Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.
Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Di Rumah Sakit
Sesampainya di depan ruangan rawat nomor 205, Mira membuka pintu pelan agar tidak menimbulkan suara keras. Bersamaan dengan itu, Anqi dan Alan masuk mengikuti dari belakang. Di dalam ruangan yang cukup terang itu, terlihat sosok Eric yang sedang duduk bersandar di bantal penyangga di tempat tidur rumah sakit.
Ia mengenakan baju pasien berwarna biru muda yang terlihat agak longgar di tubuhnya. Di bagian kening dan pelipis kirinya terbalut perban putih yang rapi, sedikit menutupi sebagian dahinya. Tangan kanannya terbalut gips dari pergelangan hingga hampir siku, dan digantungkan dengan penyangga kain di lehernya agar tidak bergerak sembarangan. Wajahnya terlihat agak pucat dan sedikit lemas, namun matanya masih terbuka dan sadar sepenuhnya.
Begitu mendengar suara langkah kaki, Eric mengangkat wajahnya perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada Anqi yang berjalan paling mendekat, seolah mencari kehadirannya di antara dua orang lainnya.
Anqi berhenti tepat di sisi tempat tidur. Hatinya terasa berdebar melihat kondisi Eric, namun ia berusaha tetap tenang. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan lembut, ia mengulurkan tangannya, lalu meletakkannya perlahan di dahi Eric sedikit menjauhi bagian yang diperban agar tidak menimbulkan rasa sakit. Jari-jarinya bergerak sedikit, merasakan suhu tubuhnya, sementara matanya menatap lekat wajah Eric, mencari tanda-tanda ketidaknyamanan.
“Kau tidak apa-apa, kan? Apakah kepalamu masih sakit? Atau ada bagian lain yang terasa sangat sakit?” tanya Anqi dengan suara lembut namun terdengar jelas, nadanya penuh kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikannya.
Eric menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan sambil menarik napas panjang. Suaranya terdengar agak serak dan lemah: “Aku baik-baik saja. Kepalaku masih terasa sedikit pusing dan berdenyut, terutama jika aku mencoba menoleh terlalu cepat. Bahu dan tanganku juga terasa kaku dan sakit, tapi dokter bilang itu hanya memar dan retak ringan, jadi tidak terlalu parah.”
Anqi menghela napas panjang, seolah beban berat yang menimpanya sejak pagi tadi sedikit berkurang. Ia tetap membiarkan tangannya berada di dahi Eric sejenak, sebelum perlahan memeriksa sekeliling perban dengan ujung jarinya, memastikan tidak ada darah yang menembusnya.
“Syukurlah kalau begitu. Kami sangat cemas sejak tadi pagi. Polisi hanya menelpon dan mengatakan ada kecelakaan, tapi tidak menjelaskan seberapa parah lukamu. Kami sempat membayangkan hal-hal buruk,” ucap Anqi, nadanya sedikit bergetar menahan emosi yang sempat meluap.
Eric tersenyum tipis, senyum yang lemah namun tetap menenangkan. Ia menatap tangan Anqi yang masih berada di dekat wajahnya, lalu berkata pelan: “Maaf membuat kalian khawatir. Aku tidak sempat memberitahu apa-apa karena begitu kecelakaan terjadi, aku langsung dibawa ke sini dan sempat kehilangan kesadaran selama beberapa jam.”
Sementara itu, Mira dan Alan berdiri agak di belakang, mengamati dengan tenang. Mira kemudian melangkah maju sedikit dan berkata: “Yang penting Bapak selamat. Itu sudah lebih dari cukup. Kami semua lega melihat Bapak masih sadar dan kondisinya tidak separah yang kami bayangkan.”
Alan mengangguk setuju, lalu menambahkan: “Benar. Istirahatlah dulu, Pak. Jangan memaksakan diri bergerak terlalu banyak. Kami akan mengurus segala hal di kantor sampai Bapak sembuh total.”
Anqi akhirnya menurunkan tangannya perlahan, namun tatapannya masih tidak lepas dari wajah Eric. “Dokter sudah bilang kapan boleh pulang? Dan apakah ada pantangan atau hal yang harus diperhatikan agar lukamu cepat sembuh?” tanyanya lagi, tidak ingin melewatkan satu pun hal penting.
“Kata dokter, mungkin harus dirawat dua atau tiga hari lagi untuk observasi, terutama memastikan tidak ada gejala gegar otak yang muncul. Kalau semuanya baik, baru boleh pulang dan istirahat di rumah selama beberapa minggu,” jawab Eric.
“Baiklah. Kami akan sering datang menjenguk Bapak. Jika Bapak butuh apapun, katakan saja. Jangan ragu untuk meminta bantuan kami,” ucap Mira dengan nada tegas namun tetap lembut.
Eric mengangguk lagi, hatinya terasa lebih tenang dengan kehadiran mereka. “Terima kasih. Aku benar-benar baik-baik saja, jadi jangan terlalu khawatir,” ucapnya meyakinkan sambil tersenyum tipis.
Setelah berbincang cukup lama, Mira dan Alan pun berniat untuk kembali ke kantor. Namun, saat keduanya bersiap melangkah keluar, Anqi justru terlihat ragu. Ia menoleh ke arah Eric, lalu berkata dengan suara lembut namun tegas.
“Kalau begitu, biarkan aku tinggal di sini saja untuk menemanimu. Lagipula tidak ada pekerjaan mendesak yang harus diselesaikan hari ini.”
Eric segera menggeleng cepat, meski gerakannya sedikit terbatas karena lukanya. “Tidak perlu, Anqi. Kau dan yang lain sebaiknya kembalilah ke kantor, di sini sudah ada perawat yang akan menjagaku, jadi tidak apa-apa.”
Anqi mengerutkan kening, tidak sepenuhnya setuju. “Tidak masalah. Aku bisa membawa berkas kerja ku ke sini, jadi aku tetap bisa bekerja sambil menjagamu. Lebih tenang kalau ada orang yang menemani, kan?”
“Aku sungguh baik-baik saja,” tegas Eric lagi, berusaha meyakinkannya. “Istirahatku justru akan terganggu kalau ada orang yang terus mengawasi. Percayalah padaku.”
Anqi masih terlihat ragu dan bersikeras ingin tinggal, membuat suasana menjadi sedikit canggung. Melihat hal itu, Mira dan Alan saling berpandangan seolah mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara keduanya. Mereka tersenyum tipis, lalu memutuskan untuk memberi mereka waktu berdua.
“Baiklah, kalau begitu kami kembali ke kantor dulu,” ucap Mira sambil tersenyum menggoda, menatap bergantian ke arah Anqi dan Eric. “Kalau nanti ada apa-apa atau butuh sesuatu, langsung hubungi kami, ya?”
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Mira menarik lengan Alan dan berjalan menuju pintu. “Ayo, Alan. Jangan ganggu mereka.”
Begitu pintu ruangan tertutup, Mira dan Alan berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Begitu agak jauh dari ruangan itu, Mira langsung berbisik antusias. “Kau lihat tadi? Pasti ada sesuatu di antara mereka! Cara Anqi memandang dan sikapnya yang sangat khawatir itu... aku yakin mereka punya hubungan lebih dari sekadar rekan kerja.”
Alan menggeleng sambil tersenyum, tidak percaya. “Jangan berkhayal, Mira. Itu hanya perasaanmu saja. Mana mungkin Pak Eric yang sudah berusia di atas tiga puluh tahun mau dekat dengan anak muda yang baru berusia sekitar dua puluh tahun? Itu tidak masuk akal, apalagi di lingkungan kerja kita.”
“Tidak, aku tidak mungkin salah menilai!” desak Mira dengan yakin. “Sudah lama aku bekerja dengan mereka, dan aku bisa melihat perbedaan sikap Anqi terhadap Pak Eric dibanding dengan orang lain. Begitu juga Pak Eric, dia selalu bersikap lebih perhatian dan sabar padanya. Bukan tidak mungkin, kan? Perasaan itu tidak memandang usia.”
Alan menghela napas panjang sambil tersenyum mendengar pendapat rekannya itu. “Ya sudah, terserah kau saja. Tapi jangan sampai menyebarkan rumor yang tidak jelas itu, ya.”
“Tenang saja, aku tahu batasanku,” jawab Mira sambil tetap tersenyum penuh rasa ingin tahu.