Nia seorang gadis yang baru lulus sekolah mengalami "kecelakaan" hingga mengakibatkan dia mengandung anak yang tak pernah ia harapkan.
Kekasih yang menodainya tanpa berdosa meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab. Menimbulkan kekecewaan dan frustasi hingga ingin menggugurkan kandungannya.
Namun akhirnya, Nia dipertemukan orang-orang baik yang menyayanginya. Bahkan, seseorang merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossa Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balasan Kebaikan
Sudah tiga bulan lamanya Nia menjadi pengangguran. Selama itu ia tak pernah berhenti mencari lowongan kerja, begitu pun Febi setiap saat ia selalu membantu Nia mencari pekerjaan di sela-sela waktu kerjanya. Namun, keberuntungan belum berpihak padanya.
Nia mulai cemas terhadap simpanannya yang mulai menipis, jangankan menabung untuk biaya persalinan nanti untuk sehari-hari pun ia mulai mengurangi pengeluarannya. Meski pun untuk sekedar makan tak jarang Febi mengeluarkan uangnya untuk memengisi perut mereka.
Setiap malam do'a selalu ia panjatkan, karena itu merupakan cara terakhir setelah ia berusaha. Namun, tak kunjung ada jawaban.
Hingga suatu hari, Nia sedang berjalan menuju pulang setelah berkeliling ke toko-toko yang terletak di tepi jalan raya, berharap barangkali mereka memerlukan karyawan tambahan. Ia bertemu dengan seorang kakek pedagang asongan yang sedang duduk di trotoar, kakek itu nampak kelelahan, matanya terpejam menghilangkan penat yang dirasanya.
Nia merasa iba melihat kakek itu dengan barang dagangan yang masih menumpuk tanda tak terjual, mengundang hatinya untuk membantu dan meringankan barang sedikit saja bebannya.
Lalu ia menghampiri dan mendekati sang kakek, dibukanya dompet yang tinggal berisi dua lembar uang berwarna merah, ia ambil salah satunya lalu menyimpan di bawah dagangan sang kakek tanpa membangunkannya.
Nia kembali berjalan menuju pulang, saat melewati warung makan ia berhenti untuk kemudian membeli sebungkus nasi untuk makan siangnya. Saat hendak pulang, ia bertemu anak kecil yang sedang mengamen dengan pakaian lusuh juga keringat membasahi tubuhnya.
Anak itu mendekatinya lalu menyanyikan sebuah lagu hingga selesai, dengan santai Nia menikmati alunan musik yang dimainkan anak itu dengan okulelenya. Saat pengamen cilik itu mengasongkan gelas pelastik untuk meminta bayaran jasanya, Nia mengajaknya duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari mereka.
"Adek kenapa ngamen?" tanya Nia mengajaknya bicara.
"Untuk cari uang, Kak," jawabnya.
"Kamu tidak sekolah?" tanya Nia berusaha mencari tahu tentangnya.
"Saya sekolah, Kak. Saya ngamen setiap pulang sekolah. Kalau sedang libur saya ngamen dari pagi sampai sore, seperti sekarang."
"Emang uangnya untuk apa?"
"Tidak semua orang hidup seberuntung Kakak yang bisa menikmati kehidupan tanpa memikirkan biaya. Aku ngamen, tentu saja uangnya untuk menghidupi keluargaku khususnya aku," jelasnya membuat Nia tak bisa berkata-kata.
Nia diam sejenak. Perkataan anak kecil di depannya sukses membuatnya merasa tertampar dan harus banyak bersyukur.
"Orang tuamu gak ada yang kerja?" tanya Nia dengan penuh hati-hati.
"Orang tuaku sudah tidak ada, Kak. Ibuku meninggal saat melahirkan aku, ayahku pergi entah kemana, dan sekarang aku tinggal bersama nenek yang sudah tua renta," jelasnya.
"Kamu sudah makan?"
"Kebetulan hari ini aku belum makan dari pagi. Penghasilan hari ini sedikit kurang."
"Memang biasanya dapat berapa?"
"Biasanya sampai siang hari aku dapat dua puluh ribu lebih, cukuo untuk beli makan aku dan nenek. Tapi hari ini, baru dapet lima ribu."
"Ini tadi kakak beli nasi bungkus untuk makan siang, buat kamu saja, kakak bisa beli lagi." Nia menyodorkan makanan yang dibelinya tadi.
"Dan ini uang untuk beli makan nenekmu." Lalu Nia menyodorkan selembar uang berwarna biru.
"Ini kebanyakan, Kak. Gak papa saya ambil makanannya aja," ujar anak itu, sungkan.
"Gak papa ambil saja. Kakak gak bisa bantu banyak, lain kali kalo kita ketemu lagi Kakak kasih lebih, atau kalau boleh Kakak mau bertemu dengan nenekmu."
Anak itu mengangguk cepat, lalu dengan semangat membuka nasi bungkus yang diberi Nia dan makan dengan lahap.
"Kakak duluan, ya." Nia berlalu meninggalkan pengamen cilik itu.
Selama perjalanan pulang ia sedikit memikirkan dari mana lagi uang yang akan ia dapatkan, sedangkan pekerjaan pun ia tak punya.
Nia sempat berfikir untuk mengambil uang yang setiap bulan dikirim ibunya. Namun ia kembali bertekad untuk tidak menggunakan uang itu untuk keperluan sehari-harinya, biarlah uang itu jadi tabungan ibunya untuk nanti sepulang dari sana.
Saat sampai di kontrakan, Nia melihat Bu Titin sedang membimbing anaknya belajar. Ia menghampiri untuk sekedar menyapa dan memberi bantuan.
"Assalaamu'alikum, Bu," sapa Nia.
"Wa'alaikum salam. Eh, Neng udah dari mana?" tanya Bu Titin.
"Jalan-jalan aja, Bu, sambil cari-cari pekerjaan. Lagi ngajarin anaknya, ya, Bu?"
"Iya nih, Neng. Dimas belum lancar bacanya belajarnya juga susah, ini mumpung Keyla tidur jadi Ibu paksa dia buat belajar baca."
Dimas merupakan anak Bu Titin ke dua yang duduk di kelas satu SD.
"Kalau belajarnya sama Kakak mau gak?" tawar Nia pada Dimas.
"Iya, iya, mau, Kak!" jawab Dimas penuh semangat.
"Eh, jangan ngerepotin kakaknya pasti lagi capek," ujar Bu Titin pada Dimas.
"Gak papa, Bu. Say juga lagi gak ada kerjaan," jawab Nia.
"Gak papa, Neng. Waktu itu Ibu udah pernah ngerepotin Neng ngajarin Arin matematika, masa sekarang Dimas juga."
Arin merupakan anak Bu Titin yang pertama.
"Gak papa, Bu. Dengan senang hati Nia mau bantu."
Bu Titin melihat Nia dengan tekun mengajarkan anaknya itu, lalu Dimas dengan semangat memperhatikan dan mengikuti arahan Nia. Sebelumnya Nia juga mengajarkan Arin dengan sabar sampai Arin bisa bahkan yang sebelumnya tidak hafal perkalian kini ia jadi hafal, itu dikarenakan Arin yang diam-diam main ke rumah Nia dan pulang dengan ilmu yang Nia ajari.
Melihat anaknya yang memiliki perubahan setelah dibimbing Nia membuat Bu Titin berfikiran untuk menjadikannya guru les untuk anak-anaknya.
"Neng, mau gak kalau bimbing anak-anak Ibu belajar? Soalnya kalau sama Neng Nia kayaknya mereka semangat. Les kecil-kecilan gitu deh, untuk waktunya gak perlu setiap hari semaunya Neng aja, nanti Ibu kasih bayaran tapi gak bisa banyak."
Nia terdiam sedikit memikirkan yang dikatakan Bu Titin. Sungkan rasanya jika menerima bayaran dari tetangganya itu, tapi dalam kondisi Nia sekarang ia membutuhkan penghasilan.
"Boleh, Bu. Tapi sebetulnya saya berkenan jika tanpa bayaran pun."
"Eh, gak papa untuk bayaran itu tanda terima kasih ibu. Nanti Ibu bicarakan dengan suami, tapi sepertinya dia akan setuju."
"Baiklah, nanti saya fikirkan kembali untuk waktunya."
"Iya, sip, Neng! Dari pada enggak ada kerjaan 'kan?"
"Hehe ... iya, sih, Bu. Saya pamit pulang dulu, ya, Bu."
"Oh, iya. Tapi tunggu sebentar, ya, Neng!"
Bu Titin pergi ke dalam rumah lalu keluar membawa dua kotak tempat makan beserta isinya.
"Ini tadi Ibu masak banyak. Satu untukmu satu untuk Neng Febi."
"Terima kasih banyak, Bu. Saya pamit, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Nia bergegas masuk rumah, lalu membaringkan badannya di atas kasur ia merasa penat setelah seharian berpanas-panasan, ingin memejamkan mata sebentar. Namun baru saja akan terlelap tiba-tiba terdengan suara orang berlari memanggil namanya.
"Niaaa!"
Rupanya Febi yang memanggilnya sepulang dari kerjanya.
crt bagus tulisan dn tata bahas bagus 👍