Lana adalah perawat yang selalu berpindah kota. Kota baru yang dia tinggali (Koja) ternyata membawanya ke dalam kisah cinta yang sulit untuk tergapai.
Syafira, sahabat Lana sejak SMP yang dulu menemaninya melalui masa remaja Lana yang sulit dan menyedihkan, menolongnya lagi untuk mendapat pekerjaan di Koja. Dia mengagumi seorang dokter bernama Nathan.
Setelah Lana masuk ke rumah sakit yang sama, Lana pun jatuh cinta kepada orang yang dikagumi sahabatnya sendiri yaitu Nathan.
Di tengah kisah cintanya, Lana, Nathan, Dion (sahabat Nathan) dan Asa (istri Dion) juga rajin berdonasi untuk menolong para ibu muda yang mengalami kehamilan tidak terencana.
Kemudian, mereka mendirikan dan mengurus bersama sebuah rumah singgah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa suci yaitu anak dari kehamilan tidak terencana.
disclaimer:
Nama tokoh, kota, aplikasi dalam novel ini hanyalah fiktif. Jika ada kesamaan, itu hanya kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tita dewahasta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7.Ada Apa Dengan Si Bocah Tua
Lana mengetuk pintu dan masuk ke ruangan membuyarkan imajinasi Dion.
“Dokter baik-baik aja?”
“Shock! Kamu waktu seumuran itu sibuk ngapain?”
“Ehm, SMP kelas 2 ikut baris berbaris, ikut ekstra bahasa Inggris, dan kesenian."
“Orang tua kamu pasti didik dan ngawasin kamu dengan baik.”
“Akh, sebenernya saya nggak pernah ketemu orang tua saya.” Lana tersenyum perih.
Dion melihat Lana dengan takjub sekaligus tidak enak.
“Saya tinggal di panti asuhan. Saya jadi mikir, jangan-jangan ibu saya terlalu muda kayak pasien yang tadi dan nggak siap melahirkan saya, terus saya ditinggalin di panti.”
"Maaf, Suster, saya nggak tahu kalau Suster Lana pernah tinggal di panti.”
“Nggak apa-apa, Dok. Itu kan nggak ada di resume saya jadi wajar kalau banyak yang nggak tahu,” kata Lana sembari mencoba tersenyum lebar.
“Kamu tahu nggak, mereka berdua dihamili laki-laki yang sama.”
Lana hanya bisa melongo. "Ha?!"
“Ya, saya tadi juga melongo kayak kamu. Saya dulu umur segitu nakal. Suka bolos waktu upacara. Tapi saya suka dengan pelajaran fisika dan elektronika. Jadi ada hobi. Lihat lawan jenis ya tertarik, ya mengalami cinta monyet, tapi that’s it. Nggak pernah mikir sampai sejauh itu.”
Nakal aja bisa jadi dokter, gimana kalau enggak. Bisa ngalahin Einstein kali. (Lana).
“Ehm, kenapa tadi dokter tes HCG dulu? Nggak langsung USG aja?”
“Saya masih mikirin kemungkinan dia itu nggak kenapa-kenapa dan cuma bermasalah dengan siklus haid. Lihat seragamnya juga masih ragu, apa uang saku mereka cukup buat bayar ultrasonography? Tapi ternyata memang hamil.”
Dion segera tersadar dia ditunggu pasien berikutnya. “Eh, tolong panggil pasien selanjutnya! Malah ngelantur."
~
Sore sepulang bekerja, Dion langsung menuju rumahnya. Dia memasuki rumahnya dengan lemas.
“Asa,” panggil Dion mencari istrinya.
"Iya, Mas, lagi mandi,” jawabnya.
Mereka selalu mengunci rumah dan melepas kuncinya agar dapat dibuka dari dalam mau pun dari luar. Dion bisa masuk kapan saja tanpa menunggu Asa yang hobi mandi berlama-lama. Selesai mandi, Asa mendatangi Dion dan mendapati suaminya tidak seperti biasanya.
“Nanti mau makan apa, Mas?”
Dion tidak menjawab, hanya menatap istrinya dan tersenyum kecil.
“Ada apa kok nggak bawel kayak biasanya?”
Dion ragu akan bercerita pada istrinya atau tidak. “Tadi ada pasien umur 14 tahun, masih pakai seragam SMP ....” Dion menatap mata istrinya. “Hamil.”
Asa tidak bisa berkata apa-apa, lidahnya kelu, bibirnya bergetar. Gerakan badannya mengekspresikan orang yang sedang panik. Air mata pun tak terbendung, menetes dan membanjir. Dion memeluk istrinya.
“Kenapa nggak aku aja yang hamil, Mas? Bisa nggak itu dipindah ke perutku?”
Dion mengusap punggung istrinya. “Gadis itu sedikit bingung. Tapi dia dan temannya nggak begitu merasa bersalah. Mereka bercerita kayak lagi main.”
Asa melepas pelukan Dion. Tangisannya sudah reda. “Gimana kalau kita adopsi aja bayinya?”
“Adopsi itu berat. Kita utang asal-usul anak itu.”
“Nggak usah kita kasih tahu.”
“Mana boleh kayak gitu sayang. Aku tahu kamu, kita, pengen banget punya anak. Tapi, kita harus selalu ingat, setiap manusia itu mempunyai hak untuk tahu asal usulnya.”
“Mas, kapan kamu bisa berubah pikiran? Aku kesepian terus nggak ada anak. Aku juga pengen gendong anak seperti banyak ibu-ibu di luar sana walau pun bukan anak kita secara biologis. Tiap aku rias pengantin-pengantin, beberapa bulan setelahnya mereka order rias lagi untuk acara tujuh bulanan. Antara seneng dan sedih mereka bisa secepat itu. Ayolah, Mas, kita adopsi anak!"
“Nanti aku pikir-pikir lagi. Kalau ada solusi adopsi yang tetap bisa jaga perasaan anak ketika kita bongkar identitas anak, pasti aku mau.”
“Mana ada yang begitu. Kalau kita bilang yang sebenarnya, di mana-mana, anak pasti shock. Tapi, mungkin itu memang hal yang harus dilalui. Jadi, kenapa kita takut?”
Dion menghela napas. “Nanti kita cari solusi dulu. Kalau sekali lagi kita program bayi tabung dan gagal lagi, mungkin memang udah takdirnya kita adopsi anak.”
“Atau, surrogacy?” usul Asa.
Surrogacy adalah ibu pengganti. Embryo dari ayah dan ibu ditanamkan di rahim wanita lain yang bersedia ‘meminjamkan’ rahimnya.
“Hal seperti itu nggak legal di sini. Lagian, kalau gagal atau kesehatan si pemilik rahim bermasalah, kita merasa bersalah seumur hidup.”
Asa mengangguk pelan, kemudian pergi meninggalkan Dion untuk memasak di dapur. Dion tidak meminta masakan khusus seperti di hari biasa. Dia hanya akan memakan apa pun yang Asa masakkan untuknya. Dia tahu mereka berdua sedang tidak baik perasaannya.
***
Pagi itu Dion masih terlihat murung. Dia tidak ceria menyapa seperti biasa. Dia hanya tersenyum jika ada perawat atau dokter mengucapkan selamat pagi.
“Na, kenapa tuh dokter jahil? Tumben murung. Apa Dokter Nathan udah bocorin omongan kita kemarin ya?” tanya Siwi.
“Nggak tahu juga sih. Ehm, atau mungkin karena kemarin dapet pasien yang aku ceritain itu.”
“Biasanya nggak pernah mikirin perasaan orang, kok tiba-tiba kayak gitu. Biasanya, pasien mau punya masalah sampai kayak gimana juga dia nggak terlalu gubris tuh.”
“Mungkin, bukan khawatirin pasiennya, tapi dia jadi keinget kalau dia sendiri belum punya anak. Malah anak SMP mau punya anak,” tukas Lana.
Siwi mengangguk-angguk. “Jadi prihatin juga sama Dokter Dion,” kata Siwi, iba.
Tidak lama, Nathan juga datang. Dia mendekati meja Siwi dan Lana. “Jangan lupa, coklat!" kata Nathan sambil menunjuk Lana. “Thai Tea,” katanya sambil menunjuk Siwi, sedikit melotot lalu langsung masuk ke ruangannya.
“Siw, kasih aja tahi tea.”
“Hahah, okey dokey.”
~
Jam istirahat tiba, Lana dan Siwi masuk ruangan Nathan untuk memberikan upeti mereka.
“Ini, Dok,” kata Lana. Siwi juga ikut menyerahkan Thai Tea botolan.
“Lhoh, kok Thai Tea-nya botolan. Saya mau yang fresh baru dibuat,” protes Nathan.
Lana pun menjadi emosi. “Dok, kami udah beliin yang Dokter minta, dan ini pakai uang pribadi kami. Gaji kami itu kecil jauh di bawah Dokter lhoh. Take it or leave it?!”
Nathan terkejut Lana berani membentak. Siwi juga sama terkejutnya.
Tiba-tiba Dion masuk ke ruangan Nathan. “Nathan. Eh, ada apa ini kok kalian berdua ada di sini?”
Semua menengok dan bingung menjawab apa.
“Coklat! Thai Tea, bagi coklatnya ya!" pekik Dion, gembira melihat makanan di hadapannya.
Dengan lincah, Nathan mengambil coklat itu. “Ini punya gue, kalau lu mau, minta aja sama Suster Lana yang baik hatinya ini,” kata Nathan sambil melihat ke arah Lana.
“Iya, Dok, saya sangat baik hati bahkan saya bersedia mentraktir coklat Dokter Nathan pakai gaji saya yang kecil ini,” kata Lana, sarkas.
Mendengar itu, Dion merasa tidak enak. “Udah udah, nggak jadi aja. Ini pada kenapa sih?” tanya Dion penasaran.
“NGGAK APA-APA!” kata Nathan, Lana dan Siwi bersamaan.
Siwi dan Lana pun buru-buru pamit dan keluar dari sana.
to be continued...
Jogja, February 9th 2021