Nata Putri Ananta, seorang gadis cantik yang selalu ramah kepada semua orang. Namun, memiliki ketidakpekaan terhadap situasi di sekitarnya.
Vero Putra, seorang cowok yang menyukai Nata dalam diam, tanpa berani mengungkapkan. Hingga ia berani mengungkapkannya tahap demi tahap.
Lalu gimana kelanjutannya, apakah Vero berhasil meluluhkan hati gadis yang tidak peka? atau ia gagal dalam misinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan.
Pagi ini cuaca mendung seperti ingin menangis, matahari seperti tak mau muncul dan hujan pun hendak turun. Suasana rumah yang sunyi menambah kesepianku. Sudah beberapa hari ayah dirumah sakit. Tapi ayah tak kunjung siuman, dokter bilang ayah mengalami koma dan tak tau kapan akan siuman. Bisa jadi besok, lusa, minggu depan, bulan depan, bahkan tahun depan.
Seketika hati ku hancur mendengar tuturan dokter itu. Entah kenapa air mataku berjatuhan begitu saja tanpa aba aba.
Sejak hari itu aku terus kembali kerumah sakit melihat perkembangan ayah. Tapi bukan perkembangan yang ku dapat malah kondisi ayah makin memburuk.
Aku bersumpah akan mencari siapa pelaku yang menabrak ayah. Tapi bunda terus melarang ku. Keinginan ku untuk mencari siapa pelaku yang menabrak ayah gak akan lepas begitu saja olehku. Jika bunda melarangku, bukan berarti aku tak bisa mencari tau diam diam.
Aku nekat mencari tau siapa pelaku yang telah menabrak ayah. Awalnya aku mau cari tau sendiri. Tapi vivi, leo dan ratih memaksa ingin ikut membantu.
Sekarang disinilah aku, dirumah yang sepi tanpa kehadiran ayah ataupun bunda. Aku duduk disofa ruang tamu menunggu kedatangan para sahabatku.
Hari ini kami berencana mencari tau siapa pelaku yang menabrak ayah. Kami mengawalinya dengan mencari tau melalui cctv disekitar jalan itu. Walaupun aku tau kalau kecelakaan itu terjadi karna kecerobohan ayah. Tapi tak seharusnya orang itu pergi begitu saja tanpa membawa ayah kerumah sakit terlebih dahulu.
Akhirnya orang yang ku tunggu-tunggu datang juga. Aku segera menghampiri mereka.
"Kalian kemana si? lama banget" makiku.
"Maaf ta, itu si vivi dandannya lama banget" jawab ratih yang sedang menyetir mobil.
"Yaudah ayo berangkat" kataku.
"Kita mau kemana dulu ta?" tanya ratih.
"Kita pergi kejalan tempat ayah kecelakaan aku mau liat cctv daerah situ."
"Ok"
****
Aku mengamati jalanan itu dengan teliti. Aku tak mau sedikitpun ada yang terlewat. Mata ku terhenti pada sebuah cctv yang terletak disebuah perkantoran. Dari letak cctv itu pasti ia menangkap semua kejadian yang ada dijalan ini.
"Gays, kita kesitu yuk".
"Ngapain ta?" tanya leo.
"Disitu ada cctv, dari letaknya pasti dia nangkap semua kejadian yang ada dijalan ini, kecuali~" bengongku.
"Kecuali apa ta?" tanya ratih.
"Kecuali cctv itu baru dipasang kemarin, atau kemarin lusa, pasti dia gak akan bisa nangkap kejadian waktu itu". Aku merasa putus asa dengan ucapan ku sendiri. Karena memang kejadian tabrakan ayah udah terjadi sekitar lebih dari satu mingguan. Mengingat itu air mataku kembali tergenang dipelupuk mataku. Bagaimana ayah yang kondisinya makin memburuk. Dan bunda yang semakin hari semakin hancur melihat ayah yang tak kunjung sadar tapi malah memburuk. Apakah aku anak yang baik malah memilih mencari tau siapa pelaku yang menabrak ayah dari pada merawat ayah. Tapi tidak aku yang memulai semua ini. Aku gak boleh nyerah sama keputusan aku buat cari tau siapa pelaku yang nabrak ayah.
"Ta!".
"Nata!!" teriak ratih membuyarkan semua pikiran yang ada dalam benakku.
"Eeh iya tih, ada apa?".
"Kok bengong si, jadi gak pergi ke kantor itu?".
"Gak kok aku gak bengong, aku cuman lagi mikir aja, yaudah ayo kekantor itu".
"Iya" jawab para sahabatku sambil mengangguk.
gitu aja, thor??
payaahhh
kl vero gk. prnh percaya
pusing aqu
double date nih....
serasa baca diary
semangat kak