Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALIANSI YANG TERLARANG (1)
Deru mesin mobil sedan mewah milik Devan Narendra terdengar halus, nyaris tenggelam oleh kebisingan jalanan Jakarta di malam minggu. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, atmosfer terasa begitu dingin dan pekat. Kayla Shaqueena duduk di kursi penumpang dengan tangan yang bertumpu erat di atas tas kainnya, menatap lurus ke arah dasbor yang menyala temaram.
Di sebelahnya, Devan mengemudikan mobil dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersandar santai di jendela. Plester kecil di sudut bibirnya—sisa dari pukulan Alvaro kemarin siang—menjadi pengingat bisu bahwa persahabatan di antara para penguasa sekolah itu telah resmi berakhir.
"Kamu tidak perlu menatapku seolah aku sedang membawamu ke tempat penculikan, Kayla," ujar Devan pelan, memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya di depan mereka. "Aku sudah berjanji akan membantumu lepas dari jerat Sofia Pramudya. Dan seorang Narendra tidak pernah mengingkari janjinya."
"Bagaimana caramu melakukannya, Devan?" tanya Kayla, menoleh ke samping dengan sepasang mata bulatnya yang dipenuhi rasa selidik. "Sofia Pramudya bukan orang sembarangan. Dia punya ratusan pengacara dan kekuasaan untuk memanipulasi hukum. Bagaimana bisa kamu membatalkan tuntutan lima ratus juta itu dalam waktu semalam?"
Devan tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang selalu berhasil menyembunyikan isi kepalanya yang paling dalam. Mobil sport itu perlahan berbelok memasuki kawasan perkantoran elit di daerah Sudirman, menuju sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca hitam yang menjulang tinggi: **Narendra Tower**.
"Di dunia bisnis kelas atas, tidak ada benteng yang tidak bisa diruntuhkan, Kayla. Yang kamu butuhkan hanyalah menemukan batu fondasi yang paling rapuh dari benteng tersebut," sahut Devan tenang saat memarkirkan mobilnya di area VIP bawah tanah. "Ikutlah denganku. Ada seseorang yang ingin menemuimu."
Lift eksekutif membawa mereka melesat cepat menuju lantai empat puluh lima, tempat kantor pribadi keluarga Narendra berada. Begitu pintu lift terbuka, Kayla disuguhi pemandangan sebuah ruangan kerja raksasa yang didominasi oleh furnitur kayu mahoni gelap dan dinding kaca besar yang memperlihatkan gemerlap lampu-lampu kota Jakarta dari ketinggian.
Di balik sebuah meja kerja raksasa, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu formal yang sangat rapi. Pria itu memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan Devan, namun sepasang matanya memancarkan ketajaman dan otoritas yang jauh lebih matang. Dia adalah **Surya Narendra**, ayah kandung Devan sekaligus salah satu taipan media dan teknologi terbesar di Asia Tenggara.
"Silakan duduk, Nona Shaqueena," ucap Surya Narendra dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa, menyambut kedatangan mereka dengan anggukan kepala yang sopan namun formal.
Kayla duduk di sofa kulit di depan meja kerja tersebut, didampingi oleh Devan yang berdiri tegak di sampingnya dengan tangan bersedekap.
"Putraku, Devan, telah menceritakan semua yang terjadi kepadamu di SMA Nusantara Jaya, termasuk tentang tuntutan palsu yang dilayangkan oleh Sofia Pramudya kepada usaha laundry ibumu," Surya membuka selembar map dokumen hitam, lalu menggesernya ke arah Kayla. "Narendra Group memegang tiga puluh persen saham di rumah sakit tempat ayahmu dirawat. Pagi ini, aku sudah memastikan bahwa seluruh biaya pengobatan ayahmu dijamin sepenuhnya oleh yayasan kami. Sofia tidak akan bisa menyentuh atau mengeluarkannya dari sana."
Napas Kayla tercekat sejenak. Rasa lega yang luar biasa seketika membanjiri dadanya. "Terima kasih... Terima kasih banyak, Tuan Narendra. Tapi bagaimana dengan denda lima ratus juta dan tuduhan manipulasi itu?"
Surya Narendra menyandarkan tubuhnya, mempertemukan ujung-ujung jarinya di udara. "Itu hal yang sangat mudah. Tim audit teknologi kami telah meretas sistem manifes digital pengiriman barang milik Pramudya Corp dari bengkel laundry-mu. Kami menemukan bukti bahwa kerusakan pada pakaian mewah itu sengaja dibuat oleh staf internal mereka *setelah* barang tersebut keluar dari rukomu. Ini adalah bentuk penipuan korporasi dan pencemaran nama baik."
Surya menatap Kayla dengan tatapan mata yang semakin dalam. "Besok pagi, tim hukum Narendra Group akan merilis bukti ini ke jaringan media massa milik kami jika Sofia tidak mencabut tuntutannya dalam waktu dua puluh empat jam. Citra Pramudya Corp di bursa saham akan hancur lebur jika skandal ini naik ke permukaan. Sofia pasti akan memilih untuk mundur demi menyelamatkan uangnya."
Kayla tertegun. Kekuatan yang ditunjukkan oleh keluarga Narendra benar-benar berada di tingkat yang berbeda. Mereka bisa membalikkan keadaan yang mustahil menjadi kemenangan mutlak hanya dengan beberapa langkah taktis di balik layar.
"Tapi... apa syaratnya, Tuan?" tanya Kayla, menatap Surya dan Devan bergantian dengan kewaspadaan yang kembali muncul. "Anda tidak mungkin mengerahkan kekuatan sebesar ini demi seorang anak beasiswa tanpa meminta imbalan apa pun."
Surya Narendra terkekeh pelan, melirik ke arah Devan sebelum kembali menatap Kayla. "Aku tidak meminta imbalan uang, Kayla. Tapi putraku meminta satu hal dariku untukmu. Sebagai gantinya, aku ingin kamu membantu Devan untuk memenangkan posisi Ketua OSIS dan melumpuhkan pengaruh keluarga Pramudya di SMA Nusantara Jaya pada pemilihan bulan depan. Kami ingin kamu menjadi simbol perlawanan anak beasiswa di bawah bendera Narendra."
Kayla terbelalak. Ini bukan sekadar bantuan tulus; ini adalah sebuah aliansi politik terlarang yang sengaja dirancang untuk menggunakan dirinya sebagai senjata untuk menghancurkan kekuasaan Alvaro Pramudya di sekolah.
Bersambung