NovelToon NovelToon
Nadia Anak Yang Diabaikan

Nadia Anak Yang Diabaikan

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Cintapertama / Naik Kelas / Tamat
Popularitas:29.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35 tinggal di rumah johan

Johan membonceng Nadia. Angin malam menerpa wajah mereka. Nadia masih diam, tetapi di dalam kepalanya sudah tersusun berbagai rencana balas dendam.

“Paman kok tahu kontrakanku?” tanya Nadia heran saat motor Johan berhenti di depan gang kontrakannya.

Johan tidak langsung menjawab. Ia menaruh helm di spion, lalu memandang Nadia.

“Bukankah kamu yang bilang tadi?”

Nadia mengernyitkan alis. “Kapan aku pernah bilang? Atau jangan-jangan Paman mengikuti aku?”

“Sudah malam. Sebaiknya kamu cepat berkemas supaya bisa langsung istirahat,” kata Johan, mengalihkan pembicaraan.

Nadia berhenti bertanya. Ia lalu naik ke kontrakannya.

Suara papan kayu berderit ketika pintu dibuka. Aroma debu langsung tercium. Dari beberapa kamar terdengar suara orang bercakap-cakap dengan nada cekikikan. Bahkan dari kamar sebelah, Nadia mendengar suara desahan yang membuatnya tidak nyaman.

“Keterlaluan sekali Tuan Rangga. Padahal kamu juga anak kandungnya, tapi malah tinggal di kontrakan seperti ini.”

Nadia menoleh ke arah Johan.

“Ini masih lebih baik, Paman, dibanding tempat tinggalku dulu.”

Johan mengangguk. Entah kenapa, lelaki itu begitu mudah menitikkan air mata.

“Ini semua salah Paman, Nadia. Seharusnya Paman lebih perhatian kepadamu.”

“Sudahlah, Paman. Jangan terus menyalahkan diri sendiri,” kata Nadia.

Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. Nadia sibuk memasukkan seluruh barang miliknya ke dalam ransel besar. Tidak butuh waktu lama karena barang-barangnya memang tidak banyak.

Setelah berpamitan kepada pemilik kontrakan, mereka meninggalkan tempat itu dan menuju rumah Johan. Langkah balas dendam Nadia akan dimulai dari sana.

Jam digital pada sebuah reklame menunjukkan pukul sebelas malam ketika motor Johan memasuki sebuah klaster di pinggiran kota. Di dalam klaster itu hanya ada empat rumah dengan bentuk yang sama; rumah dua lantai bercat putih dengan luas sekitar dua puluh kali tiga puluh meter.

Johan membuka gerbang berwarna cokelat kayu. Engselnya mengeluarkan bunyi berderit.

Di teras terdapat dua kursi dan sebuah meja putih. Di depannya terbentang taman kecil dengan air mancur buatan yang sederhana.

“Rumah baru ya, Paman?” kata Nadia setelah mencium aroma cat yang masih kuat.

“Enggak juga. Rumah ini sudah lama, tapi Paman jarang menempatinya,” jawab Johan.

Nadia masih mengedarkan pandangan ke sekeliling. Aroma cat masih tercium. Beberapa bekas semen terlihat meski samar. Sebuah lampu kristal menggantung di langit-langit ruang tamu. Di sudut ruangan ada televisi 43 inci yang bahkan stiker mereknya masih menempel, pertanda barang itu masih baru.

“Paman tunjukkan kamarmu,” ucap Johan sambil membuka salah satu pintu kamar.

Nadia menarik napas dalam-dalam.

Dinding kamar itu dicat biru laut dan hampir seluruh perabotannya juga berwarna senada. Warna yang dulu sangat ia sukai. Namun karena Yulia juga menyukai warna yang sama, Nadia perlahan membenci warna biru laut itu.

Kamar berukuran tiga kali tiga meter tersebut dilengkapi meja belajar, televisi 43 inci, kamar mandi pribadi, dan sebuah lemari jati bercat putih tulang.

“Mulai sekarang ini kamarmu. Kalau mau istirahat atau mandi, silakan. Paman mau beli makan dulu. Dari sore kita belum makan,” ucap Johan sambil terus memperhatikan Nadia yang masih mengamati setiap sudut kamar.

“Baik, Paman. Aku mau mandi dulu,” kata Nadia.

Johan keluar dari kamar. Nadia kemudian membereskan barang-barangnya. Aroma cat dan kayu masih terasa kuat. Lemari pakaian model terbaru dengan pintu geser berdiri di sudut ruangan. Nadia memasukkan pakaiannya satu per satu.

Setelah semuanya beres, Nadia mandi. Meski hari sudah malam, tubuhnya masih terasa lengket oleh keringat. Luka bekas tembakan sesekali masih berdenyut nyeri.

Selesai mandi, Nadia mengenakan celana training dan kaus putih bertuliskan The Tri Lion. Ia duduk di meja belajar, berniat menuliskan beberapa rencana hidupnya.

Namun terdengar ketukan dari luar.

Nadia membuka pintu dan mendapati Johan sudah berdiri di ambang pintu.

“Mari makan dulu, Nak,” kata Johan sambil melangkah menuju meja makan.

Di atas meja makan sudah tersaji sebungkus nasi Padang.

“Ini makanan kesukaanmu, kan?” tanya Johan.

Nadia tersenyum getir.

“Paman tahu sendiri aku ini pemakan segalanya. Lebih tepatnya, aku memang tidak pernah diberi pilihan soal makanan.”

Seketika raut wajah Johan kembali mendung. Seperti biasa, lelaki itu kembali menyalahkan dirinya sendiri.

“Ini semua salah Paman.”

“Makanlah, Paman. Jangan banyak pikiran,” kata Nadia. Ia memang tidak terlalu suka melihat orang menangis, apalagi seorang lelaki dewasa.

Nadia mulai menyantap nasi Padangnya. Sementara Johan makan kentang goreng dan dua potong paha ayam dengan saus tomat. Di samping piringnya terdapat segelas jus alpukat.

Untuk beberapa saat, hanya suara sendok dan garpu yang terdengar di antara mereka.

,,,,

Sementara itu, Yulia akhirnya bangkit dari koma. Ia tak sadarkan diri selama dua minggu dan kini masih dalam masa pemulihan. Yulia belum mau kembali ke sekolah karena malu. Namanya sudah terlanjur buruk setelah terseret kasus suap panitia olimpiade. Walaupun pihak keluarga telah memberikan klarifikasi bahwa semua itu merupakan inisiatif Johan, sang kepala pelayan, publik tidak bisa begitu saja mempercayainya.

“Mah, Kak Nadia ke mana?” tanya Yulia.

Rani langsung memasang wajah masam saat mendengar nama itu.

“Dia sudah Mama lenyapkan.”

Yulia memicingkan mata menatap Rani.

“Kenapa?” Suaranya masih serak, sementara wajahnya menunjukkan kesedihan.

Namun jauh di dalam hati, ia justru merasakan kebahagiaan. Bukankah selama ini itulah yang ia inginkan?

“Sudahlah. Kamu jangan terlalu baik. Dia itu cuma anak haram dari selingkuhan papa kamu. Seharusnya dia mati dari dulu,” kata Rani.

“Tapi jangan dilenyapkan juga, Mah. Aku enggak apa-apa kok, Mah.”

“Apanya yang enggak apa-apa?” suara Rani meninggi, berusaha menahan emosi. “Kamu koma sampai dua minggu dan masih bilang enggak apa-apa. Sudah seharusnya dia yang mati.”

Mata Yulia tampak berkaca-kaca, seperti seseorang yang baru kehilangan saudara yang sangat dicintainya.

“Sudah, jangan banyak pikiran. Sekarang makan dulu. Kata dokter, kamu harus banyak makan,” ujar Rani sambil memesan makanan secara online.

“Iya, Mah. Aku cuma sedih saja. Aku dan Kak Nadia dibesarkan bersama, bermain bersama, dan sekarang dia malah sudah enggak ada.”

Suaranya terdengar lirih dan penuh kehilangan.

“Jangan pikirkan anak sialan itu lagi. Lebih baik kamu lanjut nonton drama Korea. Katanya lagi ada cerita yang bagus,” ucap Rani sambil menyerahkan sebuah tablet.

Tak lama kemudian, Rani kembali sibuk dengan ponselnya, sementara Yulia menunduk menatap layar tablet di tangannya.

Beberapa saat kemudian, makanan datang.

Dua potong paha ayam dengan saus tomat, dua bungkus kentang goreng, dan segelas jus alpukat tersaji di atas meja.

“Makan dulu, Sayang. Ini makanan kesukaanmu,” kata Rani.

“Makasih, Mah.”

Yulia menegakkan tubuhnya ke tepi ranjang. Rani lalu menyajikan makanan itu di meja makan khusus pasien.

Setelah semuanya tertata rapi, Yulia mulai makan dengan lahap.

Tiba-tiba ponsel Rani berdering.

 “Sayang, Mama ada urusan sebentar. Mama tinggal dulu, ya.”

Yulia hanya menganggukkan kepala.

Rani keluar dari kamar perawatan, lalu pintu kamar tertutup perlahan. Begitu wanita itu pergi, raut wajah Yulia yang selama ini terlihat polos dan rapuh perlahan menghilang. Mata yang sebelumnya berkaca-kaca kini berubah dingin, seolah tidak pernah menangisi Nadia sedikit pun.

Sudut bibir Yulia terangkat membentuk senyum tipis. Tidak ada kesedihan, tidak ada rasa kehilangan, dan tidak ada penyesalan seperti yang selama ini ia tunjukkan di depan semua orang. Yang tersisa hanyalah ambisi serta kebencian yang selama ini ia sembunyikan dengan sangat baik.

“Permainan ini baru saja dimulai,” gumamnya pelan sambil menyandarkan tubuh ke kepala ranjang.

1
Sayekti 0519
bagus
Adi Sudiro
Bapak julia si malik apa johan
Dyta Kusnani
good
Dyta Kusnani
kok tamatnya blm bahagia blm nikah ma Aldo si
siswati etty
makasih kk othor udah berkarya memberi penghiburan tp klo boleh kasih saran buatlah nama yg tidak mirip2 agar tidak sering keliru sebut...ingat jg dgn lokasi kejadian...fokus dg plot cerita yg dibuat agar bisa dikembangkan lagi..
maaf sekali lagi bisanya kritik tp bbrp kali sudah ngikuti karyamu .....tetap semangat dan sehat selalu Thor 💪💪
Dyta Kusnani
jgn2 Nadia ma Yulia bayinya dtuker ma johan
Dyta Kusnani
tu kn Johan trnta cuma mau memperalat Nadia diang
Rita Rita
buat si Rini menderita juga Thor,, biar dia ngerasain gimana hidup orang menderita, seperti menderita nya Nadia yg selalu disakiti,,, keknya seru tuh
Rita Rita
ada kesempatan dalam kejepit ya Al,, jadi di gas aja ya 🤭🤣🤣🤣
Rita Rita
biasalah ga di novel ga di short drama,, wajah malaikat tapi hati iblis,,
Suanti
rasain kau rini yg di maki malahan adik kandung sendri . yulia yg kau sayang malahan dalang penculikan dan menbunuh mu 🤣🤣🤣
Suanti
mampus lah kau rini tdk mau dengar ngomong ayah mu sendri 🤭🤣🤣
Suanti
jeblos kan johan dan yulia ke penjara pasal rencana pembunahan dan penipuan 🤭🤣🤣
Anonim
Jangan pernah maafin ibu kamu sama ayah kamu nadia biarin mereka menyesal seumur hidup nya
Suanti
semoga langsung terungkap sekalian lihat kan hasil DNA nya biar yulia langsung mati kutu bila perlu sekalian hadir kan mama kandung yulia 🤭
Suanti
yulia tau semuanya kamu saja nadia yg oon mau tipu sama johan 🤭🤣
Suanti
pasti mirip yulia 🤭
Suanti
semoga aja nadia cepat tau bahwa johan bukan paman nya tapi ayah yulia 🤭🤣🤣
Adinda
yulia anak johan dan mungkin rani berselingkuh sama johan
Adinda
johan simpanan rani mungkin yulia anak kandung johan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!