Pernikahan itu tidak lahir dari cinta. Melainkan dari sebuah kesepakatan. Ketika keluarga Alyssa berada di ambang kehancuran, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran keluarga Maheswara. Menikah dengan Alvaro Regantara Maheswara. Pria yang terkenal dingin. Pria yang dijuluki pewaris paling berbahaya. Pria yang bahkan tidak percaya pada cinta. Bagi Alyssa, pernikahan itu seperti masuk ke dalam sangkar emas. Mewah. Indah. Tapi menyesakkan. Namun semakin lama mereka bersama, Alyssa mulai melihat sisi Alvaro yang tidak pernah diketahui siapa pun. Sisi yang terluka. Sisi yang kesepian. Dan perlahan kebencian berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya. Cinta. Tapi ketika rahasia masa lalu Alvaro terungkap dan mantan tunangannya kembali untuk merebut segalanya. Akankah pernikahan yang dimulai karena ambisi itu berakhir menjadi cinta? Atau justru menjadi kehancuran bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Suasana tegang yang menyelimuti mansion Maheswara pasca-ledakan gosip di media perlahan mulai mencair seiring dengan dieksekusinya serangan balik korporasi oleh Alvaro dan Alyssa. Namun, ketenangan profesional itu mendadak buyar ketika sebuah taksi premium berhenti di pelataran depan, dan seorang gadis muda dengan pembawaan ceria melangkah turun dengan koper kecil di tangannya.
Keira Pradipta, adik kandung Alyssa, datang mengunjungi mansion Maheswara tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Kak Alyssa!" seru Keira begitu melihat kakaknya berjalan turun ke lobi utama. Gadis itu langsung berlari kecil dan memeluk Alyssa erat-erat, mengabaikan formalitas kaku yang biasanya dijaga ketat di rumah megah ini.
Kehadiran Keira yang penuh energi dan berjiwa muda seketika membuat atmosfer yang biasanya sunyi dan dingin menjadi jauh lebih hidup. Para pelayan yang biasanya bergerak seperti robot tanpa suara, kini tampak tersenyum tipis melihat tingkah jenaka adik ipar tuan muda mereka.
"Keira? Kenapa tidak memberi tahu Kakak kalau mau datang?" tanya Alyssa, meskipun sifat taktisnya sempat terkejut, rona kebahagiaan yang tulus tidak bisa disembunyikan dari wajah cantiknya. Ia sangat menyayangi adiknya ini.
"Kalau bilang-bilang, namanya bukan kejutan, dong," sahut Keira sembari mengerlingkan matanya jenaka. Ia melepaskan pelukannya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling lobi yang super mewah. "Wah, rumah Kak Alvaro besar sekali ya, Kak. Tapi agak terlalu sepi. Untung aku datang membawa keramaian."
Alyssa hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya. Ia membawa Keira menuju ruang duduk santai di sayap kanan. Begitu teh hangat dan camilan disajikan, Keira yang cerewet dan ekspresif langsung memulai misinya. Ia terus menggoda Alyssa mengenai hubungan pernikahannya dengan sang predator Maheswara.
"Ayo mengaku, Kak. Bagaimana rasanya jadi istri seorang Alvaro Regantara?" goda Keira sembari menyenggol bahu Alyssa dengan sikunya, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Berita di internet tadi pagi serem banget sih, tapi aku tahu Kakakku ini mental baja. Lagipula, kudengar dari Xavier, Kak Alvaro ngamuk ya semalam waktu Kakak disindir? Romantis banget!"
"Keira, itu hanya bagian dari profesionalitas publik," jawab Alyssa tenang, mencoba mempertahankan benteng logisnya meskipun pipinya terasa sedikit menghangat mendengar godaan sang adik.
"Masa, sih? Cuma profesionalitas?" Keira menyipitkan matanya, tidak percaya begitu saja.
Namun, tawa jahil Keira mendadak mereda ketika pandangannya tidak sengaja menangkap pergerakan di lantai dua. Melalui celah pilar pembatas balkon atas yang menghadap langsung ke ruang duduk, Alvaro sedang berdiri di sana. Pria itu tampaknya baru saja keluar dari ruang kerjanya.
Keira diam-diam mengamati kakak iparnya. Alvaro tidak turun bergabung, tetap menjaga jaraknya yang dingin. Namun, sepasang mata elang pria itu tidak lepas dari sosok Alyssa. Dari kejauhan, Keira bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana tatapan Alvaro melunak saat memperhatikan Alyssa yang sedang tersenyum lepas bersamanya sebuah tatapan dalam, penuh perhatian tak kasat mata, dan sarat akan rasa kepemilikan yang kuat.
Saat Alvaro menyadari Keira sedang memergokinya, pria itu segera membalikkan badan dengan gestur datar dan berjalan kembali ke dalam ruangannya, kembali memasang topeng esnya dalam sekejap.
Keira tersenyum penuh arti, beralih menatap kakaknya dengan pandangan yang kini jauh lebih serius. Sifat jeli Keira mulai bekerja. "Kak Alyssa," bisik Keira pelan, memotong kalimat Alyssa yang sedang membahas bisnis. "Aku rasa... Kak Alvaro sebenarnya tidak sedingin yang terlihat di berita atau yang Kakak ceritakan selama ini."
Alyssa mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Cara dia melihat Kakak dari atas sana tadi," Keira menunjuk ke arah balkon lantai dua dengan dagunya. "Pria sedingin kutub utara seperti dia tidak akan membuang waktunya hanya untuk berdiri diam dan memandangi seorang wanita dengan tatapan se-protektif itu, Kak. Aku curiga, di balik semua perjanjian kontrak kalian, iparku yang seram itu diam-diam sudah jatuh ke dalam pesonamu."
...****************...
Mendengar analisis blak-blakan dari adiknya, jantung Alyssa berdesir aneh. Sifat taktisnya mencoba merasionalkan segalanya, menyusun argumen untuk mematahkan teori Keira.
"Kau terlalu banyak membaca novel romantis, Keira," sahut Alyssa, mencoba tertawa kecil untuk mengalihkan pembicaraan. "Alvaro hanya memastikan bahwa situasi di dalam rumahnya tetap terkendali. Dia memiliki tanggung jawab besar atas keamanan aliansi kami."
"Oh, ya? Tanggung jawab besar sampai matanya tidak berkedip menatap Kakak?" Keira menopang dagunya dengan kedua tangan, tersenyum menggoda. "Kak, aku ini adikmu. Aku tahu kapan Kakakku sedang memasang topeng bisnisnya. Dan aku juga bisa melihat bahwa Kak Alvaro... dia melihat Kakak sebagai seorang wanita, bukan sekadar rekan kontrak."
Alyssa terdiam, tidak mampu membalas lagi. Ucapan Keira seolah mengorek kembali ingatan tentang tatapan intens Alvaro di dalam mobil semalam, serta genggaman hangat pria itu di ruang kerja beberapa jam yang lalu.
Sebelum Keira sempat melancarkan godaan berikutnya, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Alvaro berjalan memasuki ruang duduk, kini sudah mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap tanpa dasi, membuat penampilannya terlihat sedikit lebih santai namun tetap memancarkan aura dominan yang kuat.
Keira langsung menegakkan posisi duduknya, memasang senyum termanisnya. "Selamat siang, Kak Alvaro!"
Alvaro mengangguk kecil, menatap Keira dengan ekspresi datar namun tidak sedingin biasanya. "Selamat siang, Keira. Maaf aku tidak bisa menyambutmu di depan tadi." Matanya kemudian bergulir secara otomatis ke arah Alyssa, memastikan wanita itu baik-baik saja setelah rentetan gosip pagi ini.
"Ah, tidak apa-apa, Kak! Aku yang datang tiba-tiba karena merindukan Kak Alyssa," jawab Keira riang. Ia kemudian bangkit berdiri dari sofa dengan gerakan yang disengaja. "Uhm, sepertinya aku harus merapikan barang-barangku ke kamar tamu dulu. Kak Alyssa, temani aku ke atas, ya?"
Namun, sebelum Alyssa sempat berdiri, Alvaro mendahuluinya. "Biar pelayan yang membawakan kopermu, Keira. Kamarmu sudah disiapkan di sayap kanan. Alyssa... ada hal yang perlu kubicarakan denganmu sebentar."
Keira langsung menangkap kode tersebut. Ia mengerlingkan matanya jahil ke arah Alyssa, seolah ingin berkata, Lihat? Dia bahkan tidak mau kau jauh-jauh darinya.
"Oke, kalau begitu aku ke kamar dulu! Jangan kangen ya, Kak!" seru Keira setengah berlari meninggalkan ruang duduk, meninggalkan Alyssa yang kini harus berhadapan berdua saja dengan sang predator di bawah keheningan yang mendadak kembali merayap.
...****************...
Setelah punggung Keira benar-benar menghilang di balik lekuk selasar, keheningan di ruang duduk itu terasa menjadi lebih pekat. Alyssa memperbaiki posisi duduknya, bersandar pada sofa sembari menatap Alvaro yang kini memilih untuk duduk di sofa tunggal yang berseberangan langsung dengannya.
"Apa yang ingin Anda bicarakan, Tuan Alvaro? Apakah ini terkait dengan tim legal atau perkembangan saham siang ini?" tanya Alyssa, sengaja menarik kembali benang formalitas di antara mereka untuk menutupi riak cemburu dan godaan Keira yang masih terngiang di telinganya.
Alvaro tidak langsung menjawab. Pria itu menyandangkan punggungnya, melipat satu kakinya di atas kaki yang lain dengan gestur yang teramat tenang namun dominan. Sepasang mata elangnya menatap Alyssa lurus-lurus, mengabaikan pertanyaan korporat istrinya.
"Adikmu sangat cerewet," ucap Alvaro datar, namun ada nada geli yang teramat tipis terselip di dalam baritonnya yang berat. "Dia tidak memiliki ketakutan sedikit pun saat menatapku."
Alyssa menahan senyum tipisnya. "Keira memang seperti itu. Dia tumbuh dengan kebebasan yang tidak pernah saya miliki. Tapi saya harap kehadirannya tidak mengganggu ketenangan Anda di *mansion* ini."
"Dia tidak menggangguku," sahut Alvaro cepat. Tatapannya mendalam, mengunci manik mata Alyssa. "Dan dia benar."
Kedua alis Alyssa bertaut kecil. "Benar tentang apa?"
"Tentang apa yang dia katakan padamu sebelum aku turun ke mari," balas Alvaro dengan suara yang merendah, membuat atmosfer di antara mereka mendadak berubah menjadi sangat intens. "Aku memang memperhatikanmu dari atas sana, Alyssa. Dan aku tidak melakukannya karena alasan profesionalitas aliansi kita."
Jantung Alyssa berdegup satu ketukan lebih cepat. Sifat berani dan taktisnya yang biasanya selalu siap membalas, mendadak lumpuh di hadapan pengakuan jujur yang keluar dari bibir sang predator Maheswara. Ia menatap Alvaro, mencoba mencari celah kebohongan atau taktik bisnis di wajah pria itu, namun yang ia temukan hanyalah seulas intensitas murni yang menuntut jawaban.
"Alvaro..." desis Alyssa, suaranya hampir menyerupai bisikan.
"Aku sudah mengatakannya semalam, dan aku akan mengatakannya lagi," Alvaro bangkit dari duduknya, melangkah perlahan hingga jarak di antara mereka terpangkas habis. Ia menunduk, menatap Alyssa yang mendongak menatapnya. "Jangan pernah berpikir bahwa kau tidak memiliki arti di rumah ini. Kau adalah Nyonya Maheswara, dan itu bukan lagi sekadar nama di atas kertas kontrak kita."
Mendengar penegasan yang keluar langsung dari mulut Alvaro, runtuh sudah seluruh analisis logis yang dibangun Alyssa sejak pagi tadi. Kunjungan mendadak Keira hari ini ternyata tidak hanya membawa keramaian, melainkan telah menjadi pemantik yang memaksa sang predator untuk menyingkirkan dinding esnya, memperlihatkan tatapan berbeda yang kini sepenuhnya mengunci hati Alyssa tanpa celah untuk melarikan diri lagi.
...****************...
Alyssa terpaku di tempatnya duduk, merasakan dominasi aura Alvaro yang begitu pekat menyelimuti udara di sekitarnya. Kata-kata pria itu bukan sekadar penegasan status, melainkan sebuah pernyataan kepemilikan yang teramat kuat hingga mampu menggetarkan akal sehatnya.
"Jika ini bukan lagi sekadar kontrak, lalu kita sebut apa hubungan ini, Alvaro?" tanya Alyssa dengan suara yang diusahakan tetap tenang, meski badai emosi sedang berkecamuk di dalam dadanya. Sifat beraninya memaksa untuk meminta kejelasan, menolak untuk terus berjalan di dalam kabut ketidakpastian.
Alvaro tidak langsung menjawab. Ia menumpukan satu tangannya di sandaran sofa, tepat di samping kepala Alyssa, membuat jarak di antara mereka semakin mengikis hingga Alyssa bisa mencium aroma maskulin khas kayu cedar dan mint yang menguar dari tubuh suaminya.
"Kita sebut ini sebuah keniscayaan," bisik Alvaro, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam. "Aku tidak pernah merencanakan untuk melibatkan perasaan dalam aliansi bisnis apa pun. Namun, kau berbeda, Alyssa. Kau bukan sekadar rekan yang berdiri di bayang-bayangku; kau adalah satu-satunya wanita yang membuatku ingin menghancurkan siapa saja yang berani mengusik ketenanganmu."
Pengakuan yang begitu intens dan blak-blakan dari sang predator Maheswara membuat pertahanan taktis Alyssa benar-benar lumpuh. Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal, tidak ada lagi alasan korporat yang bisa ia gunakan sebagai tameng. Di depan matanya, pria yang dikenal kejam dan berhati dingin di dunia bisnis itu kini sedang menunjukkan sisi protektif yang teramat rapuh namun berbahaya hanya untuk dirinya.
Sebelum keheningan di antara mereka menjadi semakin mengikat, langkah kaki yang riang kembali terdengar dari arah selasar, disusul oleh suara dehaman yang sengaja dibuat-buat.
"Ehem! Aduh, sepertinya aku salah waktu untuk turun ke bawah ya?" goda Keira yang tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang duduk dengan wajah tanpa dosa, meskipun sepasang matanya berbinar penuh kemenangan melihat posisi intim kakak dan iparnya.
Alvaro secara perlahan menegakkan kembali tubuhnya, menarik tangannya dari sandaran sofa dengan gestur yang sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Topeng esnya kembali terpasang sempurna dalam sekejap saat ia menoleh ke arah Keira.
"Kamarmu sudah siap?" tanya Alvaro datar, seolah mengalihkan perhatian.
"Sudah, Kak Alvaro! Pelayan di sini cekatan sekali," jawab Keira sembari berjalan mendekat, lalu langsung duduk di samping Alyssa dan memeluk lengan kakaknya dengan manja. Ia melirik Alyssa yang wajahnya masih sedikit merona. "Aku hanya lapar, jadi aku turun untuk mencari camilan. Tapi sepertinya... aku baru saja melihat pemandangan yang jauh lebih manis dari kue cokelat di dapur."
Alyssa mencubit pelan lengan adiknya, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya. "Keira, berhentilah menggoda."
Alvaro yang melihat interaksi kedua bersaudara itu hanya bisa menarik sudut bibirnya tipis. Ketegangan yang membayangi pikirannya sejak pagi hari akibat badai gosip media kini telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh kehangatan aneh yang mulai merayap masuk ke dalam relung hatinya yang paling dingin. Kunjungan mendadak Keira tidak hanya membawa warna baru di mansion itu, tetapi telah resmi membuka lembaran baru di mana sang predator dan sang Nyonya Maheswara kini tidak bisa lagi berpura-pura bahwa hubungan mereka hanya sebatas hitam di atas putih.