NovelToon NovelToon
CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.

Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. Gengsi

Gengsi seorang Arsenio Yudhistira ternyata tidak hanya setinggi langit, tetapi sudah menembus sabuk Van Allen dan melayang bebas di luar angkasa bersama satelit NASA.

Setelah drama ponsel tertinggal yang menghancurkan wibawanya, Arsenio berhasil merebut kembali kendali situasi dengan menyita kunci mobil mitsubishi hitam milik kantor. Karena sopir pribadinya mendadak absen akibat urusan darurat, Arsenio terpaksa menyetir sendiri, ditemani Kiera yang duduk di kursi penumpang dengan wajah yang masih menahan sisa-sisa tawa kemenangan.

Atmosfer di dalam mobil mewah itu sangat hening dan kaku. Arsenio menyetir dengan punggung tegak sembilan puluh derajat, kedua tangannya mencengkeram setir di posisi jam sepuluh dan jam dua secara presisi, layaknya instruktur mengemudi profesional yang sedang diawasi instansi negara. Wajah tampannya disetel ke mode "tiran agung yang tak tersentuh," mencoba menghapus memori memalukan di koridor hotel tadi.

Namun, saat mobil berhenti di lampu merah persimpangan Sudirman, keheningan yang megah itu mendadak hancur berkeping-keping oleh sebuah fenomena alam.

*KRUYUUUUUKKKK~~~ GRRRR~*

Suara itu sangat nyaring, panjang, memiliki ritme *bass* yang bergetar, dan bersumber langsung dari balik kain gaun hijau zamrud milik Kiera Anandita. Gadis itu memang dipaksa kelaparan sejak sore karena tugas utamanya di pesta hanyalah memegangi dokumen dan menjadi tameng ego bosnya, tanpa sempat menyentuh satu pun piring *catering* mahal.

Kiera langsung tersentak, dengan panik melipat kedua tangannya di depan perut demi membungkam cacing-cacingnya yang sedang melakukan demo anarkis. Wajah cantiknya seketika memerah padam seperti kepiting rebus.

Arsenio tidak langsung menoleh. Ia mempertahankan posisinya selama tiga detik penuh, sebelum akhirnya perlahan-lapan memutar kepalanya dengan gerakan lambat yang sangat dramatis. Sebuah senyuman *smirk* kemenangan yang luar biasa sombong dan menyebalkan perlahan terukir di wajah tampannya.

"Suara apa itu, Kiera?" tanya Arsenio dengan nada suara yang sengaja dibuat seringan bulu, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre sepuluh miliar. "Saya tidak tahu kalau perusahaan saya mendanai asisten pribadi yang memelihara singa kelaparan dengan gangguan pencernaan akut di dalam perutnya."

Kiera memejamkan matanya rapat-rapat, mengutuk organ dalamnya sendiri yang berkhianat di waktu yang salah. *“Duh Gusti... cabut aja nyawa gue sekarang, malu banget! Perut sialan, kenapa harus bunyi di depan tiran NPD ini sih?!”* rintih Kiera dalam batinnya yang menangis darah.

"Itu... itu suara mesin mobil Bapak yang sepertinya kurang oli," kilah Kiera asal-asalan, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah terjun bebas ke inti bumi.

Arsenio mengeluarkan tawa kecil yang terdengar sangat meremehkan. "Mobil ini dirawat secara berkala setiap bulan oleh montir bersertifikat internasional, Kiera. Dan mesin mobil saya tidak memiliki bakat terpendam untuk mengeluarkan intonasi keroncongan seperti itu." Pria itu menaikkan dagunya angkuh. "Akui saja, isi perut kamu yang kelas bawah itu sedang menjerit meminta asupan karbohidrat. Karena saya adalah bos yang ber-perikemanusiaan tinggi dan memiliki kemurahan hati tanpa batas, saya akan membawa kamu makan di restoran privat bintang lima langganan saya."

Arsenio bersiap memindahkan transmisi mobil untuk menuju restoran mewah prancis, membayangkan bagaimana Kiera akan berterima kasih sambil menangis haru atas kebaikannya.

Namun, di luar dugaan, Kiera justru dengan sigap langsung mencondongkan tubuhnya dan menepis pelan tangan Arsenio dari tuas perseneling.

"Eh, bentar, Pak Bos! Gak usah pakai ke restoran bintang lima segala," potong Kiera dengan gerakan cepat yang membuat Arsenio melotot syok. Kiera memamerkan senyuman cerik. "Restoran mahal begitu mah makanannya cuma secimit, estetik doang tapi gak bikin kenyang. Singa di perut saya butuh porsi kuli malam ini. Bapak ikutin rute saya aja, saya bakal bawa Bapak ke tempat makan favorit saya yang rasanya jauh lebih enak, lebih nendang, dan seribu kali lebih mantap daripada restoran bintang lima mana pun di dunia ini!"

Arsenio mengerutkan keningnya dengan tingkat kecurigaan maksimal. "Lebih enak dari restoran bintang lima? Kamu tidak sedang mencoba meracuni saya dengan makanan kedaluwarsa, kan?"

"Aman, Pak Bos NPD! Udah, belok kiri di depan!" seru Kiera bersemangat, mengambil alih navigasi malam itu.

---

Lima belas menit kemudian, ekspektasi agung seorang Arsenio Yudhistira runtuh berkeping-keping tanpa sisa.

Mobil mitsubishi hitam mewah itu kini terparkir dengan sangat tidak estetis tepat di depan sebuah tenda pecel lele kaki lima di pinggir jalan yang asap bakarannya menguar ke mana-mana. Spanduk kain bergambar ayam gembul dan lele melompat bergoyang ditiup angin malam. Arsenio menatap tenda kumuh itu dengan ekspresi horor yang sangat dramatis, seolah-olah ia baru saja diturunkan di zona radiasi nuklir berbahaya.

"Kiera... kamu bercanda?" desis Arsenio, suaranya bergetar menahan syok. "Ini tempat favorit yang kamu agung-agungkan itu? Tempat yang katamu mengalahkan restoran bintang lima?!"

"Lah, iya! Ini Pecel Lele Cak Ji, Pak! Sambalnya bisa bikin Bapak melupakan semua masalah hidup dan utang jas saya!" jawab Kiera tanpa dosa, langsung membuka pintu mobil dan turun dengan riang gembira.

Arsenio masih mematung di kursi kemudi. Sebelum ia berani menginjakkan kaki di atas aspal pinggir jalan, pria dengan tingkat *germaphobe* stadium akhir itu merogoh dasbor, mengeluarkan sebotol besar *hand sanitizer*, dan menyemprotkan cairan itu ke kedua tangannya sebanyak sepuluh kali hingga basah kuyup. Tidak cukup sampai di situ, ia mengambil tisu basah antiseptik untuk mengusap gagang pintu mobilnya sendiri sebelum berani menyentuhnya.

"Tempat ini benar-benar tidak memenuhi standar higienis Yudhistira Group," gerutu Arsenio sembari turun dengan postur tubuh yang tetap diusahakan se-elegan mungkin, meski aroma asap bakar ayam langsung menyerang jas mahal Tom Ford miliknya.

Pemandangan di dalam tenda pecel lele malam itu langsung berubah menjadi panggung komedi. Arsenio berdiri kaku di tengah tenda, menolak untuk duduk. Matanya menatap kursi plastik merah pudar di depannya dengan pandangan penuh antipati, seolah-olah kursi itu mengandung virus mematikan.

Pria paruh baya penjual pecel lele sampai menghentikan ulekan sambalnya, menatap Arsenio dengan dahi berkerut, bingung melihat ada orang kaya nyasar pakai jas ratusan juta tapi berdirinya tegak seperti sedang upacara bendera di dalam tendanya.

"Pak... mau pesan apa?" tanya si penjual ragu-ragu.

"Dia pesan lele goreng satu, nasi uduknya satu, Pak," potong Kiera cepat. Kiera kemudian menatap Arsenio sambil menahan senyum geli. "Pak Bos, silakan duduk. Gak usah sok jadi tiang tenda begitu, deh. Kursinya gak bakal menggigit Bapak."

Arsenio melirik Kiera tajam. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh kehati-hatian, ia mengeluarkan sapu tangan sutra dari saku jasnya, melipatnya menjadi empat bagian, lalu menggunakannya sebagai alas untuk memegang kursi plastik sebelum ia menariknya mundur. Arsenio mengeluarkan tisu basah antiseptiknya lagi, mengelap permukaan meja kayu yang dilapisi taplak plastik bergambar buah-buahan itu sebanyak tiga kali putaran searah jarum jam—memastikan semuanya higienis menurut standar otaknya yang perfeksionis.

Setelah merasa "cukup aman" dari kuman pinggir jalan, Arsenio akhirnya duduk dengan ujung jas yang diangkat tinggi-tinggi agar tidak menyentuh lantai tanah.

"Kalau besok saya masuk angin atau kena tipes gara-gara tempat ini, saya akan potong gaji kamu untuk biaya rumah sakit komersial," bisik Arsenio dengan wajah ditekuk datar, matanya menatap jijik pada botol kecap manis yang sedikit berdebu di tengah meja.

"Ya ampun, Pak Bos. Santai aja sih, Pak. Kuman di sini juga bakal minder duluan melihat muka Bapak yang sekaku kanebo kering begitu," mencibir Kiera terang-terangan.

Saat pesanan Kiera datang, aroma sambal terasi dan lele goreng yang gurih dan super wangi langsung menyeruak memenuhi tenda. Kiera dengan tidak tahu malunya langsung mencuci tangan di mangkuk kobokan dan mulai makan dengan lahap menggunakan tangan kosong, mengabaikan tatapan syok dan mual dari sang CEO di depannya.

Arsenio menatap cara makan Kiera dengan saksama. Di satu sisi, ia merasa tindakan makan pakai tangan di pinggir jalan itu sangat tidak memiliki estetika kelas atas. Namun di sisi lain, entah kenapa, melihat bagaimana lahapnya Kiera mengunyah dan bagaimana ekspresi bahagia gadis itu saat menyuap nasi, membuat sesuatu di dalam dada Arsenio kembali bergetar aneh. Perutnya sendiri bahkan mendadak memberikan respons lapar yang tidak ia duga.

Kiera yang mulutnya penuh dengan daging lele mendadak mendongak, lalu dengan sengaja menyodorkan sepotong tahu goreng yang masih panas mengepul tepat ke depan wajah tampan Arsenio.

"Bicit ah, Pak Bos dari tadi ngomel mulu. Nih, mau coba gak? Enak lho, mumpung anget. Biar tingkat NPD Bapak agak turun sedikit dan tahu rasanya makanan surga dunia!" goda Kiera dengan binar mata jenaka.

Arsenio tersentak mundur, matanya membelalak menatap potongan tahu goreng berminyak yang jaraknya hanya beberapa senti dari hidung mancungnya. Namun, saat mencium aroma gurih yang luar biasa menggoda iman dan melihat wajah cantik Kiera yang begitu tulus menawarinya, pertahanan higienis sang tiran mendadak goyah untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!