Lanjutan Dari Novel Terpaksa Menikah. Sebelum membaca kisah dari Anak - Anak Raka dan Eva beserta sahabatnya. Mohon di baca untuk Season pertamanya.
Sebelum ke sini tolong baca dulu Terpaksa Menikah.
Memilih pasangan yang pas, seperti sang mama adalah keinginginan Rava Atmadja. Banyak keinginan yang ia dasari dari kisah cinta papa dan mamanya, yang bersatu karena sebuah kesalahan. Kesalahan yang menurut sang papa dan juga mamanya, adalah berkat dan kebahagiaan dengan hadirnya, Rava di kehidupan mereka.
.
Karena di Jodohkan oleh sang mama dengan anak sahabatnya, Rava mencoba untuk lari dari kenyataan. Dan berusaha untuk memilih yang terbaik antara pilihan sang mama dan juga pilihannya sendiri. Mari baca dan berikan dukungan kalian. Terima Kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPA : DEBAT
Cafe & Cake NY.
Alice yang sedang membantu Clairen membungkus pesanan pelanggan take away, tiba-tiba bingung kedatangan Harsen yang mendekati meja kasir. Alice mengubah pandangannya pada sosok Pria yang dari luarnya saja seperti sangat bersahabat.
“Ada yang bisa di bantu, Tuan?” tanya Alice dari posisi duduknya. Harsen tersenyum dan berpindah ke depan Alice.
“Maaf Nona, Saya ingin mencari salah satu karyawan Cafe yang bernama Alice,” ucap Harsen sangat ramah dan lembut. Clairen yang mendengarnya, sekilas melirik ke Harsen.
“Agh… Saya sendiri ,Tuan.” balas Alice bingung.
“Nona, atasan saya bernama Tuan Rava, meminta saya mengantarkan Sepeda itu untuk anda.” tunjuk Harsen ke arah luar.
“Benarkah? Awwww…” sangkin senangnya, Alice refkleks berdiri dan terduduk kembali.
“Anda baik-baik saja , Nona?” tanya Harsen panik.
“Kau tidak apa-apa, Alice?’ tanya Clairen ikutan panik.
“Tidak… Aku tidak apa-apa. Hanya senang saja” balas Alice menatap Harsen, “Tuan, Tolong sampaikan salam saya pada atasan anda, dan saya ucapkan terima kasih atas bantuannya. Karena, Saya tidak sempat untuk mengucapkan terima kasih.” balas Alice.
Harsen tersenyum, “Baiklah, Nona. Saya akan sampaikan pesan anda, kalau begitu Saya mohon izin.” ucap Harsen dengan berbalik ke arah pintu keluar.
“Egh.. tunggu… tunggu sebentar Tuan,” ucap Clairen berlari ke arah Harsen.
Harsen menoleh kebelakang dan menatap Caliren, ia tersenyum. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?’ tanya Harsen.
“Tolong, sampaikan juga permintaan maaf Saya. Karena saya sudah menuduh atasan anda.” balas Clairen dengan wajah bersalah.
Harsen tertawa kecil, “Baiklah, Nona. Jangan takut, atasan saya sangat pemaaf.”
“Benarkah Tuan?” tanyanya dengan mata yang membesar.
“Iya Nona, kalau begitu saya jalan dulu. Terima kasih.” ucap Harsen kemudian meninggalkan Cafe.
Clairen seketika itu juga tertawa senang , menatap kepergian Harsen. Ia seperti berbunga-bunga akan senyum Harsen. “Kenapa, dia sangat terburu-buru?”
Plakkkkk…
“Kenapa kau tertawa sendiri? Apa kau pikir pelanggan Cafe di sini semua hantu?” tanya Endriko yang menimpuk Clairen dengan buku menu Cafe.
Caliren menyentuh kepalanya,”maaf kak, sakit banget.”
“Tahu sakit! Ku pikir kau itu sedang pingsan di dalam kesadaran! Sudah sana, layani pelanggan.”ucap Endriko meninggalkan Clairen.
Alice tertawa, “Karena itu, Kau enggak boleh keganjenan Clai.” seru Alice
Clairen mengerucutkan bibirnya dan menatap Alice kesal, mengusap-usap kepalanya dan berjalan kearah meja tamu. Alice sendiri sebenarnya sedang berpikir, merasa perbedaan Harsen dan Rava sangatla jauh.
“Ternyata, dia seorang atasan. Wajar saja dia angkuh dan sombong. Tapi, suruhannya tadi sangatlah ramah. Dan senyumannya, sangat manis.” ucap Alice seraya tersenyum kecil mengagumi sosok Pria idamannya.
^
Universitas di mana Vara berada.
Jam istirahat, teman-teman Vara mendekatinya, saat ia sedang mencoba menggambar sketsa untuk bahan prakteknya. Tiba-tiba muncul dari arah belakang dengan hawa panas yang tidak di sukai Vara.
“Siapa yang kemarin lo gandeng?” tanya Zarah dengan ketus.
Vara melirik ke arah wajah Zarah, “Apa itu penting untukmu? Apa kita akrab?” tanya Vara lagi.
Zarah tertawa licik, “Kenapa kau itu sungguh tak tahu malu? Selama ini bukannya dirimu yang menjauh dari kita? Ya nggak gaes?” tanya Zahra pada teman segengnya Lula dan Coco.
“Iya, benar” jawab keduanya bersamaan.
Vara memilih berdiri, dan menatap tajam ke mereka secara bergantian.
“Kalian pikir, gua mau punya sahabat seperti lo semua! Menjerumuskan sahabat nya sendiri!” ketus Vara dengan segerah berlalu.
“Dasar tuh anak! Sok suci, munafik!” ucap Zarah dengan rasa benci dari dalam dirinya.
“Pulang nanti, kita ikuti saja dia Ra” ujar si Coco.
“Baiklah… ide lo brilliant” ucap Zahra dengan senang.
Ketiganya kembali berjalan meninggalkan tempat Vara duduk, untuk mendapatkan ide bagus sketsa bahan prakteknya Vara memilih mojok di tembok ujung kelasnya, tapi karena musuhnya itu, ia menjadi blank. Vara memilih untuk kembali ke dalam kelasnya, dengan rasa yang jengkel dalam hatinya. Sebenarnya , karena memang Vara susah untuk di dekati. Karena itu, banyak yang sekedar say hello pada dirinya. Bukannya ia sombong, hanya saja ia trauma. Ketika berjalan 1 tahun kuliah di New York, Vara akhirnya memiliki teman seperti Zarah, Coco dan Luna. Hanya saja, pertemanan mereka retak, karena Vara pernah di jebak oleh ketiganya. Untuk pergi ke sebuah Hotel, yang janjinya untuk nongkrong di salah satu Resto di Hotel tersebut, ternyata Vara di kenali dengan pria yang lebih tua dari kakaknya, untuk di jadikan santapan malam. Sontak saja, Vara lari dari Hotel, dan syukurnya pengawalan dari Rava beraksi sangat cepat, tanpa di ketahui oleh teman-teman Vara. Masalah itu pun sampai ke Rava, dan Rava meminta untuk adiknya menjauh dari orang-orang seperti teman-temannya. Zahra sengaja ingin merusak Vara, yang di matanya anak sok baik di hadapan orang tuannya, Karena itu Vara memutuskan untuk tidak berteman dekat dengan siapapun di kampusnya.
Seusai jam mata kuliah terakhir usai, Vara berjalan menyusuri koridor dengan berjalan lambat. Ada yang aneh pikirnya, kenapa sang kakak belum juga menghubunginya, ia mencoba mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Rava.
“Kenapa tidak di angkat sih?” tanya Vara pada ponselnya dengan bibir di kerucutkan.
Vara kembali menghubungi sang kakak, tak lama Rava menjawab panggilan dari Vara.
“Vara, maafin kakak nggak bisa jemput kamu. Bisa kamu minta tolong sama Defan , untuk mengantarkan kamu ke Cafe di perempatan dekat kantor kakak?”
“Loh, kok di Cafe sih kak?”
“Kakak sedang di luar sayang, ada rapat di perusahaan lain. Harsen juga ikut sama kakak, kakak nggak mau kamu di kantor kakak sendirian. Entar kalau bosan gimana? Hayoooo??” ucap Rava menakuti Vara.
“Iya juga sih, ya udah kak. Dengan berat hutang, Vara akan menumpang dengan si Defan resek.” ucap Vara sedih.
“Sabar ya saayang, pesan aja apapun yang mau kamu makan di Cafe itu, nanti kakak yang akan membayarnya.”
“Benarkah? Duh… Kakakku emang yang palinggg baik. Baiklah kak,” ucap Vara senang.
“Ada maunya aja di katakana baik, coba kalau lagi bad mood katanya kakaknya cerewet. Ya sudahlah, katakan pada Defan jangan ngebut. Kakak tutup ya, bye sayang.”
Vara sangat senang , ia tersenyum dan berjalan ke arah fakultas anak seni lukis. Ia menemukan si Defan sedang nongkrong dengan teman-temannya, Vara tidak suka dengan keramaian para laki-laki, ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi si Defan, memintanya untuk datang di mana Vara menunggunya.
“Ada apa?” tanya Defan saat sudah berada di depan Vara.
Vara melirik tajam dengan tangan di lipat di dadanya, “kata kak Rava, kau harus mengantarkan aku ke Cafe di perempatan jalan kantornya kakak.”
Defan menghela nafasnya, “Duh… Sebentar lagi, Aku dan anak-anak mau bermain basket Vara.” Ucap Defan menolak.
“Terserah kau saja, aku jalan ke sana sendiri. Jika kakak bertanya padaku, akan aku katakana sesuai yang Kau katakan padaku,” ujarnya kesal dan berbalik hendak berjalan.
Defan merasa gemas, ia pun berteriak ke arah Vara, “Heiiii!!! Tunggulah sebentar, aku ambil kunci mobil.” Ucapan Defan membuat Vara terhenti dengan senyuman yang mekar.
Vara menoleh ke arah belakang dan melihat Defan izin dengan teman-temannya, hingga ia berjalan ke posisi Vara.
“Ayo.” ucap Defan berjalan mendahuli Vara.
Di dalam mobil, si Defan diam membisu. Biasanya juga enggak pernah diam seperti itu. Membuat bulu kuduk Vara berdiri lemas.
“Kok lo diam aja Fan?”
“Keanapa! Nanti gua rebut, lo bilang gua cerewet!” balas Defan.
“Iiiihhh… serem tahu! Lo lagi datang bulan ya?”
“Bicara omong kosong lagi, gua turuni lo di tengah jalan!”
“Hah.. payah ngomong sama Lo!”
“Kalau enggak Karena kak Rava, nggak mau aku tuh repot-repot nganterin gadis manja seperti dirimu!” ketus Defan.
“Dih.. sombong mamat lu om, kalau enggak kakak gua yang suruh, gua juga enggak mau dekat-dekat ama lo! Lo juga manja ke kakak, gua!”
“Hemmmm… Cerewet!!!”
“Biarin, cerewet tapi gua cantik. Secantik dan selembut hati gua, yang nggak ada di lo! Kalau lo, juga manja tapi cengeng. Wekkkkz”
“Pengen banget, gua tabok mulut Lo. Vara” katanya dengan tegas.
“Berani, Lo ama kakak gua?”
“Ya enggakla, lo tuh suka besar mulut. Tahu nya mengadu aja,” ujar nya kesal.
“Iya… gua aduin lo sama paman Frans dan Bibi Delia, mau Lo!”
“Aduin aja, gua gak takut. Tapi gua bakalan kaburrr!”
“Wuh, Cemen lo! Gaya lo aja selangit, tapi kalau paman Frans marah, kabur lo kan!”
“Sudahlah, aku enggak mau berdebat dengan mamak-mamak, pasti aku bakalan kalah.” ucap Defan dengan serius.
“Uda tahu lo kan! Terus, kenapa ngajakin gua ribut dari awal!”
Wajah Defan seperti di ciprak air liur, pusing dia. Sepupunya itu, nggak mau diam. Cuma bilang A bisa sampai ke Z. Diam pun dia tetap salah pikirnya. Tak lama, tampak Cafe yang di tuju oleh Vara, dengan cepat Defan menghentikan mobilnya di depan café yang berdinding kaca itu.Vara bergegas untuk turun, Defan menjulurkan tangannya, “Mana?”
“Apaan!” balas Vara.
“Ongkos, neng”
“Astaga, Defan! Tak lapor kakak mau!”
“Sudah sana turun, susah kamu di ajak bercanda.”
“Candaanmu garing, sudah sana. Terima kasih untuk tawarannya mengantarkan tuan putrid” ucap Vara dengan manja.
“Sialan, Lo.” teriak Defan saat melihat Vara sudah berjalan ke arah cafe.
Sesampainya di Cafe, Vara memilih duduk, précis di mana Rava duduk. Ia sangat menyukai pemandangan indah dari balik kaca itu. Serasa pengen selfie langsung, Karena staff cafe sudah datang, ia mengurungkan nitannya.
“Selamat sore, Nona. Apa yang hendak anda pesan, Nona?” tanya Clairen yang bertugas saat itu.
“Saya mau, cappuccino latte dengan 1 slice cake Red velvet” balas Vara dengan ramah.
“Baik Nona, di tunggu sebentar Nona.” Ucap Clairen mendapatkan jawaban Vara.
Sesudah Clairen pergi dari meja Vara, ia kembali mengambil ponselnya dan mencoba selfie. Ia dengan semangat dan dengan berbagai macam gaya mengambil gambar diri.
“ Sok cantik Lo!”
.
Tekan Like dan tolong yang berkomentar habis komentar bantu VOTE ya Biar "My Choice Wife" bisa masuk ke dalam ranking. Terima Kasih.
terima kasih krn masih mau menulis cerita untuk kami di sini 😍😍