Su Qing meninggal dunia. Ia diberi obat oleh sahabatnya hingga kehilangan kemampuan bernyanyi, karyanya dicuri oleh kekasihnya, wajahnya rusak akibat kecelakaan, dan akhirnya meninggal sendirian di rumah sakit tanpa ada yang mengurusnya.
Saat ia membuka mata kembali, ia telah terlahir kembali sebagai peserta pelatihan yang tidak dikenal, berusia 19 tahun, dan tidak memiliki apa-apa.
Namun, ia masih mengingat setiap nada, setiap baris lirik, dan setiap orang yang bertanggung jawab atas kematiannya.
Di kehidupan ini, ia tidak lagi sekadar menciptakan lagu — ia menyematkan kode balas dendam ke dalam melodi, dan menyembunyikan petunjuk bukti di balik liriknya. Ia mengikuti program kompetisi, memperebutkan sumber daya produksi, dan melakukan serangan balik yang tepat sasaran lewat serangkaian “lagu balas dendam”.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estrellaaya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Delapan
Pukul dua siang hari Sabtu, Su Qing berdiri di bawah gedung ruang kerja milik Lin Wei.
Bangunan ini berdiri sendiri di tengah pusat kota, dinding luarnya berwarna putih, pintu utamanya berwarna hitam, dan di papan nama di depan pintu tertulis dua kata sederhana namun berkesan: Lin Wei Studio. Su Qing menengadah melihat jendela besar di lantai dua, gordennya tertutup sebagian sehingga tidak bisa melihat apa yang ada di dalam.
Di kehidupan dulu, ia sudah berkali-kali datang ke sini. Saat itu ia mengira ruang kerja Lin Wei adalah tempat paling keren di dunia — ada ruang perekam berstandar profesional, ruang istirahat yang nyaman, kulkas yang selalu penuh camilan impor, dan dinding yang dipenuhi foto kenangan Lin Wei bersama berbagai bintang besar industri hiburan.
Waktu itu ia seperti anak kecil yang masuk ke toko permen, merasa segala sesuatu di sana baru dan indah.
Sekarang saat berdiri di depan gedung itu, ia hanya merasakan hawa dingin yang menusuk hati.
“Nona Su Qing?” Seorang staf di depan pintu mengenalinya. “Nona Lin Wei sudah menunggu di lantai dua.”
Su Qing mengangguk lalu mendorong pintu masuk.
Lantai satu adalah ruang penyambutan tamu, dekorasinya sangat mewah dan rapi — ada lampu gantung kristal, lantai marmer, dan sofa kulit asli. Seorang resepsionis muda tersenyum menyapanya lalu menunjuk arah tangga.
Su Qing naik ke lantai dua. Di ujung lorong ada sebuah pintu yang terbuka sebagian, terdengar suara percakapan dari dalam — suara Lin Wei yang sedang menelepon seseorang.
“Ya, lagu itu aku cukup suka, tapi bagian paduan suaranya ingin kuubah sedikit lagi… Aku tahu, tapi kan akulah penyanyinya, aku punya hak untuk mengubahnya… Sudahlah, tak usah dibahas lagi, ada tamu datang nih.”
Telepon pun ditutup.
Su Qing mengetuk pintu.
“Masuk saja,” suara Lin Wei terdengar lembut seperti biasa.
Su Qing masuk ke dalam ruangan. Kantor Lin Wei ternyata lebih luas dari dugaannya. Di sepanjang dinding belakang terdapat rak buku setinggi langit-langit yang penuh dengan piala penghargaan dan piringan hitam. Meja kerjanya berwarna putih, di atasnya ada komputer merek Apple dan seikat bunga segar. Lin Wei duduk di belakang meja, mengenakan baju rajut berwarna putih gading, rambutnya terurai lepas, dan riasannya lebih tipis dibandingkan saat tampil di acara televisi.
“Su Qing! Sini, duduk dulu,” Lin Wei berdiri lalu menunjuk ke arah sofa. “Mau minum apa? Kopi? Teh? Atau jus buah?”
“Air putih saja cukup,” jawab Su Qing.
Lin Wei menyuruh asistennya mengambilkan dua gelas air, lalu duduk di sofa tepat di hadapan Su Qing, menyilangkan kakinya sambil menatap gadis itu dengan senyum ramah.
“Aku sudah mendengar rekaman contoh lagumu,” kata Lin Wei. “Yang berjudul Bayangan, nadanya sangat indah. Sungguh, aku sudah mendengarkannya berulang-ulang selama dua hari ini.”
“Terima kasih, Nona Lin Wei.”
“Tapi ada satu hal…,” Lin Wei berhenti sejenak. “Di bagian paduan suara, aku ingin menyesuaikan sedikit saja. Tidak mengubah struktur lagunya, hanya nada kalimat terakhirnya menurutku bisa dinaikkan sedikit supaya lebih berisi semangat dan kekuatannya.”
Tangan Su Qing yang memegang gelas air tidak bergerak sedikit pun.
“Nona Lin Wei, di dalam perjanjian tertulis dengan jelas bahwa nada lagu tidak boleh diubah tanpa persetujuanku.”
Senyum di wajah Lin Wei sedikit kaku sepersekian detik, lalu kembali terlihat wajar.
“Aku tahu, aku tidak bermaksud mengubahnya paksa, tapi sedang berdiskusi denganmu,” nada bicaranya tetap lembut. “Kau pencipta lagumu sendiri, tentu punya gagasanmu. Tapi aku penyanyinya, aku pun harus bertanggung jawab atas hasil karyaku. Begini saja, kau dengarkan versi perubahanku dulu, kalau kau tidak suka, kita biarkan saja seperti semula.”
Su Qing menatap wajah wanita itu lekat-lekat.
Di kehidupan dulu, Lin Wei juga bicara persis begitu — kau dengarkan saja, kalau tidak suka kita tidak ubah. Saat itu Su Qing mendengarkannya dan merasa perubahannya memang menjadi lebih baik, jadi ia setuju. Lalu di kesempatan berikutnya Lin Wei bilang ubah sedikit saja kok, dan Su Qing pun setuju lagi. Lalu berkali-kali sampai akhirnya Lin Wei bilang arah lagu ini sepertinya kurang pas, kita tulis ulang saja ya, dan Su Qing tetap menyetujuinya.
Hingga akhirnya, lagu itu sudah berubah sama sekali dan bukan lagi milik Su Qing.
“Nona Lin Wei, coba kau nyanyikan versi yang kau inginkan biar kudengar dulu,” kata Su Qing.
Lin Wei berjalan ke depan papan nada di dinding, duduk, memainkan beberapa akor, lalu menyanyikan kalimat terakhir bagian paduan suara. Ia menaikkan nadanya tiga tingkat, suaranya memang jadi lebih menusuk dan terdengar jelas, tapi perasaan yang dibawa lagu itu berubah drastis dari rasa sakit yang ditahan menjadi kemarahan yang diluapkan, makna aslinya hilang sama sekali.
Su Qing mendengarkan sampai selesai, lalu menggeleng pelan.
“Tidak bisa diubah. Perasaan lagunya jadi salah arah.”
Wajah Lin Wei sedikit berubah, tapi sekejap kemudian ia kembali tersenyum.
“Lalu menurutmu bagaimana caranya supaya lebih bagus?”
“Tidak perlu diubah sama sekali,” jawab Su Qing. “Nada rendah di kalimat itulah inti dari keseluruhan lagu ini. Kalau diganti nada tinggi, seluruh bagian persiapan emosi sebelumnya jadi sia-sia saja. Lagu ini berjudul Bayangan. Bayangan itu tidak bersuara, diam dan tak terlihat. Kalau kau nyanyikan kalimat terakhir itu dengan nada tinggi, bayangan itu malah jadi tokoh utamanya, padahal itu bukan pesan yang ingin disampaikan lagu ini.”
Suasana kantor hening beberapa detik lamanya.
Lin Wei menatap Su Qing, ada pandangan sulit dijelaskan di matanya — bukan marah, tapi seolah sedang menilai ulang sosok gadis di hadapannya.
“Kata-katamu ada benarnya juga,” akhirnya Lin Wei bicara, nadanya sedikit lebih dingin dibandingkan tadi. “Ya sudah, ikuti keinginanmu saja. Tidak diubah apa pun.”
Su Qing mengangguk setuju.
Lin Wei kembali duduk di sofa, mengambil gelas kopinya lalu meneguk sedikit.
“Su Qing, kau punya pendirian dan gagasan yang kuat ya,” katanya. “Aku suka orang yang punya pendirian. Tapi kuharap kau pun mengerti, di dunia hiburan ini, kadang kita harus tahu kapan harus mengalah. Tidak semua keteguhan hati itu ada gunanya.”
Su Qing diam saja menatapnya.
Mengalah.
Di kehidupan dulu ia sudah terlalu sering mengalah. Kali ini, ia tidak akan mengalah sedikit pun lagi.
“Aku mengerti maksud Nona Lin Wei,” kata Su Qing. “Tapi setiap lagu yang kutulis adalah pesan yang ingin kusampaikan. Kalau sampai aku tidak boleh menyampaikan pesan sendiri, menulis lagu jadi tidak ada artinya lagi bagiku.”
Lin Wei menatapnya tajam sekitar dua detik, lalu tersenyum kembali.
“Baiklah, aku hargai keputusanmu. Ia meletakkan kembali gelas kopinya ke meja. “Lagu ini akan tetap seperti buatanmu. Uang hak ciptanya akan kusuruh kirim minggu ini. Nanti kalau ada lagu baru, langsung kirimkan ke aku ya.”
Su Qing berdiri. “Baik. Kalau begitu aku pamit dulu.”
“Sudah mau pulang?” Lin Wei ikut berdiri. “Tinggal makan siang dulu saja.”
“Tidak usah, masih ada urusan lain.”
Lin Wei mengantarnya sampai ke pintu, lalu menepuk bahunya persis seperti kakak perempuan yang ramah.
“Semangat terus ya. Aku yakin kau punya masa depan cerah.”