"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK RAMAH
"Memangnya gak ada model lain? Perasaan selalu Wilona yang menjadi model andalan sebagian produk perusahaan ini. Memang kalian tidak berpikir, costumer bosan melihat wajah dia diberbagai media promosi kita?" sindir Gesta setelah membaca list model yang akan didapuk menjadi brand ambassador produk fashion muslimah untuk katalog tiga bulan ke depan.
Niar, Aji, dan juga Meta hanya diam. Sebenarnya mereka sendiri juga bosan, selalu ada Wilona di setiap produk, baik fashion maupun skincare. Hanya saja setiap penjualan dengan menggunakan wajahnya omset perusahaan selalu meningkat dan melebihi target penjualan. Sebagai tim talent, tak mau melewatkan hal ini, karena dengan pemilihan model yang tepat, akan berakibat pada bonus periode yang mereka terima.
"Tidak hanya Wilona yang menjadi modelnya, ada model lain juga," Niar mencoba menjawab realistis. Dalam pemotretan di katalog, tentu Wilona bersama model lain, minimal tiga model, karena variasi model baju juga.
"Ya setidaknya ada penyegaran, saya yang baru 3 bulan di sini saja sudah bosan melihat dia," ucap Gesta ketus. Tim talent saling tatap, ini gimana juga mau menolak ide sang bos, tapi kalau gak dituruti bisa-bisa tantrum.
"Maaf, Pak Ges, untuk mencari talent model lain juga perlu waktu, tak bisa mendadak. Bagaimana kalau pada periode ini kita tetap pakai Wilona, next project bisa dengan model lain, setelah ini kami hiring beberapa model," Niar rasanya ingin menabok wajah ganteng bosnya itu dengan map, kesal sekali. Dia mah enak tinggal komplain, sedangkan tim kan yang repot kalau harus hire model lain dalam waktu singkat begini.
"Baiklah, saya melakukan hal ini cuma mau penyegaran saja. Tidak ada niatan untuk membuat kalian repot, ya meskipun wajar saja bos banyak permintaan, toh tujuan saya juga buat kemajuan perusahaan!" ucap Gesta dengan angkuh, setelah itu dia keluar dari ruang meeting. Tim talent, terutama Niar matanya langsung melotot, dan cosplay akan meninju Gesta.
"Sok, sok an gak mau repot. Tapi gak segera ACC, menyebalkan! Arggh!" keluh Niar dengan membanting pena, kesal setengah mati.
"Kelaman jomblo kali, gak ada pelampiasan emosi," sindir Aji dengan memasang wajah tengil pada Niar. Memang banyak karyawan yang tahu, hampir semua malah, bahwa Niar adalah mantan saat SMA Gesta.
Aji ingat betul saat perkenalan dengan Gesta di aula pertemuan tiga bulan lalu, Gesta tanpa sungkan menyebut Niar sebagai mantan terindah saat SMA. Para karyawan melongo, bos barunya tak ada jaga image sama sekali, malah Niar yang dibuat jengkel setengah mati.
Sejak hari itu, kalau Gesta mengomel karena ada pekerjaan anak buah yang tak sesuai harapannya, pastilah karyawan yang dimarahi akan melampiaskan kekesalan pada Niar.
Mantan kamu tuh. Perfeksionis banget.
Duh mantatn kamu tuh cerewet banget sih. Niar.
Jangan mau kalau diajak balikan. Mulut Pak Gesta kayak mi setan.
Dan banyak lagi omelan dari para karyawan yang membuat Niar sebal pada Gesta. Niar sendiri sebisa mungkin tak berinteraksi dengan Gesta, maklum bawaannya badmood mulu, khawatir mengganggu pekerjaan Niar sepanjang hari.
Makan siang di mana? Lagi enak-enak fokus pada laptop muncul chat dari Gesta. Niar hanya menghela nafas pelan, tak berniat membalas. Pekerjaan untuk hire model baru, sekaligus menyiapkan materi untuk meeting besok, terkait produk skincare bayi lebih membutuhkan konsentrasi. Sampai dirinya tak sadar kalau Gesta duduk di depannya tiba-tiba.
"Sibuk amat sih, kenapa gak balas chat aku?" beberapa orang sekitar Niar saling tatap, namun tak berani menyahut. Si bos mode terang-terangan banget.
Yakin nih, Niar cuekin si bos? grup karyawan tanpa manajer dan bos mulai ramai, apalagi Kikan dari devisi keuangan berani-beraninya memotret posisi Pak Gesta.
Jual mahal. Komen Yuke.
Kelihatan kalau putusnya gak baik-baik dulu. Lula cosplay jadi peramal.
Ya elah, sejak kapan ada putus baik-baik, Non. Tanggap sih Yuke.
"Sibuk, Pak Gesta!" jawab Niar setenang mungkin. Dia masih tahu sopan santun terhadap bosnya.
"Perasaan di kantor saya fleksible deh apalagi urusan makan siang, saya gak pernah melarang untuk makan siang meski kerjaan menumpuk," ucap Gesta dengan sikap bossy. Niar menatap bos rese' itu diiringi helaan nafas pelan.
"Bapak, bapak tahu gak saya ini hanya karyawan biasa, ingin bekerja dengan tenang, dan dapat gaji itu saja," keluh Niar agar Gesta sadar diri jangan membangun kedekatan dengan Niar, apalagi menyangkut masa lalu.
"Lalu?" tanya Gesta belum paham, bahkan ia sampai mengerutkan dahi.
"Ya Bapak tidak seharusnya mengajak makan siang saya hampir setiap hari, saya tidak mau ada rumor yang mengira saya tarik ulur atau kecintaan sama Bapak," ucap Niar menahan kesal, tahu respon Gesta, dia malah tertawa terbahak.
"Kalaupun ada, rumornya tertuju sama saya lah. Saya yang sering mendekati kamu," lawan bos dengan mode negosiasi tidak akan pernah berhasil.
"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti beneran minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Niar yang sengaja bersuara peran, harus menahan kesal setengah mati mendengar balasan Gesta tersebut. Terlebih lelaki itu sudah berdiri, dan menarik lengannya agar segera bangkit dari kursi.
Semua karyawan menahan nafas, tak mengira Pak Gesta bisa senekad dan tak peduli pada pandangan orang lain. Bahkan mereka ingin tertawa terbahak, melihat ekspresi jengkel Niar.
"Cemungut!" sengaja Lula berbisik saat sorot mata Niar menatapnya dengan bibir mewek. Mereka tahu, Niar tidak pernah caper dengan Gesta, dan kekhawatiran Niar akan rumor negatif pada dirinya, tidak akan terjadi, karena sebagian besar tahu Gesta yang lebih dulu mendekati Niar secara terang-terangan.
"Mau makan di mana?" tanya Gesta saat keduanya sudah berada di mobil, dengan penuh intimidasi, Niar akhirnya mau duduk semobil dan berada di samping Gesta. Meski Gesta berkali-kali mengajak makan siang bersama, Niar tak pernah mau, dan biasanya Gesta akan berhenti memaksanya. Tapi siang ini tidak, Gesta ngotot mengajak Niar.
"Pengen ayam geprek!" jawab Niar sekenanya. Sudah terlanjur keluar, jawab aja tanpa jaga image. Gesta tersenyum dan sempat mengacak rambut sang mantan.
"Masih saja bikin gemes," ujar Gesta tiba-tiba mengingat masa mereka pacaran dulu, namun Niar hanya membalasnya dengan decakan sebal.
"Gak usah bahas masa lalu, gak bakal baper!" sahut Niar jutek. Gesta tersenyum saja.
"Jutek banget!" sahut pria ganteng itu.
lanjotkan kak🤭
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭
i
cowo kaya gini nih...sat set...
ngajakin nikah...bukan pacaran...apalagi balikan...