Maya terpaksa menggantikan ibu nya yang tengah sakit untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang pengusaha kaya raya yang sudah memiliki seorang istri yang berprofesi sebagai model.
Karna kesibukan sang istri yang begitu padat membuat Alvian lebih banyak mengahabiskan waktunya di rumah bersama pembantunya daripada dengan istrinya sendiri, hingga pada suatu hari ia melakukan kesalahan yang fatal terhadap pembantunya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raisya ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Setelah pulang kuliah, Maya langsung bergegas mengerjakan tugasnya sebagai ART, ia langsung pergi ke dapur untuk masak dan menyiapkan makanan untuk majikannya, masakan yang ia buat harus sudah selesai sebelum majikannya pulang, ia tidak ingin mengecewakan Alvian yang sudah membiayai kuliahnya, ia akan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, membagi waktu antara kuliah dan juga pekerjaannya.
Setelah selesai memasak dan melakukan pekerjaan yang lainnya, Maya Masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu untuk mandi dan berganti pakaian, kemudian ia beristirahat sebentar sambil menunggu majikannya pulang dari kantor, Maya menghabiskan waktunya dengan membaca buku, sambil bersandar di atas tempat tidur.
Saat Maya tengah asik membaca buku, tiba-tiba ponselnya berdering, Maya segera mengambil ponsel tersebut dari dalam tasnya, ia lupa belum memeriksa ponselnya sejak ia pulang kuliah tadi, ternyata nama Farel yang tertera di layar ponsel Maya, Maya segera menyentuh tombol hijau untuk menerima panggilan dari Farel.
"Halo El..." ucap Maya seraya membenamkan Ponsel tersebut ditelinga nya.
"Pacar...kok kamu gak bales chat aku dari tadi, aku telepon juga gak di angkat, kamu kemana aja Pacar, aku kangen sama kamu" ucap Farel dengan segerombol pertanyaan.
"Maaf El...aku baru sempet pegang hp, tadi pulang dari kampus aku langsung masak. Tadi siang kan kita baru ketemu El... masa udah kangen lagi" ucap Maya heran.
"Tadi siang kan kita cuma ketemu sebentar May... buat aku itu masih kurang, aku masih pengen berduaan sama kamu" jelas Farel.
"Lebay banget sih kamu El... kaya anak ABG Aja" ucap Maya sambil tersenyum.
"Aku serius pacar... aku masih kangen sama kamu, tadi pas kuliah bubar aku nyariin kamu, aku mau nganterin kamu pulang, tapi kamu nya udah gak ada, aku telponin juga gak di angkat" ucap Farel tampak kecewa.
"Maaf El... tadi aku buru-buru, soalnya aku harus masak, Oia El... ada yang mau aku ceritain sama kamu, sebenarnya sekarang aku_" ucap Maya hendak memberitahu pekerjaan nya saat ini, namun tiba-tiba terdengar suara bel rumah.
"El... maaf ya, aku tutup dulu telponnya" ucap Maya sambil beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu, sebab ia yakin itu adalah majikannya.
"Tapi May..." sebelum Farel selesai berbicara, Maya sudah terlebih dahulu mematikan panggilannya.
"Selamat sore Tuan" ucap Maya saat membuka pintu untuk majikannya.
"Sore May.. kamu sudah pulang kuliah" tanya Alvian sambil masuk ke dalam rumah.
"Sudah Tuan... sudah sejak tadi" jawab Maya seraya mengikuti Alvian dari belakang.
"Gimana kuliah kamu hari ini May... apa kamu kesulitan untuk membagi waktu" tanya Alvian sambil menyimpan tas kerjanya di atas meja, lalu ia mendaratkan tubuhnya di atas Sofa sambil membuka jasnya dan melonggarkan dasinya, kemudian ia menggulung tangan kemejanya sampai ke siku.
"Nggak Tuan... semuanya masih bisa saya handle, saya bisa menyelesaikan tugas kuliah dan tugas rumah tanpa ada kendala" jelas Maya.
"Bagus lah kalau begitu saya suka dengan semangat kamu" ucap Alvian kagum.
"Makasih Tuan..."
"Oia, apa tuan mau makan sekarang, tadi saya sudah selesai memasak" tanya Maya.
"Nanti saja May, saya mau mandi dulu dan ganti pakaian" jawab Alvian sambil beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamar.
Beberapa saat kemudian bel rumah kembali berbunyi, Maya pun langsung bergegas membukakan pintu.
"Selamat sore nyonya" Ucap Maya sopan.
"Apa suami saya sudah pulang"Tanya Bella tanpa menjawab ucapan Maya.
"Sudah Nyonya, Tuan baru saja pulang, sekarang Tuan ada di kamarnya" jelas Maya, dan lagi-lagi Bella pun tidak menjawab ucapan Maya, ia pergi begitu saja menyusul suaminya.
"Judes banget sih istrinya Tuan Alvian, mentang-mentang kaya dan juga cantik, kok bisa ya orang sebaik pak Alvian jatuh cinta sama cewek kaya gitu, kepribadian mereka bener-bener berbeda seratus delapan puluh derajat, dia bener-bener gak bersyukur punya suami baik, ganteng dan juga kaya, tapi tetep aja pengen kerja jadi model, kalau saja jadi dia mah mending di rumah aja ngurus suami dan jadi istri yang baik, gak udah capek-capek kerja" gumam Maya kesal.
"Hai sayang... kamu sudah pulang, maaf ya aku telat pulangnya" ucap Bela saat ia masuk ke dalam kamar, saat itu Alvian barusaja selesai mandi, Bella langsung mencium pipi Suaminya yang masih tampak basah, kemudian Bella menyimpan tasnya di atas tempat tidur lalu ia duduk di atas tempat tidur tersebut untuk membuka High heels nya, Bella tampak tidak peduli dengan wajah suaminya yang tampak kesal.
"Kamu pergi kemana dulu, bukannya tadi kamu bilang kalau pemotretan nya selesai jam dua belas siang" tanya Alvian seraya mengambil pakaiannya.
"Tadi aku ke salon dulu sayang... setelah itu aku ke Caffe janjian sama temen-temen model yang lainnya" Jawab Bella tanpa merasa bersalah, ia malah sibuk melepaskan perhiasan nya.
"Oia sayang ... besok pagi aku ada pemotretan di Bali, jadi malam ini aku harus sudah berangkat kesana" ucap Bela sambil beranjak dari tempat tidurnya.
"Ke Bali ? bukannya kamu baru kemarin pulang dari luar Negri" ucap Alvian dengan tatapan tajam, ia baru saja selesai mengenakan pakaian, yang di tatap tampak tidak peduli samasekali.
"Ya mau bagaimana lagi sayang... ini sudah menjadi resiko dari pekerjaan aku" jawab Bella tanpa merasa bersalah.
"Lalu kapan kamu ada waktu buat aku, pokoknya aku gak akan mengijinkan kamu pergi kesana, mulai sekarang sebaiknya kamu berhenti dari pekerjaan kamu" tegas Alvian.
"Al... kamu ini apa-apaan sih, kan kita sudah sering membahas masalah ini, pokok nya dengan atau tanpa ijin dari kamu aku akan tetap berangkat, kamu tidak bisa melarang-larang aku untuk berangkat" jawab Bella tidak terima.
"Saya suami kamu, jadi saya mempunyai hak untuk melarang kamu, mulai sekarang kamu tinggalkan pekerjaan kamu, kamu cukup jadi istri yang baik untuk aku, aku masih mampu menafkahi kamu, aku akan memberikan apapun yang kamu mau, apa masih kurang semua kekayaan yang aku miliki" Bentak Alvian.
"Al... sudah berkali-kali aku bilang sama kamu, aku bekerja jadi model bukan semata-mata untuk mendapatkan uang, Ini adalah hobi aku, impian aku sejak kecil, aku melakukan pekerjaan ini karna aku menyukainya, aku bahagia dengan semua ini, kamu tau itu kan al" ucap Bella tidak mau kalah.
"Tapi saat ini kamu sudah menjadi seorang istri, kamu harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dan juga karir" jelas Alvian lagi.
"Al... apa kamu lupa kita sudah mempunyai kesempatan sebelumnya, dulu kamu udah janji sama aku kalau kamu gak akan pernah meminta aku untuk meninggalkan pekerjaan aku, dulu kamu yang memaksa aku untuk menikah dengan kamu, padahal saat itu aku belum siap untuk menikah, aku masih ingin mengejar karir aku, mewujudkan impian aku, tapi dulu kamu terus membujuk aku, kamu bilang sama aku kalau aku masih tetap bisa berkarir walaupun sudah menikah, kamu juga bilang kamu gak akan pernah meminta aku untuk berhenti, hingga akhirnya aku setuju untuk menikah dengan kamu, jadi aku tegaskan sama kamu, kalau kamu gak punya hak untuk mengatur-atur hidup aku" Bella adalah wanita yang paling tidak suka di atur-atur.
"Tapi Bel..."ucap Alvian yang sudah tidak tau harus berkata apa lagi.
"Sudah cukup Al, aku capek berdebat terus dengan kamu, lebih baik aku berangkat sekarang, percuma aku di rumah juga kalau kamu terus bersikap seperti ini" ucap Bella seraya memasukan pakaiannya ke dalam koper, dan kemudian ia menarik koper tersebut dan berjalan menuju keluar melewati Alvian begitu saja.
"Bel... tunggu Bel, aku belum selesai bicara" ucap Alvian menghentikan Bella, namun Bella sama sekali tidak menghiraukannya, Bella tetep berjalan keluar kamar dan menutup kembali pintu kamarnya dengan sangat kencang..
"Aaaaaaaaaaa" teriak Alvian seraya menjambak rambutnya sambil menunduk, ia benar-benar sudah tau apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi permasalah dalam rumah tangga nya itu, rasa cintanya terhadap Bella membuat dirinya lemah, ia tidak bisa tegas dalam mengambil keputusan, kalau saja ia tidak mencintai Bella, pasti ia sudah menceraikan Bella sejak dulu, namun apalah daya, rasa cintanya terhadap Bella begitu besar, hingga ia tidak mampu mengambil keputusan itu.