Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Suasana sunyi yang sempat menegangkan itu kian pekat saat Darren melangkah mendekat ke arah Jonas.
Setiap ketukan langkah sepatu Darren terasa begitu mengintimidasi, membuat Jonas tetap berdiri tegap dengan dada dibusungkan, siap menerima apa pun keputusan dari pria paling berpengaruh di Bramantyo Corporation tersebut.
Darren berhenti tepat satu langkah di depan Jonas.
Sorot mata Singa Bisnisnya menatap lekat-lekat mata anak muda di hadapannya, mencari celah keraguan. Namun, yang ia temukan hanyalah ketegasan dan ketulusan murni untuk melindungi putrinya.
Perlahan, ketegangan di wajah Darren mencair, digantikan oleh senyuman tipis yang sarat akan wibawa seorang ayah.
"Aku merestui kalian," ucap Darren, suaranya bariton dan mantap.
Jonas mengembuskan napas lega yang tertahan di tenggorokannya, sementara mata Angela langsung berbinar bahagia. Namun, sebelum mereka bisa merayakannya, Darren mengangkat satu jarinya, memberikan tanda bahwa ada konsekuensi yang harus dipenuhi.
"Tapi ada satu syarat mutlak," lanjut Darren tegas, melirik ke arah Angela lalu kembali menatap Jonas.
"Kalian harus sarjana dulu baru boleh menikah. Selesaikan kuliah kalian dengan baik, tunjukkan padaku bahwa kalian bisa bertanggung jawab atas masa depan kalian sendiri."
Mendengar keputusan sang ayah yang begitu bijaksana, Angela tidak bisa lagi membendung rasa bahagianya.
Ia langsung bangkit dari kursinya, berlari kecil, dan memeluk papanya dengan sangat erat.
"Terima kasih, Pa! Terima kasih banyak!" seru Angela dengan suara parau menahan tangis haru di dada bidang Darren.
Darren membalas pelukan putrinya, mengusap punggung Angela dengan penuh kasih sayang.
Di atas ranjang, Jihan tersenyum lebar menatap pemandangan indah itu, sementara Deacon di dekat jendela hanya terkekeh pelan, bangga melihat keberanian putranya yang akhirnya membuahkan hasil manis.
Melihat kebahagiaan kecil yang baru saja tercipta di dalam kamar rawat VIP itu, Deacon perlahan melangkah mendekati Darren.
Aura santai yang sempat terpancar saat meledek Angela kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh sorot mata dingin seorang mantan perwira taktis yang siap menyelesaikan misi.
Deacon menyentuh pundak Darren, lalu memberikan isyarat dagu ke arah pintu keluar.
"Darren, mobil sudah siap di bawah. Kurasa ini waktu yang tepat bagi kita untuk menemui 'tamu-tamu' kita di sel bawah tanah. Laporan dari Malaysia juga menyatakan Albert akan tiba di pangkalan rahasia beberapa jam lagi."
Darren mengangguk pelan. Sisi hangat seorang ayah dan suami seketika terkunci rapat di dalam dirinya.
Singa Bisnis yang kejam dan tak kenal ampun kini kembali bangkit.
Darren membalikkan badannya, menatap Angela yang masih setia menggenggam tangan Jihan, lalu melirik Jonas yang berdiri siaga di sampingnya.
"Papa titip Mama dulu ya. Jangan ke mana-mana, tetap jaga ruangan ini dengan ketat," ucap Darren dengan nada bariton yang tegas dan penuh penekanan.
"Siap, Pa!" ucap Angela dan Jonas serentak dengan nada bicara yang mantap.
Jonas langsung mengambil posisi siaga di dekat pintu, sementara Angela merapatkan duduknya ke ranjang Jihan, memastikan ibu tirinya itu aman dalam penjagaan mereka.
Darren berjalan mendekati ranjang, membungkuk sedikit untuk mengecup kening Jihan dengan lembut.
"Aku pergi sebentar, Sayang. Menyelesaikan sisa sampah yang mengotori hidup kita."
Jihan mengangguk lemah, sorot matanya memancarkan kepercayaan penuh pada suaminya.
"Hati-hati, Mas."
Dengan langkah lebar dan ekspresi wajah yang mengeras sekeras baja, Darren melangkah keluar dari kamar rawat diikuti oleh Deacon di belakangnya.
Pintu VIP itu tertutup rapat, menandakan bahwa waktu bagi Andre, Riko, dan Albert untuk menghirup udara bebas telah habis. Neraka yang sesungguhnya telah menanti mereka di ujung jalan.,
Deacon melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan pinggiran kota yang sepi, menuju ke sebuah kompleks pergudangan terbengkalai di kawasan industri tua yang terisolasi.
Tempat itu merupakan salah satu safe house taktis milik jaringan intelijen Deacon, sebuah tempat yang tidak akan pernah bisa dilacak oleh hukum maupun pihak luar.
Suasana di dalam mobil begitu mencekam. Darren duduk di kursi penumpang dengan tatapan kosong yang mematikan, mengamati rute jalanan yang semakin gelap.
Amarahnya tidak lagi berkobar seperti api, melainkan telah membeku menjadi dendam yang dingin dan terarah.
Sesampainya di sana, pintu besi tebal gudang bawah tanah dibuka oleh beberapa pria berbadan tegap dengan pakaian taktis hitam.
Darren dan Deacon melangkah masuk, menuruni anak tangga semen yang lembap menuju sebuah ruangan interogasi berlampu temaram.
Bau anyir darah dan keringat dingin langsung menyengat indra penciuman mereka.
Begitu pintu jeruji besi bagian dalam terbuka, mereka melihat Andre dan Riko yang disiksa oleh anak buah Deacon yang bertubuh kekar.
Kedua tangan mereka dirantai ke langit-langit, wajah mereka babak belur, dan pakaian mahal mereka kini telah robek tak berbentuk.
Salah satu interogator baru saja hendak melayangkan cambuk karet ke punggung Andre saat derap langkah Darren terdengar.
"Hentikan!!" perintah Darren dengan suara baritonnya yang menggelegar, menggema di seluruh ruangan bawah tanah tersebut.
Mendengar suara sang ayah, Andre dan Riko yang awalnya sudah setengah tidak sadarkan diri langsung mendongak dengan susah payah.
Mata mereka yang bengkak membelalak ngeri melihat sosok Darren yang berdiri tegak tanpa ada sedikit pun tanda-tiga kegilaan, didampingi oleh Deacon yang menatap mereka dengan senyuman dingin.
"P-Papa..." Riko terisak, darah segar menetes dari sudut bibirnya yang pecah.
Tubuhnya yang tergantung gemetar hebat karena ketakutan yang teramat sangat.
"Pa, maafkan aku, Pa... Maaf... Kami khilaf, Pa..."
"Kami dijebak oleh Albert, Pa! Albert yang merencanakan semuanya! Tolong lepaskan kami, Pa, aku mohon..." ratap Andre, air matanya bercampur dengan darah di pipinya, mengemis belas kasihan dari singa tua yang telah mereka bangunkan dari tidurnya.
Darren tidak menjawab. Ia melangkah perlahan mendekati kedua anak kandungnya, mengambil sebuah kursi besi yang ada di sudut ruangan, lalu duduk tepat di hadapan mereka dengan gaya yang teramat tenang namun mematikan. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
"Bohong! Kalian bohong!!"
Darren menggebrak meja besi di hadapannya hingga menimbulkan suara dentangan keras yang menggema mematikan di dalam sel bawah tanah.
Ia bangkit dari duduknya, mencengkeram rahang Andre dengan sangat kuat hingga putranya itu meringis kesakitan.
Sorot mata Darren berkilat murka, merobek topeng kepalsuan yang coba dipasang oleh kedua anaknya.
Deacon melangkah maju dengan tenang, melemparkan sebuah map tebal berwarna hitam tepat ke wajah Riko hingga lembaran-lembaran kertas di dalamnya berserakan di lantai yang berlumuran darah.
"Ini apa?!" bentak Darren dengan suara yang bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.
Darren memungut salah satu lembar kertas transaksi perbankan internasional dan menempelkannya tepat di depan mata Andre yang membengkak.
"Ini bukti Andre memberikan tabungan rahasianya ke Albert dan meminta Albert untuk menyabotase mobil Jihan! Kalian bekerja sama untuk membunuh ibumu, lalu sekarang kalian ingin mencuci tangan dan melemparkan semua kesalahan pada Albert?!"
Andre dan Riko terkejut setengah mati. Wajah mereka yang semula pucat kini kian kehilangan warna.
Mereka tidak pernah menyangka bahwa jaringan intelijen Deacon bisa melacak rekening bayangan yang mereka sembunyikan di bank luar negeri dengan begitu cepat.
Darren melepaskan cengkeramannya dari rahang Andre dengan sentakan kasar, membuat tubuh Andre yang terikat rantai terombang-ambing.
Darren berjalan mundur beberapa langkah, menatap kedua anaknya dengan napas yang memburu, mengingat kembali penderitaan yang harus ia dan putri kecilnya lalui.
"Saat aku gilap. saat aku depresi berat karena mengira kehilangan Jihan untuk selamanya, apa yang kalian lakukan sebagai anak?!" raung Darren, air mata amarah kini menggenang di pelupuk matanya.
"Kalian membuangku dan Angela ke jalanan saat hujan deras! Kalian merebut Bramantyo Corporation dan membiarkan adik perempuan kalian sendiri kelaparan di emperan toko!"
Mengingat malam terkutuk itu, di mana Angela menangis memeluk tubuhnya yang linglung di bawah guyuran air hujan yang dingin, membuat hati Darren benar-benar membeku menjadi batu.
Tidak ada lagi ruang untuk darah dagingnya. Yang ada di hadapannya sekarang hanyalah dua ekor iblis yang harus dimusnahkan.
Suasana di dalam sel bawah tanah itu mendadak menjadi begitu sunyi hingga suara tetesan air dari langit-langit semen terdengar sangat jelas.
Andre dan Riko hanya bisa terengah-engah dengan tubuh bergetar, tak berani menatap langsung ke dalam sepasang mata Darren yang menyala bagaikan tungku api.
Darren melangkah maju lagi, mengikis jarak di antara mereka.
Suaranya yang semula menggelegar kini berubah menjadi bisikan berat yang jauh lebih mengerikan.
"Apakah kalian tahu alasan kenapa Papa tidak memberikan warisan mendiang mamamu sejak awal?" tanya Darren, penuh dengan penekanan di setiap kata.
Andre dan Riko terdiam, membeku di tempat mereka yang tergantung.
Selama ini, dendam terbesar mereka hingga tega mengkhianati Darren adalah karena sang ayah menyimpan rapat seluruh aset dan harta peninggalan ibu kandung mereka, seolah tidak sudi membagikannya kepada mereka.
"Kenapa, Pa? Kenapa Papa setega itu pada kami?!" jerit Riko akhirnya, meluapkan rasa penasaran yang selama bertahun-tahun meracuni pikirannya.
Darren tersenyum sinis, sebuah senyuman penuh kepahitan dan kekecewaan yang teramat mendalam.
"Karena kalian serakah!!" bentak Darren tepat di depan wajah Riko.
"Mendiang mamamu tahu betul watak asli kalian sejak kalian kecil! Dia tahu kalau harta itu diberikan saat kalian belum matang, harta itu hanya akan menjadi racun yang menghancurkan hidup kalian! Dia menitipkan semua itu kepadaku agar aku memberikannya saat kalian sudah siap memimpin dengan hati, bukan dengan keserakahan!"
Darren mencengkeram rantai yang mengikat tangan Andre hingga menimbulkan bunyi gemerincing yang bising.
"Tapi apa yang kalian lakukan?! Kalian tidak sabar! Kalian merencanakan pembunuhan Jihan, membuang adik kalian, dan menghancurkan Papa hanya demi selembar kertas saham! Kalian membuktikan sendiri ramalan mamamu bahwa kalian tidak lebih dari sepasang iblis yang haus harta!"
Mendengar kenyataan pahit itu, Andre dan Riko terbelalak seakan baru saja dihantam gada besi. Penyesalan yang terlambat seketika menyeruak di dada mereka.
Harta yang mereka kejar dengan cara menumpahkan darah, ternyata adalah harta yang semula memang akan menjadi milik mereka jika saja mereka bisa menjaga sedikit saja rasa kemanusiaan di dalam hati.