"Aku rela untuk menjadi yang ke - 3...yang pertama Tuhanmu, yang kedua Ibumu, yang ketiga Istrimu...Aku...asal jangan ada yang keempat diantara kita..."
Sebuah janji suci yang tidak seorangpun bisa menggoyahkannya.
Kisah perjuangan hidup seorang Lyvia dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga.
° Novel Adrian Maulana
Satu-satunya pria yang meluluhkan hatinya.
Namun apa jadinya jika kepercayaan cinta dikhianati.
Apakah Lyvia masih bisa menerima kembali ketulusan cinta Adrian ?
Akankah Adrian bisa meluluhkan hati Lyvia ?
Yuk ikuti kisah selengkapnya...😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azzahra Nian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9. Telaga Sarangan Part 1
Puas dengan santap siangnya, mereka melanjutkan perjalanan menuju Telaga Sarangan. Karena hari ini hari libur, jadi pengunjungnya ramai sekali.
Sebenarnya Adrian mengajak Lyvia kesana bukan tanpa tujuan. Besok pagi, Adrian ada undangan pernikahan rekan seangkatannya.
Resepsi pernikahan yang bertema outdoor, mengambil Sarangan sebagai saksi bisu perjalanan cinta mereka.
Dari semua teman seangkatan, hanya tinggal Adrian yang belum menikah. Bahkan setiap mereka menikah satu persatu, hanya Adrian pula yang tidak membawa pendamping.
Tapi tidak untuk kali ini, besok dia akan pamerkan bidadari cantik yang Allah hadiahkan untuknya.
Tanpa sepengetahuan Lyvia, Adrian ingin mengajak Lyvia untuk mendampingi nya. Adrian sudah menyiapkan gaun lengkap dengan tas dan sepatu yang akan dikenakan Lyvia sebagai pelengkap kesempurnaan wajahnya.
Sebelum berangkat Adrian juga sudah minta izin kepada ibu Lyvia ketika Lyvia sedang bersiap di kamarnya.
*Flash back on
"Ibu...mohon izin, saya mau ajak Lyvia menemani saya menghadiri resepsi pernikahan rekan sesama polisi di Magetan besok." pintaku memohon izin.
"Besok, Jadi kalian mau menginap ? tapi Lyvia tidak bilang sama Ibu." tanya Ibunya heran, karena biasanya setiap ada acara pasti Lyvia menceritakan kepada ibunya.
"Iya Bu...memang Lyvia belum tau, dan sengaja belum saya kasih tau." jelas Adrian.
"Karena saya yakin kalau saya sampaikan lebih dulu, dia pasti akan menolaknya." lanjutnya lagi.
"Ibu percaya sama Nak Adrian...ibu mengizinkan, asalkan Nak Adrian berjanji untuk menjaga anak Ibu." pinta Ibu.
"Insha Allah.... Adrian pasti akan menjaga Lyvia dengan baik." katanya meyakinkan Ibu.
"Tapi...kalau Lyvia tidak diberi tahu, pasti dia tidak membawa gaun yang cocok untuk acara nanti Nak." tanya ibu waktu itu.
"Tidak apa-apa Bu... Adrian sudah menyiapkan gaun yang akan dipakai Lyvia nanti." Semua sudah terencana, jadi tidak mungkin Adrian akan membiarkan Lyvia mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan acara yang akan dia hadiri.
"Ya sudah...kalian hati-hati ya, ibu yakin Nak Adrian bisa menjaga Amanah."
"Aamiin... terimakasih atas izinnya Bu."
*Flash back off
Itulah sekelumit percakapan Adrian dan Ibu waktu itu. Dan mereka menghentikan obrolannya setelah melihat Lyvia mendekat ke arah mereka.
Sesampainya di lokasi Adrian memarkirkan mobilnya di sebuah Villa. Dia turun terlebih dahulu dan mendekati seseorang. Entah apa yang mereka bicarakan. Lyvia hanya mengamatinya dari dalam mobil.
"Sayang...turun yuk." ajaknya sembari membukakan pintu mobilnya. Lyvia hanya menurut tanpa sepatah katapun.
Seorang bapak-bapak paruh baya yang tadi berbincang dengan Adrian, sekarang sedang membantu Adrian mengeluarkan travel bag dari dalam bagasi.
"Oya Pak...ada keranjang oleh-oleh titipan dari Mama, nanti Bapak ambil dibawa pulang ya ?" kata Adrian.
"Iya Mas.... terimakasih banyak, kalau kangen mau kesini, kesini saja... tidak usah bawa oleh-oleh segala." jawab Pak Amat.
"Oya Pak... kenalkan, ini Lyvia...Insha Allah akan menjadi pendamping saya kelak." sambung Adrian memperkenalkan kekasihnya.
"Lyvia." jawab Lyvia menjabat tangan Pak Amat.
"Pak Amat Neng...saya yang merawat dan menjaga Villa Mas Adrian disini." terang pak Amat.
"Rumah Bapak di sebrang sana... kalau ada waktu silahkan mampir di gubuk bapak."
Lyvia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Mas...kok bawa Travel Bag, punya siapa itu ? Terus ngapain kita berhenti disini ?" Tanya Lyvia yang masih belum paham kenapa Adrian membawa Travel Bag dan kenapa dia berhenti di Villa ini.
"Punya saya...ayo, nanti aku jelasin di dalam." Ditariknya tangan Lyvia untuk mengikuti langkah Adrian.
"Silahkan Mas Adri...selamat istirahat, saya tinggal dulu."
"Terimakasih Pak Amat, nanti saya hubungi kalau saya perlu sesuatu."
Pria baruh baya yang sebelumnya sempat diperkenalkan oleh Adrian padaku sebagai orang yang merawat Villa miliknya ini, kini telah meninggalkan kami berdua.
Lyvia mengamati sekeliling Villa. Tempat ini nyaman, bersih dan rapi. Jauh dari kebisingan dan polusi kota. Udaranya yang sejuk, mulai dingin ketika malam hari.
'Jadi ini Villa milik Adrian, terus ngapain dia ajak aku kesini, bawa travel bag... sedangkan aku tidak bawa pakaian ganti sama sekali.' pertanyaan itu masih memutar-mutar di kepala Lyvia.
Lyvia berdiri, di teras dalam sebelah Villa terdapat taman bunga yang tertata rapi. Tidak akan pernah jenuh bagi setiap mata yang memandang. Disana juga terlihat tumbuh bunga mawar warna jingga kesukaannya.
"Kamu suka ?" bisik Adrian yang kini memeluknya dari belakang. Dia sandarkan kepalanya di pundak Lyvia.
"Pak Amat sudah memetiknya untukmu." Memang sebelum memasuki taman belakang, Lyvia melihat ada Vas bunga dengan beberapa mawar di dalamnya, tertata rapi di setiap meja yang ada disudut ruangan.
Lyvia memegang kedua tangan Adrian yang melingkar di pinggangnya, bermaksud ingin melepaskannya. Namun Adrian menguncinya lebih erat.
"Tolong jelaskan apa maksud tujuan kita kesini." Adrian menatap wajah Lyvia.
"Sayang....aku sudah minta izin sama ibu untuk mengajakmu menghadiri resepsi pernikahan rekan kerjaku di sini. Besok pagi jam 9, diadakan pernikahan secara militer. dan malamnya pesta kebun." jelasnya panjang kali lebar.
Lyvia hanya bengong mendengarnya. Bagaimana bisa.... sedangkan dia tidak ada persiapan sama sekali. bahkan baju untuk tidur aja dia tidak membawanya.
"Jangan khawatir, aku sudah siapkan kebaya yang akan kau kenakan...besok pagi juga akan ada tukang rias yang datang meriasmu." Seolah paham dengan kegundahan Lyvia saat ini.
"Bukan begitu...tapi aku."
"Kenapa ? malu... canggung ? kan ada aku, kamu tinggal diam mendampingi ku, itung-itung belajar jadi Nyonya Novel adrian maulana."
"Tapi...a..aku."
"Kenapa lagi ?" lotong Adrian sambil mengangkat dagu Lyvia, wajah mereka begitu dekat. Hingga terasa hembusan nafas keduanya.
Adrian menarik tubuh Lyvia kedalam pelukannya. Dikecupnya bibir Lyvia lembut. Tanpa perlawanan Lyvia hanya membelalakkan matanya.
Adrian dengan rakus meciup dan menggigit kecil bibir Lyvia. Lyvia mendorong pelan dada Adrian. Ia takut mereka terlena lebih dalam.
"Mas...a..aku kan tidak bawa baju ganti dan pakaian dalam." kataku malu-malu.
*Hahahahahhahahah.....
Suara riuh ketawa Adrian membuat pipi Via merona merah.
"Via....disini banyak toko yang jual, habis ini kita beli ya ?" jawab Adrian.
"Atau....kamu mau pakai punyaku ?" tambahnya menggoda ku.
Cubitan kecil mendarat di pinggangnya. Adrian menarik tubuh Lyvia. Dikunci tubuh mungil Lyvia dalam pelukannya.
Dunia serasa milik berdua. Tidak ada pembatas yang akan memisahkan mereka. Canda dua insan yang sedang dimabuk cinta.
Banyak celah untuk melakukan hal diluar jalur. Tapi mereka bukan ABG lagi. mereka tau mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dihindari.
Lyvia asyik menikmati pemandangan indah yang ada di sekitar Vila sambil menikmati ranumnya buah strawberry yang tadi mereka petik.
~ ------------------------------
~ ------------------------------
~ ------------------------------
Semua serb natural...😍😍😘
Lanjut ah...😗😗