaman hutan.

Sesosok tubuh terlihat mengendap-endap di antara batang-batang pohon pinus. Matanya nyalang kesana kemari mengikuti gerak gerik Haji Maemun yang tampak kebingungan mencari jalan pulang. Dia seperti tak ingin kehilangan Haji Maemun. Kemana Haji Maemun melangkahkan kakinya, ia terus membuntutinya.

Haji Maemun seperti kehilangan arah ketika hendak pulang dari ladangnya. Tadi menjelang maghrib, beberapa tetangganya memberitahukannya bahwa tanaman warga yang berdekatan dengan ladangnya, telah dirusak oleh segerombolan kera. Bahkan informasi yang ia terima, gerombolan kera-kera itu sudah mulai memasuki ladangnya. Dia segera bergegas dan menunggu sejenak di ladangnya. Sebelum pulang, ia sempat membuat orang-orangan yang ia letakkan di pinggir-pinggir ladangnya. Tapi ketika pulang isya tadi untuk mengikuti acara zikiran di rumah almarhum bu Sarmi, ia seperti orang asing yang tak tahu jalan pulang. Ia tiba-tiba seperti orang kebingungan, yang tak tahu arah pulang. Padahal sudah empat puluh tahun lebih ia lalu lalang di hutan itu. Setiap jengkal jalan di hutan itu, baik jalan yang pintas maupun yang sering dilalui para peladang. Baik siang maupun malam. Tapi malam ini, setiap kali ia berjalan, langkah kakinya selalu berakhir di tempat yang sama. Ia benar-benar heran, ia tetap tak bisa menemukan jalan pulang. Langkah kakinya tetap berakhir di tempatnya kini berdiri. Karna kesalnya, berkali-kali ia berteriak dan *******-***** rambutnya keras.

Haji Maemun akhirnya memilih duduk melepas penatnya di sebuah batang kayu yang tumbang di antara deretan batang pohon pinus. Sinar senter yang dipegangnya sudah mulai redup karna daya baterainya habis untuk perjalanan bolak-baliknya beberapa jam yang lalu. Nafasnya masih terengah-engah. Kedua bola matanya bergerak kesana kemari, masih berusaha menebak jalan yang benar untuk pulang. Haji Maemun kembali mendesah kesal. Ia benar-benar bingung kenapa ia sampai kesasar seperti itu. Ia merasa seperti sedang masuk ke dunia lain.

Haji Maemun memejamkan matanya. Mulutnya mulai komat-kamit membaca mantra turun-temurun yang diberikan almarhum kakeknya ketika tersesat di dalam hutan. Tapi belum sempat menyelesaikannya, Haji Maemun membuka matanya. Matanya awas melirik kesana kemari.

Terdengar suara seperti langkah orang berjalan di semak-semak. Haji Maemun menoleh ke belakang dan bangkit. Diarahkannya senter di tangannya, namun senter hanya menyala sebentar kemudian redup dan akhirnya mati. Haji Maemun mendesah. Ia kembali duduk dan memasang pendengarannya menyimak setiap gerakan yang terdengar di sekelilingnya. Hutan terlihat hitam dan gelap. Dinginnya hawa malam itu, dengan tubuh yang tak digerakkan, membuat tubuh Haji Maemun menggigil kedinginan. Ia merapatkan kedua tangannya ke tubuhnya agar tubuhnya tetap hangat. Haji Maemun mendesah kesal. Tak ada sama sekali yang bisa ia lakukan. Kebingungannya membuatnya tidak bisa berpikir. Ia pun tidak bisa menghubungi seseorang untuk membantunya karna hp nya tak dibawanya saat ke ladang tadi.

Suara menggeretas terdengar lagi dari arah belakang. Haji Maemun kembali menoleh. Sebuah parang yang diselipkannya di pinggang dikeluarkannya. Ia lalu mengeluarkannya dari sarungnya. Matanya awas mengawasi sekitarnya. Telinganya dipasang dengan seksama mendengarkan suara yang terkadang hilang dan terdengar kembali itu. Beberapa binatang buas mulai terpikir dalam tebakannya. Mungkin babi hutan atau macan kumbang, yang katanya pernah terlihat warga muncul di kawasan itu.

Suara menggeretas itu kembali terdengar, namun kini dari arah sampingnya. Haji Maemun menoleh dan bangkit. Ia mundur beberapa langkah, tetap dengan posisi siap siaga. Parang di tangannya di genggamnya erat. Siap membabat apa saja yang ada di hadapannya.

Wush...

Sebuah pisau melesat cepat dalam kegelapan dan menancap di dada Haji Maemun. Haji Maemun terkejut dan memegang dadanya. Salah satu tangannya meraba-raba. Sebuah pisau kecil dengan beberapa senti ujungnya telah menancap di dada kirinya. Haji Maemun meringis. Rasa sakit dan perih mulai terasa di dadanya. Satu sosok bayangan hitam bercadar terlihat berdiri tegap di depan Haji Maemun yang sedang berusaha mencabut pisau dari dadanya.

Tubuh Haji Maemun goyah ketika ia telah berhasil mencabut pisau di dadanya. Darah segar mengalir membasahi baju yang dipakainya.

Sosok hitam itu terlihat bergerak. Satu buah pisau melesat lagi dengan cepatnya, mengarah ke dada Haji Maemun. Haji Maemun mengerang dan berteriak kesakitan. Teriakannya mengagetkan penghuni hutan. Parang yang dipegangnya terlepas, disusul dengan tubuhnya yang perlahan ambruk di tanah. Haji Maemun berusaha menahan darah yang mengalir di dadanya. Pisau yang menancap di dada sebelah kanannya terlalu dalam. Tenaganya juga sudah mulai lemah untuk mencabutnya. Ia menggeser tubuhnya perlahan dan menyandarkannya di batang pohon. Haji Maemun menatap ketakutan sosok misterius yang berdiri di depannya.

Sosok hitam itu lebih mendekat. Dengan langkah pincang, ia terlihat tenang sembari mengumbar senyum dinginnya. Haji Maemun mencoba memberi isyarat dengan tangannya agar sosok misterius di depannya tidak menyakitinya lagi. Darah segar mengalir deras dari dada Haji Maemun. Sosok misterius itu membungkukkan badannya dan mengambil parang milik Haji Maemun yang tergeletak di depannya. Haji Maemun menyatukan kedua telapak tangannya, memohon agar laki-laki itu tidak menyakitinya. Tapi tangan sosok misterius itu mulai mengayunkan parang di tangannya. Haji Maemun menangis menghiba. Tapi sosok misterius itu sepertinya tidak terpengaruh. Ia mengangkat tinggi-tinggi parang di tangannya. Dan, sekali tebas, kepala Haji Maemun menggelinding di semak-semak. Bunyi darah yang menyembur dari tenggorokan Haji Maemun, mengeluarkan suara yang menakutkan penghuni malam.

Sosok misterius itu melempar parang yang ada di tangannya ke arah tubuh Haji Maemun yang bersimbah darah. Sabuk hitam yang melilit di pinggang Haji Maemun diambilnya. Ia kemudian melilitkannya di pinggangnya sendiri. Sosok misterius itu tersenyum puas. Setelah meludah ke arah tubuh Haji Maemun beberapa kali, ia membalikkan tubuhnya dan melangkah tenang memasuki hutan. Sosok misteriusnya hilang dalam gelapnya hutan.

Malam semakin beranjak larut. Suara tokek yang terdengar di antara batang-batang pohon, memantul ke seluruh sudut hutan. Kawanan semut bersiul memanggil kawanannya lebih banyak. Bau anyir darah menyeruak terbawa angin. Menerobos sela-sela hutan, menarik para binatang malam untuk mendekat.

1
🦆 Wega kwek kwek 🦆
saat membaca nih novel langsung bermunculan ilustrasi 2nya sudah kubayangkan betapa indahnya hutan nya,adem dibawah pohon
لواء الحمد: hutannya msh ada. nama tempat dan sebagian jalan, bangunan, semuanya real 50 persen. cuma hutannya tak selebat dan seluas didlm crita
total 1 replies
Krisna Adhi
/Facepalm//Facepalm/
Lina Nur
cerita nya seru jg...
Lina Nur
koq gak ada yg komen ya....
Dwi Giatno Alkissy
yee bener
Dwi Giatno Alkissy
Nah kan bener Fadli
Dwi Giatno Alkissy
Fadli?
Dwi Giatno Alkissy
Pelakunya sepertinya mengarah ke Fadli
Dwi Giatno Alkissy
Saya suka dengan karya² author, terutama dalam menggambarkan yang selalu detil dan terkesan hidup. Sehingga pembaca serasa benar² mengalami sendiri peristiwa yang ditorehkan
Dwi Giatno Alkissy
siapa itu?
sayem
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
لواء الحمد: terimkasih ulasannya. sehat sll
total 1 replies
Ateu Patty
baik
Maolida Johaini
bagus
لواء الحمد
hebat
Lalu Mustafa Kamal BinNuh
luar biasa jdi pnsran smga bukan maha guru jdi plakunya
لواء الحمد: tie kupu kupu malam sak wah tekontrak bace guru. misteri hutan rarangan jak ndekman
total 1 replies
Lalu Mustafa Kamal BinNuh
smoga pelakunya bukan maha guru kita aamin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!