NovelToon NovelToon
Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Perjodohan / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mak Nyak

Sigit Nagendra Ardhitama, seorang polisi di kota Semarang, usianya sekitar 27 tahun. Masih melajang karena malas berurusan dengan yang namanya pacaran. Baginya itu adalah buang-buang waktu. Dia anak dari seorang komandan batalyon dan bidan. Siapa lagi jika bukan Bagas Ardhitama dan Anindya Wijaya. Sering kali dia dipaksa menikah, tapi hatinya belum tergerak untuk itu.
Mutiara Insani, seorang PNS muda di Semarang. Usianya 24 tahun dan dia adalah seorang playgirl. Ada alasan mengapa dia menjadi playgirl, karena ayahnya. Ya ayahnya yang seorang panglima TNI yaitu Indrajaya selalu mengekangnya tak boleh berpacaram dengan lelaki bernama Humam.
Indra meminta Bagas untuk menemuinya. Bagas dengan segera menemuinya. Mengingat hal itu adalah hal penting.
"Anakmu seorang polisi di Semarang bukan?" tanya Indra.
Bagas mengangguk. "Iya betul Ndan, apa ada masalah?"
Indra menggeleng. "Aku punya mandat untukmu" Bagas mengernyitkan dahinya.
"Mandat?"
Indra mengangguk. "Nikahkan anakmu dengan anakku. Aku ingin dia melindunginya, jika nanti aku tak ada, aku sudah tenang bahwa anakku berada di sekitar orang yang menyayanginya"
Bagas pasrah menerima mandat itu. Tapi bagaimana dengan Sigit dan Muti? Apakah mereka juga bisa menerima mandat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

"Ehm, jangan natap aku gitu mas. AC ruangan ini mati apa gimana sih, panas banget" Cerocos Muti mengalihkan pandangan dari Sigit.

"AC nya hidup. Kamunya aja yang salah tingkah. Jadi kamu beneran anaknya panglima TNI, om Indrajaya? Yang mau dijodohkan denganku?" Sigit tak jadi melanjutkan interogasinya.

Muti mengibas-kibaskan tangannya karena ditanya Sigit seperti itu. Dia malah salah tingkah sendiri. "Iya, aku juga baru tahu tadi. Makanya aku ke karaoke. Aku stress dengan perjodohan ini. Jadi kamu anaknya tante Anin?"

Sigit mengangguk. "Jadi bagaimana perjodohan kita? Carilah alasan untuk menolaknya" ujar Sigit.

"Ciih, enak saja main suruh. Kalau kamu bisa nyari alasan, utarakanlah kepada mereka" Sigit menyandarkan kepalanya pada kursi. Jemarinya mengetuk-ketuk meja kerjanya. Dia tidak akan bisa menolak perjodohan ini.

"Perjodohan ini terjadi karena mandat. Sulit bagiku untuk menolaknya"

"Aku mencintai orang lain mas" Sigit menegapkan tubuhnya kembali. "Katakan itu di depan orang tua kita"

Muti menggeleng. "Percuma, ayah menolak pria yang kucintai. Pikirkanlah alasan lain"

"Sudah aku katakan, ini terjadi karena mandat. Jika bukan karena mandat, sudah kutolak kamu! Masih banyak wanita yang lebih baik dari kamu!"

Muti merasa dirinya dihina oleh Sigit. Dia berdiri dan mengutarakan isi hatinya dengan menggebu-gebu. "Picik! Aku kira kamu cuma nyebelin! Ternyata kamu cuma pria bodoh! Kamu tahu? Di luar sana juga ada banyak lelaki yang rela mengantri menjadi pacarku! Haha, dan kamu? Merendahkanku seperti itu? Apa karena kamu banyak digilai cewek-cewek di luaran sana? Atau hanya karena aku ada di karaoke? Atau apa? Ha?"

Muti keluar hendak meninggalkan ruangan Sigit. "Siapa yang nyuruh kamu keluar?"

Muti berbalik. "Aku tidak peduli lagi dengan interogasi ini! Bawa surat penangkapan kepada ayahku jika kamu ingin memprosesku!" Muti berjalan mendekati pintu dan membuka kuncinya. Disaat yang bersamaan Luna masuk dan mendorong pintu itu mengakibatkan kening Muti yang mulus itu mencium bibir pintu.

"Aduuuuuhh" Muti mengaduh dan mengusap-usap jidatnya. Sigit ingin tertawa tapi ditahannya. Dia malah kasihan melihat calon istrinya itu terkena pintu.

Sigit menghampiri Muti dan melihat keadaannya. "Kamu gimana sih Lun? Masuk gak ketuk pintu dulu. Kena si marmut kan?"

"Eh, Muti, maaf ya, saya gak sengaja. Eh bentar, tadi siapa yang komandan sebut? Marmut? Mana marmutnya"

Sigit tak menggubris pertanyaan Luna. Dia melihat kening Muti yang sudah benjol sedikit itu. "Sakit?" tanyanya sambil mengusap-usap kening Muti.

Muti menepis tangan Sigit. "Masih mau kamu nyentuh perempuan yang baru saja kamu hina?" Muti meninggalkan ruangan itu. Sigit memijit keningnya.

Luna hanya menjadi penonton disana. "Hina? Ada apa sih?"

"Itu tadi aku gak sengaja bilang, kalau perjodohan ini bukan karena mandat sudah aku tolak dia. Dia tersinggung"

Luna berdecak. "Ckckck, seorang komandan merendahkan wanita? Lupa kamu sumpah janjimu?" Luna menyerahkan kunci mobilnya.

"Kejar, minta maaf, antarkan pulang. Aku kesini karena ditelpon mamah kamu, menyuruh memastikan bahwa kamu mengantar Muti pulang. Gih buruan susulin"

Sigit berkacak pinggang dan membuang nafas kasar. "Kenapa harus dikejar sih? Biarin aja, itu kan keinginan dia sendiri. Gak aku gak mau ngejar"

"Hish! Pengen kena damprat sama mamah kamu? Oke aku aduin. Lagian nih ya itu memang salah kamu, semua cewek juga bakalan marah kali Git kalau cara pandang kamu begini. Buruan kejar!" Sigit kembali menghela nafas kasar. Dia segera meraih ponsel, jaket dan tasnya.

"Tolong matikan laptop dan AC. Aku susulin do dulu. Minta antar Yudi kalau mau pulang" Luna mengangguk. Sigit berlari ke parkiran. Menyalakan mobil dan mencari keberadaan Muti dengan bertanya pada petugas jaga.

Muti berjalan kaki dengan sebalnya. Dia bertu dengan segerombolan pria mabuk. Dia menjadi takut. Ingin kembali tapi mereka sudah mulai menggoda Muti.

"Hai cantik. Mau kemana malam-malam sendirian? Mau kita temenin gak?"

Muti memegang erat tasnya. "Minggir!" bentaknya kepada 3 lelaki mabuk itu. Lelaki itu malah tertawa. Muti semakin takut. Dia memejamkan matanya saat tangan lelaki itu mencoba menyentuh wajahnya.

Bugh bugh bugh. Dengan sekali pukulan kepada.3 lelaki itu mereka tumbang. Muti berbalik dan dilihatnya Sigit berdiri melindunginya. Muti meneruskan jalannya dan Sigit menghentikan langkahnya.

"Naik ke mobil. Aku antar pulang" ucap Sigit mencoba lembut. Muti tak mendengarkan ucapannya. Dia malah melewati tubuh Sigit.

"Marmut! Berhenti!" Muti masih tak menggubris omongan Sigit. Sigit mulai geram. Dia meraih tangan Muti agar berhenti dan segera menggendongnya ala-ala bridal style.

"Lepasin gak!" ucap Muti dalam gendongan dan memukul dada Sigit dengan satu tangan.

"Gak bakalan!" Sigit membuka pintu mobil dan mendudukkan Muti di kursi depan. Segera ia menuju kursi kemudi. Muti memasang wajah cemberut dan melipat tangannya di depan dada.

Sigit melajukan mobil. "Katakan dimana rumahmu!" kata Sigit dengan sebalnya. Muti masih tetap diam. Sigit melirik dan melihat jika Muti belum menggunakan seatbelt. Dia menepikan mobilnya. Lalu mendekatkan dirinya ke arah Muti. Membuat jantung Muti kembali tak beraturan iramanya.

Bukan hanya Muti, Sigit pun demikian. Semakin dekat tubuhnua condong ke arah tubuh Muti. Mata mereka saling bertemu kembali. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja. Muti memejamkan matanya. Entah apa yang dia harapkan saat itu.

Sigit meraih seatbelt itu dan menariknya. Memasangkannya ke tubuh Muti. "Pasang seatbeltmu dengan benar jika ingin selamat" bisik Sigit ditelinga Muti. Membuat Muti meremang dan membuka mata menoleh ke arah Sigit.

Wajah mereka kembali bertemu, tatapan menjadi dalam. Bisa kena serangan jantung kalau begini terus irama jantungku. Huft. Kenapa marmut satu ini imut sih? Sadar Git sadar.

Sigit segera kembali ke posisi duduknya yang semula. "Kenapa mengharap dicium sama komandan nyebelin ini??" ejek Sigit kepada Muti.

"Cih, kamu kali yang pengen nyuri kesempatan biar bisa nyium aku!" Sigit membuang mukanya tak merespon ucapan Muti.

"Katakan, dimana rumahmu"

"Jalan Mawar blok D nomor 29" Sigit melajukan ke alamat yang dituju. Mereka hanya saling diam. Hingga Sigit yang mulai buka suara.

"Ehm, aku... aku minta maaf karena ucapanku. Bukan bermaksud merendahkanmu. Aku pun juga stress dengan perjodohan ini" Muti tak bersuara. "Mut, marmut" Sigit menoleh dan mendapati Muti tertidur.

Dia tersenyum tulus. Entah apa arti senyuman itu. Dia hanya terus melajukan mobilnya hingga sampai di alamat yang dituju. Dia membangunkan Muti. Tapi Muti tak merespon.

"Mut, marmut, Mut bangun. Hei, ayo bangun. Sudah sampai rumah" Muti tak merespon sama sekali.

"Tidur apa pingsan sih ini anak?" Muti malah membalikkan dirinya ke posisi miring menghadap wajah Sigit. Dengan jelas Sigit bisa melihat belahan dada Muti karena kaos ketat itu.

Jantungnya kembali berpacu tak normal. Bagaimanapun dia adalah lelaki normal. Melihat seperti itu membuat geloranya bangkit. "Astaghfirullah, merem Git merem" Akhirnya dia membuka jaketnya dan menyelimuti tubuh Muti dengan jaketnya.

.

.

.

Like

Vote

Komen

Tip

1
Niken Dwi Handayani
Bayangin dong bagaimana bentukkan tidur nya Maryam🤭
Deva Santi
bagus
Irena Irani
eling sisi eling
nyebut sisi nyebuttt
sayang untuk dilewatkan
Gina Savitri
Baby aariz gedenya suka jahil ke om damar 😂😂😂
Gina Savitri
Masuk grup somplak sampai 2x ijab nya di ulang..hahaha
Gina Savitri
Hahaha..akibat gak sahur ngelantur omangane sigit mau cepet2 buka puasa aja 😅
Gina Savitri
Niken nggak tau malu apa gimana udah sama2 nikah malah cari perkara, klo emang nggak mau nikah sama suaminya knp harus nikah 😏
Gina Savitri
Klo mimi nya hamil juga seru tuh, cucu dan anak seumuran 😂
Gina Savitri
Udah luna gak usah gedein gengsi klo mau balikan ya balikan aja, nanti yg lain punya pasangan semua lo sendirian..hahaha
Gina Savitri
Lah muti lagi halangan gimana jangan lupa sholat mas si 🙄
Gina Savitri
Arsya sama papa nya di kasih makan uang haram dulunya, makanya skrng akhirnya arsya juga bisnisnya haram 😏
Gina Savitri
Emang boleh masih junub baca ayat al quran 🤔
Gina Savitri
Hahaha..grup somplak yakin langsung ijab semua jebule di ulang semua
Gina Savitri
Nenek sihir nggak usah di samperin, biarin aja hancur dengan sendirinya liat anaknya hancur 😏
Gina Savitri
Hahaha..sigit kan takut kucing kaya papa bagas makanya ngibrit
Gina Savitri
Makanya nurut sama orang tua lun, papa tristan kan udah dari awal nggak setuju jadi jangan maksa
Cinta tanpa restu orang tua ataupun orang tua terpaksa merestui rumah tangga nya nggak akan baik2 saja
Gina Savitri
Jangan bodoh danang, klo menuruti dendam ibumu ana selamanya nggak ada habisnya
Pasti kamu bakal kehilangan ana yg ada 😏
Gina Savitri
Mulutnya papa bagas nurun ke sigit 😁
Gina Savitri
Galih apa yudi penghianatnya ?
Gina Savitri
Sigit-Muti nolak tapi malu-malu mau 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!