Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.
Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.
Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.
Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.
Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9: Menginap Di Rumah Keluarga Aneh
"Malam ini boleh aku menginap ...?" Sean bertanya, pura-pura melirik jam dinding. "Sudah tengah malam, kupikir aku tidak mungkin pulang selarut ini."
Adli tersenyum sinis, "kenapa kamu terdengar begitu penakut?"
Sean berusaha meyakinkan, "hanya waspada, aku tidak mau ketemu begal. Jika aku mati, proyek kerjasama kita tentu saja gagal."
"Terserah kamu saja. Pilih kamar yang mana saja, tapi jangan mengambil dua kamar kosong yang berdekatan dengan kamar Alma, selain itu kamu bebas ingin tidur di mana di kamar utamaku juga boleh."
Sean mendengus, "baiklah, berapa sewanya? Kurasa kamu kurang ikhlas."
"Benar, aku tidak ikhlas. Jika ada lelaki lain satu rumah dengan istriku tapi untuk malam ini saja kubiarkan kamu." Adli menyelesaikan pekerjaan terakhirnya, ditutupnya laptop. Lelaki itu sedikit menggerakkan tubuhnya yang menimbulkan bunyi. "Sebelum meminjam salah satu kamarku, ambilkan aku sesuatu di dalam lemari sana. Kamu ikhlas sedikit kusuruh 'kan?" Sean hanya tersenyum, karena dia menumpang lelaki itu sedikit ikhlas disuruh-suruh oleh sepupunya. Sean membuka lemari yang ditunjuk oleh Adli, lalu kerutan di dahinya menjadi jelas. "Ini atau ini?" Ditanyainya Adli, dua benda mencengangkan membuat Sean kurang nyaman. Alat pengaman dan obat kuat.
"Buang alat pengaman dan ambilkan aku obat kuat. Alat pengaman itu sudah tidak berlaku lagi karena ternyata Alma mandul dan Yura tidak sengaja hamil."
"Yura tidak sengaja hamil? Berarti kamu tidak berniat memiliki anak darinya?"
"Jangan banyak tanya," Adli merampas obat kuat dari genggaman Adli.
"Kamu akan bermalam dengan siapa, Yura? Alma?"
Adli mendelik jengkel, "kamu banyak tanya."
"Yura tidak akan mau melayanimu, kamu saja tidak mau berusaha membujuknya lagi—"
"Jangan sok tahu. Aku ingin bermalam dengan Alma. Sudah tiga bulan aku tidak menyentuhnya sebelum yang tadi."
"Tiga bulan? Lama sekali." Sean mendengus. Tidak menyangka, seteledor itu Adli membagi nafkah batin.
"Semenjak mantan pacarnya kembali, entah kenapa aku tidak sanggup menyentuh Alma. Aku takut, tubuh tercinta yang tengah kusentuh ini pernah dijamah oleh mantan kekasihnya. Setidaknya itulah yang menakutiku, hingga tidak sengaja menyentuh Yura. Yura tidak sengaja hamil dan ... akhirnya Alma bukan satu-satunya wanita yang kusentuh selama ini."
"Jadi sebelum tiga bulan yang lalu, setahun pernikahanmu dengan Yura, kamu belum pernah menyentuh Yura?"
Adli tersenyum sinis, "kamu pintar jika menebak. Yap!"
"Kamu tahu ...." Adli berkata. "Setiap malam, Alma selalu membayangi kepalaku ... selalu ... tidak pernah lepas, jadi bagaimana bisa aku menyentuh Yura jika otak dan diriku hanya ingin menyentuh Alma. Setidaknya, kehadiran Aldo tiga bulan yang lalu membuat perasaan itu sedikit ditahan dan aku tidak sengaja menyentuh Yura. Salah dia mendekatiku saat mabuk."
Mengabaikan Sean yang kehilangan kata-kata, Adli segera meminum obat kuatnya. Beberapa sendok dia teguk, lalu menutup kembali botolnya. Adli memejamkan mata sejenak, lalu mendesah. "Malam panjang yang indah tengah menantiku, Sean." Adli meninggalkan Sean sendirian di dalam ruangan pribadinya.
>><<
"Yura tengah hamil ...." Adli berbisik di telinga Alma. Mengabaikan tangan, tubuh dan wajah istri pertamanya itu gemetar. Bibir Adli mengecupi daun telinga Alma, lalu melanjutkan kalimatnya. "Dia harus menjaga kandungannya. Jadi, aku harus berhenti menyentuhnya sekalipun ingin." Kata siapa ingin? Adli hanya menambahi kalimat. Yang dia inginkan hanya wanita yang berada dalam dekapannya. "Demi dia dan kandungannya jadi Alma, ini tugasmu sebagai istri. Karena Yura tidak butuh sentuhanku sampai melahirkan, kamu harus banyak persiapan untuk dua tugas ganda—mengambil tugas Yura untuk melayaniku."
"Siap untuk lanjutan yang tadi?" Adli mencium kening Alma.
Sebenarnya ini yang Alma nantikan. Dimadu kasih oleh suaminya yang tiga bulan berhenti menyentuhnya. Tapi mengingat peristiwa yang menimpanya bersama Sean Alma tidak sanggup. Wanita itu memejamkan matanya, air matanya mengalir. Menyaksikan hal itu Adli menelan ludah, ditepuknya pipi putih Alma. "Kamu kenapa menangis? Kenapa? Kamu tidak suka? Benci? Menolak? Jijik disentuh olehku lagi? Begitu? HAH!?"
Pertanyaan Adli yang bertubi-tubi terdengar geram. "Alma!" Adli mengguncang kedua bahu Alma, lalu meremuk kedua ujungnya. Alma menutupi wajah dan matanya dengan kedua telapak tangan, isakannya mulai terdengar. Adli membelalak. Heran, kenapa Alma menangis? Bahkan meraung. Kaki Adli menuruni ranjang, matanya memerah. "Kamu kenapa sebenarnya? Katakan saja kalau kamu tidak mau, menolakku! Biar jelas!"
Kepala Alma menggeleng, tapi perempuan itu masih menangis.
Adli mengerang, "baiklah malam ini lupakan saja! Besok-besok kamu teriak minta tolong 'pun aku tetap akan menuntut hakku." Tidak keluar dari kamar Alma, Adli masuk ke dalam kamar mandi. Lelaki itu menatap pantulan wajahnya di cermin keran wastafel. Dihidupkannya keran air, lalu kumur-kumur mulut. Berusaha memuntahkan semua cairan obat kuat yang dia minum sebelumnya. Dengan paksa Adli memasukkan jemarinya ke dalam mulut. Merasa sia-sia dengan apa yang dia lakukan dan dia persiapkan, Adli menatap dingin pantulan wajahnya di cermin. Wajah, mulut dan kedua bahu atasnya sudah basah oleh guyuran air. Adli menyeringai, bayangan wajah Alma membuatnya muak dan rindu secara bersamaan.
Adli mendengus geli, merasa aneh pada dirinya sendiri yang suka bertentangan satu sama lain. Setelah itu lelaki itu keluar dari kamar mandi. Didapatinya Alma yang sudah tertidur setelah puas menangis. Adli mengintainya dingin, lalu mendekat. Menangkap pelan tubuh Alma dan memeluknya, Adli berbisik di daun cuping Alma. "Selamat malam, sayang." Adli mencium anting Alma, lalu menjadikan pundak istrinya sebagai bantal.
Alma perlahan terbangun karena jeratan Adli. Pelukan itu membuatnya merasa bersalah, perlahan dilepasnya kedua tangan Adli. Dengan ragu Alma mencium kening suaminya, lalu turun ke lantai. Alma mengambil selimut dan bantal untuk tidur di sana, berbeda tempat tidur dengan suaminya. Alma bukan sengaja ingin membuat Adli marah, hanya saja jika berdekatan dengan lelaki itu, Alma merasa bersalah.
>><<
Sean benar-benar menginap di salah satu ruangan di rumah Adli. Sepanjang malam Sean tidak bisa tidur, dia duduk di sofa yang ada di luar kamar. Berharap ketidaksengajaan membawanya bertemu dengan Alma. Entah mengapa Sean begitu ingin bertemu wanita itu, lalu meminta maaf sekali lagi tapi sepanjang malam Sean menunggu di sofa depan pintu. Tak ada Alma yang lewat, hanya desiran angin yang memberi harapan palsu. Sean meringis. Dijadikannya rokok sebagai pengalihan. Sebatang rokok yang berasap ujungnya itu dia isap, lalu menghembuskannya kuat.
Di setiap hisapannya, Sean berharap menjadi hitungan setiap derap langkah Alma untuk datang kemari. Suara derap langkah, Sean langsung menoleh cepat, segera meremuk putung rokok dalam genggaman tangannya. Sorot senang Sean berubah redup, bukan Alma. Hanya Yura, yang seperti wanita kebingungan mencari seseorang.
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊