Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadirannya!
Di tengah keheningan istirahat yang mencekam, rasa lelah yang luar biasa perlahan-lahan mengikis kesadaran Sri. Tubuhnya yang didera keletihan fisik dan mental seolah tak lagi mampu menopang kesadarannya lagi.
Secara misterius, kabut tebal tiba-tiba turun menyelimuti area di sekitar pohon besar tempatnya bersandar.
Kabut itu datang begitu cepat dan pekat, memisahkan dirinya dari Pak Basri, Bagas, dan yang lainnya. Suasana mendadak senyap secara total.
Bahkan desau angin yang berisik dan gemerisik dedaunan hutan yang semula meneror pendengarannya, kini lenyap tak berbekas. Dunia seolah dikosongkan, menyisakan Sri seorang diri dalam dimensi yang asing.
"Sri anakku!"
Sebuah suara lembut memecah kesunyian yang membekukan itu. Sri tersentak. Kesadarannya yang hampir padam mendadak dipaksa terjaga.
Dari balik lamat-lamat kabut putih yang berputar perlahan, ia melihat siluet seorang perempuan berjalan datang menghampirinya.
Semakin dekat, sosok itu menjadi semakin jelas dan nyata. Perempuan itu memiliki wajah yang amat cantik, memancarkan yang aura anggun.
Namun, yang membuat jantung Sri berdebar lebih kencang adalah gurat wajah perempuan itu, begitu akrab, dan begitu mirip dengan guratan wajah yang biasa Sri lihat di cermin setiap hari.
Perempuan itu melangkah tanpa suara di atas hamparan dedaunan kering, seolah melayang ringan tanpa menyentuh bumi.
Ketika jarak mereka mengikis habis, ia mengulurkan tangan kanannya yang terasa hangat, lalu menyentuh pipi Sri dengan sangat lembut.
"Kau sudah besar, Nak," kata perempuan itu. Suaranya terdengar begitu merdu, mengalun bagai simfoni indah yang seketika menenangkan jiwa Sri yang semula tegang dan dipenuhi kecemasan.
Matanya yang teduh kini berkaca-kaca, menatap lekat ke dalam manik mata Sri seolah sedang menyalurkan seluruh kerinduan yang terpendam sekian lama.
"Ibu rindu padamu," ucapnya lagi, lantas mengelus pipi Sri penuh kasih sayang.
Sentuhan itu terasa begitu nyata, menyalurkan rasa hangat dengan udara dingin hutan yang sedari tadi menusuk tulang.
Sri hanya bisa diam memandangi perempuan di depannya dengan dahi berkerut heran. Lidahnya mendadak kelu, tak mampu memproduksi satu kata pun.
Otaknya berusaha mencerna situasi ganjil ini, namun kehangatan yang mengalir dari jemari perempuan itu membuat tak bisa berkutik, dia hanya bisa diam memandangi wajah cantik itu dengan kagum.
"Lela pasti menjagamu dengan baik," katanya lagi. Sebuah senyum tulus mengembang di wajah cantiknya, sementara jemarinya masih setia mengelus pipi Sri dengan penuh kelembutan yang menenggelamkan.
Mendengar nama itu disebut, dada Sri berdesir hebat. Lela adalah ibunya, sosok yang selama ini membesarkannya.
Pertanyaan-pertanyaan langsung berputar hebat di kepala Sri, saling tumpang tindih berebut jawaban.
Bagaimana perempuan asing ini tahu tentang ibunya? Mengapa ia menyebut dirinya sendiri sebagai Ibu di hadapan Sri? Dan yang paling membingungkan, mengapa sentuhan ini terasa begitu nyata, seolah mampu menghapus seluruh rasa dingin dan ketakutan yang menjeratnya di hutan ini?
Sri ingin sekali membuka mulut. Ia ingin berteriak dan bertanya bagaimana semua keanehan ini bisa terjadi, serta dari mana perempuan itu mengenal ibunya.
Di tengah hutan lebat yang menyesatkan dan jauh dari peradaban ini, bagaimana mungkin perempuan berpakaian anggun ini bisa ada di sini?
Namun, tenggorokannya bagai dikunci rapat. Ia hanya bisa terpaku, membiarkan dirinya tenggelam dalam tatapan mata perempuan yang begitu mirip dengannya itu, seakan waktu telah berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.
"Ibu sudah lama menunggumu, Nak. Akhirnya Ibu bisa melihatmu langsung," katanya lagi, suaranya bergetar hebat menahan tangis kebahagiaan yang meluap.
Setetes air mata tampak bergulir di pipi perempuan itu, berkilau indah di antara temaram kabut yang kian lama kian menebal, mengisolasi mereka dari dunia luar.
Kata-kata itu terdengar begitu syahdu, merayap masuk ke dalam relung hati Sri yang terdalam.
Rasa asing dan curiga yang sempat hinggap di benak Sri perlahan-lahan menguap bagai embun terpapar matahari, digantikan oleh kehangatan api unggun yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Di bawah tatapan penuh kasih yang menghipnotis itu, Sri merasa seolah semua beban, lelah, dan ketakutannya di hutan ini lenyap tak berbekas, membawanya hanyut lebih dalam ke dalam dekapan fana sang penjemput misterius.