Area 21, bijaklah dalam memilih bacaan !!!
Pikiran liarku, sering membayangkan jika aku berhubungan dengan pelayan baru kami, Melani. bahkan aku selalu mencuri-curi pandang ke bokongnya yang terlihat sangat montok menggairahkan, buah dadanya yang besar, membuat aku sering berfantasi liar, jika menikmati kedua benda itu, yang selama ini tidak aku dapati pada istri ku Sinta.
Aku langsung menuju kantor untuk bekerja, namun aku sama sekali tidak bisa fokus bekerja. malah aku berfikir "Jika aku kembali pulang dan meminta Melani untuk memuaskan aku diranjang, dia bakal nolak ngak ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ritasilvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekas noda merah
Refleks mas Dani menyibak selimut dan menatap ku, dengan mata membulat seperti nya dia begitu kaget. ekspresi wajahnya sulit bagiku untuk mengartikan nya, senang atau tidak menginginkan aku pulang cepat dari waktu yang ditentukan. hanya mas Dani yang tahu, tapi sku mersa dia berbeda dari biasanya.
“Mas, ngapain kamu menatap ku seperti ini?”
“Ngak sayang, barusan mas masih mikirin kamu dan mengharapkan kamu ada disisi mas setiap saat, namun tenyata mimpi mas kenyataan kamu benar-benar pulang.” Ucapnya namun raut wajah mas Dani terlihat tegang dan serba salah, tidak seperti sikap mas Dani biasanya.
"Mas kangen ya, baru juga semalam. sini pelukan."
Mas Dani menarik ku kedalam pelukannya, rasanya begitu nyaman mendapatkan perlakuan seperti ini, tapi aku merasa ada yang janggal, pikiran ku dan perasaan curiga yang susah payah untuk aku singkirkan, kembali membuatku resah, ketika mencium aroma parfum yang berbeda dari tubuh mas Dani, karena aku sangat hafal jika selama ini suamiku itu tidak suka gonta-ganti parfum.
“Mas, aku seperti melihat Lani keluar dari kamar Kita, Dia ngapain dan mas juga tumben belum berangkat? Biasanya jam segini sudah dikantor.” Selidiki ku, mencoba memancing ucapan mas Dani, sambil meregangkan pelukan nya, kemudian duduk disisi ranjang.
“Mas tidak enak badan sayang, barusan Lani datang kesini untuk nganterin obat, tuh obatnya masih ada.” Terang mas Dani, menunjuk obat yang terletak di nakas samping tempat tidur kami. sku melirik sekilas, benar saja disana sudah ada obat yang biasanya diminum mas Dani, juga segelas air putih.
“Maaf ya mas, baru sehari aku tinggal, kamu sudah sakit.” Aku merasa bersalah lalu memijid pelan tengkuk suamiku dengan perasaan bersalah.
“Semalam mas sempat muntah, sehingga Lani mengganti seprai kita dengan yang baru.” Ucap mas Dani seperti bisa membaca isi pikiran ku yang semula tertuju pada seprai ini.
Aku semakin merasa bersalah, aku cium sekilas pipi mas Dani. dan kembali memeluknya, agar suamiku itu bisa tersenyum. karena mas Dani terlihat lemas dan kelelahan.
“Mas aku buatin bubur ya.” Bujuk ku.
“Iya sayang, mungkin dengan masakan mu, mas cepat sembuh dan kembali bersemangat.” Balas mas Dani.
“Baikah, mas. tunggu dikamar ya.”
“Iya, sayang.” Balas mas Dani sambil tersenyum penuh cinta melirik kearah ku.
Aku mengganti pakaian dengan pakaian santai, mengikat asal rambut bergelombang ku, sebelum keluar dari kamar kami, aku melirik lagi ke mas Dani sambil tersenyum manis, yang juga dibalas hal yang sama oleh suamiku. dan kembali melangkah turun menuju dapur.
“Ibu mau ngapain, biar kami saja.” Ucap pelayan ku Bi jah, wanita yang sudah lama bekerja dengan kami sebelum kedatangan Lani.
"Ngak papa, aku ingin masak bubur buat mas Dani." aku ! mulai menyiapkan bahan-bahan nya.
Pelayan dirumah ini ada empat orang, untuk mengurus rumah ada Bi jah dan suaminya tukang kebun, mereka tinggal di paviliun belakang, Lani dan anak Bi jah tinggal dirumah besar ini tapi dilantai satu khusus dikamar pelayan. Dan security yang berjaga di pos gerbang utama.
"Apa Tuan sakit Bu?"
“Sepertinya, mas Dani kurang enak badan.” Ucap ku sambil sesekali memperhatikan Kami yang berjalan ingin mencuci sepray yang habis kena Muntahan suamiku semalam.
Entah dorongan dari mana, mataku tidak pernah lepas memperhatikan langkah dan gerak dan gerak-gerik Lani yang terlihat aneh. Jalannya seperti diseret dan tertatih-tatih, sesekali dia berhenti. seperti menahan sesuatu di bagian intimnya. kadang dia berjalan seperti mengangkang, seperti memakai pembalut besar saja.
“Ada apa ini, apa yang sebenarnya terjadi?” pikir ku mulai berkecamuk saat mataku menangkap sepray putih yang dibawa Lani seperti Ada bercak merah, bukan bekas muntahan seperti penjelasan suamiku.
"Tidak mungkin mas Dani muntah darah, dan ini hanya sedikit tidak banyak seperti muntah." gumam ku.
"Ibu, Miki apa?"
"Ngak kok."
Jawab ku, masih lanjut mengaduk bubur ayam untuk mas Dani, setelah siap aku pun membawanya Kembali kekamar.
apa nti ada season 2 kah ??
Lanjuut tor,, semangaatt..