NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Holy Kingdom. Barak militer relawan. Pagi hari.

Slamet berdiri di depan gerbang kayu, memegang sebuah kotak kayu berisi tali busur. Salju semalam masih menempel di atap-atap tenda militer, mencair perlahan menetes ke tanah. Kaki kirinya yang telanjang mulai terasa kebas karena dingin.

"Permisiii... pakeeet!" teriaknya dengan nada malas.

Seorang penjaga gerbang menatapnya dengan ekspresi heran. Pria di depannya terlihat seperti pengemis. Kaos oblong lusuh. Celana pendek kumal. Sandal jepit satu. Dan tanda hitam aneh di jidatnya—seperti dua segitiga bertumpuk.

"Kau... kurir?"

"Iya. Antar paket untuk Ibu Neia Baraja."

Penjaga itu saling pandang dengan rekannya.

"Neia? Yang kelompok relawan?"

"Kayaknya. Gue cuma tahu nama."

"Tunggu di sini."

Slamet menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Dia mulai menggoyangkan kaki kirinya yang telanjang karena dingin. Sandal jepit di kaki kanannya bunyi plak-plok tidak beraturan.

"Kurir?" suara seorang perempuan.

Slamet menoleh. Neia Baraja berdiri di depannya, wajahnya masih segaris lelah. Rambutnya diikat rapi, tapi ada lingkaran hitam di bawah matanya—tanda kurang tidur.

"Ini paketnya," kata Slamet, menyerahkan kotak kayu itu.

Neia menerimanya. Dia melihat simpul mati di kotak itu—rapi, tapi aneh. Tidak seperti simpul biasa.

"Kau yang bikin simpul ini?"

"Iya. Biar aman. Gak gampang dibuka orang."

Neia tidak tahu harus berkata apa. Dia membuka simpul itu dengan susah payah. Di dalamnya, tali busur panah cadangan—yang dia pesan dari toko logistik seminggu lalu.

"Ah, ini," gumamnya. "Makasih sudah mengantar."

"Sama-sama."

Hening.

Neia menatap Slamet. Pakaiannya bau. Rambutnya acak-acakan. Tanda hitam di jidatnya terlihat menyeramkan. Tapi matanya... kosong. Bukan kosong seperti orang yang putus asa. Kosong seperti orang yang sudah terlalu capek untuk peduli.

Orang ini aneh, batin Neia. Tapi dia tidak terlihat jahat. Dan entah kenapa... aku merasa kasihan padanya.

"Kau... tinggal di mana?" tanya Neia.

Slamet mengangkat bahu. "Di gang belakang pasar."

"Di got?"

"Pernah. Sekarang dapat tempat di bawah atap toko."

Neia terdiam.

Dia tunawisma. Mungkin pengungsi. Mungkin korban perang saudara.

Tapi tanda di jidatnya itu...

...seperti simbol kultus.

Atau bekas luka sihir, atau...

"Kau mau ikut kelompok relawan?" tiba-tiba Neia menawarkan.

Slamet mengernyit. "Kelompok relawan?"

"Kami membutuhkan tenaga tambahan. Tidak dibayar. Tapi ada jatah makan dan tempat tidur."

Slamet berpikir sejenak.

Tidak dibayar. Tapi ada makan.

Ya udah. Lumayan.

"Oke," katanya.

Neia mengangguk. "Ikut aku."

Slamet mengikuti Neia melewati gerbang kayu. Di dalam barak, tenda-tenda militer berjajar rapi. Beberapa prajurit sedang berlatih dengan pedang dan tombak. Mereka menatapnya dengan ekspresi aneh.

Seorang pria berotot dengan bekas luka di pipi menghampiri.

"Neia, ini siapa?"

"Kurir tadi. Dia tunawisma. Aku tawari ikut kelompok relawan."

Pria itu menatap Slamet dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Kelihatannya tidak bisa bertarung."

"Kita butuh tenaga untuk logistik, bukan hanya prajurit."

Pria itu menghela napas. "Terserah. Tapi jangan bawa masalah."

Dia pergi.

Neia menatap Slamet. "Jangan terlalu dipikirin. Dia hanya waspada."

"Gue juga waspada," kata Slamet. "Tapi sama makanan. Bukan sama orang."

Neia tidak tahu harus berkata apa.

Neia membawa Slamet ke tenda logistik. Di dalamnya, ada tumpukan karung goni, peti kayu berisi perlengkapan, dan beberapa orang yang sedang menghitung persediaan.

"Ini tempatmu untuk sementara," kata Neia. "Kau akan membantu memilah dan mengantar logistik ke pos-pos lain. Ada yang bisa kau lakukan?"

Slamet melihat sekeliling.

"Gue bisa angkat barang. Bawa paket. Bikin simpul mati."

"Simpul mati?"

"Biar gak gampang dibuka orang."

Neia tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengangguk.

"Mulai besok. Hari ini kau istirahat dulu. Ada selimut di pojok sana."

Slamet berjalan ke pojok tenda. Ada tumpukan selimut tipis. Dia mengambil satu, menggulungnya, lalu meletakkannya di lantai.

Lumayan. Lebih empuk dari tanah.

Dia berbaring. Menatap langit-langit tenda yang terbuat dari kain tebal.

Besok kerja lagi.

Semoga dapat makan enak.

Demiurge meletakkan penanya. Matanya yang merah menatap lembaran perkamen di depannya—peta aliansi militer yang mulai terbentuk. Kerajaan Re-Estize menyetujui isolasi Theocracy. Kekaisaran Baharuth juga. Kerajaan Kurcaci mengirim dukungan logistik.

Semua berjalan sesuai rencana.

Tapi ada satu yang mengganjal.

Holy Kingdom.

Bukan karena mereka akan berpihak ke Theocracy. Itu tidak mungkin, mengingat utang budi mereka pada Ainz-sama setelah insiden Jaldabaoth.

Tapi karena mereka terlalu sibuk dengan perang saudara internal. Pasukan mereka terpecah antara faksi Caspond dan faksi Jaldabaoth. Tidak ada komando yang jelas. Kontribusi mereka untuk operasi militer tidak bisa diandalkan.

Demiurge mendorong kacamatanya. Kilatan cahaya memantul dari lensa bundar itu.

"Tapi... mengapa Ainz-sama begitu fokus ke Holy Kingdom?"

Ia berpikir sejenak.

"Mungkin beliau mendeteksi keberadaan The Destroyer di sana. Atau mungkin beliau ingin menguji loyalitas para pengikut Neia Baraja."

Ia mengangguk pelan, yakin dengan teorinya sendiri.

"Pasti itu. Ainz-sama selalu melihat sepuluh langkah ke depan."

Demiurge menulis catatan. Menggoreskan tinta hitam dengan kecepatan tinggi.

"Kirim mata-mata tambahan ke Holy Kingdom. Pantau pergerakan mereka. Jika ada indikasi keberadaan The Destroyer... laporkan langsung."

Seorang Shadow Demon menerima perintah itu. Tubuhnya melebur ke dalam kegelapan.

Demiurge kembali menatap peta.

Kekacauan logistik internal Nazarick sudah mulai teratasi. Tapi masih ada satu variabel yang belum terpecahkan...

Siapa The Destroyer itu?

Dan mengapa Ainz-sama begitu yakin dia ada di Holy Kingdom?

Ia tidak tahu.

Tapi ia yakin Ainz-sama pasti sudah melihat gambaran besarnya.

Di Ruang Takhta Nazarick, Ainz duduk sendirian.

Cahaya merah di rongga matanya menatap kosong ke dinding. Pikiran tentang Jircniv masih mengganjal. Pikiran tentang Theocracy masih mengganjal. Pikiran tentang Slamet... masih mengganjal.

Semuanya mengganjal.

Tidak ada yang jelas.

Tidak ada yang pasti.

Cahaya hijau melintas di rongga dadanya. Emosi ditekan. Kembali datar.

Tapi kegelisahan tidak hilang.

Jika Theocracy benar-benar dalangnya...

...mereka harus dihancurkan.

Jika Jircniv terlibat...

...mereka harus dihancurkan.

Jika semua ini hanya kesalahpahaman...

...aku tetap tidak bisa mundur.

Karena aku sudah terlanjur mengambil keputusan.

Dia mengepalkan tangannya.

Tidak ada jalan mundur.

Hanya maju.

Sampai semuanya berakhir.

Di tenda logistik Holy Kingdom, Slamet sudah mulai mendengkur.

Grrrkkkhhh... hufff... grrrkkkhhh...

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!