Jika orang lain memilih pergi saat tahu suaminya mendua, aku memilih bertahan dan memberi kejutan manis untuk suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susan saliman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
persiapan
Sesampainya di rumah lontong langsung aku serahkan pada pegawai yang masak sementara kue klepon aku taruh di piring dan aku siapkan juga tatakan piring kecil serta garpu sebelum aku bawa pada ibu mertuaku.
Kulihat ibu mertuaku seperti biasa sedang duduk di teras menunggu pegawai setor muka, jangan ditanya kalau ada yang datangnya kesiangan, saat itu juga ibu mertuaku akan ceramah sama pegawai itu dari A sampai Z.
Seperti saat kemarin ada yang terlambat jam 8 lebih baru absen, udah deh di kupas tuntas, mulai dikatain malas, ga giat kerja, bikin rugi, sampai dengan ancaman mau di berhentikan jika terulang.
Baik sih sebetulnya ibu mertua ku, cuma sedikit saja lebihnya yaitu matanya itu awas banget, tajam seperti tutug nya ( mulut ) nya setajam silet, padahal beliau ini termasuk orang yang tidak pelit meskipun kaya, sederhana, tapi sedikit galak.
Aku baru jadi menantunya belum ada 2 minggu nih, sudah beberapa kali kena omelannya juga, awalnya sih aku anggap perhatian, berarti dia sayang ke aku karena berani menegur tidak sungkan sungkan tapi kalau keseringan lama lama gedeg juga, rasanya ga mau di dengar tapi terdengar, ga mau di anggap tapi kayak ga sopan, akhirnya ku dengar saja sesekali ku jawab " ya ", "iya bu, maaf ", gitu aja.
" Menur.... kamu beli kue klepon banyak begini, ibu ga akan habis, kamu kira ibu ini kuli yang makannya banyak, kamu itu harus hafal sama porsi makan ibu jangan ngasal beli begini... kebanyakan", Omel nya pagi ini begitu kue klepon aku sajikan di hadapannya.
" Maaf bu, Menur dan mas Yoga juga mau, tapi nanti, buat ibu dulu jika ga habis nanti Menur siap jadi kapal keruk nya bu", Jawabku panjang lebar, beliau hanya merengut jengkel.
" Alasan kamu", Ketusnya.
Ku hanya beranjak pergi seraya menarik nafas dalam, tidak perlu emosi pasti bakal ada episode omelan selanjutnya tiap hari, justru aku harus siap mental, melatih sabar, mengendalikan diri agar tidak mudah emosi, nanti lama lama pasti hati ku akan kebal sendiri.
Aku menuju ke kamar untuk melihat suamiku, ternyata benar dia berada di kamar sedang sibuk dengan laptopnya.
" Mas Menur bantu masak di dapur ya, kalau perlu apa apa panggil saja ", pamit ku agar suami ku ga bingung mencari jika butuh sesuatu dengan ku.
" Ya , Nanti jam sepeluh siap siap ya, jadi pas pegawai kumpul kita sudah rapih".
" Ya", Jawab ku menuju dapur.
Sampai dapur aku kebagian tugas membentuk tumpeng, sudah di cetak diatas nyiru / tampah ( tempat dari anyaman bambu yang biasa untuk alas tumpeng ), pinggirnya sudah di beri hiasan dari daun pisang, jadi tugas ku tinggal menghias sedemikian rupa.
Semua sudah tersedia ada kacang panjang mentah, wortel putih atau lobak, cabe merah, tomat daun pitterselly, daun selada, mentimun, wortel.
Satu satu bahan hiasan aku eksekusi membentuk bunga, kepangan, ku rendam air es dulu agar membentuk bagus setelah ku ukir dengan pisau.
Ku susun lauk pauk yang sudah matang satu persatu, ada tempe bacem goreng, sambel goreng kentang, daging goreng, ayam goreng, urap sayur, sambel, sambel goreng teri, telor balado.
Kemudian sisa dari nasi dan sayuran serta lauk pauk yang tidak tersusun sama mbak Nah di tempatkan di wadah stainles penyajian.
Di depan rumah kami ada sebuah bangunan rumah lagi yang tidak disekat sekat hanya ruangan kosong full satu rumah biasa di pakai jika ada acara begini, kumpul kumpul.
Rumah tradisional berbentuk joglo, disana di siapkan meja yang sudah rapih dengan taplak yang sudah di hias, ditempat itu aneka hidangan kami susun, berjajar rapi sepeti prasmanan.
Sedangkan di lantai nya kita hamparkan karpet untuk semua duduk lesehan.
" Nah, Painah .... ", Teriak ibu mertuaku memanggil mbak Nah.
" Mbak aku mau siap siap dulu, mbak di panggil ibu tuh", Mbak Nah langsung bergegas menghampiri ibu mertuaku, sementara aku panggil satu orang untuk menjaga makanan takut ada kucing masuk meski semua aman sudah dalam keadaan tertutup hanya saja tumpeng nya hanya di lindungi dengan plastik hias.
" Mbak, aku nitip hidangan ya, sekalian rapikan air minumnya serta piring anyam nya, Aku mau siap siap dulu", Pesanku pada pegawai ysng di dapur.
Seorang pegawai langsung bergegas menggantikan ku.
" Mbak Nah sedang di suruh ibu", Melihat raut wajah pegawai itu ingin menanyakan sesuatu, ternyata benar dugaan ku begitu aku bilang mengenai mbak Nah dia langsung manggut dan tersenyum.
Aku langsung melangkah cepat menuju kamar untuk membersihkan diri dan bersiap.
Begitu masuk kamar ku lihat sudah jam sepuluh lebih sepuluh menit dan suami ku masih di kamar mandi.
" Mas, masih lama?", Aku mengetuk pintu kamar mandi.
Ceklek
Suamiku malah membuka pintu kamar mandi dalam keadaan penuh sampo di kepala.
" Ya udah lanjut, aku tunggu disini saja", Jawab ku, Tapi mas Yoga malah menarik tanganku untuk masuk kamar mandi.
" Apaan sih mas?", Sungut ku.
" Gosokin punggung mas", Titahnya menunjuk punggungnya.
Aku pun dengan memberengut akhirnya menurut saja, aku gosok punggungnya pelan, aku sabun badannya seperti mandiin anak kecil, batin ku.
" Udah, bilas sana, gantian aku juga mau mandi", Mas Yoga nurut, dia membilas diri di bawah shower kemudian meraih handuk untuk mengeringkan badan dan rambutnya.
" Cup, makasiih", Ucap mas Yoga dengan langkah lebar keluar kamar mandi sambil terkekeh puas karena sudah mengagetkan ku dengan kecupannya.
" Jail", Jawab ku dongkol.
Aku pun segera melanjutkan dengan ritual mandi, sedikit buru buru karena waktunya sudah mepet.
Begitu keluar aku lihat suami ku terlihat gagah dengan baju koko warna putih tulang ada hiasan bordir dan garis coklat nampak pas di badan, sangat indah.
" Waow", Ucap ku pas di depan pintu kamar mandi.
" Napa? Kagum ya sama ganteng nya mas?", mas Yoga bicara tapi sambil bercermin tidak melihat ku, dia sibuk melihat lihat wajahnya.
" Lebih sempurna lagi jika pakai peci terus pergi ke masjid untuk sholat jamaah mas", Jawab ku, meski aku tahu ucapanku itu mungkin akan membuat dia tersinggung atau marah padaku.
" Ya nanti, belum sekarang", Jawab nya santai.
" Aamiin ya Alloh ", terus berharap bolehkan.
" Semoga ada umur sampai mas bisa berkunjung di rumah Alloh yaitu masjid ya mas", Harap ku dengan kata yang lirih, tak ada jawaban dia malah menunduk mengambilkan aku paper bag yang kemarin dia tunjuk.
" Ini ", Mas Yoga menyerahkan paper bag itu padaku.
Begitu aku buka terdapat baju gamis indah, dengan warna yang sama dengan baju koko mas Yoga lengkap dengan pasminanya juga.
Sama tokoh yoga,gak ada insyafnya
Semakin tua,bukannya keimanan diperkuat,dipeluk diam aja,kaya kucing
Garong,udah thor pisahin aja mereka
Biar aja menur jadi janda daripada dibohongi terus,tobat sambel
bagus ceritanya
sukses
semangat