Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.
Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.
Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.
Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
008. Episode 08
Reyza membuka laptop dan mengenakan headphone-nya. Dengan sebungkus Lies dan segelas Choco Cola, ia memutar lagu klasik favoritnya, Introduction et Rondo Capriccioso Op. 28², karya komposer terkenal, Camille Saint-Saëns³.
Ia kemudian iseng mengambil kotak perekam suara tadi dan menyambungkannya ke laptop dengan kabel data. Dicarinya file rekaman tadi dari 47 file rekaman tidak berfaedah yang terdapat di sana. Ia memutar file rekaman tadi sambil tertawa geli. Setiap detik dilaluinya dengan khidmat, sampai sebuah tepukan melayang di pundaknya.
“Hmmm?” gumam Reyza sembari menoleh ke arah seseorang yang menepuknya dan melepas headphone dari kepalanya lalu dikalungkan di lehernya. “Oh, kamu ternyata. Ada apa?”
“Ah, anu—“ katanya ragu sambil menggaruk kepala, “—aku ingin kita bicara. Tapi jangan di sini.”
“Boleh.” Reyza menjawab datar tanpa pikir panjang sambil memasukkan seperangkat alat elektroniknya. Ia lalu berjalan mengikuti Adeth ke kamar mandi sekolah. Setelah menutup pintu, mereka duduk di kursi depan wastafel. Reyza menunggu Adeth bicara. Namun, kawannya malah melamun.
“Hei, kok, malah bengong. Katanya mau bicara,” ujar Reyza gemas melihat tingkah temannya.
“Oh, i-iya. Maaf.”
“Buruan, keburu setoran file orkestra buat nanti malam ini.”
“Dih, jahatnya.”
“Biarin. Semua musisi menurutku jahat.”
“Hah, apaan? Dih, nggak nyambung.”
“Nyambung. Kamu saja yang putus.”
“Jadi begini,” ujar Adeth keras memulai sekaligus menghentikan perdebatan, “sebenarnya tadi aku sempat melihat kamu di lorong bersama tiga anak XI-VIII IPA itu.”
Duh, terpaksa bohong lagi, ujar Adeth dalam hati.
Reyza mengernyitkan dahi mencerna kata-kata Adeth.
“Oh, mereka,” jawab Reyza dingin. “Hanya sebuah pembicaraan yang tidak berguna, tenang saja.”
“Tapi ….”
“Tapi apa?”
“Tadi aku sempat mendengar kamu berteriak tadi, dan ….”
“Dan …?” ujar Reyza mengulangi kata-kata Adeth yang menggantung di udara.
Uh, sepertinya yang tentang pertemuanku dengan Nita saat bersama Kak Bimo tadi tidak perlu kutanyakan, deh, kata Adeth bimbang dalam hati.
“Sudah itu saja.” Adeth mengakhiri pertanyaannya dengan senyuman lebar.
Reyza hanya menghela napas. “Begini. Sebenarnya tadi kami hanya latihan drama untuk diesnatalis SMA sebentar lagi. Nah, lalu tanpa sengaja kami bertemu di koridor. Dan setelah itu kita memutuskan untuk berlatih di situ sebentar. Mungkin waktu kamu lewat, aku sedang berlatih adegan saat tertangkap.”
Adeth menganggukkan kepalanya yang terasa berat. Ia masih merasa sangat kurang puas dengan jawaban dari temannya tersebut. Di sisi lain, Reyza merasa sangat bersalah telah membohongi temannya tersebut. Namun, jika ia mengatakan yang sebenarnya, itu sama saja dengan bunuh diri.
“Sudah? Itu saja?” tanya Reyza yang disambut anggukan sekali dari Adeth. “Kalau begitu aku akan kembali ke kelas. Kau tetap di sini?”
“Ya, terimakasih.”
Reyza kemudian menganggukkan kepala sekali kemudian pergi. Dalam perjalanan menuju kelas, ia ditimpa oleh berbagai macam rasa bersalah. Entah bersalah karena telah membohongi temannya, bersalah karena telah membuat kontrak yang seharusnya ia hindari, atau bersalah karena telah melakukan keduanya.
Reyza kemudian berjalan menuju kelas dengan perasaan campur aduk. Ia lakukan kembali ritualnya yang sempat tertunda, sambil sejenak melupakan kejadian yang baru saja ia alami.
Di tempat lain, Adeth merasa semua orang berusaha menutupi sesuatu darinya. Ia merasa bimbang harus melakukan apa. Ia tak berani mengambil langkah maju, maupun mundur. Ia terjebak dalam situasi tersebut saat ini.
Akhirnya, Adeth memutuskan untuk pergi ke Sanggar Pramuka untuk sekedar menenangkan diri, atau untuk mencari udara segar.
Saat ia membuka pintu, ia kaget bukan kepalang mendapati Denave ada di sana. Denave yang sadar akan keberadaan manusia lain selain dirinya menolehkan wajah ke arah Adeth.
“Halo,” sapanya singkat dengan senyum manis.
“You? Why you’re in here?” tanya Adeth sambil masuk dan mendudukkan diri pada salah satu kursi di sana.
“Kita pakai Bahasa Indonesia saja. Aku juga biar sedikit-sedikit belajar,” jawab Denave mengejutkan Adeth yang bahkan kemampuan berbahasanya terlampau jauh dari kata “belajar”.
“Eh? Kamu bisa Bahasa Indonesia juga ternyata. Lancar banget, pula,” sahut Adeth dengan muka tak percaya. Denave tertawa ringan. “Lalu, mengapa kau tadi pakai bahasa Inggris? Dasar, laki-laki aneh.”
“Tidak, bukan apa-apa,” jawab Denave kembali. Ia kemudian menatap Adeth dan menyadari bahwa gadis itu dalam keadaan tak baik sekarang ini. “Kau baik-baik saja? Kamu terlihat kacau. Apa ada sesuatu yang terjadi padamu? Coba cerita padaku jika kamu merasa tidak keberatan.”
“Ah … itu ….” Adeth diam untuk sejenak. Dia merasa bimbang. Di sisi lain dia ingin berbagi perasaan yang sedang dialaminya, namun sisi lainnya juga mengatakan ‘jangan mencurahkan segalanya kepada seorang lelaki yang baru kau kenal’.
“S-sebenarnya, aku …,” ujar Adeth tiba-tiba yang mendapat lirikan antusias dari Denave. “Entah kenapa untuk sekarang ini aku merasa semua orang berusaha menutupi sesuatu dariku. Aku sebenarnya benci mengatakan ini. Tapi, jika keadaannya memang begini, aku juga tidak bisa mengarangnya.”
“Pasti sakit, ya, dikhianati teman sendiri meskipun kecil saja.”
“Ya, kamu benar. Aku tidak tahu harus bicara dengan siapa lagi. A-aku hanya ingin didengarkan, untuk saat ini, tidak lebih. Setidaknya jangan mengguruiku waktu aku sedang berbicara. Sebenarnya hanya itu saja. Tapi, mereka hanya selalu memikirkan perasaannya sendiri. Aku ….” Tanpa mampu berucap lebih lagi, butiran air mata membanjiri pelupuk mata Adeth. Membanjiri matanya yang indah dengan sesuatu yang tak sepantasnya ada di sana.
Denave merasa iba. Sejenak dirinya mau membantu Adeth. Namun, niat itu diurungkannya karena Adeth melanjutkan ceritanya.
“Tapi, sebenarnya aku—bukannya menyombongkan diri—selalu memandang orang dari sisi positif mereka. Aku juga tidak pernah memikirkan hal negatif tentang mereka. Dan sekarang, apa yang kudapat? Inikah bentuk penghargaan mereka terhadapku? Hidup ini… kejam, ya.”
Denave mengangguk beberapa kali. Ia buat dirinya senyaman mungkin di kursi. Matanya terpejam dan kepalanya mendongak ke atas, membiarkan rambut-pirang-pendek-panjang-di-tengahnya tergerai ke bawah. Tubuhnya yang disinari matahari siang menjelang sore yang mengintip dari ventilasi udara membuat dirinya terlihat sangat keren. Hampir sama keren dengan Bimo.
“Ya, menurutku, sifatmu itu hampir sama denganku sebenarnya. Dan aku tidak tahu, apa yang aku harus dilakukan oleh ‘diriku yang dulu’ saat menjumpai masalah yang sama denganmu.”
Denave mengangkat kaki kanannya perlahan dan disilangkannya di atas kaki kirinya.
“Aku juga sempat merasa putus asa waktu itu. Aku meminta orangtuaku untuk pindah rumah dan sekolah—saat aku duduk di bangku sekolah menengah pertama—di Melbourne. Ya, syukurlah mereka menyetujuiku dengan mudahnya. Entah kenapa. Setelah aku mendapat banyak teman-teman baru, aku mulai sadar. Bahwa setiap manusia punya suatu hal yang tidak semua orang boleh tahu. Dan yang terpenting, terkadang seseorang menyembunyikan sesuatu untuk menyelamatkan sesuatu juga.”
Denave bangkit. Berjalan ke luar sanggar. Satu tangannya disembunyikan dalam saku celana panjangnya. Seragam itu masih baru dengan bau khas kain yang belum pernah dipakai.
Adeth tertegun. Dirinya sadar, bahwa semua perkataan Denave benar.
Mungkin saja, Reyza menyembunyikan sesuatu untuk kebaikanku. Mungkin Kak Bimo bersikap dingin juga untuk melindungiku. Dan mungkin, Denave berkata seolah-olah dia tahu semuanya, juga karena untuk kebaikan diriku di masa depan, ujar Adeth dengan perasaan lega dalam hati.
Adeth berdiri dengan mantap. Ia berlari keluar sanggar menerjang Denave yang berdiri di ambang pintu. Denave yang terkejut spontan menarik lengan Adeth, persis seperti apa yang dilakukan Bimo tadi.
“Eh? Mau ke mana?”
“Ke kelas. Kalau ada perlu, datang saja atau kabari aku, ya.”
“Aku bahkan tidak tahu kelasmu.”
“XI-III English.”
Setelah mengucapkan itu, Adeth berlari kencang menuju kelas. Langkah sepatunya makin lama makin lirih terdengar oleh Denave. Dengan satu gerakan cepat, ia kibaskan rambut pirangnya ke belakang, membuat keningnya yang agak lebar kelihatan. Bekas pukulan, ada di ujung kening itu. Bekas yang terjadi saat dia di-bully beberapa waktu lalu. Yang menjadi alasan kepindahannya ke sini. Ia pejamkan mata dalam-dalam seolah mengalami kesakitan.
Jangan sampai apa yang terjadi padaku terjadi padamu juga, Adeth. Tunggu … namanya benar Adeth, kan?
___________________________________
²Introduction et Rondo Capriccioso Op. 28\= sebuah musik klasik karya Camille Saint-Saëns, yang dipersembahkan untuk komposer terkenal, Pablo de Sarasate, atas kematiannya.
³Camille Saint-Saëns\= komposer, violinis, pianis, dan pemain organ asal Prancis.
Ada yang suka musik klasik? Hihi.
Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
bocah Kambil itu apa ya artinya??
salken
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,