NovelToon NovelToon
Cincin Kedua

Cincin Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cerai / Single Mom / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:300.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: IkeFrenhas

Novel romance pernikahan

Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.

Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.

Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.

Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sembilan

Pagi itu, rintik-rintik hujan masih membasahi bumi. Dedaunan masih tampak basah setelah diguyur hujan semalam suntuk. Jalanan pun masih tampak basah dan di beberapa bagian wilayah sekitar tampak tergenang oleh banjir yang belum jua surut.

Daerah tempat tinggal Olivia memang sebagian berdataran tinggi, tetapi sebagian yang lain juga berdataran rendah. Di sepanjang jalan aspal itu pepohonan sawit menjadi pemandangan utama sebagai mata pencaharian utama.

Orang tua Olivia salah satu pemilik perkebunan sawit terbesar di kampung tersebut. Beberapa tetangga menjadi karyawan kebun kelapa sawitnya.

Jika bagi penduduk setempat memanes sawit terbilang pekerjaan mudah tetapi juga sulit. Sedangkan bagi Vino pekerjaan tersebut terbilang tidak ada kemudahannya sama sekali. Bahkan untuk membawa kayu panjang yang digunakan sebagai media panen pun lelaki itu sangat kesulitan. Sejak lahir lalu besar hidup di kota membuatnya mengalami kesulitan dalam beradaptasi di lingkungan ini.

Dulu, beberapa bulan lalu saat dirinya tengah menapaki masa pendekatan mungkin saja masih bisa bertahan hidup. Itu pun menggunakan uang dari hasil gajinya selama bekerja di kantor sebelumnya. Namun, setelah menikah kebutuhan Vino tentu saja bertambah. Ia harus memberi nafkah kepada Olivia – istrinya. Minimal untuk membeli bedak wanita itu beserta parfum dan deodorant-nya. Tidak mungkin rasanya jika guna memenuhi kebutuhan pribadi istrinya tersebut harus meminta kepada ayah mertuanya. Mau diletakkan di mana wajah tampanya itu?

Itulah mengapa, Vino bersikeras untuk segera pindah dari rumah besar itu. Mencoba peruntungan begitu kembali ke kota. Setidaknya masih ada uang tersisa untuk bisa tinggal secara indekos selama sebulan dan dua bulan ke depan.

Vino telah meminta izin terlebih dahulu kepada ayah mertuanya sebelum memberi kabar berita tersebut kepada Olivia. Baginya, berbincang dan berdiskusi sesama lelaki lebih mudah dan menguntungkan ketimbang berdialog dengan perempuan. Walaupun di masa depan ia harus mendahulukan istrinya sebelum orang lain. ‘Ah, itu kan ayah mertuanya. Tentu saja tidak masalah,’ pikirnya.

Rupanya, tanggapan Olivia berbeda.

“Kenapa Kakak berbicara sama ayah terlebih dahulu sebelum denganku. Harusnya bilang dulu padaku baru ke ayah,” sungut Olivia.

‘Sabar ... sabar.’ Vino menguatkan diri sendiri.

“Aku berbicara sama ayah duluan biar dapat wejangan, Liv. Ayah enak diajak berdikusi.” Vino mencoba menjelaskan agar istrinya itu dapat mengerti duduk perkaranya.

“Terus, kalau sama aku enggak enak diajak diskusi begitu?” ketus Olivia tak mau kalah.

“Ya enggak juga. Ini kan rumah ayah, beliau yang punya wewenang. Kita sepakat pindah kalau ayah tidak mengizinkan, kita bisa apa.” Vino mengedikkan kedua bahunya.

Kemudian Vino ingat dengan nasihat ayah tentang cara dalam menghadapi Olivia yang keras kepala. “Wanita itu tulang rusuk yang bengkok. Dikasih kelembutan dia tetap bengkok, dipaksa lurus dia patah. Jadi harus sabar.”

Kalimat dari sang ayah itulah yang membuat Vino terus berusaha sabar menghadapi kebengkokan Oliva. Walaupun seringkali tersulut juga. Mereka memang sering berdebat kecil, tetapi bagi Vino itu merupakan cara untuk bertukar pikiran dan menjaga keharmonisan rumah tangganya. Terlebih, ia sering tidak dapat menahan diri untuk tidak menggoda Olivia.

Setelah menikah, Vino memiliki kebiasaan baru yaitu mendengar omelan Olivia yang terdengar seperti kicauan burung yang merdu. Dipagi hari, burung-burung itu akan berdatangan mendendangkan kicauannya atau bertengger di kabel-kabel listrik, kadang juga di dahan pepohonan. Selama tinggal di sana, hal itulah yang menjadi kelebihan tersendiri bagi Vino. Bakalan menjadi sesuatu yang sangat dirindukannya. Namun, dirinya tak perlu khawatir karena pawangnya burung bakalan akan dibawa ke mana pun ia pergi.

Vino tersenyum tipis, membayangkan kicauan burung bisa didengarnya setiap hari dan di mana pun ia berada. Geli rasanya.

“Ngapain juga senyum-senyum begitu?” sinis Olivia karena merasa ucapannya tidak mendapat tanggapan yang memuaskan batinnya.

Vino mendesah panjang. Ia pikir perbincangannya mengenai rencana kepindahan mereka telah berakhir hari itu. Rupanya, setelah mendapat penolakan dari ibu mertuanya tentang rencana tersebut menyulut emosi Olivia.

Akhirnya, perdebatan sejak usai Subuh tadi belum juga berakhir. Vino pikir jika pengantin baru yang lain mungkin akan menikmati udara dingin begini dengan bergelung di bawah selimut yang sama. Namun, tidak bagi mereka yang harus berdebat tanpa ada kata akhir.

“Liv, gimana kalau kita ngobrolnya di dalam selimut aja. Dingin, nih,” bujuk Vino seraya mendekap kedua tangannya di dada.

Olivia mendelik kesal. “Ogah. Entar bukannya ngomong malah ngerjain kegiatan yang lain,” ketusnya.

“Kegiatan lain?” Kedua mata Vino memicing, pura-pura tidak tahu apa yang dimaksud sang istri.

“Jangan pura-pura, deh. Semalam aja udah, kan?” ketus Olivia lalu memalingkan wajah menyembunyikan semburat merah yang muncul di kedua pipinya.

Membicarakan hal sensitif walau sering melakukannya, tetap saja membuat Olivia malu. Menciptakan debaran tersendiri di dalam dadanya.

“Apa contohnya? Aku enggak tahu, tuh,” goda Vino semakin menjadi-jadi. Kedua matanya berkedip-kedip jahil.

“Ih, ngeselin.” Olivia memukul pelan lengan suaminya, menyamarkan gugup agar tidak terlalu kentara. “Enakan jalan-jalan ke kebun. Belum pernah, kan?” ujarnya mengalihkan pembicaraan.

“Hm, boleh juga.” Setelah menimbang sejenak, akhirnya Vino setuju.

‘Yes. Berhasil.’ Sorak sorai hati Olivia mendengar keputusan Vino. Ia pun segera beranjak dan menarik lengan lelaki itu sebelum Vino berubah pikiran.

Olivia tahu, jarang-jarang Vino mau diajak jalan-jalan ke kebun. Malah belum pernah mau ke sana.ini perdana, setidaknya ada kenangan tersendiri sebelum ia benar-benar harus meninggalkan kampung halamannya demi mengabdi kepada suaminya.

Berjalan berdua, bergandengan tangan di udara yang dingin. Uh, senangnya. Olivia tersenyum geli membayangkan adegan romantis itu.

“Enggak bisa entar siangan aja ya. masih gelep juga, nih.”

Olivia mendengkus sebal. Buyar sudah lamunannya tentang adegan romantis barusan berganti dengan wajah cemberut sang Vino yang harus dipaksa mengikuti keinginannya.

“Ya sudah kalau enggak mau. Enggak usah aja sekalian. Kalau siang enggak ada sensasinya sama sekali. Yang ada malah lihatin orang panen kelapa sawit. Males. Udah bosa lihat yang begituan,” cerocos Olivia tiada henti.

Saat Olivia hendak melangkah keluar kamar menuju dapur. Vino mencekal lengannya.

“Mending aku ke dapur.” Olivia menepis cekalan tangan Vino dengan kasar.

“Iya-iya. Ayo kita ke kebun. Naik motor aja ya. Biar cepet sampai.” Vino mengangguk pasrah, tetapi masih berusaha membujuk Olivia.

“Ya udah, ayo naik motor. Dasar males bener diajak jalan kaki, padahal sehat,” omelnya lagi. Lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil jaket.

“Ya ampun, si burung cicit. Ngomel terus,” goda Vino sembari terkekeh pelan. Ia menutup sebagian wajahnya dengan tangan, dalam kepalanya terlintas bayangan wajah Olivia yang berubah menjadi burung.

“Apa? Jadi kamu enggak dengerin omelan aku? Maunya aku diem aja begitu?” cecar Olivia.

1
Satria Devi
Luar biasa
Lienda nasution
gak seru akhirnya ..enak saja si veno mudah x diterima olvia gampang x ya dapatkan olivia
Yuliana Tunru
sakit bgt baca x thor ..jika tdk berdosa saat ini lbh baik minta cerai drpd jd mabtu yg tak dianggap dan disalqhkan trs ..vino jd suami tak guna dan mengabaikan istri demi hal yg tak jelas krn sampqi mati alvin jg viona sekalipun.mama x bino tak akan oernah mengagqp x ada ..murisss
Lina aja
terkena jebakan pelakor ni
Lina aja
klw suami kaya gtu emang cape k kita nya....
Lina aja
ahk suami luchnut itu malah nemenin bibit pelakor....istri lagi trauma juga....
Lina aja
mertua gda akhlak itu...suami nya juga lagi jaga anak malah di tinggal"udah celaka j g bisa txnggung jawab
Lina aja
kayanya Raisa tu cuma adik angkat....n vino mulai selingkuh tu m raisa
Lina aja
euleuh itu udah berapa tahun menunggu kehamilan Olivia ni
Lina aja
apakah vino udah punya Wil
Lina aja
keinginan yg harus di ikuti orang adalah keinginan yg egois itu.....
Lina aja
ihk ibu nya vino kayanya blum mau trima menantu nya dengan ikhlas tu
Lina aja
uhk kasian ni mna gda siapa" juga
Lina aja
masih suasana prihatin klw kita memulai semua dari nol.....sabar semoga berkah
Ike Frenhas: aamiiinnn
total 1 replies
Lina aja
klw mertua nya mau menerima menantu y kita juga senang lah
Ike Frenhas: Bener banget
total 1 replies
Lina aja
lanjut
Ike Frenhas
semangat bacanya sampai tamat ya, Kak
Lina aja
lanjut n semangat
Lina aja
lanjut
Lina aja
lucu
Ike Frenhas: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!