NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.

Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.

Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.

Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelajaran yang Sesungguhnya

Rendra menatap Zara dengan intens sambil bertanya dengan nada datar. Zara mengangguk dengan tatapan siap untuk menerima pelajaran. Namun bukannya menyiapkan materi untuk pelajaran, Rendra malah mengangkat map-map dan berkas yang sedari tadi ia bawa ke hadapan Zara.

Brukh!

Di taruhnya tumpukan berkas itu lalu ia mulai menyalakan layar laptopnya dan menghubungkannya ke sebuah infokus.

"Hal mendasar dalam ilmu pasar, adalah praktik. Semua tumpukan materi dan buku-buku di dinding itu tak akan berguna tanpa adanya realisasi. Jadi tugas pertamamu adalah mempelajari nama-nama anak perusahaan di berkas itu, lalu mencari satu nama yang paling berpotensi merugikan perusahaan di bawah akuisisi Bos Garda," jelas Rendra tanpa berbasa-basi.

"Sial, hari pertama langsung disuruh ujian," dengus Zara dalam batin.

"Hah ... Serigala betina apanya? Di tengah kandang serigala, lebih cocok disebut anak kelinci yang terjebak," monolog Zara sembari mendesah pasrah.

"Ya? Nona Zara?" tanya Rendra sembari menatap tajam wajah Zara yang langsung refleks menggeleng kuat lalu meraih tumpukkan berkas yang ada.

Dengan cermat Zara membagi-bagi berkas menjadi beberapa bagian hingga tinggal beberapa lembar map tipis yang ada di hadapannya. Satu jam berlalu, dan Zara masih mempelajari berkas berisi nama-nama perusahaan, aset, saham, hingga nama masing-masing direktur perusahaannya.

Hampir di semua berkas terdapat keterkaitan dengan perusahaan GD di bawah pimpinan Garda sebagai CEO, sekaligus Direktur utama. Perusahaan yang bergerak dibidang bisnis retail, distribusi, jasa pengantaran, hingga pelayanan. Lisensinya sah, bahkan memiliki nomor induk perusahaan. Namun dari semua bisnis yang dijalankan, Zara akhirnya mengetahui satu fakta yang jelas, bahwa semua perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan GD hanya sekedar melakukan transaksi dan kemitraan formalitas saja.

Aktivitas utama perusahaan yang Garda jalankan sebenarnya adalah bisnis malam seperti judi, obat-obatan terlarang, dan pinjaman berbunga tinggi. Maka hampir semua perusahaan yang memiliki keterikatan hubungan bisnis, pasti memiliki niat untuk menjatuhkan bisnis yang Garda kelola karena mereka merasa telah dijebak.

"Hah ...." Zara menghela nafas kasar setelah akhirnya bisa menyelesaikan membaca dan mempelajari semua berkas yang ada di hadapannya.

"Bagaimana? selesai? Apa yang akan Nona Zara lakukan menyikapi inti permasalahan yang perusahaan Bos sedang hadapi?" tanya Rendra sembari menatap Zara dengan ekspresi merendahkan.

Terlihat jelas bahwa ia sejak awal sengaja memposisikan Zara dalam materi yang pelik hanya untuk membuatnya menyerah sebelum memulai.

"Saya pernah membaca sebuah buku. Judulnya 'Batas Marwah' karya Kastaraly. Melihat Pak Rendra, mengingatkan saya pada isi buku itu," ucap Zara sembari bangkit lalu merenggangkan tubuhnya dengan malas.

"Ha? Apa maksudnya?" kekeh Rendra sembari mengangkat sebelah alis.

"Mayoritas laki-laki yang merasa superior, biasanya menganut budaya patriarkis. Dia biasanya tidak suka melihat perempuan terlibat hal di luar kegiatan domestik," ucap Zara sembari mengambil selembar map yang ia pisahkan sendiri dari map-map lainnya.

"Omong kosong macam ap-"

"Saya akan jelaskan secara singkat, apa yang akan saya lakukan jika saya memiliki wewenang untuk menangani hal ini," ucap Zara memotong ucapan Rendra yang kini sedang menekuk wajah menahan emosi karena merasa direndahkan.

"Ha! Baiklah. Apa yang akan dilakukan oleh seorang wanita mainan Bos yang agung ini," sarkasnya kini tak menutupi fakta soal ketidak-sukaannya.

"Di sini. Di berkas ini tertulis langkah-langkah pendekatan ke setiap perusahaan. Seharusnya tadi saya tidak perlu repot-repot membaca semua latar belakang perusahaan kemitraan itu, seandainya berkas ini ada di paling atas." Zara membenarkan posisi duduknya sebelum ia melanjutkan ucapannya.

"Dengan motif yang sama, dan pola yang sama, itu hanya akan menimbulkan kecurigaan, dan membahayakan perusahaan dalam jangka dekat. Terus terang saya gak ngerti soal saham, kurs, dan apalah hal yang ditulis di sana.

Tapi masalahnya adalah, jika motif dan pola sama dilakukan secara berulang, itu bisa meninggalkan jejak, dan memancing kumpulan korban untuk menuntut kecurigaan bahkan bisa menghancurkan perusahaan sekejap mata. Ubah pola ini dulu. Variasikan cara pendekatan, supaya gak terkesan seperti sales jalanan yang lagi nawarin panci ke ibu-ibu. Karena gak semua perusahaan punya titik kelemahan. Intinya jangan terlalu menyepelekan keamanan perusahaan lain hanya karena bisnis utama bergerak dibidang keamanan," tutur Zara layaknya seorang profesional yang sedang melakukan presentasi.

Tanpa Zara sadari, diam-diam Garda yang sejak awal memperhatikannya lewat CCTV pun menyunggingkan senyuman kepuasan. Bahkan Rendra yang sedari tadi mau tak mau mendengarkan penuturan Zara dengan seksama, juga termangu keheranan.

"Baiklah, itu memang terlalu mudah ya? Kalo begitu kita ke tugas ke dua. Hari ini Bos membebaskan saya menjadi pembimbing Nona Zara. Karena saya ada pertemuan bisnis, temani saya hari ini." Rendra bangkit dari duduknya lalu membenarkan kerah dan dasinya.

"Ini bukan pelajaran, ini pertarungan, dan ujian pertahanan hidup. Garda memang gak bisa dianggap remeh," monolog Zara dalam batinnya.

Rendra merapikan berkas di atas meja, lalu mengangguk pada Zara dengan senyuman, sebagai tanda ajakan untuk bangkit mengikutinya.

"Tumpukan kertas tetaplah tumpukan kertas. Seperti yang saya katakan di awal, bisnis itu soal praktik. Teori apapun pada akhirnya tidak pernah benar-benar bisa diaplikasikan di lapangan. Karena berbeda dengan deretan angka statistik, serta sistem di komputer, kepala manusia itu kompleks dan terus berubah-ubah," tutur Rendra sembari berjalan memimpin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!