NovelToon NovelToon
BANGRING : Siampa Puncak Harau

BANGRING : Siampa Puncak Harau

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Zamo

Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.

Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.

Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.

Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.

Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.

Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Berat

Saat matahari mulai mendaki cakrawala dan fajar menyingsing, barulah kekacauan yang sebenarnya dimulai. Di atas kapal Jung, seorang pelayan wanita berteriak histeris saat mendapati kamar Puti Kirai kosong dengan jendela yang sedikit terbuka dari dalam.

Prajurit jaga Bhayangkara masuk ke kamar Puti Kirai. Wajahnya memucat saat melihat tempat tidur yang rapi namun tak berpenghuni. "Cepat! Blokir seluruh dermaga! Periksa semua kuli panggul yang bekerja kemarin!"

Namun, saat pasukan berkuda Bhayangkara mencoba bergerak cepat menuju satu-satunya akses keluar alternatif dari wilayah dermaga selatan, mereka menemukan Jembatan Bambu sudah roboh total. Arus sungai di bawahnya cukup dalam untuk memperlambat kuda.

"Jembatan putus, Tuan! Kita harus memutar lewat jalur atas!" lapor seorang prajurit.

Bintara Bhayangkara menggeram marah. "Ini bukan kebetulan. Seseorang telah merencanakan ini dengan sangat teliti. Siapa pun yang melakukannya, mereka tahu persis bagaimana cara mengulur waktu!"

Sementara pasukan Singasari masih sibuk membongkar reruntuhan jembatan dan menginterogasi para kuli, Sena dan rombongannya sudah mencapai Safe House—sebuah gubuk tua yang tersembunyi di kaki perbukitan gambir.

Sena berdiri di ambang pintu gubuk, memastikan tidak ada pergerakan mencurigakan. Puti Kirai kini terduduk di atas tikar pandan, diberikan air minum oleh Balun.

"Kita aman untuk sementara," ucap Sena sambil mulai membersihkan lumpur dari tangannya. "Bhayangkara akan butuh waktu untuk mencari tahu ke mana arah kita. Jembatan yang roboh itu akan membuat mereka mengira kita lari lewat darat ke arah utara, padahal kita memutar ke selatan."

Sena menatap Kirai sejenak. Sang putri membalas tatapannya dengan mata yang penuh tanya. Ia masih tidak percaya bahwa kuli panggul yang kemarin ia lihat sekilas adalah orang yang sama yang menariknya dari "penjara" terapung itu.

"Istirahatlah, Putri," kata Sena dingin. "Besok, perjalanan akan jauh lebih berat. Singasari tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan seperti ini."

Di pusat komando Singasari di Dharmasraya, suasana mencekam. Seorang perwira tinggi menatap peta wilayah pesisir dengan wajah kaku. Di depannya, Bintara Bhayangkara yang bertanggung jawab di pelabuhan bersujud dengan tubuh gemetar.

"Hanya satu orang? Dari puluhan upeti khusus, hanya putri dari Dharmapuri yang lenyap?" suara sang Perwira rendah namun mengintimidasi.

"Benar, Tuan. Jembatan darat disabotase, dan jejak di hutan bakau hilang seolah-olah mereka terbang menembus kabut," lapor Bintara itu.

Sang Perwira berjalan mondar-mandir, tangannya mengelus hulu kerisnya. "Pemberontak biasa akan membantai penjaga. Bajak laut akan mengambil emasnya. Tapi ini... ini adalah pencurian presisi. Siapa yang punya kepentingan dengan Dharmapuri?"

Ia membuka sebuah gulungan lontar yang baru tiba beberapa hari lalu dari Purwa Wangsa. Isinya adalah keluhan Purwa tentang kegagalannya menangkap seorang pemuda misterius yang membantai pasukannya di hutan.

"Purwa menyebutnya 'Siampa Puncak Harau'," gumam sang Perwira. "Sosok hantu yang mampu menghilang dan menyerang dari kegelapan.

Hubungkan semua ini! Puti Kirai adalah kunci bagi kestabilan Dharmapuri. Pelakunya bukan sembarang orang, dia adalah ahli yang dikirim dari Harau."

"Perintahkan seluruh pos di wilayah Nagari Tarang hingga Dharmapuri untuk bersiaga. Persempit ruang gerak setiap kereta yang mengarah ke pedalaman. Jika Siampa ini adalah hantu, maka kita akan membakar hutannya agar dia keluar!"

Sementara itu, di sekitar Safe House, Sena sedang menjalankan Prosedur Tetap Shinobi.

Pertama : Sena menginstruksikan Danta dan Idan untuk memakai sandal dengan sol terbalik dan berjalan menuju arah sungai di utara, lalu kembali ke gubuk dengan memanjat pohon agar jejak kaki mereka seolah-olah berhenti di tepi air.

Kedua : Sena membakar kotoran kuda kering dan tanaman herbal tertentu di sekitar gubuk untuk mengacaukan indra penciuman anjing pelacak.

Ketiga : Kereta kuda yang mereka curi tidak ditinggalkan begitu saja. Sena menyuruh Monti menenggelamkannya di sebuah rawa dalam yang tertutup tanaman air, sementara kudanya dilepaskan ke arah yang berlawanan setelah kuku-kukunya dibungkus kain agar tidak meninggalkan pola sepatu kuda yang jelas.

Sena kembali ke dalam gubuk, melihat Puti Kirai yang sedang mencoba membersihkan sisa lumpur di gaunnya.

"Kita tidak punya banyak waktu," ucap Sena datar. "Mereka akan segera menghubungkan namaku dengan kehilanganmu. Dalam hitungan jam, setiap prajurit Singasari dari pesisir hingga pedalaman akan mencari sosok pemuda dengan ciri-ciri sepertiku."

"Lalu apa rencanamu?" tanya Kirai, suaranya kini lebih stabil, mulai menunjukkan kewibawaannya sebagai putri kerajaan.

Sena menjelaskan situasinya pada Kirai sambil menceritakan apa saja yang mereka ketahui selama perjalanan ke Padang, "Jalur punggung gunung adalah jalur militer. Di sana hanya ada satu jalan sempit dan setiap satu tiga kilometer ada pos pantau hingga ke Kumbu. Jika dua orang asing terlihat di sana saat siaga satu, mereka tidak akan bertanya, mereka akan memanah dulu baru memeriksa mayatnya. Kita tidak bisa lewat sana."

Sena kemudian menunjuk ke arah jalur utama yang melintasi desa-desa pengrajin dan pasar.

"Kita akan lewat jalan besar. Di sana banyak pengungsi, pedagang, dan kuli yang lalu lalang. Tapi ada satu masalah..." Sena menatap Kirai. "Prajurit di gerbang desa melakukan pemeriksaan 'tanda fisik'. Mereka mencari seorang wanita dengan ciri rambut panjang terawat. Jika anda hanya menggelung rambut, gundukan di balik penutup kepalamu akan terlihat tidak wajar bagi seorang laki-laki. Prajurit yang jeli akan menyentuhnya, dan saat itu terjadi, kita habis."

Kirai menatap pisau kecil di tangan Sena. Ia mengerti sekarang. Jalan setapak di gunung adalah jebakan maut, dan jalan di desa adalah panggung sandiwara. Dan dalam sandiwara ini, kostumnya harus sempurna. Dia memebelai rambutnya sejenak, lalu kembali menatap Sena.

"Lakukanlah," ucap Kirai singkat, suaranya bergetar namun matanya menunjukkan tekad. Ia membelakangi Sena.

Sena bekerja dengan cepat dan efisiensi layaknya seorang pencukur profesional. Srak! Srak!

Helai-helai rambut hitam yang selembut sutra itu jatuh ke lantai tanah gubuk. Bagi Kirai, setiap helai yang jatuh terasa seperti bagian dari dirinya yang lama sedang mati.

Setelah selesai, Sena mengambil jelaga hitam, menaburkan di rambut Kirai dan mengoleskannya tipis-tipis di bawah matanya, untuk memberi kesan lelah dan di sekitar garis rahang. Ia lalu menyerahkan sehelai kain kasar untuk membebat dada Kirai agar rata.

30 Oktober 1281, mereka sampai di gerbang desa pertama di perbatasan Nagari Tarang. Penjagaan sangat ketat. Satu peleton prajurit Singasari memeriksa setiap yang lewat.

Balun, Jagu dan Danta sudah masuk lebih dulu menunggu mereka. Sementara Idan dan Monti ikut mengantri pemeriksaan tersekat beberapa orang di belakang Sena dan Kirai.

"Berhenti!" teriak seorang prajurit. "Kalian mau ke mana?"

Sena membungkuk dalam, wajahnya tampak kusam dan bajunya penuh noda kayu. "Hamba dari Ampaleh, Tuan. Ini adik hamba, dia demam laut sejak kemarin. Kami mau pulang ke Kumbu, mencari dukun desa untuk berobat."

Sena menyenggol Kirai. Kirai melepaskan caping bambunya. Rambutnya yang pendek dan berantakan terkena keringat membuatnya tampak benar-benar seperti remaja laki-laki yang sedang sakit. Ia batuk-batuk kecil, menghindari kontak mata dengan prajurit itu.

Prajurit itu memperhatikan Kirai dari atas ke bawah. Ia memegang bahu Kirai, yang membuat sang putri hampir meloncat ketakutan, namun Sena meremas lembut jemari tangannya agar tetap tenang.

"Adikmu ini lemah sekali," gumam prajurit itu. "Ya sudah, cepat lewat! Jangan lama-lama di sini, jalanan harus bersih untuk patroli besar!"

Mereka melangkah melewati gerbang dengan detak jantung yang berpacu. Begitu sudah cukup jauh, Sena berbisik tanpa menoleh.

"Bagus. Anda melakukannya dengan baik, putri. Jika rambutmu masih panjang di balik caping tadi, prajurit itu pasti akan curiga kenapa kepalamu terlihat sangat besar dan tidak proporsional saat kau membungkuk."

Tiba-tiba, suara gemuruh derap kuda terdengar dari arah depan. Bukan sekadar kuda biasa, tapi suara zirah yang beradu dan derap kaki yang teratur. Di barisan depan, dua panji Singasari berkibar ditiup angin.

Di tengah barisan, menunggangi kuda hitam yang gagah, tampaklah Purwa Wangsa. Wajahnya tampak tegang dan penuh amarah. Debu yang ditinggalkan rombongan kuda Purwa Wangsa perlahan turun.

Jarak antara mereka semakin menyempit. Prajurit pengawal Purwa berteriak agar para pejalan kaki menepi. Sena menarik bahu Kirai, membawanya menepi ke pinggir jalan yang berdebu, bergabung dengan beberapa pedagang sayur yang juga sedang bersujud atau menunduk memberi hormat pada rombongan pejabat.

Sena ikut berlutut di tanah, kepalanya menunduk dalam, namun matanya melirik tajam dari balik pinggiran capingnya.

Purwa Wangsa melintas hanya dalam jarak lima langkah. Sena bisa mencium aroma minyak kuda dan besi dari rombongan itu. Sesaat, Purwa menarik kekang kudanya hingga berhenti tepat di depan Sena. Jantung Kirai seolah berhenti berdetak.

"Hei, kau!" teriak salah satu pengawal Purwa ke arah seorang pedagang di dekat Sena. "Apa kau melihat rombongan kereta yang mencurigakan menuju ke arah Bukit Barisan tadi pagi?"

Pedagang itu gemetar. "Ti.. tidak Tuan, hamba hanya melihat rombongan kuli sejak subuh."

Purwa Wangsa memicingkan mata. Pandangannya menyapu kerumunan orang yang sedang bersujud di pinggir jalan. Matanya sempat berhenti selama satu detik pada punggung Sena yang lebar dan kokoh—terlalu kokoh untuk ukuran kuli biasa.

"Ada yang aneh," batin Purwa. Instingnya sebagai pemburu berdenyut. Perasaan yang mirip di Puncak Harau, hanya saja yang ini lebih tipis dan samar.

1
anggita
👍2iklan☝☝
anggita
Hattori.. kya nama film kartun jadul ninja Hattori🙏 🤭
Zamo: Iya 😅, soalnya yang kepikiran kenangan masa kecil
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!