kiano nama nya, orang-orang seakan melihat seorang pangeran kejam dan dingin pada dirinya dan sifat nya tidak jauh melenceng dari tanggapan mereka.
ia hidup dengan banyaknya penghianat sisinya, membuat kepribadiannya berubah, apalagi masa lalu kelam yang ia rasakan.
semua yang ia lakukan selalu salah Dimata orang lain, orang bilang dendam yang kau simpan itu tidak ada gunanya, Dengan balas dendam apa akan membuat kau lega?, pertanyaan dari orang yang tidak pernah berada di sisi korban.
mereka hanya bisa berkata luka orang lain tidak ada apa-apanya dengan luka mereka, seakan mereka tau yang ia rasakan.
#bromance
#kejam
#dendam
#benci
#family
#luka
#penghianat
#no romance
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moonsun_09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. hubungan apa dengan tuan vion
Siksaan demi siksaan Kiano dapatkan saat orang tuanya menyerahkan dirinya, di usia sepuluh tahun, kepada pria sialan bernama Bian itu.
Tepat satu tahun sudah ia diperlakukan seperti anjing di tempat tersebut. Lalu, seorang anak yang mungkin beberapa tahun lebih tua darinya dilempar masuk dalam keadaan penuh luka dan sangat menyedihkan. Saat itu, Kiano masihlah seorang anak yang polos, berhati tulus, dan lembut. Ia pun mendekati anak tersebut.
Vion, itulah nama yang keluar dari belahan bibir penuh ruam itu. Mereka berbagi nasib yang sama di tempat menyedihkan tersebut.
Hari itu terjadi penyerangan. Seseorang berkhianat. Wajah merah penuh kebencian terlihat jelas pada wajah Tuan Bian. Pria tua itu menyerang dan membidik lawannya dengan amarah yang membara.
Jika ditunda, kesempatan mereka untuk kabur bisa hilang. Kekacauan membuat semua bodyguard terpecah hingga melupakan para anak yang dikurung. Kesempatan itu harus mereka gunakan sebaik-baiknya.
Dengan tekad seadanya, Kiano dan Vion mencoba keluar dari tempat tersebut. Darah dan mayat tergeletak di mana-mana, tetapi itu bukan sesuatu yang dapat menghentikan mereka.
Dua pasang kaki kecil itu terus menyusuri ruangan dan lorong-lorong demi mencari jalan keluar.
Sebuah ruangan menarik perhatian Kiano. Ia melangkahkan kakinya mendekati ruangan tersebut.
"Ano, kamu mau ke mana?" tanya Vion. Anak itu bingung dengan apa yang dilakukan oleh anak yang lebih kecil darinya itu.
"Tunggu, aku mau lihat ini dulu. Kamu ikut?" balas Kiano.
Tangan kecilnya mendorong pintu abu-abu itu perlahan.
Suara decitan pintu terdengar. Pintu tersebut perlahan terbuka, memperlihatkan ruangan rapi dengan satu meja, kursi, dan rak besar yang berisi tumpukan kertas yang entah apa isinya.
Setelah masuk dan kembali menutup pintu, mereka menyusuri ruangan tersebut. Langkah kaki mereka terhenti di samping meja tunggal itu.
Sebuah map merah menarik perhatian Kiano. Anak itu meraih benda tersebut dan perlahan membuka isinya.
Di halaman pertama terlihat foto dirinya beserta identitas dan data-data yang, jika diperhatikan, merupakan hasil penelitian yang mereka lakukan terhadap tubuhnya selama setahun terakhir.
Di halaman kedua terpampang foto seorang anak laki-laki yang sangat ia kenali. Itu adalah Vion, dengan nama lengkap Callareze Delvion.
Sepenggal nama itu terasa sangat tidak asing. Terlebih nama Callareze adalah nama resmi keluarga ibunya sebelum menikah dengan keluarga besar Deovantara.
Ia terdiam. Ternyata mereka adalah dua orang saudara yang terjebak di tempat yang sama.
Ia mengalihkan pandangannya kepada Vion dengan tanda tanya di wajahnya.
"Kamu... tahu Mommy Jenan?" Pertanyaan itu langsung meluncur. Ia yakin Vion pasti mengenal ibunya.
"Tante Jenan? Tahu lah. Dia tante aku," balas Vion dengan nada bingung.
"Kamu kenapa ada di sini?" Kiano kembali bertanya. Apa yang membuat anak itu berada di tempat ini? Apakah yang terjadi padanya juga terjadi pada Vion?
"Umm... aku sedang bermain dengan abang. Terus abang entah pergi ke mana, lalu ada om-om datang ngasih permen. Karena aku suka permen, aku ikut deh," jelas Vion.
"Aku nggak tahu dibawa ke mana. Aku dipukul sama om itu dan teman-temannya. Itu sangat sakit," lanjutnya. Rasa takut terdengar jelas dalam suaranya.
Setelah memahami apa yang terjadi, mereka mengakhiri pembicaraan dan segera kembali mencari jalan keluar dari tempat tersebut.
Di sinilah amarah dan kebencian itu bermula.
Di luar terlihat keluarga Deovantara dan keluarga Callareze berkumpul.
Tatapan tidak senang memandang Kiano dengan sinis dan muak. Berbeda dengan Vion, mereka memandang anak itu dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur.
"Vion!" teriak seorang wanita yang sudah tidak terlalu muda dengan air mata membasahi wajahnya.
"Mommy!" teriak anak itu senang saat melihat sang ibu berlari ke arahnya.
Streettt...
Sebuah langkah kaki cepat mendekat. Tangan panjang seseorang segera menarik Vion dan menghempaskan tubuh anak itu ke dinding.
"Jangan ada yang mendekat."
Suara dingin itu membuat semua orang yang syok mengalihkan perhatian.
"Kau ingin tetap di sini menemani saudaramu, atau..." ujarnya sambil menunjuk Vion yang terduduk.
"...kembali pada keluargamu, tetapi tidak dengan anak itu."
Pria paruh baya tersebut menunjuk Kiano.
Keluarga besar yang berkumpul di sana tampak sangat cemas. Mereka ingin Vion segera kembali kepada mereka, bukan anak pembawa masalah itu.
Tanpa pikir panjang, kaki kecil Vion berlari menuju keluarganya. Ia sempat menoleh sekilas kepada Kiano yang sedang menatapnya.
Tatapan yang tadinya lembut perlahan berubah menjadi kebencian yang tak terhitung,Ia sudah dua kali dikhianati.
Orang-orang yang terlihat menyayanginya dan berkata ingin selalu bersama kini justru meninggalkannya seorang diri.
Ia membenci mereka.
Mereka pantas mati.
Dua bodyguard menyeret Kiano kembali ke dalam dengan kasar. Keluarga Deovantara hanya menatap datar tanpa emosi pada adik dan anak mereka yang kembali dibawa pergi itu.
"Lepas! Lepas! Mommy, Daddy, tolong! Aku nggak mau ke sana lagi!"
Ia terus berteriak histeris.
Sejak saat itu, tidak ada lagi wajah ceria dan polos tersebut. Kini semuanya tergantikan oleh wajah datar dan dingin yang menyimpan sejuta luka dan dendam.
Ia tidak peduli dengan status mereka.
Rencana sadis dan kejam telah tersusun rapi di dalam pikirannya. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya dan menikmati kesengsaraan keluarga iblis itu.
Ia sudah tidak sabar menunggu hari tersebut.
Bukankah tidak normal jika seorang anak yang masih sangat kecil memiliki pemikiran seperti itu?
tapi, apa boleh buat. Sumber penyebabnya adalah mereka yang bernama keluarga.
Dan tidak ada yang lebih mengerikan selain matinya hati dan perasaan di dalam jasad yang masih hidup.
Tidak semua keluarga memberikan perlakuan dan perhatian yang adil. Ada pula mereka yang mendapatkan ketidakadilan hingga membentuk sikap yang tidak disukai masyarakat.
Namun ketika korban akhirnya bersikap buruk, sumber utama penyebab semua itu justru sering kali lebih buruk daripada binatang.
Mereka adalah manusia dengan otak binatang.
Like dan coment kalo mau aku lanjutin
Thank you 🫰