Melihat dua orang wanita yang sangat dia cintai didepannya meninggal, serta Kakak laki-laki yang selalu bersama dengannya sejak kecil. Kemudian, di susul oleh kedua Papanya. Dengan ketiga adik kecilnya yang diikat dengan kejam di pondasi baja, membuat darah Arsen mendidih, sejak itu hatinya di penuhi dengan dendam.
Bertahun-tahun Arsen mencari pria yang tega membunuh keluarganya. Akan tetapi, sangat sulit, walaupun berkali-kali dia hampir menangkapnya. Hingga akhirnya, dia bertemu dengan seorang gadis yang mirip dengan wanita yang dia cintai berada di samping pembunuh itu.
Bisakah Arsen membalaskan dendamnya, atau terjebak dengan dendamnya sendiri, terjebak pesona gadis itu?
Yuk, baca kelanjutannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zean Chiano Dimitri
Setelah perut kenyang, kantuk pun menyerang Zee. Dia menyibak-nyibak lantai dengan tangannya, lalu bergelung tidur.
“Mom, please, wake up!” (Bangunlah, aku mohon)
“Mom, bangun lah! Daddy! Bangun, jangan tinggalkan Zee....”
Di sepanjang tidurnya, dia terus meracau dan menangis, memanggil ibu dan ayahnya.
Dulunya, Ayahnya seorang pengusaha tekstil, menyuplai benang-benang jadi pada pengusaha pakaian, sedangkan ibunya seorang desainer dan tata rias. Suatu hari, saat Zee berumur 9 tahun dan kakak laki-lakinya berumur 15 tahun. Kedua orangtuanya meninggal dunia akibat kecelakaan.
Usaha ayahnya diambil alih oleh adik laki-laki ayahnya, dengan alasan akan membesarkan mereka berdua, sedangkan usaha butik dan weeding organizer milik Ibunya dijual dan dibeli murah oleh keluarga istri sang paman.
Hanya rumah lah yang mereka berdua miliki. Mereka berdua disekolahkan oleh Paman sampai sekolah menengah atas saja, dengan alasan usaha ayahnya bangkrut dan kini sudah berubah nama menjadi usaha baru, milik pamannya.
Kakak laki-lakinya melamar kerja dengan ijazah sekolah menengah atas, tetapi ijazah rendah seperti itu tidak terlalu berlaku di Inggris. Hingga sang kakak bekerja sebagai pelayan restoran Jepang.
Hingga pada suatu hari, sang kakak diajak berjudi oleh temannya di kasino, dengan modal 30$ dia meraih untung sampai 3000$. Dia menang sampai tiga kali berturut-turut, dia memutuskan untuk berhenti bekerja jadi pelayan, yang hanya memperoleh gaji sedikit, sedangkan berjudi, dia hanya main dua jam saja, dia mendapatkan untung yang banyak.
Hari demi hari, dia terus bermain, sampai mendapatkan Lucky draw, dia memenangkan 1 juta dolar. Dia semakin lupa diri, dan men-Dewa-kan judi. Hingga pada akhirnya, kekalahan yang dia peroleh.
Sayangnya, karena kecanduan, dia terus berpikir, nanti, mungkin saja nanti, sebentar lagi, dia akan menang banyak.
Rumah adalah harta satu-satunya yang mereka miliki pun terjual karena judi, bahkan itu tidak bisa melunasi, malahan sebagian dia mainkan judi kembali.
Setelah tamat sekolah menengah atas, Zee bekerja serabutan, apapun akan dia lakukan, asalkan mendapatkan uang yang layak. Dia menjadi deliveri, sopir taksi, pelayan, dan office girl untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Zee gadis yang kuat, dia tangguh dan mandiri. Hidup susah dan miskin memaksa dia menjadi seperti itu. Lebih sedih lagi, Kakak laki-laki yang dulu dia banggakan, kini menjadi pria yang sering membuatnya menangis.
Zean Chiano Dimitri, nama kakak laki-lakinya. Pria tampan tukang mabuk, penjudi, dan selalu meminta paksa uang gaji yang dia peroleh hanya secuil.
“Mooom!” jerit Zee berbarengan dengan matanya yang terbuka lebar, peluh memenuhi seluruh wajahnya.
Dia perlahan bangkit, bersandar di dinding penjara itu, menghela nafas panjang, sambil menumpu keningnya di lutut.
“Mom, Dad, I miss you so much....” lirihnya. (Aku sangat merindukanmu)
Air matanya menetes tak terbendung, apakah kakak laki-lakinya akan cemas dan mencarinya? Atau hanya sibuk dengan urusannya sendiri? Berjudi? Dan mabuk-mabukan?
Zee segera menghapus air matanya saat mendengar langkah kaki berbunyi, perlahan, langkah kaki itu terus terdengar ke arahnya.
Arsen dan Jackson masuk ke dalam ruangan itu. Zee menatap tajam mereka berdua. Jackson mendekat dan langsung membekap mulut Zee hingga terkulai lemas.
Beberapa saat kemudian, Zee tersadar, dia sedang berada di dalam mobil, di sampingnya ada Jackson yang duduk santai. “Kau sudah sadar Nona?” tanyanya dengan wajah biasa saja.
“Mau kau bawa kemana aku?” seru Zee.
“Aku akan membebaskan kamu Nona. Maaf telah mengurung dan menyiksa Anda, itu semua karena Anda menodongkan senjata pada atasan kami, makanya kami mencurigai Anda sebagai mata-mata dan pembunuh,” jawab Jackson.
Mata Zee membulat mendengar, dan dia baru saja tersadar, jika tangan dan kakinya memang tidak diikat.
“Maaf Nona Zea, ini barang-barang Anda semua, kecuali senjata tajam Anda kami simpan,” jelas Jackson. Dia memberikan semua aksesoris Zee, mulai dari anting, jam tangan, cincing, jepit rambut, hp, dan lainnya.
Zee segera meraih barang-barang nya dengan kasar. Matanya masih menatap tajam Jackson, tangannya sigap memasang anting, cincin dan lainnya, tentu saja, dia tidak.lupa menghidupkan hp miliknya cepat.
Jackson tersenyum kecil. “Ini biaya untuk berobat dan waktu Anda yang terpakai karena kesalah pahaman kami pada Anda!”
Jack memberikan 5000 dolar pada Zee, membuat netra gadis itu membulat sempurna. Tentu saja uang segitu sangatlah banyak untuknya.
“Ambil lah Nona, luka di wajah cantikmu sangat disesali oleh atas kami, karena pukulan dari anak buahnya yang salah mengira Anda mata-mata.”
Mendengar itu, Zee melunak, dia tidak jadi membenci. “Tapi-- ini terlaku banyak!” ucap Zee.
“Tidak, Nona. Untuk merawat wajah dan kulit Anda yang lebam, kurasa Anda harus mengambilnya.”
“Baiklah, jika kau memaksa!” Zee pun mengambil 5000$ itu.
“Kami akan menurunkan anda di halte depan,” kata Jackson, Zee pun mengangguk.
Setelah Zee di turunkan di halte yang sedikit lengang, karena Jackson waspada, takut Zee berteriak, jika di turunkan di tempat yang ramai, bisa-bisa mereka di amuk masa. Jackson pun segera berlalu pergi dari sana dengan senyuman kemenangan.
Uang yang mereka berikan tidak seberapa dengan penjualan barang haram yang mereka dapatkan malam itu, lalu barang-barang milik Zee sudah diotak atik oleh Arsen, terkhusus hp, cincin, dan anting miliknya, untuk mengintai Johan yang menargetkan Zee.
Ya, Jackson dan Nion telah meretas dan menyelidiki data Zee. Mereka telah mengetahui tentang cerita dan masa lalu gadis itu, sehingga membuat rencana besar bersama Arsen.
Zee pulang ke rumah kontrakannya yang begitu kecil dan sempit. Saat dia membuka pintu rumah, betapa murka dan sedihnya dia, rumahnya berserakan dengan botol alkohol, pakaiannya sudah berserakan dari dalam lemari, sepertinya sang kakak mencari uang dari dalam lemari itu.
“Tuhan, malangnya aku, bukan mencari dan mencemaskan aku, tetapi hanya mencari uang ku. Tuhan, tolong sadarkan segera kakakku. Dia satu-satunya keluarga yang aku punya....” lirihnya.
Zee segera membersihkan diri, lalu membersihkan kontrakan yang kecil itu, merapikan bajunya kembali, dan segera berjalan ke arah mini market untuk membeli telur dan ikan kaleng, dia sudah lapar kembali, dia ingin memasak untuk dirinya dan sang kakak yang dia sayangi.
Setelah membayar belanjaannya, nasib malang pun kembali menghadangnya, empat orang pria kekar menghadangnya. Zee berlari sambil berteriak minta tolong, tetapi tak ada yang berani menolongnya, ke empat pria itu terkenal sebagai preman yang berbahaya di daerah sana, sehingga nyali orang yang mendengar teriakan Zee menciut.
“Mau kemana kau, Gadis?” tanyanya dengan tertawa menyeringai.
“Tangkap dia tanpa lecet!” perintahnya pada tiga orang kawannya.
Zee melawan. Semenjak dia tinggal dengan Paman, dia sering di bully dulu di sekolah, dan di rumah oleh anak-anak pamannya, sehingga diam-diam dia mengikuti pelajaran bela diri.
Tiga puluh menit Zee bertarung melawan empat pria berbadan kekar yang juga jago bela diri, tentu saja menguras seluruh tenaga gadis itu, ditambah perutnya yang lapar.
“Aaa---” Akhirnya, mulut Zee di bekap dari belakang oleh salah satu di antara mereka, mata Zee terbelalak dan dia meronta-ronta, tetapi akhirnya perlahan terkulai lemah karena bius di sapu tangan yang membekap mulut dan hidungnya bereaksi cepat.
“Cuih! Susah juga menangkap gadis ini! Jika bukan perintah Bos, sudah ku nikmati tubuhnya sampai puas, berani sekali dia memukul wajahku!” katanya mengelus bibirnya yang robek akan tendangan Zee tadi.
“Hahaha, tenang saja Kakak tertua, setelah dia menjadi tawanan Boss, kita bisa menggilirnya. Boss ingat Clara si cantik itu 'kan? Setelah Boss bersenang-senang degannya, kita di izinkan mencicipi dia.” Yang berambut keriting itu tersenyum mesum membalas.
“Hahahahaha! Kau benar! Ayo, kita serahkan dulu pada Bos!”
Mereka berempat pun membawa tubuh pingsan Zee pada Johan.
Sungguh malang, baru saja dia lepas dari kandang macan, kini masuk ke kandang serigala.
Semoga dia bisa segera bebas dari Johan..
Btw Jay jealous tuh, calon istrinya diganggu cwo lain..
Arsen tidak akan berhenti sampai dendamnya terbalaskan..