Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.
Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.
Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.
Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran
Evans menaiki tangga, kembali ke dalam kamar, menuju toilet untuk membersihkan diri. Pikirannya terus berjalan, terusik terhadap kelakuan Alexa hari ini. Lalu dia memutuskan turun ke bawah untuk makan malam. Saat makan, wajah Evans terlihat muram. Berbeda terhadap Lisa. Cintanya terhadap Alexa cukup besar. Sebenarnya, Evans sedikit tidak tega mengusir Alexa. Tetapi perlakuan Alexa sudah berada di luar batas.
Entah apa saja yang sudah dilakukan si duda itu terhadap Alexa selama berpacaran sehingga Alexa bisa berubah drastis seperti ini. Memikirkan hal ini dada Evans sesak kembali.
Bagaimana bisa Alexa telanjang di hadapannya? Bukankah selama ini Alexa bukan wanita yang seperti itu? Apa dia sudah melakukannya dengan si duda itu? Hal yang dipikirkan Evans, membuat dia berhenti makan. Nafsu makannya hilang begitu saja. Evans menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya terasa sakit.
"Den Evans tidak apa-apa?" tanya salah satu pelayan karena memperhatikan wajah Evans yang sedikit pucat.
"Aku tidak selera makan, Bi." Evans mendorong piringnya menjauh.
"Apa perlu dibuatkan makanan yang lain agar Den Evans mau makan?" tawar pelayan itu.
"Tidak perlu. Aku akan ke atas."
"Setidaknya minum susu dulu, Den." Pelayan mendekatkan segelas susu pada Evans.
"Makasih, Bi." Evans meminum susu itu dan beranjak ke atas dengan lift.
Di kamar, Evans hanya tiduran saja. Sengaja menenangkan hatinya. Tetapi tiba-tiba Evans teringat akan kejadian di kamarnya tadi. Kejadian di mana Alexa menanggalkan pakaiannya sehelai demi sehelai dan kejadian-kejadian sewaktu mereka nyaris saja melakukannya. Sontak Evans terduduk. Dilihatnya kedua telapak tangannya, lalu Evans menutup mata, mengingat betapa buasnya tangannya menjelajahi tubuh Alexa tadi. Dia menarik nafas dalam.
"Hah.. Aku bisa gila karena ini." Evans menghela nafas kasar.
Selama ini, bukannya Evans tidak penasaran dengan hubungan sek*s tetapi terkadang dia memperhatikan beberapa temannya yang mencoba berhubungan intim dengan pacar. Ujung-ujungnya mereka melakukannya lagi dan lagi. Dan ketika suatu hari mereka putus dengan pacar, maka mereka pun akan melakukannya dengan wanita lain dan lalu dengan yg lain lagi. Sehingga semua wanita akan menjadi sama saja bagi mereka. Gonta-ganti pasangan, sana-sini. Bagi Evans itu menjijikkan. Itu sama saja tidak menghargai tubuh sendiri. Evans cukup menghargai tubuhnya, dia tidak akan sembarangan bercinta dengan perempuan.
Siapa sangka, hari ini dia nyaris saja melakukannya dengan Alexa, perempuan yang sudah jelas-jelas menyakitinya, meninggalkannya dengan pria lain, hanya demi kemajuan perusahaan keluarga. Alangkah bodohnya dia seandainya mereka jadi melakukannya. Harga diri Evans pasti sudah terinjak-injak sekarang, jika dia berhasil dikalahkan oleh nafsu sek*sual terhadap perempuan yang sudah mengkhianati dan membodohinya.
Mungkin karena Alexa adalah wanita yang dicintainya sehingga dirinya lebih mudah jatuh tergoda. Jika diingat-ingat, Lisa juga suka menggodanya, tetapi Evans cukup punya pengendalian diri terhadap Lisa yang memang kurang dicintainya sehingga tidak sampai terjerumus untuk berbuat lebih intim.
Secara sadar, Evans cukup mensyukuri ketika tadi pelayan mengetuk pintu kamarnya sehingga akhirnya menghentikan aktivitas mesum mereka. Walaupun tubuhnya yang tak jadi terpuaskan itu, benar-benar mengutuki si pelayan.
Evans duduk di kursi meja belajar. Untuk mengalihkan pikirannya, dia membuka beberapa buku pelajaran dan membacanya. Sesekali dia melakukan riset dan melihat ke arah layar laptopnya. Tetapi tetap saja pikiran Evans terganggu dengan bayangan tubuh Alexa. Sepertinya ingatan itu telah terpatri di otaknya. Evans langsung berdiri, berjalan dan melompat-lompat. Setelah capek, dia duduk kembali.
Dengan nafas terengah-engah, Evans melihat ke arah jam dinding. Sudah jam setengah sepuluh malam. Evans teringat akan sesuatu. Dia melihat ke arah ponselnya yang berada di atas meja lampu. Lalu mengambilnya. Evans terlihat sedang mencari nomor kontak lalu melakukan panggilan. Dia pun mengatur nafasnya yang tadi terengah-engah agar lebih santai.
Tut tut tuttt... Suara panggilan tersambung.
Di seberang sana, Erika yang masih dalam keadaan sedang belajar. Mendengar ponselnya berbunyi.
drrrttt drrrttt drrttt drrrttt
"Siapa ya?" tanya Erika. Dia melihat layar di ponselnya .
"Aah ini nomor Kak Evans. Aku lupa menyimpannya. Kenapa dia menelepon ya? Jadi gugup." Erika mengusap-usap cepat dadanya agar perasaannya tenang.
Klik
"Halo, Kak Evans." Erika sedikit kikuk.
"Halo Erika, kamu sedang apa?"
"Eum, eum. Aku sedang belajar, Kak."
"Oh. Baguslah."
"Ada apa ya Kakak meneleponku?"
"Apa perlu alasan?" tanya Evans cepat.
"Eum. Perlulah, Kak." Erika menggigit bibirnya.
"Ingin mendengar suaramu saja," jawab Evans.
Wajah Erika merona. Dia merasa malu. Baru kali ini ada laki-laki yang bicara begitu padanya. Dimaklumkan saja, sewaktu SMA, Erika terlalu kekanakan dan pertumbuhan badannya sedikit lambat sehingga tidak sempat laki-laki menaruh hati padanya. Menjelang naik kelas 12 atau kelas 3 SMA barulah dia mendapat haid pertama. Sedikit terlambat memang, namun, sejak itulah pertumbuhan badannya meningkat sempurna.
"Eum, suara Kakak kenapa terdengar berat? Apa ada sesuatu?" tanya Erika, berpikir mungkin Evans terkena flu? Padahal suara Evans terdengar berat karena habis berlari-lari dan melompat-lompat.
"Tidak ada apa-apa. Apa kamu mengkhawatirkanku?" Suara Evans terdengar serak menggoda.
"Iya, sedikit." Erika kikuk kembali.
"Hehehe. Makasih ya. Kamu lanjutlah belajarnya dan jangan tidur larut malam."
"Iya, Kak."
Bip bip bip bip.. Evans memutuskan panggilan.
Erika melihat layar ponselnya. Menyimpan nomor Evans sambil senyum-senyum sendiri.
"Apa ini berarti bahwa Kak Evans sedang melakukan pendekatan denganku? Ahh.. Kenapa rasanya canggung tadi ya pas ngobrol dengannya?" Erika merasa gembira, dengan cepat dia merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia benar-benar berharap pada Evans. Berharap Evans memang ingin mendekatinya. Berharap Evans nantinya cinta padanya. Cinta? Ya. Untuk Erika yang masih polos dan baru gede, naluri cinta memang cepat berkembang biak di jiwanya.
****
Beberapa hari berlalu. Pagi ini, Erika berangkat kuliah dengan penuh semangat. Senyum menghiasi wajahnya. Dia berdiri di halte bis. Kesehariannya memang dia selalu naik bis menuju kampus.
Tetapi, sepanjang hari di kampus tidak ada tanda-tanda kehadiran Evans. Memang Erika tidak khusus mencari-cari Evans di kampus. Dia hanya menunggu Evans menemuinya atau menghubunginya via sms atau telepon. Pulang dari kampus Erika jadi tidak bersemangat.
Di tengah jalan, Erika tidak sengaja bertemu dengan Danish. "Kak Danish!" seru Erika sambil berlari dan memeluk lengan kakak laki-lakinya itu dan tersenyum, kembali bersemangat.
"Lho Erika? Sudah pulang ya?" Danish tersenyum sambil mengusap-usap kepala Erika.
"Sudah. Kakak di sini ngapain?" Erika semakin erat memeluk lengan kakaknya.
"Habis antar barang. Ini juga mau pulang."
"Jajan dulu yuk Kak," ajak Erika penuh riang
"Ayo." Danish merangkul hangat adiknya.
Mereka pergi jajan di warung pinggir jalan. Mereka tertawa bersama sambil memakan pesanan mereka. Sepiring berdua. Tanpa mereka sadari ada yang sedang menguntit mereka.
***
Tiba malam, Erika terpikir tentang Evans kembali. "Hari ini Kak Evans tak ada kabar. Padahal waktu itu seharian muncul terus. Bahkan malamnya menelepon. Apa aku coba menghubunginya saja?" Erika meraih ponsel di meja dan mencoba melihat daftar kontak di ponselnya.
"Apa aku saja yang terlalu cepat menyimpulkan kalau Kak Evans sedang pendekatan denganku? Hmmm." Perasaan Erika meragu, dia meletakkan kembali ponselnya di meja. Erika mengurungkan niatnya untuk menghubungi Evans. Wajahnya tampak murung. Diliriknya jam dinding menunjuk pukul sepuluh malam.
Tetapi tiba - tiba.
drrrtt drrtttt drrtttt drrtttt....
Terdengar panggilan telepon. Erika terkejut dan langsung sekejap meraih ponselnya kembali. Dia melihat layar ponsel, Evans memanggil.
"Ahh, Kak Evans menelepon." Hati Erika riang bukan main. Cepat-cepat dia menenangkan diri sambil mengusap-usap cepat dadanya. Lalu segera mengangkatnya.
Klik.
"Halo, Kak Evans?" sapa Erika lembut sekali.
"Halo Erika. Kamu sedang apa?"
"Eum, ini lagi nyantai aja, Kak."
"Di rumah?"
"Eum. Iya, Kak."
"Bisa ketemu sebentar?"
"Hah? Maksudnya, Kak?"
"Aku mau menemuimu sekarang."
"Sekarang Kak? Malam begini? Memang Kakak lagi dimana?" tanya Erika masih terkejut dan bingung.
"Lagi di jalan, lima menit lagi sampai di gang rumah mu."
bip bip bip bip...
Evans memutuskan panggilan. Panggilan berakhir.
"Halo, Kak. Halo? Ya ampun ditutup lagi." Erika gelisah.
"Beneran Kak Evans mau datang jam segini? Kenapa mendadak sih?" Erika cepat-cepat mengganti pakaiannya dengan yang lebih baik. Memperhatikan wajahnya di cermin dan menyisir rambutnya. Lalu terburu-buru keluar dari kamar dan segera menuju pintu luar.
"Kamu mau kemana Erika malam-malam begini?" tanya Wilma terkejut.
"Ahh, itu, aku mau keluar sebentar saja, Bu. Cuma ke depan gang. Temanku yang kuceritakan waktu itu, datang tiba-tiba . Sebentar lagi dia sampai di depan gang Bu," jelas Erika cepat-cepat.
"Hah?" Ibunya masih bingung, tetapi Erika sudah beranjak ke luar rumah.
****
Visual Evans👆
Yang belum klik Favorit, segera klik ya untuk dapat notifikasi update. Jangan lupa klik menu like nya dan beri vote dan hadiah jika kamu suka sama cerita ini. Terima kasih sudah mendukung karya ini! 😁