NovelToon NovelToon
Tania (Tatapan Tanpa Rasa )

Tania (Tatapan Tanpa Rasa )

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:557.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Komalasari

Membaca novel ini, bisa menyebabkan shampo di rumah cepat habis.

Kehidupan Natahania berubah total setelah diperistri Elang Adhitama Gunardi, pria yang merupakan pemilik rumah tempatnya bekerja. Nathania yang polos, harus bisa mengimbangi gaya hidup Elang yang jauh berbeda dengannya. Dia kebingungan menentukan rasa, yang tak pernah Elang tunjukan dengan jelas. Kecewa, Nathania memutuskan pergi.

Apa yang Nathania lakukan berhasi membuat Elang sadar. Pria itu berusaha mencari dan membawanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Elang

Pagi-pagi sekali Nathania sudah membersihkan Aida. Wanita tua itu tersenyum ketika Nathania memberinya sebuah cermin kecil. Ia menatap dirinya berlama-lama di cermin itu.

Nathania pun duduk di sebelah Aida. Menghadap pada wanita tua itu, dan menatapnya dengan tatapan mata yang lembut.

"Nek, ini adalah hari terakhirku disini. Setelah ini, Nenek akan mendapatkan perawat baru. Dan mungkin, akan jauh lebih baik dan telaten jika dibandingkan denganku. Aku harap, Nenek bisa bersikap baik. Jangan berteriak-teriak. Pak Elang pasti akan mencarikan seseorang yang sudah sangat berpengalaman untuk mengurus Nenek disini. Dan aku ... aku pasti akan sangat merindukan Nenek," Nathania mengambil cermin kecil itu dan meletakannya di atas meja sebelah tempat tidur. Ia pun memeluk Aida untuk sesaat.

Sebelum akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dan menuju kamarnya. Ia harus segera pergi dari rumah itu, sebelum ia bertemu dengan Elang.

Namun, ketika ia baru keluar dari kamarnya ternyata Elang sudah berdiri di balik pintu kamar itu.

Dengan gaya khasnya, ia menatap Nathania dengan sorot mata yang aneh.

Nathania mengeluh pelan. Ia pun memalingkan wajahnya dan segera memahami, jika saat ini Elang sedang bermain-main dengannya.

Dan memanglah benar adanya. Karena tanpa berbasa-basi, pria itu meraih pergelangan tangan Nathania, hingga ia menjatuhkan tas yang sedang dijinjingnya kala itu.

Elang menarik tangannya dengan paksa, dan membawanya ke lantai atas.

Ia membawa Nathania, kembali ke ruang kerjanya.

"Lepaskan tanganku!" Nathania terus berusaha melepaskan genggaman tangan Elang.

Namun, genggaman itu terlalu kencang untuk ia lepaskan. Dan akhirnya, ia hanya mengikuti pria itu meskipun sambil terus memberontak.

Setelah masuk, barulah Elang melepaskan genggaman tangannya dengan kasar. Nathania memegangi pergelangan tangannya yang memerah dan tarasa sakit. Ia pun berdiri menatap pria angkuh itu. Entah apalagi yang akan dilakukan pria itu sekarang padanya. Mungkin ia akan memarahi dan membentak Nathania lagi seperti kemarin.

Elang melangkah maju dan mendekati Nathania yang masih berdiri mematung.

Tatapan tajam pria itu, kini dapat terlihat dengan jelas. Sangat tajam, bahkan jauh lebih tajam dari sebuah katana seorang samurai.

"Ambil kembali uang itu!" perintah Elang. Telunjuknya lurus kearah keranjang sampah, yang terletak di dekat meja kerjanya.

Nathania melirik sesaat keranjang sampah itu. Setelah itu, ia pun kembali menatap Elang.

"Tidak mau!" tolak Nathania dengan tegas. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Aku bilang ambil!" bentak Elang keras dan membuat gadis itu terkejut. Matanya mulai menatap terus menatap tajam gadis itu.

"Aku bilang tidak mau!" balas Nathania tak kalah tegas. Ia memberanikan diri untuk melawan tatapan tanpa rasa milik Elang.

Elang melotot padanya. Wajahnya benar-benar gemas. Ingin rasanya ia memegang tubuh gadis itu dan meremukannya secara langsung saat itu juga. Tangannya sudah terkepal dengan sempurna.

Akan tetapi, sesaat kemudian Elang tersadar jika yang ada dihadapannya adalah hanyalah seorang gadis muda, yang seusia dengan adiknya sendiri.

"Aku yakin Anda pasti masih memiliki pekerjaan lain yang jauh lebih penting, dibandingkan dengan mengurusi seorang pelayan sepertiku. Lagipula, aku akan pergi sekarang juga. Entah kenapa Anda tiba-tiba muncul di depan kamarku, dan membawaku kemari?" Nathania mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan sikap tidak penting yang Elang lakukan pagi itu.

Gadis itupun membalikan badannya. Ia bermaksud untuk keluar dari ruang kerja Elang. Akan tetapi, pria dengan tinggi 178 cm itu segera meraih lengannya kembali dan menahannya.

Nathania menoleh padanya. Ini adalah kesekian kalinya ia menatap wajah itu, mata itu, dan aroma tubuh pria itu. Semuanya telah mengingatkan Nathania pada malam yang menakutkan itu. Malam dimana ia harus merasa sangat kesakitan untuk merelakan kesuciannya yang telah direnggut oleh Elang darinya.

Sesaat Nathania terdiam. Elang pria yang sangat mempesona. Dia bahkan jauh lebih gagah jika dibandingkan dengan kekasihnya, Wangsa.

Namun, Elang bukanlah pria yang pantas ia puja-puja. Karena nyatanya, ia hanya seorang pria yang tidak punya hati sama sekali.

"Apa yang Anda inginkan dariku, Pak Elang?" Nathania bertanya dengan suara bergetar. Ia menatap pria yang usianya terpaut 17 tahun lebih tua darinya. Namun kali ini, ia menatap pria itu dengan mata beningnya.

Elang pun terdiam. Namun, matanya masih lekat menatap gadis manis bermata indah yang ada dihadapannya itu. Sesaat ia terpengaruh dengan mata bening itu. Dan tiba-tiba hatinya terasa sangat sakit dan luluh.

Makin lama, tatapan itu makin melunak. Nathania pun merasa heran. Ia fikir jika Elang akan segera membunuhnya saat itu juga, berhubung ia sudah membuat pria itu benar-benar marah.

Tetapi tidak. Elang justru melepaskan cengkramannya dari lengan Nathania.

Pria itu memang tidak tahu, ada masalah apa antara dirinya dan gadis sederhana itu?

Ia pun terdiam dan membalikan badannya.

Elang mencoba menenangkan dirinya, mengelola pernafasannya dengan lebih teratur.

"Ambil uang itu, dan segera pergilah darisini!" perintahnya lagi.

Namun kali ini dengan nada bicara yang jauh lebih rendah. Tidak seperti Elang beberapa menit yang lalu.

"Aku tidak mau. Dan aku tidak akan pernah mengambil uang itu, karena aku tidak merasa telah menjual sesuatu kepada Anda. Tapi aku pastikan, Anda akan kehilangan ketenangan hidup Anda setelah ini. Anda tidak perlu khawatir, karena ini bukan sebuah ancaman dariku.

Dan aku tidak akan melakukan balas dendam atau semacamnya. Tapi, aku yakin setelah ini beban perasaanmu sendiri yang akan membunuhmu, secara perlahan-lahan!"

Elang menoleh dan menatap lekat gadis manis bermata bening itu. Ada kebencian yang sangat besar di wajah cantiknya. Kebencian yang Nathania tunjukan kepada dirinya.

Nathania menatap tajam kepada wajah pria yang kini hanya tertegun dihadapannya itu. Sesaat kemudian, ia pun segera berlalu keluar dari pintu ruang kerja Elang. Ruangan dengan alunan lagu yang lembut. Air Supply _ Goodbye.

Lagu yang telah membuat hati Elang, tiba-tiba luluh lantak mendengar ancaman seorang gadis biasa dan sederhana seperti Nathania.

Elang seolah kehilangan sebelah sayapnya, dan ia mengurungkan niatnya untuk terbang tinggi.

Ditatapnya gadis yang kini tengah berjalan menyusuri halaman rumahnya yang luas itu. Ia menuju pintu gerbang yang berdiri kokoh seperti sebuah benteng yang takkan pernah hancur, meskipun terkena hempasan angin putingbeliung.

Dari balik jendela kaca itu, ia melihat Nathania pergi dan menghilang di balik kokohnya pintu gerbang itu.

Sejenak, Elang terdiam dan berfikir.

Apa yang sudah ia lakukan pada gadis sederhana itu? Kenapa ia bisa melakukan hal sebejat itu?

Elang menggelengkan kepalanya.

Ia bukanlah pria bejat seprti itu. Ia adalah pria terhormat yang masih dan akan selalu menjungjung tinggi tatakramanya, meskipun ia bukan tipe pria yang senang bersenda gurau dengan setiap orang.

Tetapi, kenapa tiba-tiba ia terfikir untuk meminta pelayanan khusus kepada seorang gadis polos seperti Nathania?

Ada banyak wanita penghibur yang bisa ia bayar. Jika ia mau, ada banyak hati yang berharap untuk ia singgahi. Tapi, kenyataannya ia malah melepaskan hasrat terpendamnya selama ini kepada seorang Nathania yang tidak tahu apa-apa. Kepada Nathania yang polos dan suci.

Dan lihatlah, kini Elang telah menghancurkan hidup seorang gadis polos, yang tengah berjuang demi kelangsungan hidupnya dan keluarganya.

Seberapa berdosa Elang?

Seberapa berat beban perasaannya kini?

Apa yang dikatakan Nathania padanya, langsung ia rasakan saat itu juga.

Elang berdiri dengan sedikit membungkuk didekat meja kerjanya. Ia meletakan kedua telapak tangannya pada pinggiran meja itu. Kepalanya tertunduk. Ia tengah mencoba untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Ada rasa yang terus berkecamuk dalam dadanya. Ada sebuah penyesalan besar yang menyiksanya kini. Padahal Nathania baru setengah jam yang lalu meninggalkan rumahnya. Tetapi, ia seolah-olah sudah tersiksa sekian lamanya oleh ucapan gadis itu.

Sepasang mata tajamnya kini tertuju pada keranjang sampah di dekat meja kerjanya. Amplop cokelat itu masih ada di dalamnya.

Gadis seperti apa yang telah berani menolak, bahkan membuang uang sebesar 50 juta darinya? Melemparkan uang itu dengan entengnya, kedalam sebuah keranjang sampah

Elang berdiri tegak. Sesaat kemudian, ia pun memungut amplop itu dari dalam keranjang sampah berwarna hitam itu. Ia menggelengkan kepalanya.

Dimasukannya amplop itu kedalam laci meja kerjanya. Elang pun meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

Untuk kesekian kalinya, ia meminta dicarikan seseorang untuk merawat Aida, sang nenek.

Setelah selesai dengan urusan perawat, ia kemudian melanjutkan untuk menghubungi seseorang bernama Roni.

Roni, adalah orang kepercayaannya selama ini. Dan Elang, menyuruh Roni untuk menemuinya nanti malam. Di rumahnya.

Setelah selesai dengan ponselnya, Elang pun keluar dari ruang kerjanya.

Menuruni anak tangga dengan desain yang sangat mewah itu, ia melihat adik kesayangannya Nastya, tengah bermalas-malasan ria di atas kursi santainya. Tangan gadis itu, sibuk memainkan ponselnya.

Elang pun menghampirinya dan berdiri di dekatnya.

Menyadari kehadiran Elang disana, Nastya segera bangkit dan duduk manis. Ia pun tersenyum dan mempersilakan Elang untuk duduk di sebelahnya.

Elang pun menurut. Ia duduk dengan gayanya yang kalem, di sebelah sang adik.

"Kamu tidak keluar hari ini?" Elang melirik Nastya dengan wajah kalemnya. Sikap dan ekspresinya sangat berbeda dengan ketika ia berhadapan dengan Nathania.

Tentu saja, Nastya adalah adik kesayangannya. Gadis itu merupakan adik satu-satunya. Dan Elang jarang berbicara dengan siapapun untuk urusan diluar pekerjaan, selain dengan adiknya itu.

Nastya menggeleng pelan. Ia menatap sang kakak, dan kembali tersenyum manis.

Elang dan Nastya adalah kakak beradik lain ibu. Namun, mereka menghabiskan masa kecil bersama. Ketika sang ayah wafat, dan ibunda dari Nastya yang merupakan istri kedua ayah Elang memutuskan untuk menikah lagi, dan menetap diluar kota bersama suami barunya.

Aida lah yang berjasa dalam membimbing mereka selama ini. Sampai akhirnya ia sering sakit-sakitan dan kondisinya seperti sekarang ini. Aida adalah ibunda dari almarhum ibu Elang yang meninggal dunia ketika Elang berusia 12 tahun.

Ayah Elang merupakan seorang pria keturunan Irlandia. Maka tidaklah heran, jika kini Elang memiliki ketampanan dan kharisma yang lebih dan diatas rata-rata. Dan itu merupakan warisan langsung dari sang ayah.

"Kakak tidak ada acara hari ini?" Nastya balik bertanya. Dan Elang pun menggeleng pelan.

"Bukannya hari ini seharusnya Kakak bermain golf?" tanya gadis itu lagi.

"Tidak jadi," jawab Elang singkat.

"Kalau begitu, bagaimana jika kita keluar?" ajak Nastya dengan wajah ceria dan penuh harap.

Namun, sesaat kemudian wajah ceria itu hilang seketika karena melihat ekspresi wajah Elang yang datar. Dan ditambah dengan sebuah gelengan kepala dari sang kakak.

"Tidak bisa. Tidak ada yang menjaga nenek," jawab Elang.

"Biar mbak Titi saja yang menjaga nenek untuk sementara. Lagipula, kemana si udik itu? Ia lupa dengan tugasnya di rumah ini. Seharusnya, Kakak jauh lebih tegas padanya," Nastya tampak kecewa.

Gadis berwajah bule itu, tidak tahu jika Nathania sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya.

"Tania, sudah berhenti bekerja disini," jawab Elang datar. Dan ia tampak sedikit kecewa.

Ia pun menarik nafas panjang.

Namun, berbeda dengan Nastya. Gadis berkulit putih bersih itu, justru tertawa senang saat mendengar jawaban sang kakak. Wajah puas tergambar jelas dalam garis senyumannya.

"Akhirnya, ia pergi juga dari rumah ini. Aku harap ia tidak berubah fikiran dan kembali kemari," celotehnya. Ia tampak sangat-sangat puas. Dan Nastya merasa telah menjadi seorang pemenang.

Elang menatap adiknya dengan lekat untuk beberapa saat lamanya. Ia mencoba mencerna arti dari tawa gadis cantik yang kini tampil manis dengan rambut keritingnya itu.

Mungkinkah apa yang dikatakan Nathania semalam adalah benar? Jika mereka berdua merupakan teman satu sekolah dulu.

Elang pun mencoba untuk sedikit mengorek informasi tentang Nathania dari sang adik. Semoga Nastya, bisa diajak bekerja sama.

1
Cassie
bagusss bangettt💫🎉🥀😻💃🤍😍💐🌺🌷🌹💋🌻😘🫂🔥❤️‍🔥
Lusy Purnaningtyas: banyak banget emotnya... 😂
total 2 replies
Rahmawati
bagus banget
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, Kak
total 1 replies
Widi Yanti
keren
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, Kak 🥰
total 1 replies
ilyas Baihaqi
Luar biasa
Titik pujiningdyah
makaroni I missssssyouuuuuu
Titik pujiningdyah: tiba2 kngen aj sama elang
total 2 replies
Henym
Luar biasa
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak
total 1 replies
dewi andarini
terima kasih untuk cerita nya.
semangat selalu dalam menulis
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih juga sudah mampir. Jangan lupa baca juga cerita yang lain, kak
total 1 replies
dewi andarini
dari banyak cerita di novel... jarang yg buat irisan bawang lumer dimata ku.
cerita ini bikin baper banget
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Aduh, terima kasih, kak. Silakan lanjut
total 1 replies
dewi andarini
kok jadi tiba2 ada bawang dimata
dewi andarini
ceritanya bikin baper
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak
total 1 replies
rindu rindu
widih end deh.. walaupun baru baca tp puas sm ceritanya, tiap baca bikin nyeri badan, nyeri hati juga senyum2 sendiri.. ohhhh othor kau buat diri ku selalu berdenyut nyut nyut nyut... ☺
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak. Lanjut ke judul lain saja. Tak kalah seru
total 1 replies
rindu rindu
Wealah.. Rahman sama Titiek gak pake Puspa ajah... 🤣
rindu rindu
merinding cuy baca suratnya.. 😭😭
rindu rindu
ya Tuhan, Roni sadis.. masaklah ke tukang jagal... 🤣🤣🤣
rindu rindu
bandung sdh kayak jakarta ye.. macet syelaluhhh
rindu rindu: bukan sih.. saya di bekasi tp kl ke Bandung.. euhhh macet parah, susah cari lahan parkir juga.
total 2 replies
rindu rindu
si othor lagunya, lagu2 jaman ku dulu, kirain cerita nya thn 97..hihii
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Sama, kak. Saya juga tua😂
total 3 replies
rindu rindu
ceritanya sedih banget, nyeri dan ser2an perasaan bacanya, tapi seru bikin merinding dan penasaran.
rindu rindu
ga usah dipikirin Tan, yg penting udah dah jd istrinya, masa depan menanti, masa lalu hanya jd kenangan. tinggal jd istri yg baik aja biar Elang makin cintrong
Anita noer
itu actor thailand y thor
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Bukan, kak. Itu Takeshi Kaneshiro
total 1 replies
rindu rindu
boddo bgt si cuy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!