NovelToon NovelToon
MY SUGAR DADDY

MY SUGAR DADDY

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Misteri / Balas Dendam / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Dwi Lestari

[ Aku hamil, Om. ]

Meskipun sempat gamang, pesan singkat itu berhasil kukirimkan bersama dengan surat keterangan bahwa kehamilanku sudah berjalan tujun pekan.

Om Adrian adalah lelaki ketiga yang berhasil kupertahankan lebih dari setahun lamanya sejak aku terjerumus dalam hubungan terlarang. Perbedaan usia kami terpaut dua puluh empat tahun, tapi tak menjadi penghalang hubungan yang mulanya memang terjalin hanya demi kesenangan.

Dia berbeda dengan dua Sugar Daddy-ku sebelumnya yang memang berstatus lajang. Ya, dia beristri. Dan dengan kehamilan ini aku berencana untuk menggantikan posisi istrinya.

Terkesan tak tahu diri, bukan?

Namun, percayalah aku punya alasan. Alasan yang bila kujelaskan pun tak akan mampu dimengerti sebelum kalian mengalaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Hubungan Tanpa Ikatan

Dua bulan lalu.

"El, seminggu lalu Om liat orang yang sekilas mirip banget sama kamu. Postur tubuhnya sampai gaya rambut dan warna kulit!"

"Iyakah?" Aku hanya bisa mengusap tengkuk menanggapi ucapan Om Adrian.

Saat ini kami tengah ada di salah satu kafe di daerah Yogya. Om Adrian sedang dalam perjalanan dinas keluar kota dan anehnya dia membawaku ikut serta untuk menemani 'kesepiannya'

Sejenak kulirik wanita yang duduk di pojok kanan meja, dekat kaca. Berjarak sekitar tujuh sekat dari tempat kami. Wanita itu mengenakan dress yang sama denganku. Bedanya ditutupi jaket jins dan topi hitam.

"Iya, dia check out dari hotel bareng sama kita waktu itu. Mungkin kalau lagi nggak sadar bisa aja Om liat dia itu kamu. Tapi tetap aja cantik kamu ke mana-mana."

Aku tersenyum kikuk.

Wanita yang Om Adrian maksud itu adalah Siska. Dia adalah temanku sejak SMA. Seseorang yang lebih dulu berkecimpung dalam dunia kelam sebagai 'mainan' para lelaki matang berdompet tebal. Siska juga yang pertama kali mengenalkanku pada Sugar Daddy pertama, saat aku kelimpungan mencari uang untuk memasukan Mama ke RSJ kembali agar tidak berkeliaran di luar.

Dialah yang selama ini menggantikanku 'menemani' Om Adrian bila sudah sudah 'meminta'. Ya, aku memang tak pernah sekali pun bergumul dengannya selama satu tahun kebersamaan kami. Terlepas dia ayahku atau bukan, entah kenapa hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatku mual.

Sebenarnya Om Adrian bukan tipe maniak. Dalam setahun kebersamaan kami hanya tiga kali saja dia meminta, itu pun saat dia tak sadar atau dalam keadaan mabuk berat. Sehingga mudah sekali mengelabuinya dengan mengganti peranku oleh Siska.

Entah aku yang diperlakukan spesial atau bagaimana. Sejauh ini aku lebih sering melihat tatapan kasih sayang ketimbang hasrat di matanya.

Begitu pula dengan hari ini. Keberangkatan kami ke Yogya kuberi tahu pada Siska. Aku tak ingin menunda rencana ini lebih lama, karena aku hanya punya satu setengah tahun untuk menghancurkan Adrian Mahesa dan istrinya Lidia Fahlevi. Menjebaknya, mengaku hamil, menghancurkan rumah tangga keduanya dengan hadir di tengah-tengah mereka. Lalu, pergi tanpa jejak. Itulah rencana yang sudah kususun sejak lama.

Seharusnya semua berjalan sesuai rencana, kalau tak orang yang tiba-tiba datang mengacaukan.

"El!"

"Ah, iya, Om?" Entah sejak kapan Om Adrian sudah menggenggam jemariku yang tersimpan di atas meja.

Ah, tatapan itu. Aku baru sadar kalau dia sudah 'minum' sebotol tadi.

"Balik hotel, yuk!" ajaknya sembari menuntunku untuk bangkit.

Tanpa kata, aku mengangguk dan memapahnya menuju hotel tak jauh dari kafe. Sejenak aku berhenti di ambang pintu masuk untuk memberi Siska kode dengan anggukan kepala.

Bisa kurasakan wanita itu mengekor di belakang.

"El, kamu tahu? Baru kali ini Om ngerasa nyaman banget sama wanita yang jauh lebih muda. Rasa sayangnya seolah nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Padahal sama Sugar Baby sebelum-sebelumnya enggak."

Aku masih terdiam mendengar racauan Om Adrian sepanjang perjalanan menuju hotel.

"Sama istri Om yang sekarang aja nggak kayak gini rasanya. Dia bawel, menuntut, bahkan kadang-kadang kasar. Tipe-tipe wanita yang nggak bisa menghargai suami, karena merasa paling berkuasa. Tapi sayang dia lemah kalau udah berurusan dengan kata cerai. Dia cinta banget sama Om sampai rela memberikan segalanya. Harta, kedudukan, dan dirinya. Sama dengan istri Om yang sebelumnya. Bedanya dia lemah, bodoh, dan tak berguna. Makanya Om tinggalin."

Tanpa sadar tanganku sudah terkepal di sisi tubuh. Ingin sekali rasanya menampar mulut kurang ajar itu, tapi aku sadar sekarang bukan waktunya.

"Asal kamu tahu aja. Dulu Om nggak punya apa-apa, El. Om cuma punya modal wajah tampan, badan bagus, dan kata-kata manis. Tapi, cukup buat bawa Om sampai ke posisi sekarang. Ternyata di dunia ini masih banyak wanita bodoh yang bertekuk lutut atas nama cin--"

Bruk.

Muak dengan semua kata-katanya, kudorong tubuh Om Adrian hingga terjerembab di koridor lantai lima. Tempat di mana kamar hotel kami berada.

Untung dia mabuk. Mau aku pukuli sampai babak belur sekali pun mungkin tak akan berasa.

"El ...!" Mata Om Adrian mulai sayu. Di memeluk kakiku. "Jangan tinggalin Om, ya! Om sayang banget sama kamu." 

Kudongakkan kepala menahan genangan air yang mulai terasa di pelupuk mata.

Di belakangnya sudah kulihat Siska berdiri dengan setelan sama. Kuberi dia kode dengan anggukan kepala, lalu aku bergerak memutari tubuh Om Adrian.

Sebelum sempat lelaki itu berbalik, Siska sudah lebih dulu memeluknya dari belakang, dan menuntun Om Adrian masuk ke dalam kamar dengan nomor 113.

Sementara aku melepas alas kaki dan berlari ke ujung koridor, memerhatikan tubuh mereka yang sudah menghilang di balik pintu yang tertutup.

Waktu hampir menunjukan tengah malam. Sudah tak ada lagi orang yang lalu-lalang di lantai ini.

Kusandarkan tubuh di depan kamar bernomor 120. Memeluk lutut menatap lift yang sebentar lagi terbuka. Menunggu seseorang keluar dari dalam sana.

Ting!

Lift terbuka. Kuangkat kepala menatap lelaki yang masih terlihat gagah di usia senjanya. Hanya butuh dua langkah bagi kaki panjang itu untuk menghampiriku.

"Apa kabar, Lea?" Tangannya terulur di hadapan. Tanpa pikir panjang segara kuraih tangan besar itu.

Aku tersenyum kecil sebagai jawaban.

Dia adalah Sugar Daddy pertamaku, lelaki yang berani menukar kehormatanku dengan uang lima ratus juta. Satu-satu orang yang berhasil mendapatkan diriku seutuhnya dibandingkan Om Lian dan Om Adrian.

Entah keputusan ini benar atau tidak. Sudah terlambat untuk menyesali segalanya. Aku  terlanjur melempar diri dalam kubangan dosa yang menjadikanku seorang wanita hina.

"Om!" Kuhentikan langkahnya sebelum mencapai pintu dengan nomor 120.

Dia menoleh, dan menatap lembut.

"Ya?"

"Nggak usah pake pengaman, ya!"

***

Seharian ini aku benar-benar dibuat tak tenang. Kejadian beruntun datang berulang-ulang. Selesai dengan Om Adrian,  datang Om Lian, beres dengan Om Lian, Kevin datang. Sekarang giliran Siska. Entah bagaimana mulanya dia sudah ada di depan kosan.

Kupakai jaket serampangan, lalu setengah berlari keluar gerbang. Beruntung kosan ini terletak cukup jauh dari pemukiman warga hingga tak ada lalu-lalang orang yang terlihat di jalan. Kebetulan jam sudah menunjukan pukul sembilan lebih tiga puluh malam.

"Lea!" Siska melambai di dekat mobil yang terparkir sekitar sepuluh meter dari kosan.

Langkahku terhenti seketika.

Itu, kan mobil Om Adrian?

"Sis, kamu dateng sama si--"

Plok!

Plok!

Plok!

Belum sempat menyelesaikan kalimat, suara tepuk tangan sedang terdengar. Om Adrian muncul dari balik mobil dengan senyum miring dan sorot mata yang mengerikan.

"Kamu pikir semudah itu membodohiku, hah!" Om Adrian berjalan mendekat dan memojokkanku ke sebuah pohon besar di dekat saluran pembuangan. Kemudian mencengkeram keras rahang ini hingga membuatku kesulitan bicara.

"Lea!" Siska terpekik. Dia hendak berjalan mendekat, tapi ditahan Om Adrian.

"Bisa-bisanya mengakui anak hasil pelacuran ini sebagai benihku! Dasar wanita j*lang tak tahu diri."

"Aaakh ...." Aku meringis saat Om Adrian mulai menekan perutku. "Sa-kiit."

"Om, udah, Om. Ini keterlaluan!" Siska berusaha menarik tangan Om Adrian, tapi dengan mudah dia singkirkan.

"Minggir, si*lan!"

Bruk.

Siska pun jatuh berlutut di tanah.

"Sekarang katakan! Siapa bajingan yang sudah menanam benihnya di rahimmu, Lea? Katakan!"

"Saya orangnya."

Seketika kami menoleh ke arah yang sama. Aku tertegun menatap Om Lian yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana.

"Bukankah waktu itu saya sudah mengatakan akan bertanggung jawab, Mas? Jadi, tolong singkirkan tangan kotor Anda dari wajah calon istri saya!"

Aku seolah kehilangan kata saat Om Lian menepis tangan Om Adrian dan menarikku dalam rengkuhan.

Sebenarnya apa yang ada dalam benakmu saat ini, Om? Kalau memang benar hubungan kita hanya sebatas saling menguntungkan. Kenapa harus bertindak sejauh ini?

Kalau sudah begini, siapa yang bisa menjamin aku akan bertahan tanpa melibatkan perasaan?

.

.

.

Bersambung.

1
Leni Fatmawati Fatmawati
aduh Lea ampun deh ini judul ny mertuaku adalah ayah dari anak kandungku dan sekarang menjadi adik dari suamiku🤭😅😅
Isnay Maulani
maacih thor 🙏
sukses trs tuk karya2nya y 💕💕💕💕
shepty
cukup berliku dan penuh rintangan kisahmu lea udh kayak kisah kera sakti pagi nyari kitab suci
shepty
wow nggak ada om lian kevin pun jadilah yg penting baik dan bisa mengerti kondisi lea yg pasti selalu ada bt lea dan melindungi juga menghibur lea
shepty
rumit
shepty
ah kevin ganggu aja orang mau anu anu juga
shepty
aku pengen liat adrian wira dan lidia hancur sehancur"nya tak dianggap jd manusia serendah"nya kesel bgt gw ama trio kwek kwek ini yah ya ampun
Yolanda Wulan
😂😂😂😂😂👍👍
Reichann~
nama ku jeruk
Yolanda Wulan
Ya Ampuuuunnnn kocak banget ini si Kevin🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yolanda Wulan
😂😂😂😂😂😂
Yolanda Wulan
😂😂😂😂😂😂😂😂
Yolanda Wulan
🤣🤣🤣🤣😂😂😂
Reichann~
pengen cakar
Reichann~
ganti kk aja kamu kevin kasian banget aku sama kamu
Ena Safitri
sebenrnya smpe sini blum ngerti tentang kehamilan lea, apa itu anak dari Adrian ayah kandungnya,, secara kalau sama lian kan blm pernah berhubungan badan,, kalau ngga hamil sama Adrian kenapa Adrian bilang harus menggugurkan berrti lea sma Adrian ayah kandungnya pernah berhubungan badan dong thor, kalau belum pernah berhubungan badan adrian ga bakal nyuruh gugurin kandungan lea pas lea kasih tau, berrti dgn nyuruh gugurin secara ga langsung Adrian sering berhubungan badan sama lea anak kandungnya,, terus kalau lea bukan anak adrian ga mungkin, soalnya kan td D awal di bilang kalau nita mmah ny lea D campakan adrian selaku suaminya saat nita hamil, berrti adrian emang ayah lea, yg D sayangkan di sini kenapa lea harus mnjadi sugar baby adrian dan parah kalau smpe pernah berhubungan badan,, ga mungkin kan kalo itu hamil dr sugar daddy pertama, secara sma adrian aj udah setahun lebih, smpe sini masih pusing aku thorr map ya
Monica Monic
y
krisan
lanjut
Novianti Ratnasari
kaya nya anak nya Om Lian
Novianti Ratnasari
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!