"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.34 Suasana yang sedikit hangat
Nadia akhirnya mau kembali tidur di kamar utama atas bujukan lembut Daren, meskipun Daren tetap tahu diri dan memilih tidur di sofa demi kenyamanan Nadia.
Saat Nadia dan Daren ada di meja makan untuk makan malam dengan berhati-hati sekali Daren berkata pada Nadia "Oh ya Nadia,untuk malam ini kamu pindah tidur ke kamar atas lagi ya?"
Nadia menghentikan makannya dan menoleh pada Daren yang duduk di sampingnya itu " Tapi Tuan Daren, saya lebih nyaman dan lebih leluasa tidur di kamar tamu saja," ucap Nadia.
"Aku tidak akan menganggu kamu Nadia, Aku akan tidur di sofa," kata Daren menatap Nadia penuh harap.
"Tapi Tuan?"
"Nadia tolong, Aku tidak mau Nenek nanti tahu kalau kita tidak tidur sekamar masalahnya kemaren penyakit jantung Nenek kambuh, Aku tidak mau Nenek sampai jatuh sakit lagi gara-gara tahu kita tidak tidur sekamar," Daren mencari alasan agar Nadia mau pindah ke kamar atas.
Karena alasan penyakit jantung Nenek Lusi akhirnya Nadia mau juga pindah ke kamar atas, kamar utama Daren "Baiklah Tuan, saya akan pindah ke kamar atas lagi," ucap Nadia yang kemudian melanjutkan kembali makannya.
Dalam hati Daren tersenyum, Dia merasa sangat bahagia karena akhirnya Nadia tidak lagi bersikap dingin padanya seperti hari-hari kemaren meski belum bisa sehangat seperti sepasang suami istri yang sesungguhnya.
Dan tiba-tiba saja handphone Daren berbunyi dan ternyata yang menelpon adalah Nenek Lusi. Daren langsung di berondong dengan banyak pertanyaan oleh Nenek nya itu seputar Nadia.
"Daren, bagaimana keadaan Nadia? Apa dia baik-baik saja? Dan apa kamu dan Nadia masih tetap tidur di kamar yang sama?" Daren sedikit terhenyak dengan pertanyaan Nenek Lusi yang sepertinya tahu kalau dia dan Nadia hanya bersandiwara kemaren.
"Nenek tenang saja Nadia baik-baik saja dan kami juga masih tetap tidur sekamar kok Nek, lagian Nenek ada-ada saja pertanyaannya, kalau Nenek tidak percaya, nenek bisa tanyakan pada Nadia sendiri," Daren kemudian menyerahkan handphonenya pada Nadia yang juga ikut mendengarkan pembicaraan Daren dan Nenek Lusi.
"Nadia," panggil Nenek Lusi saat handphone Daren sudah di tangan Nadia.
"Iya Nek," jawab Nadia sopan.
"Kamu masih tidur di kamar atas sama Daren? Atau...Daren sudah mengusir kamu Nadia? Bilang saja sama Nenek jangan takut."
"Tidak Nek, mas Daren tidak mengusir saya. Saya tetap tidur di kamar atas sama mas Daren."
"Baguslah, kalau ada apa-apa atau kamu di sakiti sama Daren langsung bilang sama Nenek ya?"
"Iya Nek."
Dan Nenek Lusi pun mengakhiri pembicaraannya di telepon dengan Nadia setelah memastikan mereka baik-baik saja.
Selesai makan malam Nadia beranjak dari tempat duduknya dan hendak membereskan piring-piring sisa makan mereka tadi, Nadia mulai mengambil piring Daren dan menumpuknya jadi satu dengan piring bekas makannya juga tapi tiba-tiba tangan Daren memegang lengan Nadia dengan perlahan sambil berkata padanya "Biar Bibik yang melakukannya, kamu istirahat saja," ucap Daren lembut membuat dinding es di hati Nadia meleleh sedikit.
"Tidak apa-apa Tuan, saya hanya membereskan piring ini saja," Nadia kemudian melanjutkan mengambil gelas kotor punya Daren dan mengumpulkannya bersama piring kotor yang tadi.
"Bik...!" panggil Daren dari arah tempatnya duduk.
Dari arah dapur terlihat Bibik yang sedang berjalan tergopoh-gopoh begitu mendengar panggilan Tuannya itu " Iya Tuan," kata Bibik setelah berdiri di hadapan Daren.
"Kami sudah selesai makan, bereskan semuanya," perintah Daren pada Bibik yang tidak mau melihat Nadia yang mengerjakan pekerjaan itu.
"Baik Tuan," kemudian dengan cekatan Bibik membereskan semua piring dan gelas kotor dan juga sisa makanan yang ada di meja makan.
"Ayo Nadia kamu harus istirahat," ajak Daren pada Nadia.
"Baik Tuan."
Kemudian mereka berdua pun berjalan bersama menuju ke tangga lantai atas tapi Daren masih canggung berjalan berdampingan dengan Nadia yang sudah tidak sedingin dulu lagi.
Bibik tersenyum senang melihat Tuannya sudah baik dan sayang sama Nadia.
"Ya ampun... mudah-mudahan Tuan Daren benar-benar sudah berubah dan benar-benar menyayangi Non Nadia dengan tulus," gumam Bibik sambil memperhatikan Daren dan Nadia yang masih berjalan menuju tangga lantai dua itu.
Setiba di lantai atas Nadia dan Daren pun masuk ke dalam kamar utama, Nadia merasa kasihan juga pada Daren kalau dia harus tidur di sofa mengingat sekarang ini Daren sudah mulai menunjukkan perubahan dirinya sedikit tidak lagi jahat pada dirinya.
"Tuan Daren, Tuan tidak apa-apa kalau tidur di sofa?" tanya Nadia pada Daren sebelum dia melangkah ke tempat tidur.
"Tidak apa-apa Nadia, aku tidur di sofa saja karena aku tidak mau menganggu kamu," ucap Daren sungguh-sungguh.
Nadia menganggukkan kepalanya lalu Dia pun beranjak ke arah kasur yang tidak jauh dari kursi sofa panjang tempat Daren mau tidur.
Nadia mengambil selimut tebal lalu dia berjalan lagi ke arah Daren yang masih duduk-duduk di sofa itu.
"Ini Tuan selimutnya, biar Tuan tidak kedinginan," Nadia menyerahkan selimut coklat tua itu pada Daren.
Daren tersenyum mesra ada sedikit perasaan hangat yang merayapi hatinya karena perhatian yang Nadia berikan padanya "Terimakasih Nadia," Nadia,"ucap Daren sambil menerima selimut tebal itu dari tangan Nadia.
"Kalau begitu saya kembali ke tempat tidur Tuan," pamit Nadia pada Daren.
Daren menganggukkan kepalanya sambil mengulas senyuman pada Nadia, dan Nadia pun akhirnya berjalan pergi meninggalkan Daren menuju ke tempat tidur.
Baru saja Daren mau merebahkan tubuhnya di sofa itu tiba-tiba saja ponselnya berdering lagi panggilan dari Nenek Lusi.
Daren mengusap layar ponselnya dan menerima panggilan dari Neneknya itu.
"Iya Nek ada apa?" tanya Daren.
"Kamu dan Nadia sudah tidur belum?" tanya Nenek Lusi.
"Ini mau tidur Nek," jawab Daren.
"Coba Nenek lihat apa kamu dan Nadia benar-benar tidur sekamar dan di atas tempat tidur yang sama," ucap Nenek Lusi penuh selidik.
"Em, iya aku dan Nadia tidur di atas tempat tidur yang sama kok Nek," dusta Daren dan dia melihat ke arah Nadia yang juga ikut mendengar pembicaraan dirinya dan Nenek Lusi.
"Coba Nenek video call mau lihat kamu dan Nadia bohongin Nenek apa tidak"
"Emm...iya iya, boleh," ucap Daren yang kemudian langsung menghambur ke arah tempat tidur dan duduk bersandar di punggung ranjang tempat tidurnya itu.
"Nenek mau lihat kita tidur sekasur apa tidak," bisik Daren pada Nadia yang juga sedang duduk di sampingnya tapi agak jauh.
"Daren, di mana kamu?" terdengar suara Nenek Lusi dari ponsel daren yang dia letakkan di atas tempat tidur saat dirinya naik ke kasur, Buru-buru Daren mengambil ponselnya "Iya Nek aku di sini," ucap Daren pada Nenek Lusi sambil menghidupkan kamera depannya.
"Mana Nadia," tanya Nenek Lusi yang tidak melihat Nadia di samping Daren.
"Iya Nek saya di sini," ucap Nadia yang mendengar pertanyaan Nenek Lusi sambil menggeser tubuhnya lebih dekat pada Daren, kembali Daren merasakan desiran hangat saat Nadia berdekatan dengan dirinya.
Nenek Lusi tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya "Sekarang aku percaya kamu tidak bohongi Nenek,Daren."
🤦
be smart don't be stupid alias i d i o t🤭
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang