Di sarankan membaca "SANG PENGANTIN BAYARAN" lebih dulu, karena semua tokoh berkaitan erat dalam novel tersebut.
Alexavier Bancroft, menjadi duda di usianya yang masih muda. Istrinya, Melanie Rendra, meninggal satu hari setelah melahirkan bayi perempuan cantik secara prematur yang di beri nama, Sunny Chalondra Bancrof.
Berbagai tekanan dari keluarga mertuanya membuat Alex berusaha move on dari masa lalunya, namun sulit bagi dia untuk kembali membuka hati pada wanita manapun yang ia temui.
Keluarga Rendra, menjodohkan Alex dengan keponakan mereka bernama Felicia, namun hati Alex berkata lain, ia tertarik pada wanita yang menjadi pengasuh putrinya, Nora Arabella.
Akankah Alex bisa bertahan dengan hatinya untuk memilih Nora, atau memilih untuk mundur dan menerima perjodohan itu dengan rela?
---
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nora
Nora bingung, ia mencegah Alex dan menahan lengan laki-laki berambut silver itu.
"Jangan, Tuan. Manager di resto ini galak. Aku takut di pecat," ucap Nora. "Kita bisa mengobrol nanti setelah shift kerjaku berakhir."
"Nggak usah. Lama nggak ketemu, kita bisa langsung mengobrol sekarang. Ayo, antarkan aku ke ruangan atasanmu."
Dengan takut, Nora membawa Alex menuju ruangan khusus di lantai dua yang di depan pintunya tertulis 'Manager Room'.
Alex mengetuk pintu dua kali, lalu seorang wanita awal empat puluhan keluar sambil memicingkan mata. Wajah wanita itu memang terlihat galak dengan mimik wajah yang menakutkan.
"Maaf, Nyonya. Saya hanya ingin meminta izin. Bisakah saya mengobrol dengan pegawai anda yang bernama Nora Arabella di jam kerja, seperti saat ini?" tanya Alex tanpa basa-basi, lagipula wanita itu tidak mempersilahkan Alex masuk.
"Berani-beraninya. Ini jam kerja!" bentak manager itu, sudah bisa di tebak, wajah garangnya mencerminkan kata-kata ganas yang keluar dari mulutnya.
"Perkenalkan, saya Alexavier Bancroft. Maaf jika memang nyonya tidak mengizinkan," ujar Alex lalu ingin beranjak pergi.
"Tunggu!" cegah wanita itu, ia memperhatikan Alex dengan seksama, ia mencoba mengingat nama yang sepertinya tidak asing di telinganya.
"Tuan Alex? masih ingat saya? kita pernah bekerjasama beberapa tahun lalu, tuan Alex yang merekomendasikan saya sebagai investor di PT. Conan Dream," jelas wanita itu.
"Saya tidak terlalu ingat. Tapi mendengar nama anda, saya merasa tidak asing."
"Baiklah, baiklah. Tidak perlu di pikirkan, saya memberi izin untuk pegawai saya menemani anda makan, bahkan saya bisa memberinya izin untuk pulang lebih awal tanpa potong gaji," ucapnya.
Mendengar penuturan sang manager, Nora melongo tidak percaya. Pasalnya, managernya itu di kenal galak dan ganas tak ada tandingannya, setiap kali wanita itu datang ke area pegawai, semua orang yang bekerja mendadak seperti kehilangan separuh nyawa.
"Baik, terimakasih, Nyonya. Selamat malam," ujar Alex tersenyum ramah.
Saat Nora hendak mengikuti langkah Alex, Inggit sang manager menahan lengannya.
"Jangan macam-macam, dia tamu besar. Layani dia dengan baik!" tegasnya.
Nora hanya mengangguk dan bergegas pergi menyusul Alex.
"Memangnya sewow apa sih, tuan Alex. Kenapa begitu mudahnya meluluhkan mak lampir itu. Saling kenal pula," batin Nora, ia penasaran dengan siapa sebenarnya Alex.
Di dalam ruangan VIP di tempat Alex sebelumnya, Nora duduk membawa jus jeruk favoritnya, ia duduk saling berhadapan dengan Alex, mereka hanya di pisahkan oleh meja bundar di tengah-tengah, namun laki-laki itu sama sekali tidak memulai obrolan, padahal ia sendiri yang meminta Nora menemaninya mengobrol. Alex hanya menikmati makanannya seperti tidak ada seorangpun di ruangan ini selain dirinya.
Sampai Nora merasa bosan, ia menandaskan jus dalam gelasnya dan berniat pergi, namun Alex kembali memberi perintah padanya untuk duduk.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Alex. "Apa kakimu sudah pulih?"
"Sudah, Tuan."
"Sudah ku bilang, panggil saja Alex."
"Maaf, tapi tuan Alex kan pengunjung di resto ini. Aku bersikap selayaknya pelayan."
"Ah, baik. Sudah berapa lama kamu kerja di sini?" tanya Alex.
"Hampir 2 tahun. Sebelumnya aku belum sempat mengucapkan terimakasih, sekarang aku ingin berterimakasih, Tuan. Karena dulu, sudah menolongku dan membiayai pengobatanku, sekaligus memberiku tempat tinggal sementara."
"Nggak masalah, sudah tanggung jawabku."
"Dulu aku sempat mencari keberadaanmu, Tuan. Tapi orang suruhan yang datang ke rumah sakit itu melarang, dia bilang, tuan Alex sangat sibuk."
"Ya, aku memang sibuk," jawab Alex datar, tanpa ekspresi.
"Oh, ya. Kabarmu bagaimana? lima tahun berlalu, aku kira kita nggak akan bisa ketemu lagi," ujar Nora.
"Aku? beginilah, nggak baik, nggak buruk juga."
Jawaban Alex membuat Nora bingung, ia tidak mengerti, namun saat ingin bertanya lebih banyak, ia mengurungkan niat karena Alex terlihat malas menanggapinya.
Beberapa menit berlalu, keduanya masih saling diam. Alex enggan mengobrol, sedangkan Nora tidak tau harus membahas apa. Sampai terdengar ponsel Alex berdering, dan Alex menerima panggilan tepat di depan Nora.
"Ya, Ma. Ada apa?" tanya Alex, rupanya si penelpon adalah nyonya Gio, mama mertuanya.
"Sunny demam, Alex. Nggak tau kenapa, tiba-tiba demam. Padahal tadi nggak kenapa-kenapa," ucap nyonya Gio dengan nada cemas dari sebrang telepon.
"Bagaimana bisa, Ma. Tadi kan dia sehat."
"Mama juga nggak tau, sekarang kamu pulang, Alex. Dia minta ketemu kamu."
"Baik, Ma. Aku pulang sekarang."
Alex menutup panggilannya dan membereskan barang-barang yang ia bawa.
"Aku harus pulang, Nora. Anakku sakit," pamit Alex. "Berikan nomor ponselmu, sepertinya aku akan butuh bantuanmu," lanjutnya.
"Iya, iya. Tunggu sebentar." Nora bergegas keluar dari ruangan tersebut lalu mencari pensil dan kertas di dekat meja kasir, ia lalu menuliskan nomor ponselnya memberikannya pada Alex.
Alex merasa cemas sekaligus khawatir, tidak biasanya Sunny demam secara tiba-tiba seperti saat ini. Anak itu biasanya hanya demam ringan setelah bermain hujan-hujanan, namun hari ini dia terlihat sangat sehat dan lincah, bagaimana bisa tiba-tiba demam begitu saja.
Karena hari semakin malam, jalanan pun lenggang, Alex memacu mobilnya cepat. Ada rasa takut yang begitu besar setiap kali Sunny tidak sehat, Alex takut ada sesuatu yang terjadi pada gadis kecilnya, ada trauma besar tentang kehilangan, dan semua itu menghantui dirinya selama ini.
Di resto tempat Alex meninggalkan Nora, gadis berumur 26 tahun itu tampak berpikir serius, terakhir kali Nora bertemu Alex, ia sempat menanyakan tentang kekasih atau seorang wanita yang dekat dengan Alex saat laki-laki itu bertanya sesuatu padanya, saat itu ia paham jika Alex belum menikah dan bahkan tidak punya kekasih.
Namun pertemuan mereka tadi, membuat Nora kembali berpikir, ternyata Alex sudah memiliki anak, itu tidak masalah bagi Nora, lagipula dia hanya merasa senang karena kini sudah bisa mengucapkan terimakasih atas kebaikan Alex terdahulu.
"Nora!" sapa seseorang di belakang Nora, dia adalah Dhea, teman terdekat Nora semenjak bekerja di resto ini.
"Eh, iya."
"Kok ngelamun, sih. Eh, tadi siapa?" tanya Dhea.
"Bukan siapa-siapa. Kamu inget nggak, dulu aku pernah cerita kalau aku di tabrak sekaligus di tolong orang baik. Itu dia, Alexavier Bancroft," jelas Nora girang.
"Wah, orangnya ganteng banget. Nggak nyangka," seru Dhea.
"Nggak masalah dia ganteng atau jelek. Dia baik, dan akhirnya aku bisa berterimakasih."
Nora terlihat sangat senang hari ini, lima tahun berlalu, dia masih hidup melajang. Cek kosong yang dulu di berikan oleh Alex, ia isi dengan nominal tidak terlalu besar yang sesuai dengan yang ia perhitungkan.
Dulu, setelah keluar dari rumah sakit, ia mendapatkan rumah kontrakan yang Alex bayar penuh selama satu tahun, dan ia juga menjamin seluruh biaya kontrol untuk kembali memeriksakan kondisi kakinya yang cidera. Setelah pulih, Nora memakai uangnya untuk kursus memasak, ia juga bekerja sebagai pelayan di sebuah cafe untuk menambah keuangannya.
Setelah masa sewa kontrak di rumah itu habis, Nora pindah ke kontrakan yang lebih kecil, ia lalu mencari pekerjaan lain dengan gaji yang lebih besar untuk tambahan kebutuhan hidupnya, ia berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, sampai ia merasa cocok bekerja di resto ini dan bertahan selama hampir 2 tahun, karena selain menjadi pelayan, ia bisa menyalurkan hobi memasaknya disini, meskipun sang manager belum mempercayainya bertugas penuh di dapur.
🖤🖤🖤
Hai semuanya,
Tolong sabar mengikuti alur, ya. Setiap tokoh akan mendapat porsinya masing-masing. Jangan khawatir, novel ini nggak akan lari kemana-mana.