Bismillah... Kisah ini aku ambil dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama. Aku menggabungkannya menjadi sebuah kisah yang mungkin banyak sekali terjadi di kehidupan ini.
Gerd Anxiety adalah Masalah pencernaan, seperti heartburn, mual, dan sakit perut adalah gejala umum yang bisa ditimbulkan baik oleh GERD maupun anxiety. Kalau di masyarakat lebih di kenal dengan sakit asam lambung akut.
Novel ini bercerita tentang perjuangan seorang wanita yang ingin sembuh dari penyakit yang dia derita. Berbagai cobaan hidup, jatuh bangun dalam menghadapi kehidupan ini hingga dia akhirnya sembuh dan sukses.
Jangan lupa pilih menu Favorit ya sebelum dibaca 🥰🥰
*****
Deg.. deg.. deg..
Tiba - tiba saja aku merasa sesak dan kesulitan bernafas. Aku segera meraba dadaku, jantungku sangat kencang sekali berdetak. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Pakaianku mulai basah karenanya.
Lututku bergetar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Saat dipesta aku duduk ditaman yang ada disamping gedung pesta. Adikku Arif mendekatiku. Dia duduk tepat disampingku.
Walau jarak usia kami jauh, sepuluh tahun tapi aku lebih sering curhat dengannya. Mungkin karena dulu saat dia SMU dan saat itu diawal - awal pernikahanku dia tinggal bersama kami. Itu yang membuat kami lebih dekat.
"Kakak kenapa? Kok sepertinya tidak ceria?" tanya Adikku.
Mungkin dia bisa membaca raut wajahku saat ini yang terlihat sedih karena mendengar perkataan Tante Yus tadi.
"Gak kenapa - kenapa" jawabku pura - pura.
"Jadi kenapa duduk sendirian di sini, sementara semuanya ada di dalam?" tanyanya lagi.
"Di dalam sana panas. Diluar banyak angin, lebih sejuk" jawabku masih mengelak.
"Di dalam kan pakai AC, lebih sejuk. Pasti ada alasan lain kan?" selidiknya.
Aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu pada adikku ini. Dia selalu seperti bisa membaca hatiku.
"Tadi Kakak dengar Tante Yus cerita. Dia bertanya kenapa Papa menginap di rumah Rahmat bukan di rumah Kakak. Padahal kan Kakak anak paling besar dan Kakak anak perempuan satu - satunya" curhatku.
"Terus?" tanya adikku lagi.
"Ya.. Kakak merasa sedih aja. Mengapa Papa tidak mau menginap di rumah Kakak. Apa karena Rahmat tinggal di rumah baru dan rumahnya lebih bagus dari rumah Kakak?" akhirnya air mataku lolos juga dan mengalir.
"Kaaak jangan berpikiran negatif karena itu membawa dampak buruk bagi hati Kakak. Itu yang akan memicu Kakak menjadi cemas dan gelisah. Akhirnya asam lambung Kakak kumat" nasehat adikku yang memang berprofesi dokter.
Aku segera menyeka air mataku agar tidak ada yang melihat.
"Kalau Kakak bepikirkan seperti itu bagaimana dengan aku? Papa juga tidak pernah tinggal di rumahku?" sambung adikku.
"Kamu kan masih tinggal dengan mertua" jawabku.
"Nah dari sudut pandang itu Kakak memikirkannya. Coba Kakak juga berpikiran seperti itu untuk diri Kakak. Papa tinggal di rumah Mas Rahmat karena rumahnya lebih dekat dari kota. Dekat dari para keluarga Papa. Jadi Papa lebih mudah pergi kemana saja kalau dia merasa bosan" ungkap Arif.
Aku hanya diam mendengarkan adikku bercerita.
"Papa itu sangat sayang sama Kakak. Kakak tau tidak dia pernah berpesan kepadaku dan Mas Rahmat?" tanya Adikku.
"Papa berpesan apa?" tanyaku penasaran.
"Papa bilang, nanti kalau aku sudah tidak ada. Aku titip Kakak kalian ya.. Tolong kalian perhatikan kehidupannya. Dia memang tidak pernah mengeluh dengan hidupnya dan tidak meminta bantuan kita. Aku khawatir nanti saat aku sudah tiada, kalian meninggalkannya. Dia tipe anak yang tidak pernah mengeluh dan memendam perasaannya sendiri. Aku takut dia akan memendam kesusahannya sendiri dan berpura - pura bahagia di depan kita. Kalian perhatikan dia dan anak - anaknya. Apakah dia hidup dengan layak, apakah anak - anaknya bersekolah. Tolong kalian perhatikan. Hanya dia kakak kalian satu - satunya. Hanya dia anak perempuanku. Aku tidak ingin dia hidup menderita" ungkap Rahmat.
Mendengar cerita Rahmat air mataku kembali menetes dengan derasnya.
Ya Allah ternyata begitu sayangnya orang tuaku kepadaku. Mengapa aku merasa sakit hati hanya karena dia tidak mau datang ke rumahku? Mungkin dia punya pemikiran lain, mungkin dia tidak ingin memberatkanku dengan kedatangannya. Batinku.
"Sudah Kak, jangan menangis. Gak enak dilihat yang lain. Nanti mereka kira kita bertengkar. Satu yang perlu Kakak yakinkan dalam diri Kakak. Kami semua sayang Kakak, kalau Kakak butuh bantuan jangan sungkan. Minta saja kepada kami" ucap Arif.
"Maaf ya harusnya Kakak sebagai anak yang paling besar menjadi contoh teladan bagi kalian. Memberikan perlindungan dan kehangatan untuk kalian adik - adik Kakak. Bukan malah menjadi beban pikiran kalian" ungkapku masih menangis.
"Itu sudah tanggung jawab kami Kak sebagai saudara laki - laki. Walau Kakak anak paling besar tapi Kakak anak perempuan. Kami sebagai saudara laki - laki Kakak akan selalu melindungi Kakak" jawab Arif.
Aku berusaha menenangkan hatiku. Benar kata adikku, dalam memandang sesuatu cobalah mencari dari sudut pandang positif jangan langsung menuduh sesuatu itu dengan hal - hal negatif karena hasilnya pasti akan tidak bagus.
Allah saja berkata 'Aku seperti pandangan umatKU'. Kalau pikiran kita buruk pasti akan buruk yang terjadi, tetapi sebaliknya kalau kita berpikiran positif pasti yang akan datang adalah kebaikan.
"Coba Kakak konsultasi dengan dokter, minta rujukan ke Dokter spesialis penyakit dalam untuk pengobatan lanjut sakit asam lambung Kakak. Aku hanya Dokter Umum Kak, pengetahuanku masih terbatas. Paling aku bisa kasih resep obat asam lambung untuk Kakak. Tapi kalau sudah diperiksa Dokter Penyakit Dalam nanti kita bisa tau apa sebenarnya penyakit yang Kakak derita dan pengobatannya akan lebih mudah dan tepat" pesan Arif.
Aku masih tetap diam.
"Aku dengar akhir - akhir ini Kakak sering keluar masuk Rumah Sakit. Sering bertanya obat kepadaku. Lebih baik diperiksa dengan tuntas" sambungnya.
"Iya nanti Kakak akan minta rujukan" jawabku.
"Satu lagi jangan ditambah dengan beban pikiran, itu penyebab terbesar pemicu kambuhnya penyakit Kakak. Seperti pesan aku tadi coba berpikiran positif. Memang banyak yang punya penyakit sama seperti Kakak mempunyai keluhan yang sama. Suka memikirkan hal - hal yang terlalu jauh dan belum tentu juga terjadi dan belum jelas kebenarannya. Ada lho obat mujarab yang bisa diciptakan otak kita?" ujar Adikku.
Aku menatap matanya.
"Apa?" tanyaku ingin tahu.
"Sugesti. Sering pasien yang datang sembuh karena sebuah sugesti. Dia datang ke dokter untuk berobat. Karena dia suka dengan pelayanan dokter akhirnya dia yakin kalau dia akan sembuh. Secara tidak sengaja dia mensugestikan pikirannya untuk yakin kalau dia akan sembuh berobat dengan Dokternya. Dan hasilnya dia memang sembuh, padahal obat yang diberikan dokter lain juga sama lho dengan yang diberikan dokternya. Yang membuat dia cepat sembuh itu sugesti dan keyakinan" jawab Adikku.
Aku mencoba mencerna makna kata - kata yang baru saja dia ucapkan. Arif menarik nafas panjang.
"Sudah yuk kita masuk ke dalam, tadi Papa sudah mengajak kita pulang. Katanya dia pengen istirahat" ajak adikku.
Arif berdiri dari duduknya dan melangkah kembali ke dalam gedung tempat pesta berlangsung. Aku segera menyusulnya dari belakang.
Hari ini aku dapat pesan dan nasehat dari adikku yang jauh jarak umurnya dariku. Ternyata kini dia lebih dewasa, aku jadi malu. Padahal dulu dia yang lebih sering curhat padaku.
Apalagi saat dia SMU dulu. Dia pernah menangis padaku mengadukan kisah cintanya yang baru saja putus dengan pacaranya. Kini dia sudah menjadi seorang suami dan orang tua.
Adikku kecilku bukan anak kecil lagi. Dia sudah besar sebesar tubuhnya yang lebih subur dari aku dan adikku Rahmat. Padahal dia anak paling kecil tapi badannya yang paling besar dan lebih tinggi dari kami Kakak - Kakaknya.
.
.
BERSAMBUNG
nonelnya seperti kehidupan kita sehari'', benar'' hidup seperti nyata kita alami,
luar biasa sekali pengalaman yang bisa kita petik