Hallo readers. Selamat datang di cerita pertama author. Mohon dimaklumi kekurangannya ya.
__________
Kehidupan seorang gadis cantik berusia 18 tahun yang sering dipanggil Jeje. Hidup tanpa kasih sayang seorang ibu.
Namun dia memiliki sosok ayah yang sempurna. Kasih sayang dan perhatiannya tanpa batas. Dia sangat menyayangi putri bungsunya. Menjaganya bak berlian paling berharga di dunia.
Jeje juga memiliki seorang kakak laki laki yang melengkapi kebahagiaan hidupnya. Walaupun mereka sering bertengkar, tapi kasih sayang di antara keduanya tak dapat dijabarkan dengan kata kata.
Dibalik kebahagiaan itu semua, ada sisi gelap kehidupan yang dijalani daddynya. Tak jarang berbagai bahaya selalu mengancam keselamatan dirinya.
Bagaimana Jeje menghadapi setiap ancaman itu? Mampukah dia menjalaninya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeLiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. DIBUNTUTI
Dalam perjalanan pulang, hujan tak kunjung berhenti dan malah semakin deras. Harsen khawatir jalanan akan banjir dan membuat perjalanan mereka terganggu.
Dan juga ada yang sedikit mengganggu pikirannya sejak tadi. Dirinya merasa ada seseorang yang mengamati gerak geriknya sedari berpindah mobil.
Dia takut terjadi sesuatu pada putri nya yang sedang bersamanya saat ini. Dia melihat sekeliling.
Tidak ramai kendaraan tapi juga tidak terlalu sepi. Ada beberapa kendaraan berlalu lalang.
Jeje yang menangkap kegelisahan ayahnya langsung bertanya.
"Ada apa dadd. Kenapa daddy terlihat cemas?" tanya Jeje.
"Oh, tidak ada sayang. Daddy hanya mengamati sekitar apakah ada yang mengikuti atau tidak." ucapnya.
Deg..
Jeje kaget mendengar ucapan ayahnya.
"Dibuntuti? Apa kita dibuntuti orang jahat dadd?" tanya cemas Jeje.
Harsen tak ingin menambah kecemasan putri nya, langsung dia dekap dan mengelus kepalanya menenangkan.
"Tidak, sayang. Daddy hanya memastikan. Jangan khawatir." jelasnya.
Jeje yang masih merasa cemas dan takut, hanya memeluk erat daddy nya. Aroma maskulin yang menguar masuk ke dalam penciumannya selalu mampu membuatnya lebih tenang.
Hingga saat mereka melewati jalanan yang cukup sepi, kecemasan Harsen benar adanya. Tiba tiba terdengar suara tembakan dari belakang. Terlihat sebuah mobil hitam sedang berusaha mengejar mobilnya. Dengan pistol yang tak berhenti ditodongkan pada mereka, dan terus menembakinya.
Untung mobil Jeje sudah dia modifikasi dengan anti peluru sedemikian rupa agar putrinya aman.
Harsen sangat kesal dengan mereka. Siapa yang berani berani menyerangnya saat tanpa pengawalan anak buahnya dan baru saja pulang dari kantor, apalagi ada putrinya bersamanya saat ini.
Untungnya, 2 orang sopir di depannya adalah termasuk anak buahnya di organisasi mafia. Dan dia juga meletakan beberapa senjata yang disembunyikan di celah mobil Jeje.
Harsen juga selalu mempersenjatai dirinya, agar jika dibutuhkan seperti sekarang, dia tidak perlu khawatir.
Harsen segera merogoh pistol dari balik jasnya. Sambil terus mendekap Jeje yang menunduk di samping nya. Jeje juga selalu diberi senjata pengamanan diri olehnya. Jadi Jeje tidak terlalu asing dengan yang namanya senjata.
Jeje memegang sebuah senjata khusus yang dirancang daddy nya untuk dirinya gunakan di keadaan mendesak. Sejenis pistol, tapi penampakannya tidak semengerikan pistol pistol mematikan milik daddy nya. Namun senjata Jeje sama mematikannya, demi melindungi dirinya. Dia harus selalu bersiaga.
"Tetaplah di posisi ini sayang. Jangan banyak bergerak, oke. Rileks. Mereka hanya tikus tikus kecil. Daddy akan segera menyingkirkan mereka."
Dengan sigap Harsen menodongkan senjata miliknya ke arah mobil di belakangnya dengan membuka jendela dari arah samping.
DORR.. DORR..
DUARR..
Ban mobil itu meledak seketika karena tembakan Harsen. Kemudian mobil itu bergerak tidak terkendali dan oleng menabrak pagar pembatas kemudian meluncur ke arah jurang melewati pembatas jalan.
Tak lama terdengar ledakan dari arah mobil yang jatuh ke jurang. Harsen segera memerintahkan untuk menepikan mobilnya. Dia hendak keluar, namun dicegah oleh Jeje.
"Daddy mau kemana. Jangan keluar. Biar mereka saja yang memeriksanya." perintah Jeje menunjuk 2 orang di depan dengan matanya.
Harsen menurut karena tak ingin putrinya tambah khawatir, kemudian dia memerintahkan mereka untuk segera memeriksa dan mencari tau, siapa dalang dibalik kejadian ini.
Harsen sangat membencinya. Dia telah menyebabkan putrinya berada dalam ketakutan dan juga situasi berbahaya seperti ini.
Dia berjanji akan membalas perbuatan orang itu tanpa ampun, setelah mengetahuinya nanti.
Dia berpikir, siapa gerangan yang saat ini berselisih dengannya. Dia rasa tidak ada.
Begitulah dunia mafia, musuh akan datang dari mana saja tanpa bisa ditebak.
Mereka selalu tiba tiba muncul mengancam nyawa di mana pun berada. Oleh sebab itu, dia selalu menyertakan Jeje dengan beberapa anak buahnya untuk berjaga jaga.
Dia juga melakukan pencegahan dengan tidak mengumbar identitas anak anaknya. Hanya orang tertentu yang mengetahui bahwa Jeje dan Rey adalah anak nya.
Dia tak akan lengah sedikitpun, karena jika dia meremehkan keberadaan musuh, itu akan berakibat fatal.
Tak lama, terlihat 2 orang anak buah Harsen kembali dengan membawa sesuatu yang mereka tutupi dengan kain hitam.
Mereka masuk dan menyerahkan benda tersebut pada Harsen. Ekspresi Harsen langsung berubah dingin dipenuhi emosi.
Kemudian menyimpan benda tersebut ke dalam saku jasnya.
Jeje yang tidak mengetahui benda apa itu langsung bertanya.
"Apa itu dadd?"
Harsen langsung mengubah lagi ekspresi nya, menatap putrinya dengan hangat.
"Bukan apa apa sayang. Ayo, kita pulang." kilahnya tak ingin memberitahu Jeje saat ini.
Benda itu adalah simbol organisasi gelap seseorang. Setiap organisasi memiliki ciri khas nya masing masing sebagai identitas untuk anggota mereka.
Setiap anggota akan memiliki simbol tersebut. Namun mendapatkannya bukanlah hal mudah. Mereka harus berjanji setia dan sanggup mati. Menjunjung tinggi organisasi dan mematuhi setiap peraturan yang diterapkan.
Harsen masih memikirkan, bagaimana mereka bisa mengetahui keberadaan dirinya saat ini. Apakah mereka sudah mengikuti dirinya dari kantor, atau... mereka mengikuti Jeje. Astaga, jika itu benar, dia benar benar ceroboh melakukan penjagaan pada putrinya.
"Hanya karena bosan kau bisa melakukan hal seperti ini. Lihat apa yang baru saja terjadi. Kau bisa celaka hanya karena... ohh astaga, daddy benar benar tidak habis pikir." Harsen tidak sanggup melanjutkan kata katanya.
"Setelah sampai nanti, berendamlah dengan air hangat. Daddy takut kau demam, sampai kepalamu kehujanan tadi." celoteh Harsen lagi.
"Iya iya iya." jawab Jeje.
"Jangan bercanda, daddy serius." ujar Harsen menatap Jeje dari samping.
"Apa kau tidak takut dengan apa yang baru saja terjadi?" tanya nya lagi.
"Ada daddy bersamaku, kenapa aku harus takut?" jawabnya enteng.
Tetapi sebenarnya, dirinya ketar ketir dan jantung nya masih berdetak sedikit kencang. Namun dia berusaha bersikap setenang mungkin.
"Huhh. Bagaimana jika hal tadi terjadi sebelum kau sampai ke tempat daddy? Apa kau tidak berpikir ke sana?" tanya Harsen lagi. Sebenarnya dia sedikit kesal dengan sikap Jeje yang terlalu menganggap enteng dunia luar.
Jeje yang hatinya masih belum pulih dari rasa takut dan cemas kini merasa lemas mendengar penuturan daddynya. Dia menyandarkan tubuhnya ke belakang dengan lunglai seakan tidak memiliki tenaga.
Kemudian dia menatap Harsen dengan raut wajah memelas.
"Daaaaddd." mohonnya untuk berhenti menakut nakuti dirinya.
Daddynya tidak tau saja sedari tadi dia rasanya ingin pingsan. Perjalanan pun terasa lama saat dia belum berjumpa Harsen. Benar benar menyebalkan, batinnya. Ketakutannya masih belum pulih sepenuhnya.
Harsen menghela napas. Dia merangkul Jeje dan memasukkannya ke pelukannya.
"Sorry honey. Daddy tidak bermaksud seperti itu. Daddy hanya khawatir memikirkanmu."
Dielusnya kepala Jeje sayang. Dia benar bebar tidak bermaksud menakut nakuti Jeje. Hanya saja, pikirannya terlalu kalut.
Mobil mereka terus melaju menuju jalan pulang dengan hujan yang sudah tidak sederas tadi.
.
.
.
Bersambung.
kan emaknya dah koit tuh, kapan menghianati nya 🤔🤔🤔